Solusi Investasi Akhirat Anda

Mahabbah, Khouf, dan Roja’ Bagian 1

A. Pendahuluan

Dahulu, zaman masih sekolah SMA terusik dengan fenomena-fenomena keagamaan yang bermacam-macam. Kok bisa yah, beragama dengan sumber dan referensi yang sama yaitu Al-Qur’an dan Hadits tetapi praktek dan pengamalannya berbeda. Ada yang tasyaddud (kenceng sekali), ada yang tasahhul (menggampang-gampangkan) dan meremehkan, bahkan ada yang acuh tak acuh padahal dikenal sebagai pemeluk Islam yang meyakini adanya Surga dan Neraka.

Suatu ketika saat ada kajian yang diadakan oleh Yayasan Al-Sofwa Jakarta dengan tema pilar ibadah, saya merasa mendapatkan pencerahan yang luar biasa. Rupanya inilah kuncinya, selain ibadah ditunaikan sesuai dengan kaedahnya juga secara maksimal dengan tidak meremehkan dan juga tidak berlebih-lebihan. Maka, pada kesempatan ini saya ingin menuangkan dalam buku saku ini apa yang telah saya pahami tentang bab ini. Harapannya bisa memberikan sumbangsih bagi pencerahan ummat.

B. Mahabbah, Khouf, dan Roja’ adalah Pilar Ibadah

Manusia diciptakan dengan tujuan untuk beribadah atau menghambakan diri kepada Allah ta’ala. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (الذاريات:56)

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah (menghambakan diri) kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ibadah atau penghambaan diri kepada Allah ta’ala tidak akan bisa ditunaikan sebaik-baiknya kecuali ditopang dengan pilar-pilarnya. Yaitu mahabbah, khouf, dan roja’.

Mahabbah artinya cinta. Ia adalah perkara mendasar yang harus ada pada seorang muslim. Karena tidak mungkin seseorang tergerakkan menuju kepada sesuatu kalau tidak ada cinta (mahabbah). Coba Anda bayangkan! Seorang pemuda yang mempersiapkan diri untuk melakukan perjalan jauh ke luar pulau menuju wanita pujaan hatinya. Tidak sedikit pengorbanan yang dia lakukan. Selain harus ambil cuti kerja, dia harus merogoh kocek yang dalam ditambah “utang-utang” biar mencukupi. Dia juga harus mencari oleh-oleh yang sekiranya wajar sebagai buah tangan demi bisa bertemu walinya untuk meminangnya. Kira-kira apa yang mendorong pemuda tersebut berbuat pengorbanan sedemikian rupa? Jawabannya tidak lain adalah karena adanya CINTA (MAHABBAH).

Ini adalah ilustrasi, tanpa cinta seseorang tidak akan tergerakkan menuju sesuatu. Sebaliknya, sungguh dengan cinta, jiwa seseorang bergelora menuju kepada sesuatu yang dikehendakinya menembus seluruh aral lintang.

Demikian juga di dalam perjalanan menuju Allah ta’ala. Seorang muslim tidaklah mungkin untuk melakukannya melainkan karena ada cinta (mahabbah) pada dirinya. Semakin kuat dan meningkat kadar cinta kepada-Nya maka semakin bagus pula kadar peribadahan dan penghambaan diri kepada-Nya.

Jelaslah, mahabbah adalah kendaraan bagi seorang muslim untuk melakukan perjalanan menuju Allah ta’ala. Semakin kuat mengenal Allah ta’ala, maka semakin kuat pula cinta kepada-Nya bertambah.

Tanda mahabbah (cinta) kepada Allah ta’ala:

a. Sikap tunduk, patuh, dan taat kepada-Nya.

b. Senantiasa kembali kepada Allah ta’ala dalam segala keadaan apapun.

c. Hati selalu terpaut dengan-Nya.

d. Gelisah ketika berlepas dari-Nya disebabkan kelalaian-kelalaian.

e. Marah ketika Dia ta’ala tidak diagungkan dengan sebenar-benarnya pengagungan.

Agar perjalanan menuju-Nya bisa dilakukan dengan baik ada hal lain yang mengimbanginya, yaitu khouf (takut) dan roja’ (berharap).

Dengan khouf (takut) kepada Allah ta’ala akan adzab-Nya yang sangat dahsyat menjadikan seorang muslim menahan diri dari perbuatan maksiat dan berhati-hati dari setiap hal yang bisa mendatangkan murka-Nya.

Dengan roja’ (berharap) kepada ganjaran dan derajat di sisi Allah ta’ala yaitu Surga yang nilainya sangat tinggi di mana tidak terbersit oleh hati dan tidak pernah dilihat oleh mata menjadikan seorang muslim berjuang untuk meraihnya. Hal ini mengkondisikannya untuk berjaga-jaga agar senantiasa dalam keridhoan-Nya baik dalam ucapan, keputusan, dan perbuatan.

Inilah tiga pilar ibadah; mahabbah (cinta), khouf (takut), dan roja’ (berharap). Dengan ketiganya seorang muslim bisa beribadah menghambakan diri kepada Allah ta’ala dengan sebaik-baiknya. Tentang ketiga pilar ibadah, Dia ta’ala berfirman,

أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ ٱلْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُۥ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُۥٓ ۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا (الإسراء: 75)

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti” (QS. Al-Isra’: 57)

  • Mencari jalan: dalil mahabbah (cinta)
  • Mengharapkan rahmat-Nya: dalil roja’ (berharap)
  • Takut akan azab-Nya: dalil khouf (takut)

Disebutkan di dalam Tafsir As-Sa’di bahwa orang-orang yang menyembah dan menyandarkan diri kepada selain Allah baik itu Malaikat, Nabi, dan orang-orang shaleh adalah salah fatal dan tersesat. Betapa tidak, mereka sendiri (para Malaikat, Nabi dan orang shaleh) senantiasa mencari jalan karena cinta mereka kepada-Nya untuk bisa sedekat-dekatnya kepada-Nya, senantiasa, mengharapkan rahmat-Nya dengan amalan-amalan sholih dan sangat takut akan azab-Nya dengan menjauhkan diri dari perkara yang tidak diridhoi-Nya, kok malah disembah dan diibadahi.  

Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa tiga perkara tersebut yaitu mahabbah, khouf dan roja’ adalah perangai yang melekat pada muqorrobin (orang-orang yang senantiasa mendekatkan diri kepada Allah ta’ala). Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa ketiganya merupakan perkara mendasar sumber segala kebaikan.

Ibnul Qoyyim rahima hullah menggambarkan pilar ibadah ibarat burung. Dia mengatakan: Hati di dalam perjalanannya menuju Allah ta’ala ibaratnya adalah burung. Mahabbah sebagai kepala, khouf dan roja’ sebagai kedua sayap. Jika lengkap ada kepala dan kedua sayap, maka burung bisa terbang bagus. Jika kepala putus, matilah burung. Jika kedua sayap tidak normal, maka burung menjadi sasaran empuk bagi setiap pemburu.

Beribadah dengan tiga pilar ini adalah suatu keniscayaan bagi Ahlussunnah wal jamaah. Jika tidak, maka bisa terjerembab ke dalam kesesatan. Untuk itu para ulama Salaf rahima humullah mengatakan,

مَنْ عبدَ الله بالحبِّ وحده، فهو زنديق، ومَن عبدَه بالخوف وحْده، فهو حروريٌّ – أي: خارجي – ومَن عبدَه بالرَّجاء وحْده، فهو مرجئ، ومن عبدَه بالخوف والحب والرَّجاء، فهو مؤمن موحِّد

“Barangsiapa yang beribadah kepada Allah dengan mahabbah saja, maka dia itu zindiq. Barangsiapa beribadah kepada Allah dengan khouf saja maka dia itu haruriy. Barangsiapa beribadah kepada Allah ta’ala dengan roja’ saja maka dia itu murji’ah. Barangsiapa beribadah kepada Allah dengan ketiganya maka dia itu mu’min muwahhid

C. Ungkapan Para Ulama Tentang Khouf dan Roja’

Orang yang tidak berharap (roja’) kenikmatan akhirat dan tidak takut akan adzab akhirat (khouf) adalah orang kafir. Bagi mereka kehidupan dunia dengan segala keglamorannya inilah kehidupan hakiki. Mereka sangat ridho dan merasa tenang dengan duniawi. Akhirnya mereka mengabaikan ayat-ayat Allah ta’ala yang menyebabkan mereka berbuat dan bertindak-tanduk secara membabi buta. Mereka jauh dari koridor ketaatan, kepatuhan, syukur, dan sabar.  Ending-nya tempat mereka adalah Neraka. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,

 كَلَّا بَلْ لا يَخَافُونَ الآخِرَةَ  [المدثر:53]

“Sekali-kali tidak, bahkan mereka tidak takut akhirat” (QS. Al-Muddatsir: 53)

إِنَّ الَّذِينَ لا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا وَرَضُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّوا بِهَا وَالَّذِينَ هُمْ عَنْ آيَاتِنَا غَافِلُونَ () أُوْلَئِكَ مَأْوَاهُمُ النَّارُ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ  [يونس:7-8].

“Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami. Mereka itu tempatnya ialah Neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan” (QS. Yunus: 7-8)

Lalai terhadap ayat-ayat Allah menjadikan mereka “hidup sakarepe dhewe”,  berbuat dan bertindak tanduk semena-mena, jauh dari rambu-rambu-Nya. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,

 إِنَّ الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ زَيَّنَّا لَهُمْ أَعْمَالَهُمْ فَهُمْ يَعْمَهُونَ  (النمل:4)

“Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada negeri Akhirat, Kami jadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka, maka mereka bergelimang (dalam kesesatan)” (QS. An-Naml: 4)

Sebagai contoh, pendidikan Barat yang kafir. Banyak kalangan yang menjelaskan bahwa pendidikan mereka – wal-‘iyaadzu billah – kurikulum dan segala perangkatnya didasarkan pada pendidikan yang membentuk jiwa materialistis. Bagaimana untuk bisa mendatangkan keuntungan sebesar-besarnya, keglamouran-keglamouran, dan kemajuan-kemajuan sisi duniawi saja. Tidak ada celah dan peluang yang terkait dengannya melainkan mereka pasti sudah di sana. Adapun untuk kepentingan akhirat, mereka tidak terbersit sedikitpun. Tentang mereka, Allah ta’ala telah jelaskan di dalam Al-Qur’an,

 الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا  (الكهف: 104)

“Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya” (QS. Al-Kahfi: 104)

Maksimal yang mereka lakukan di mana mereka menyangkanya sebagai amalan ukhrowi adalah pergi ke gereja. Namun, karena kuatnya pengaruh materialisme dan kelalaian akan akhirat, gereja-gereja itu sendiri kini mengajak orang-orang untuk beribadah kepada kristus dan masuk ke dalam gereja dengan cara menari, minum-minum khamr, wanita, dan sarana hiburan lainnya. Mereka adalah kaum yang sangat terikat dengan duniawi, sehingga gereja menginginkan agar jama’ahnya sekedar  memiliki pandangan “yang penting kami ada ikatan dengan gereja yang berarti kami berbuat untuk Akherat”. Mereka mengatakan bahwa diri mereka sudah terafiliasi dengan gereja ini dan itu dan telah membayar serta menyumbang sekian dan sekian. Namun, apakah ada realitas keimanan dalam hatinya? Sekali-kali tidak.”

Jadi, keagamaan mereka adalah keagamaan yang materialistis karena kurangnya – atau bahkan tidak ada –  penekanan pada aspek spiritual dan keimanan yang sebenarnya.

Adapun Yahudi, disebutkan di dalam Al-Qur’an,

وَلَتَجِدَنَّهُمْ أَحْرَصَ النَّاسِ عَلَى حَيَاةٍ  (البقرة: 96)

“Dan kamu akan mendapati mereka sebagai manusia yang paling rakus terhadap kehidupan duniawi” (QS. Al-Baqoroh: 96)

Allah ta’ala menjelaskan di dalam ayat ini, betapa mereka adalah orang-orang yang sangat rakus terhadap duniawi. Terlebih mereka sangat menyepelekan adzab Allah ta’ala. Neraka dalam pandangannya sesuatu yang ringan dan remeh. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,

 وَقَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ وَغَرَّهُمْ فِي دِينِهِمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ (آل عمران: 24)

“Hal itu adalah karena mereka mengaku: “Kami tidak akan disentuh oleh api Neraka kecuali beberapa hari yang dapat dihitung”. Mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada-adakan” (QS. Ali Imron: 24)

Ditambah lagi kedustaaan yang mereka proklamirkan dan dipandangnya sebagai bagian dari aqidah mereka, yaitu keberadaaanya sebagai orang-orang pilihan Allah ta’ala di muka bumi. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,

وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ (المائدة: 18)

“Yahudi dan Nashroni berkata: kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya” (QS. Al-Maidah: 18)

Penjelasan yang sebenarnya berikut ini: Bahwa diutamakannya Yahudi atas ummat lainnya itu hanya di zaman mereka ketika itu saja. Bukan berlangsung terus-menerus selama – selamanya bagaimanapun keadaan mereka seperti mengubah-ubah ajaran dan melakukan penentangan terhadap Allah ta’ala. Tentunya tidak demikian. Allah ta’ala berfirman,  

 وَإِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لا يَكُونُوا أَمْثَالَكُمْ (محمد: 38)

“Dan jika kalian berpaling niscaya Dia akan mengganti (kalian) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kalian ini” (QS. Muhammad: 38)

Setelah mereka, Allah ta’ala memilih ummat Muhammad shalallahu alaihi wasallam sebagaimana firman-Nya,

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا (فاطر: 32)

“Kemudian Kami mewariskan Kitab kepada orang-orang yang Kami pilih dari antara hamba-hamba Kami” (QS.Fathir: 32)

Yang dimaksud adalah Allah ta’ala mewariskan kitab dan kenabian kepada ummat terakhir serta mengutamakan mereka. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُوا عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ (الجمعة: 2)

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata” (QS. Al-Jumuah: 2)

Judul Buku: Mahabbah, Khouf, dan Roja’

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)