Solusi Investasi Akhirat Anda

Nabi Yusuf alaihissalam (Kisah dan ‘Ibrah) bagian 6

B. ‘IBROH

1. Ini sebaik-baiknya kisah dan yang paling gamblang yang dituturkan oleh Al-Qur’an. Di dalamnya terdapat banyak fenomena peralihan dari satu keadaan ke keadaan yang lain. Dari satu ujian ke ujian lainnya. Dari suatu ujian kepada pertolongan. Dari kehinaan kepada kemuliaan. Dari rasa aman kepada rasa takut dan sebaliknya. Dari orang merdeka menjadi budak dan sebaliknya. Dari perpecahan kepada persatuan dan sebaliknya. Dari kegembiraan kepada kesedihan dan sebaliknya. Dari subur ke tandus dan sebaliknya. Dari lapang ke sempit dan sebaliknya. Dan lain-lain termasuk tentang perjalanan menuju kesudahan yang baik. Maha Tinggi Allah yang telah menjadikan kisah ini sebagai ‘ibrah bagi ulul albab.

2. Secara umum ilmu takwil mimpi didasarkan pada kemiripan atau kesesuaian atau hal-hal yang memiliki sifat serupa. Tetapi ilmu tentang takwil mimpi hanya diberikan oleh Allah azza wa jalla kepada siapa saja yang Dia kehendaki dari antara hamba-hamba-Nya.

a. Kita perhatikan kesesuaian mimpi Yusuf dengan takwilnya. Dia melihat matahari, bulan dan 11 bintang sujud kepadanya. Mereka adalah perhiasan langit yang memiliki manfaat besar. Demikian pula para Nabi, ulama dan orang-orang pilihan adalah perhiasan di bumi. Melalui mereka manusia mendapatkan petunjuk dari kegelapan menuju cahaya sebagaimana cahaya benda-benda langit menerangi dunia. Ayah dan ibunya adalah induk tentu cahayanya lebih kuat daripada saudara-saudaranya. Nah, matahari dan bulan itu laksana ayah dan ibu sementara bintang-bintang adalah saudara-saudaranya. Orang yang disujudi tentu lebih utama daripada orang yang bersujud kepadanya. Ketika Yusuf disujudi tidak saja oleh saudarasaudaranya melainkan juga oleh ayah dan ibunya menunujukkan betapa Yusuf menjadi orang yang sangat agung. Tidaklah derajat ini didapatkan oleh Yusuf kecuali setelah melalui proses ilmu, amal dan ujian yang panjang. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an,

وَكَذَٰلِكَ يَجْتَبِيكَ رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ مِن تَأْوِيلِ ٱلْأَحَادِيثِ وَيُتِمُّ نِعْمَتَهُۥ عَلَيْكَ وَعَلَىٰٓ ءَالِ يَعْقُوبَ كَمَآ أَتَمَّهَا عَلَىٰٓ أَبَوَيْكَ مِن قَبْلُ إِبْرَٰهِيمَ وَإِسْحَٰقَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Dan demikianlah Tuhanmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebagian dari takwil mimpi-mimpi dan disempurnakan-Nya nikmat-Nya kepadamu” (QS. Yusuf: 6)

b. Pada mimpi dua orang pemuda juga ada kesesuaian pada takwilnya. Memeras anggur biasanya dilakukan oleh seseorang untuk tuannya. Maka ditakwilkan pemuda yang bermimpi tersebut akan menjadi pelayan bagi raja. Demikian juga pemuda yang bermimpi memanggul roti di atas kepalanya lalu burung datang mematukinya ditakwilkan ia akan dibunuh lalu disalib sampai pada suatu masa hingga otak yang ada dalam kepalanya habis dimakan oleh burung.

c. Pada mimpi raja tentang tujuh sapi dan tujuh tangkai gandum ditakwilkan dengan masa subur dan masa paceklik. Sisi kesesuaiannya, raja itu terikat kuat dengan rakyat pada hal kesejahteraan atau sebaliknya. Tahun-tahun subur dan tahuntahun tandus adalah dua perkara yang meliputi kehidupan. Sapi alat untuk membajak sawah dan mengangkut hasil panen. Disebutkan tujuh sapi gemuk lalu tujuh sapi kurus, juga tujuh tangkai gandum hijau lalu tujuh gandum kering. Dari keduanya yang disebutkan terlebih dahulu adalah yang gemuk dan hijau baru kemudian kurus dan kering, karena suatu keniscayaan yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah menanam dan menyimpan hasil panen kemudian memakannya sedkkit-sedikit untuk menghadapi tahun-tahun paceklik selama tujuh tahun.

d. Dari mana Yusuf mentakwilkan setelah tujuh tahun paceklik adalah tahun-tahun subur? Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an,

ثُمَّ يَأْتِى مِنۢ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَامٌ فِيهِ يُغَاثُ ٱلنَّاسُ وَفِيهِ يَعْصِرُونَ

“Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan di masa itu mereka memeras anggur” (QS. Yusuf: 49)

Apakah itu tambahan dari Yusuf berdasarkan wahyu? Jawabannya tentu dari mentakwil mimpi itu sendiri. Bukankah tahun-tahun peceklik akan berlangsung hanya selama tujuh tahun? Berarti yang berikutnya adalah tahun-tahun subur.

Menunjukkan bukti kenabian Muhammad shalallahu alaihi wasallam. Beliau telah mengkisahkan kisah ini secara terperinci sesuai realitanya. Padahal beliau tidak pernah membaca kitab-kitab terdahulu dan tidak pernah belajar kepada siapapun sebagaimana hal itu diketahui oleh kaumnya. Beliau sendiri ummiy tidak bisa membaca dan menulis. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,

ذَٰلِكَ مِنْ أَنۢبَآءِ ٱلْغَيْبِ نُوحِيهِ إِلَيْكَ ۖ وَمَا كُنتَ لَدَيْهِمْ إِذْ أَجْمَعُوٓا۟ أَمْرَهُمْ وَهُمْ يَمْكُرُونَ

“Demikian itu (adalah) di antara berita-berita yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); padahal kamu tidak berada pada sisi mereka, ketika mereka memutuskan rencananya (untuk memasukkan Yusuf ke dalam sumur) dan mereka sedang mengatur tipu daya” (QS. Yusuf: 102)

4. Seyogyanya seorang hamba menghindarkan diri dari perkara yang bisa menjerumuskan kepada keburukan dan menyembunyikan sesuatu yang bisa mendatangkan kemudharatan. Sebagaimana ucapan Ya’qub kepada Yusuf,

قَالَ يَٰبُنَىَّ لَا تَقْصُصْ رُءْيَاكَ عَلَىٰٓ إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُوا۟ لَكَ كَيْدًا ۖ إِنَّ ٱلشَّيْطَٰنَ لِلْإِنسَٰنِ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

“Ayahnya berkata: “Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, niscaya mereka akan membuat makar (untuk membinasakanmu. Sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia”. (QS. Yusuf: 5)

5. Boleh menyebutkan seseorang dengan sesuatu yang tidak disukai sebagai antisipasi untuk menghidarkan kemudhorotan. Sebagaimana ucapan Ya’qub kepada Yusuf pada ayat di atas (QS. Yusuf: 5).

6. Nikmat yang Allah ta’ala berikan kepada seseorang juga merupakan kenikmatan untuk siapapun yang terkait dengannya, seperti keluarganya, kerabatnya dan teman-temannya. Sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur’an,

وَيُتِمُّ نِعْمَتَهُۥ عَلَيْكَ وَعَلَىٰٓ ءَالِ يَعْقُوبَ

“Dia menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya’qub” (QS. Yusuf: 6)

Yang mendapatkan nikmat Yusuf, tetapi Allah ta’ala menyatakan juga untuk keluarga Ya’qub berupa kebahagiaan, kedudukan, hilangnya permusuhan, dan utuhnya ukhuwwah.

Untuk mencapai kenikmatan besar baik duniawi atau ukhrowi haruslah dengan ikhtiar-ikhtiar atau sebab-sebab yang menghantarkan kepadanya. Ini adalah ketetapan Allah atau sunnatullah. Yusuf mendapatkan kedudukan terhormat tidak dengan “lenggang kangkung”. Allah pun memberikan kepada Yusuf taufiq untuk meniti proses-proses dan tahapan-tahapannya.

8. Bersikap adil itu dituntut dalam setiap permasalahan, besar ataupun kecil. Penguasa terhadap rakyatnya, majikan terhadap bawahannya, guru terhadap muridnya, orangtua terhadap anaknya dan lain-lain. Nabi Ya’qub telah berbuat adil kepada anak-anaknya. Dia tidak pilih kasih terhadap mereka. Dia tidak memberikan suatu pemberian kepada Yusuf tanpa saudara lainnya yang menciderai sikap adil . Adapun adanya kecenderungan lebih kepada Yusuf daripada yang lainnya disebabkan ibunya telah wafat sementara dia masih kecil. Jadi, semata-mata sekedar kecenderungan hati atau perasaan cinta. Kecenderungan hati secara tidak adil tidak tercela di dalam agama. Karena hal itu di luar kemampuan manusia. Sebagaimana Nabi berbuat adil kepada istri-istrinya, tetapi kecenderungan hati secara lebih besar itu kepada ‘Aisyah. Namun demikian, hal itu telah menjadikan saudara-saudara Yusuf dengki kepadanya. Lalu bagaimana kiranya jika Ya’qub tidak bersikap adil sesama mereka? Sungguh syetan selalu memperdaya manusia.

9. Dampak buruk suatu dosa. Satu dosa akan melahirkan dosa berikutnya dan terus berantai yang terbangun dari dosa pertama. Lihatlah dosa saudara-saudara Yusuf. Ketika mereka berkeinginan memisahkan Yusuf dan ayahnya, maka mereka berbuat dosa lainnya agar tidak ketahuan keburukannya. Berkali-kali mereka berbuat kedustaan. Di mulai memalsukan darah, memperlihatkan kesedihan palsu, membuat- buat tangisan palsu, datangnya di waktu Isya untuk menyamarkan banyak hal dan kedustaankedustaan lainnya. Waspadalah dari setiap dosa. Khususnya dosa yang bisa bercabang-cabang!

10. Seseorang itu dilihat pada perjalanan akhirnya. Masa lalunya yang “hitam” janganlah dilihat hingga menutupi cemerlangnya akhir perjalanan. Saudara-saudara Yusuf berbuat dosa sedemikian rupa, tetapi perjalanan berikutnya adalah taubat nasuha dan menghiasi diri dengan kebaikan yang akhirnya mendapatkan permaafan dari ayah mereka dan Yusuf serta didoakan dengan ampunan dan rahmat. Kalau manusia saja sebagai hamba leluasa memberikan permaafan lalu bagaimana dengan Allah Arhamu-r-Rahimin? Maka saudara-saudara Yusuf pun Allah angkat derajatnya dengan menjadi Nabi sebagaimana dijelaskan oleh sebagian mufassir dengan mendasarkan pada firman Allah,

قُولُوٓا۟ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَآ أُنزِلَ إِلَىٰٓ إِبْرَٰهِۦمَ وَإِسْمَٰعِيلَ وَإِسْحَٰقَ وَيَعْقُوبَ وَٱلْأَسْبَاطِ

“Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya” (QS. Al-Baqoroh: 136)

Yang dimaksud dalam ayat ini “anak cucunya” adalah anak-anak Ya’qub yang jumlahnya 12 orang. Dikuatkan dengan mimpi Nabi Yusuf bahwa mereka adalah bintang-bintang yang notabene cahaya dan hidayah yang identik dengan para Nabi. Jika bukan para Nabi, maka mereka para ulama ahli ibadah.

11. Nabi Yusuf alaihissalam diberi anugerah ilmu, kesabaran dan akhlak mulia lainnya. Sehingga mudah sekali baginya untuk memaafkan saudara-saudaranya tanpa mengungkit-ungkit kesalahan mereka sedikitpun.

12. Nabi Yusuf alaihissalam sangat sabar dan teguh di dalam berdakwah, hingga keberadaannya di dalam penjara pun dia gunakan sebaik-baiknya untuk berdakwah. Dua pemuda yang bertanya mengenai takwil mimpi, tidak langsung dijawab melainkan dijadikannya kesempatan untuk menyampaikan dakwah.

13. Kejahatan bertingkat-tingkat ada yang ringan, sedang dan berat. Melakukan kejahatan yang lebih ringan lebih baik daripada kejahatan yang lebih berat. Ketika saudara-saudara Yusuf mengatakan “Bunuh Yusuf”, maka ada seseorang dari mereka yang mengatakan “ Jangan kalian bunuh, tetapi lemparkan saja ke sumur niscaya ada musafir yang mengambilnya”. Idenya ini lebih baik daripada ide mereka. Tujuan mereka sama yaitu menyingkirkan Yusuf dari ayahnya, tetapi ide yang kedua bisa menyelamatkan saudara-saudaranya dari dosa yang lebih besar dan menyelamatkan nyawa Yusuf.

14. Mendapatkan barang yang tidak syar’i tidaklah berdosa jika seseorang tidak mengetahui kronologi keharamannya. Di sini musafir membeli Yusuf sebagai budak dan menjualnya kembali juga sebagai budak karena ketidaktahuannya bahwa dia bukanlah budak. Saudara-saudara Yusuf lah yang bermasalah. Dalilnya, Allah ta’ala menyebut perbuatan pembesar kerajaan untuk mendapatkan Yusuf dengan sebutan “isytaroo” yang bermakna membeli sebagaimana pada QS. Yusuf: 11.

Judul Buku: Nabi Yusuf alaihissalam (Kisah dan ‘Ibrah)

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)