Solusi Investasi Akhirat Anda

PETUNJUK BAGI ORANG SAKIT Bagian 2

– Orang yang sakit membaca surat Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas (mu’awwidzaat) lalu meniupkannya pada tangannya kemudian diusap-usapkannya pada tubuhnya.

Disebutkan dalam sebuah Hadits:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا اشْتَكَى يَقْرَأُ عَلَى نَفْسِهِ بِالْمُعَوِّذَاتِ وَيَنْفُثُ فَلَمَّا اشْتَدَّ وَجَعُهُ كُنتُ أَقْرَأُ عَلَيْهِ وَأَمْسَحُ بِيَدِهِ رَجَاءَ بَرَكَتِهَا

Dari Aisyah diceritakan bahwa Nabi sakit. Beliau suka meniupi dirinya dengan mu’awwi-dzaat. Ketika sakitnya bertambah parah, akulah yang membacakannya (dan meniupi dirinya). Aku pun mengusap (tubuh beliau) dengan tangannya sendiri, karena keberkahannya.” (HR. Bukhari)

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ وَ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

“Dari Aisyah diceritakan bahwa Nabi ketika membaringkan tubuhnya ke kasurnya setiap malam beliau menghimpun kedua telapak tangannya dan meniupinya, beliau membaca padanya (kedua telapak tangan yang dihimpun) qul huwallahu Ahad, qul a’uudzu bi Robbi-l-falaq dan qul a’uudzu bi Robbi-n-naas, lalu mengusapkan kedua telapak tangannya ke tubuh-nya semampunya dimulai dari kepalanya dan wajahnya dan yang tubuhnya yang terjangkau” (HR. Bukhari)

Bisa juga membaca:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلا بالله

LAA ILAAHA ILLAA ALLAH WA LAA HAULA WALAA QUW-WATA ILLAA BILLAH

“Tidak ada tuhan yang berhak disembah melaikan Allah, tidak ada kekuatan kecuali dengan Allah.” (HR. At- Tirmidzi dari Abu Said al-Khudri dan Abu Hurairah)

Nabi bersabda:

مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ صَدَّقَهُ رَبُّهُ فَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا وَأَنَا أَكْبَرُ وَإِذَا قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ قَالَ يَقُولُ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا وَحْدِي وَإِذَا قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ قَالَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا وَحْدِي لَا شَرِيكَ لِي وَإِذَا قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ قَالَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا لِيَ الْمُلْكُ وَلِيَ الْحَمْدُ وَإِذَا قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِي وَكَانَ يَقُولُ مَنْ قَالَهَا فِي مَرَضِهِ ثُمَّ مَاتَ لَمْ تَطْعَمُهُ النَّارُ

“Barangsiapa mengucapkan “Laa Ilaaha illaa Allah Wallahu Akbar” maka Tuhannya membenarkannya dan berfirman: “Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Aku, dan Aku Maha Besar”. Jika dia mengucapkan “Laa Ilaaha illaa Allahu wahdahu”, maka Allah berfirman:” Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Aku semata.” Apabila dia mengucapkan “Laa Ilaaha illaa Allahu Wahdahu Laa Syariika Lahu”, maka Allah berfirman: “Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Aku semata tidak ada sekutu bagiku”. Jika dia mengucapkan: “Laa Ilaaha illaa Allahu Lahu-l-Mulku wa Lahu-l-hamdu”, maka Allah berfirman: “Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Aku, hanya milikku kerajaan dan bagiku pujian. Jika dia mengucapkan: “Laa Ilaaha illa Allahu Walaa Haula walaa Quwwata illaa Billah”, maka Dia berfirman:” Tidak ada yang berhak disembah kecuali Aku dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali denganku”. Nabi bersabda: “Siapa yang mengucapkannya di saat sakit lalu mati maka tidak akan dimakan api Neraka”. (HR. At-Tirmidzi dari Abu Said al-Khudri dan Abu Hurairah)

– Orang yang menjenguk orang sakit juga diharapkan mendoakannya dengan doa-doa berikut ini:

أَسْأَلُ اللَّهَ الْعَظِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ أَنْ يَشْفِيَكَ (7x)

AS-ALULLAHA-L-ADHIIM ROBBA-L-‘ARSYI-L-ADHIIM AN YASYFIYAKA

“Saya memohon kepada Allah Yang Maha Agung Tuhan ‘Arsy yang besar agar Dia menyembuhkan Anda” Dibaca sebanyak 7x (HR. Abu Daud dan At- Tirmidzi dari Ibnu Abas)

Bisa juga dengan cara: Orang yang mengunjungi orang sakit membasahi jari tangannya (Sufyan bin ‘Uyainah menyatakan: jari telunjuk) lalu diusapkan pada tanah sehingga tanahnya terbawa kemudian diusapkan pada bagian yang terluka dengan membaca:

بسم اللَّهِ تُرْبَةُ أَرْضِنَا بِرِيقَةِ بَعْضِنَا يُشْفَى سَقِيمُنَا ياذْنِ رَبِّنَا

BISMILLAHI TURBATU ARDLINAA BIRIIQOTI BA’DLI-NAA YUSYFAA SAQIIMUNA BI IDZNI ROBBINAA

“Dengan nama Allah, debu bumi kita dengan ludah sebagian kita, (semoga) orang yang sakit (di antara) kami disembuhkan dengan izin Tuhan kami” (HR. Bukhari dan Muslim dari Aisyah)

Bisa juga dengan membaca:

بِاسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنِ حَاسِدٍ اللَّهُ يَشْفِيكَ بِاسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ

BISMILLAHI ARQIIKA MIN KULLI SYAY-IN YU’-DZIIKA MIN SYARRI KULLI NAFSIN AW ‘AININ HAASIDIN, ALLAHU YASYFIIKA, BISMIL-LAHI ARQIIKA

“Dengan nama Allah, saya meruqyah anda dari segala sesuatu yang menyakitkan Anda, (yang berasal dari setiap jiwa atau ‘ain (pandangan) orang hasad. Semoga Allah menyembuhkan Anda, dengan nama Allah saya meruqyah Anda.” (HR. Muslim dari Abu Sa’id Al- Khudri)

10. Tidak Putus Asa dan Tidak Mengharapkan Kematian

Nabi bersabda:

لَا يَتَمَنَّينْ أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ مِنْ ضُرٍّ أَصَابَهُ فَإِنْ كَانَ لَا بُدَّ فَاعِدًا فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ أَحْيني مَا كَانَتْ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتْ الْوَفَاةُ خَيْرًا لي

“Jangan sekali-kali seseorang di antara kalian mengharapkan kematian disebabkan penderitaan yang menimpanya, jika dia tetap melakukannya maka ucapkanlah: “Ya Allah hidupkanlah aku jika hidup lebih baik bagiku dan matikanlah aku jika kematian lebih baik bagiku.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik)

Bisa saja terjadi seseorang yang ditimpa suatu penyakit tidak kuasa menahan rasa sakitnya. Karena mungkin ia adalah jenis penyakit yang berkepanjangan, berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Dia benar-benar menderita dan berputus asa lalu mengharap kematian. Dia memandang bahwa dengan matilah dirinya akan terbebas dari penderitaan selama ini.

Ketahuilah ini adalah salah besar. Karena tidak ada manusia yang tahu apakah kematiannya baik baginya. Jangan-jangan kematiannya adalah perpindahan penderitaan saja, bahkan di alam barzakh (kubur) dia jauh lebih menderita. Jadi, bagaimanapun bersabar adalah satu-satunya solusi. Dengan bersabar dosa-dosa seseorang bisa terhapus sehingga mati dalam keadaan tidak menanggung banyak dosa karena sudah banyak dikurangi ketika di dunianya.

11. Hindari Pengobatan yang Tidak Syar’i

Allah menciptakan manusia dan melengkapinya dengan akal. Dengan akal inilah manusia diperintahkan untuk berpikir. Tetapi anehnya banyak sekali mereka yang tidak menggunakan akalnya. Mereka mendatangi dukun-dukun, paranormal-paranormal, tukang sihir, dan lain-lain.

Bagaimana mungkin akal sehat bisa mempercayai batu yang dikeramatkan lalu diklaim bisa mengobati segala macam penyakit?! Sungguh tidak masuk akal dan sama sekali tidak ilmiah.

Ini adalah kesyirikan yang dosanya tidak akan diampuni oleh Allah. Kalau batu tersebut batu belerang lalu dinyatakan bisa mengobati penyakit gatal maka itu masuk akal. Karena berdasarkan penelitian ilmiah batu belerang mengandung unsur-unsur yang bisa menghilangkan penyakit gatal.

Bagaimana mungkin akal sehat bisa mempercayai ‘orang pinter’ yang menyuruh mencari air embun 7 gelas pagi hari sebelum matahari terbit untuk pengobatan suatu penyakit??!!

Bagaimana mungkin akal sehat bisa mempercayai orang pinter yang menyuruh membawa kambing? Ia disembelih lalu dikatakan penyakitnya sudah dipindah ke kambing. Atau, penyakitnya bisa diketahui di bagian kambing setelah disembelih??!!

Sekali lagi itu semua adalah perbuatan syirik, di mana mereka bekerja sama dengan syetan-syetan.

Nabi bersabda:

مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Barangsiapa mendatangi dukun atau paranormal kemudian mempercayai ucapannya maka dia telah mendustakan apa yang diturunkan kepada Muhammad.” (HR. Ahmad dari Abu Hurairah dan Hasan)

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Barangsiapa mendatangi paranormal lalu bertanya tentang sesuatu maka sholatnya tidak diterima selama 40 hari. (HR. Muslim dari Shafiyah)

Berobatlah dengan pengobatan yang logis dan ilmiah. Nabi bersabda:

تَدَاوَوْا فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ دَوَاءٌ غَيْرَ دَاءِ وَاحِدٍ الْهَرَمُ

“Berobatlah kalian, karena sesungguhnya Allah tidaklah menurunkan suatu penyakit, kecuali Dia menetapkan baginya obatnya selain satu penyakit, yaitu tua renta.” (HR. Abu Daud dari Usamah bin Syarik)

12. Tidak Meminta di-Ruqyah

Terdapat 70.000 orang dari umat Nabi yang masuk Surga langsung tanpa di-hisab terlebih dahulu. Mereka adalah orang-orang yang tidak melakukan tathoyyur (menyandarkan nasib sial pada burung dan yang lainnya) tidak meminta di ruqyah, tidak melakukan kay (pengobatan dengan besi yang dipanaskan), tetapi kepada Allah-lah mereka bertawakal. Di dalam penggalan Hadits disebutkan:

… الَّذِينَ لَا يَتَطَيَّرُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَكْتَوُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“….Mereka tidak melakukan tathoyyur, tidak meminta diruqyah, tidak melakukan kay (pengobatan dengan besi yang dipanaskan) dan kepada Allahlah mereka bertawakkal.” (HR. Bukhari dari Ibnu Abas)

Orang sakit hendaknya tidak meminta diruqyah, mengingat besarnya keutamaan masuk Surga tanpa hisab. Jadi, orang yang menjenguk dituntut untuk tanggap, ketika melihat pandangan matanya terlihat aneh, atau ada gejala lain yang memerlukan untuk diruqyah, maka segeralah meruqyah. Sehingga orang yang sakit tidak sampai meminta diruqyah.

13. Bonus Bagi Orang Sakit

Nabi bersabda:

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

“Jika seorang hamba sakit atau bepergian, maka dicatat baginya pahala sebagaimana dia mengerjakannya tatkala muqim (tidak bepergian) dan sehat.” (HR. Bukhari dari Abu Musa)

Kalau seseorang terbiasa dengan puasa Senin-Kamis misalnya, lalu sakit sehingga tidak bisa mengerjakannya maka dia tetap mendapatkan pahala seperti mengerjakannya. Demikian pula amalan- amalan lainnya yang telah menjadi kebiasaan seseorang. Itulah bonus dari Allah bagi orang sakit dan musafir.

14. Memanfaatkan Waktu Selama Sakit

Agar selama menderita sakit, waktu tidak berlalu sia-sia maka hendaknya dia menggunakannya dengan sebaik-baiknya, misalnya untuk:

1. Membaca Al-Qur’an
2. Membaca buku-buku agama
3. Mendengarkan murottal Al-Qur’an
4. Mendengarkan ceramah-ceramah agama via radio, MP3 dan lain-lain.

Semoga orang yang sakit bisa memahami 14 poin di atas dengan sebaik- baiknya, sehingga dia termasuk orang mukmin yang Rasulullah kagum dengannya. Aamiin.

Judul Buku: PETUNJUK BAGI ORANG SAKIT

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)