A. Penyebutan Nama Allah Al-Kabiir (الكَبِير) di dalam Nash
Disebutkan di dalam Al-Qur’an sebanyak enam kali. Di antaranya:
عَٰلِمُ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ ٱلْكَبِيرُ ٱلْمُتَعَالِ (الرعد:9)
وَلَا تَنفَعُ ٱلشَّفَٰعَةُ عِندَهُۥٓ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُۥ ۚ حَتَّىٰٓ إِذَا فُزِّعَ عَن قُلُوبِهِمْ قَالُوا۟ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ ۖ قَالُوا۟ ٱلْحَقَّ ۖ وَهُوَ ٱلْعَلِىُّ ٱلْكَبِيرُ (سبأ:23)
ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ (الحج: ٢٦)
B. Makna Al-Kabiir (الكَبِير) Secara Bahasa
Al-Kabiir (الكَبِير) adalah isim fa’il dari fi’il kaburo – yakburu (كَبُرَ-يَكْبُر) artinya yang besar, kebalikan shoghiir (صَغِير) dari fi’il shoghiro- yashghuru (صَغِرَ – يَصْغُرُ) artinya yang kecil.
C. Makna Al-Kabiir (الكَبِير) Sebagai Nama Allah
Imam Ibnu Jarir Ath-Thobari mengatakan: Al-Kabiir (الكَبِير) adalah Dzat yang segala apapun di hadapan-Nya sangatlah kecil. (Tambahan dari saya, Pen.) Tidak ada apa-apanya dan tidak ada nilainya sedikitpun [selesai].
Al-Ashfahani rahima hullah berkata yang kurang lebihnya berikut ini: Di antara nama Allah adalah Al-Kabiir (الكَبِير). Ia musytaq (bentukan) dari kibriyaa-u (كبرياء) artinya Dzat Yang Sombong. Siapapun tidak boleh bersifat sombong. Hanya Dia ta’ala saja yang bersifat dengan sifat ini. Maka, adalah haram jika seseorang merasa gumedhe di hadapan orang lain. Setiap orang tidak boleh ada pada dirinya kesombongan sedikitpun, dia harus tawadhu’ kepada siapapun. Barangsiapa yang tawadhu’ maka Allah ta’ala akan meninggikan derajatnya. Dia ta’ala berfirman,
وَلَهُ الْكِبْرِيَاءُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (الجاثية: 37)
“Dan bagi-Nya-lah keagungan di langit dan bumi, Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Al-Jatsiyah: 37) [selesai]
Kesombongan bagi Allah ta’ala adalah sifat terpuji. Karena Dia ta’ala semata yang berhak atas sifat ini. Bagi makhluk, kesombongan adalah sifat tercela karena siapapun selain Allah ta’ala tidak berhak menyandang sifat ini. Hal ini, tidak lain karena mereka diliputi berbagai sifat kurang, lemah, terbatas, dan lain-lainnya yang semakna. Untuk itu Dia ta’ala berfirman di dalam Hadits Qudsi,
الكبرياءُ رِدائِي ، فمَنْ نازعَنِي في رِدائِي قَصَمْتُهُ (رواه أبو داود وابن ماجه وأحمد)
“Kesombongan adalah selendang-Ku, barangsiapa membantah-Ku tentang selendang-Ku, maka Aku akan menghancurkannya” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad dari Abu Hurairah)
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahima hullah mengatakan: Al-Kabiir (الكَبِير), Dzat yang lebih besar dari apapun. Segala sesuatu itu di hadapan-Nya rendah dan hina [selesai].
Imam Asy-Syaukani rahima hullah mengatakan: Al-Kabiir (الكَبِير), Dzat Yang Maha Besar sehingga tidak ada yang menyamai-Nya, tidak membutuhkan kepada pasangan, anak dan perserikatan. Dia lah Pemilik kesombongan di dalam rububiyyah dan kerajaan-Nya [selesai].
D. Tadabbur
1. Pemahaman terhadap makna nama Allah Al-Kabiir (الكَبِير), seorang hamba akan memenuhi hatinya dengan penghambaan dan ketaatan kepada Allah ta’ala.
2. Pemahaman terhadap makna nama Allah Al-Kabiir (الكَبِير) menghantarkan seorang hamba untuk menguatkan ketundukan kepada haq (kebenaran) yang telah Allah jelaskan melalui lisan Rasul-Nya di dalam Al-Qur’an dan Hadits.
3. Pemahaman terhadap makna nama Allah Al-Kabiir (الكَبِير), menjadikan seorang hamba untuk tidak sekali-kali bersikap sombong, meremehkan orang lain. Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda,
إنَّ اللهَ أوحى إليَّ أن تواضَعوا حتى لا يبغيَ أحدٌ على أحدٍ، ولا يفخرَ أحدٌ على أحدٍ (رواه البخارى ومسلم عن عياض بن حمار)
“Sesungguhnya Allah ta’ala menurunkan wahyu kepadaku agar kalian tawadhu’ hingga tidak ada seorangpun menzhalimi orang lain, dan tidak ada seorangpun yang sombong terhadap orang lain” (HR. Bukhari dan Muslim dari ‘Iyadh bin Himar)
Untuk poin 2 dan 3 Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda,
الكِبْرُ بَطَرُ الحَقِّ، وغَمْطُ النَّاسِ (رواه مسلم عن ابن مسعود)
“Sombong itu menolak kebenaran dan meremehkan manusia” (HR. Muslim dari Ibnu Mas’ud)
4. Seorang hamba akan semakin takut dan malu jika tidak segera berbuat ketaatan terhadap perintah-Nya dan tunduk kepada hukum-hukum-Nya.
Yakin bahwa setiap orang yang sombong akan Allah ta’ala binasakan, sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur’an,
a. di dunia
فَأَمَّا عَادٌ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَقَالُوا مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً أَوَلَمْ يَرَوْا أَن اللَّهَ الَّذِي خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَكَانُوا بِآَيَاتِنَا يَجْحَدُونَ () فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا صَرْصَرًا فِي أَيَّامٍ نَحِسَاتٍ لِنُذِيقَهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَعَذَابُ الْآَخِرَةِ أَخْزَى وَهُمْ لَا يُنْصَرُونَ (فصلت: ١٥، ١٦)
“Adapun kaum ‘Ad maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: “Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?” Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah Yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya daripada mereka? Dan adalah mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) Kami () Maka Kami meniupkan angin yang amat gemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang sial, karena Kami hendak menimpakan kepada mereka itu siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia. Dan Sesungguhnya siksa Akhirat lebih menghinakan sedang mereka tidak diberi pertolongan” (QS. Fushilat: 15-16)
b. di Akhirat
فَالْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَبِمَا كُنْتُمْ تَفْسُقُونَ [الأحقاف: ٢٠]
“Maka pada hari ini kamu dibalasi dengan adzab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan karena kamu telah fasik” (QS. Al-Ahqof: 20)
Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda,
يُحشَرُ المتَكَبِّرونَ يومَ القيامةِ أمثالَ الذَّرِّ في صُوَرِ الرِّجالِ يغشاهمُ الذُّلُّ من كلِّ مَكانٍ ، يُساقونَ إلى سجنٍ في جَهَنَّمَ يسمَّى بولُسَ تعلوهُم نارُ الأَنْيارِ يُسقونَ من عُصارةِ أَهْلِ النَّارِ طينةَ الخبالِ (رواه الترمذى وأحمد عن عبدالله بن عمرو)
“Orang-orang sombong akan dikumpulkan pada Hari Kiamat seperti semut yang berwujud manusia. Kehinaan akan menyelimuti mereka dari segala penjuru. Mereka akan dijebloskan ke penjara di Neraka yang disebut Bolus. Api dari tumpukan kayu bakar yang menyala-nyala akan membumbung tinggi di atas mereka. Mereka akan diberi minum dari lumpur penghuni Neraka, lumpur kerusakan” (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad dari Abdullah bin Amr)
6. Hadits di atas, kaum muslimin tidak akan menjadi lemah dan tertipu oleh kekuatan dan kekuasaan kaum kafirin karena mereka merasakan betapa Allah ta’ala di atas mereka dan akan menghancurkan mereka jika kaum muslimin mengambil sebab-sebab yang mendatangkan pertolongan Allah ta’ala tersebut.
7. Dzikir agung yang Allah ta’ala cintai dan Dia ta’ala mensyariatkannya di dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya di antaranya adalah Takbir, yaitu “Allahu Akbar”. Bahkan kalau kita perhatikan dzikir ini dibaca di dalam berbagai banyak kesempatan. Di antaranya:
a. Perintah ber-takbir setelah ayat tentang puasa, sebagaimana firman-Nya,
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (البقرة: ١٨٥)
“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” (QS. Al-Baqoroh: 185)
Yang dimaksud adalah takbiran pada malam idul fithri hingga selesai shalat ‘Id.
b. Perintah ber-takbir setelah ayat tentang daging dan darah sembelihan nusuk haji. Sebagaimana firman-Nya,
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ [الحج: ٣٧].
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah atas hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-Hajj: 37)
Ibnu Umar radiallahu anhu menjelaskan, ayat ini menunjukkan lafazh yang dibaca setelah basmalah ketika menyembelih adalah takbir, yaitu Allahu Akbar.
c. Allahu Akbar adalah lafazh awal yang dibaca ketika memulai shalat dan sebagai tanda diharamkannya ucapan apapun selain bacaan shalat.
d. Lafazh yang dibaca pada setiap perpindahan gerakan di dalam shalat selain i’tidal.
e. Lafazh yang diulang-ulanginya di awal dan akhir adzan.
f. Lafazh ini dibaca ketika sejajar dengan hajar aswad untuk memulai thowaf.
g. Dibaca ketika setiap kali memulai dzikir di bukit Shofa dan Marwah.
h. Ketika di atas kendaraan untuk safar.
i. Setiap kali berada di tempat yang tinggi dari permukaan bumi.
j. Ketika melontar jumroh.
k. Dikumandangkan sepanjang waktu di sepuluh hari pertama Dzulhijjah ditambah tiga hari tasyrik.
l. Bagian dari dzikir setelah shalat lima waktu.
m. Dibaca berbarengan dengan tasbih dan tahmid ketika hendak tidur.
n. Diteriakkan ketika di medan jihad.
o. Ketika berdecak kagum dengan terhadap fenomena-fenomena alam semesta yang mengagumkan
E. Perbedaan Antara Nama Allah Al-Kabiir (الكَبِير) dan Al-Mutakabbir (المُتَكَبّر)
Penjelasan mengenai nama Allah Al-Mutakabbir (المُتَكَبّر) sudah dibahas di jilid tujuh (7). Saya memandang tidak perlu mengulangi lagi di sini.
Al-Kabiir (الكَبِير) dan Al-Mutakabbir (المُتَكَبّر) memiliki akar kata yang sama, yaitu ka-ba-ro (كبر). Perbedaan keduanya pada wazan-nya (bentuk kata);
a. Al-Kabiir (الكَبِير) ber-wazan al-fa’iil (الفَعِيل), bermakna Allah Maha Besar (terkait Dzat-Nya)
b. Al-Mutakabbir (المُتَكَبّر) ber-wazan al-mutafa’il (المُتَفَعِّل), bermakna Allah Menyombongkan diri kepada para hamba-Nya (terkait perbuatan-Nya)
Jadi, hanya Allah ta’ala saja yang diperbolehkan menyombongkan diri kepada para hamba-Nya karena Dia-lah Dzat yang Maha Besar. Adapun makhluk keseluruhannya kecil, maka haram bagi siapapun dari antara mereka untuk menyombongkan diri. Allah ta’ala berfirman di dalam Hadits Qudsi,
الكبرياءُ رِدائِي ، فمَنْ نازعَنِي في رِدائِي قَصَمْتُهُ (رواه أبو داود وابن ماجه وأحمد عن أبى هريرة)
“Kesombongan adalah selendang-Ku, maka barangsiapa membantah-Ku tentang jubah-Ku, niscaya Aku akan menghancurkannya” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad dari Abu Hurairah)
Judul Buku: Memahami Al-Asma’ul Husna Jilid 12
Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

