Dunia ini tidak lain adalah tempat ujian. Banyak sekali ujian-ujian yang Allah berikan kepada kita. Di antaranya adalah ujian yang berupa sakit. Betapa banyak manusia yang tidak lulus dari ujian ini. Saat ujian berlangsung, mereka tidak mendapatkan sesuatu kecuali penderitaan demi penderitaan. Rapor merah pun telah menantinya di Akhirat.
Lain halnya seorang mukmin, ia telah menyiapkan segalanya dalam menjalani ujian sakit tersebut, sehingga banyak hal positif yang didapatkannya. Demikan pula di Akhirat kelak, garis finish kemenangan pun telah menunggunya. Insya Allah.
Agar orang mukmin itu adalah diri Anda, perhatikanlah poin-poin berikut ini:
1. Tidak Mengeluh
Yakinlah bahwa apa saja yang menimpa diri Anda baik yang menyenangkan atau sebaliknya sudah ditakdirkan Allah sebagaimana sabda Nabi:
أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَأَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ
ANNA MAA ASHOOBAKA LAM YAKUN LI YUKHTHIAKA WA ANNA MAA AKITIOAKA LAM YAKUN LI YUSHIIBAKA
“Sesungguhnya apa (yang Allah takdirkan) menimpa anda tidak akan meleset dari diri anda. Dan apa (yang Allah takdirkan) meleset dari diri anda, tidak akan menimpa anda.” (HR. Abu Daud dari Ubay Bin Ka’ab)
2. Menyadari Bahwa Semua Ketentuan Allah adalah Baik, Tidak Ada yang Jelek
Seringkali kita mengucapkan “Subhanallah” yang berarti Maha Suci Allah. Apa maksudnya? Maksudnya, Allah Maha Sempurna, sehingga semua yang berasal dari Allah itu sempurna, tidak ada yang cacat, buruk, aib, terdapat kekurangan, dan lain-lain. Allah berfirman:
وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ [البقرة/216]
WA ‘ASAA AN TAKROHUU SYAY’AN WA HUWA KHOIRU-L-LAKUM WA ‘ASAA AN TUHIBBUU SYAY’AN WA HUWA SYARRU-L- LAKUM. WALLAAHU YA’LAMU WA ANTUM LAA TA’LAMUUN
“Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu, Allah Mengetahui sementara kalian tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Sebagai contoh, ada seorang anak balita bermain-main api, kira-kira orang tuanya mencegahnya atau tidak?
Tentu mencegahnya, karena rasa sayang mereka kepada anaknya sehingga tidak sampai terbakar oleh api tersebut. Kita tidak mungkin mengatakan, “Waah… orang tua itu tidak sayang anaknya. Masak keinginan anaknya dihalang-halangi?”
3. Sakit adalah Tanda Seseorang Dicintai Allah
Setiap orang tentu ingin disayang oleh Allah. Di antara tanda Allah mencintai seseorang adalah Dia menjadikannya sakit. Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda:
مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ
MAN YURID ALLAHU BIHI KHOIRON YUSHIB MINHU
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan ada pada dirinya, Dia akan memberinya musibah” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah)
Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda:
إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
IDZAA AROODA ALLAHU BI ABDIHI AL-KHOIRO ‘AJJALA LAHU AL-‘UQUBAH FI- D-DUNYA, WA IDZA AROODA ALLAHU BI ‘ABDIHI ASY-SYARRO AMSAKA ‘ANHU BI DZANBIHI HATTA YUWAAFII BIHI YAUMA- L-QIYAMAH
“Jika Allah menghendaki kebaikan bagi hambaNya niscaya Allah Allah akan menyegerakan musibah baginya di dunia, dan jika Allah menghendaki keburukan bagi hamba-Nya niscaya Allah membiarkannya dengan dosanya sehingga Allah membalasnya pada hari Kiamat.” (HR. At-Tirmidzi dari Anas bin Malik)
4. Sakit adalah Sarana Seseorang Mengetahui Betapa Bernilainya Nikmat Kesehatan
Anda bisa mengatakan suatu makanan itu enak, karena Anda pernah merasakan makanan yang tidak enak. Anda bisa mengatakan suatu rekreasi sangat berkesan, karena Anda pernah merasakan rekreasi yang menjemukan.
Demikian pula, Anda bisa mengatakan sehat itu menyenangkan, tentu karena Anda pernah merasakan sakit. Ada kata mutiara yang cukup populer:
الصحة تاج على رؤوس الأصحاء لا يراها إلا المرضى
ASSHIHHATU ‘ALAA TAAJUN RU’UUSI-L-ASHIHHAA-I LAA YAROOHAA ILLA AL-MARDLOO
“Sehat itu mahkota di atas kepala orang yang sehat, dan tidak ada yang bisa melihatnya kecuali orang sakit.”
5. Jika Anda Merasakan Sangat Menderita dengan Sakit yang Anda Alami, Ketahuilah Anda Bukanlah Orang yang Paling Menderita. Banyak Orang Lain yang Jauh Lebih Menderita karena Sakitnya.
Kalau anda mengalami kecelakaan yang berakibat kehilangan satu kaki, ketahuilah! Ada yang kecelakaan dan kehilangan dua kaki!!!!
Kalau Anda kehilangan dua kaki, ingatlah! Ada yang kehilangan dua kaki ditambah satu tangannya patah!!!!!
Kalau anda kehilangan dua kaki dan satu tangannya patah, ketahuilah! Saudara Anda kehilangan dua kaki sekaligus dua tangannya!!!!!
Kalau anda kehilangan dua kaki dan dua tangan sekaligus, ingatlah! Ada orang yang demikian dan kepalanya bocor, dan seterusnya!!!!!
Dengan menyadari hal ini, Anda bisa bersyukur ketika Anda ditimpa musibah. Nabi bersabda:
اُنْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ
UNDZURUU ILAA MAN ASFALA MINKUM WA LAA TANDZURUU ILAA MAN HUWA FAWQOKUM FAHUWA AJDARU AN LAA TAZDARUU NI MATALLAH
“Lihatlah orang yang lebih rendah dari kalian, janganlah melihat orang yang lebih tinggi dari kalian, dengan demikian kalian tidak memandang rendah nikmat Allah” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)
6. Jika Sakit yang Anda Derita Terasa Paling Berat Dibandingkan dengan Orang-Orang Sakit di Sekitar Anda, Berharaplah Semoga Hal itu adalah Tanda Bahwa Anda Lebih Dicintai Allah.
Nabi ditanya tentang siapakah yang paling berat cobaannya? Beliau menjawab:
الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَة
“Para Nabi kemudian yang semisalnya dan yang semisalnya. Seseorang itu diberi cobaan sesuai tingkatan agamanya. Jika agamanya kuat maka cobaannya besar dan jika agamanya lemah maka dia diuji sesuai kadar agamanya. Seorang hamba senantiasa diberi cobaan sehingga dia berjalan di muka bumi tanpa dosa.” (HR. At-Tirmidzi)
7. Bersabarlah Ketika Anda Sakit
Jika Anda bisa bersabar ketika sakit maka Anda akan meraih keuntungan besar, yaitu dosa-dosa Anda akan terhapus, derajat Anda diangkat, dan Anda dimasukkan ke dalam Surga. Nabi shalallahu alahi wasallam bersabda:
مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ وَلَا نَصَبٍ وَلَا سَقَمٍ وَلَا حَزَنٍ حَتَّى الْهَمِّ يُهَمُّهُ إِلَّا كُفِّرَ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ
MA YUSHIIBU-L- MU’MI-NA MIN WASHOBIN WA LAA SAQOMIN WA LAA HAZANIN HATTA AL-HAMMI YUHIM-MAHU ILLAA KUFFIRO BIHI MIN SAYYIAATIHI
“Tidaklah sakit, keletihan, dan kesedihan menimpa seorang mukmin hingga kecemasan yang meliputinya melainkan dihapuskan kesalahan-kesalahannya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah dan Abu Said)
Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa ada seorang wanita berkulit hitam datang kepada Nabi shalallahu alahi wasallam:
فَقَالَتْ إِنِّي أَصْرَعُ وَإِنِّي أَتَكَشَفُ فَادْعُ اللَّهَ لِي قَالَ إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَكِ فَقَالَتْ أَصْبِرُ فَقَالَتْ إِنِّي أَتَكَشَفُ فَادْعُ اللَّهَ لِي أَنْ لَا أَتَكَشَفَ فَدَعَا لَهَا
Wanita itu berkata: “Saya terkena penyakit epilepsi dan (pakaian) saya (sering) tersingkap (jika sedang kambuh), berdoalah kepada Allah untukku!” Nabi bersabda: “Jika Anda mau, bersabarlah dan bagi Anda Surga, dan jika Anda mau, saya berdoa kepada Allah agar menyembuhkan Anda.” Dia berkata: “Saya (memilih) bersabar, tetapi (pakaian saya) tersingkap (ketika epilepsi saya kambuh), maka berdoalah kepada Allah untukku agar (pakaianku) tidak tersingkap. Beliau pun mendoa-kannya” (HR. Bukhari dan Muslim)
Coba renungkan! Wanita ini memilih bersabar, karena Nabi menjanjikannya Surga.
Ingat! Urusan apa pun yang menimpa orang mukmin adalah baik, tidak ada yang jelek.
Nabi bersabda:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Mengagumkan urusan orang mukmin itu, sesungguhnya seluruh urusannya baik. Tidak ada orang yang bisa demikian kecuali orang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan dia bersyukur maka itu baik baik baginya, dan jika mendapatkan perkara yang tidak menyenangkan dia bersabar maka itu baik baginya.” (HR. Muslim dari Shuhaib)
8. Sabar yang paling utama
Setelah kita mengetahui bahwa demikian agung keutamaan sabar, lalu bagaimana jika sabar yang ada pada seseorang adalah sabar yang paling utama? Tentunya akan menda-patkan nilai tambah tersendiri.
Ketika seseorang ditimpa musibah, dia langsung menyadari bahwa semua itu tidak lain terjadi dengan takdir Allah. Inilah sabar yang paling utama. Dia bisa langsung bersabar sejak pertama kali hentakan musibah menghantamnya.
Sedikit pun tidak didahului keluh kesah, berteriak-teriak, marah-marah, menangis yang berlebihan dan lain-lain. Tetapi dia langsung membaca:
اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا
ALLAHUMMA JURNII FII MUSHIIBATII WA AKHLIF LII KHOIRON MINHAA
“Yaa Allah berilah aku pahala dari musibahku ini dan berilah aku ganti yang lebih baik darinya” (HR. Muslim dari Ummu Salamah)
Sering terjadi seseorang tidak bersabar sejak pertama kali hentakan musibah memukulnya, tetapi dia baru sabar setelah beberapa saat kemudian.
Mari kita memperkuat keimanan kepada takdir, sehingga kita bisa bersabar dengan sabar yang paling utama.
Nabi bersabda:
إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى
INNAMA ASH-SHOBRU ‘INDA-SH- SHODMAH AL-UULA
“Sesungguhnya sabar (yang utama) itu ketika hentakan (musibah) yang pertama kali” (HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik)
9. Doa untuk kesembuhan
Terkadang seseorang hanya terfokus pada ikhtiar medis. Dia melupakan ikhtiar non medis, yaitu doa. Ini adalah kesalahan, karena keduanya diperintahkan oleh syariat.
Ada beberapa doa yang diajarkan agar Allah menyembuhkan, di antaranya:
أَذْهِبْ الْبَاسَ رَبَّ النَّاسِ اشْفِ وَأَنْتَ الشَّافِي لَا شِفَاء إِلَّا شِفَاؤُكَ شِفَاءٌ لَا يُغَادِرُ سَقَمًا
ADZHIBI-L-BA’SA ROBBA-N-NAAS ISYFI WA ANTA ASY-SYAAFII LAA SYIFAA-A ILLAA SYIFAA-UKA SYIFAA-AN LAA YUGHOODIRU SAQOMAN
“Hilangkanlah penyakit ini Tuhan (sesembahan) wahai manusia, sembuhkanlah! Engkau adalah Dzat Yang Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhanMu. Kesembuhan yang tidak meninggalkan rasa sakit.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Aisyah)
◇ Orang yang sakit meletakkan tangannya di bagian yang sakit di tubuhnya sambil membaca:
بِاسْمِ اللهِ (3x)
BISMILLAH (Sebanyak 3x)
Dengan menyebut nama Allah”
Lalu membaca:
أَعُوذُ باللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِر (7x)
A’UUDZU BILLAAHI WA QUDROTIHI MIN SYARRI MAA AJIDU WA UHAADZIRU (Sebanyak 7x)
“Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaanNya dari kejelekan apa saja yang aku dapati dan aku waspadai.” (HR. Muslim)
Judul Buku: Risalah Qurban
Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)
