Memerintahkan untuk mencari Yusuf dan Bunyamin
Sesuai kadar keimanan seseorang, maka setinggi itu pula rasa harap kepada rahmat Allah ta’ala. Ya’qub alaihissalam seorang Nabi sudah barang tentu memiliki keimanan tertinggi dari antara manusia, beliau pun memerintahkan anak-anaknya,
“Anak-anakku pergilah kalian ke Mesir dan tempat manapun yang diperkirakan Yusuf dan Bunyamin ada di situ. Carilah keduanya dengan penuh optimis. Berharaplah kepada rahmat Allah. Bukti orang berharap rahmat adalah semangat dan bersungguh-sungguh dalam berikhtiar. Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah ta’ala. Karena tidaklah berputus asa dari rahmat Allah melainkan orang kafir”.
Mereka berangkat. Ketika sampai di istana kerajaan Mesir, Mereka segera menghadap Yusuf,
“Paduka yang mulia nan dermawan. Kami datang lagi untuk mendapatkan bahan makanan. Sungguh manusia mengalami paceklik, kekurangan dan kelaparan, demikian juga kami dan keluarga..”
“Paduka yang mulia, yang kami bawa hanya barang-barang murahan yang setiap pedagang akan memalingkan pandangan. Tapi, mohon Paduka yang mulia, berilah kami jatah sebagaimana semestinya meskipun kami hanya bisa menyerahkan barang-barang murahan ini….”
“Paduka yang mulia, ditambah lagi perasaan kami selalu gundah-gulana melihat Ayah kami yang terus menangis sedih sejak putranya, Bunyamin engkau jadikan budak sebagai hukuman atas perbuatannya”
“Dan, sebelumnya Beliau telah kehilangan putranya yang bernama Yusuf”.
“Paduka yang mulia nan dermawan, Allah lah yang akan membalas seluruh kebaikanmu”.
Yusuf diam tertegun mendengarkan penuturan saudara-saudaranya. Terbayang olehnya akan kesulitan yang dialami orangtua dan keluarganya. Sementara dirinya berada dalam istana dengan segala fasilitas di atas rata-rata. Dia pun menangis….air matanya berlinang membanjiri pipi. Lalu, dibukanya mahkota kebesaran istana. Dia hendak menyingkap rahasia yang sedang ditutupinya. Maka, terlihatlah tahi lalat pada pelipisnya yang sangat mereka kenali sebagai ciri-ciri Yusuf. Saudara-saudaranya pun terperanjat kaget.
“Apa yang kalian lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kalian diliputi kebodohan?”, tanya Yusuf membuyarkan terperanjatnya mereka.
Betapa mereka tersadarkan orang yang ada di hadapannya tidak lain adalah saudara mereka, Yusuf.
“Apakah kamu itu Yusuf?”, tanya mereka hampir berbarengan.
“Iya betul, saya Yusuf dan ini Bunyamin saudaraku”.
“Allah ta’ala telah memberikan kami anugerah disebabkan kesabaran dan ketaqwaan. Sungguh Allah ta’ala tidak menyia-nyiakan balasan bagi para muhsinin”.
Mereka, lalu, mendekap memeluk Yusuf dan Bunyamin. Rasa haru dan bahagia pun meliputi mereka.
Mengakui kesalahan
Saudara-saudara Yusuf berkata,
“Allah ta’ala telah menganugerahkanmu akhlak mulia dan sifat-sifat terpuji. Sementara kami telah berbuat buruk kepadamu. Kami telah menjauhkanmu dari Ayah. Kami juga telah berbuat keji yang bisa mencelakakanmu”.
“Sungguh Allah ta’ala memuliakanmu dan menempatkanmu pada kedudukan yang kamu kehendaki. Sementara kami ini orang-orang pendosa. Kami ini jahat terhadapmu, wahai Yusuf”.
“Maafkanlah kami, wahai Yusuf…”
“Maafkanlah kami, wahai Yusuf..”
Yusuf merespon dengan hati sangat lapang dan sikap memaafkan. Sedikitpun tidak mengungkitungkit kesalahan mereka. Dia tetap bersikap manis tanpa roman muka emosi apalagi dendam. Bahkan dia mendoakan dengan rahmat dan ampunan Allah ta’ala. Yang demikian itu sulit kecuali bagi orang khusus pilihan Allah ta’ala,
“Yang lalu sudahlah biarkan berlalu. Tidaklah tercela orang berbuat kesalahan lalu mentaubatinya. Semoga Allah ta’ala mengampuni dan merahmati kalian semua Sesungguhnya Allah Dzat Yang Paling penyayang dari antara siapapun yang penyayang”.
“O iya, bagaimana kabar Ayah dan Ibu?”, tanya Yusuf.
“Ayah sering sedih sejak berpisah darimu hingga kedua matanya memutih”, jelas saudara-saudaranya.
“Kalau begitu pulanglah kalian dan bawalah bajuku ini, lalu usapkanlah pada wajahnya, nanti pandangannya bisa normal kembali in syaa-a Allah”.
“Dan jangan lupa, datanglah kalian dengan semua keluarga kalian kemari!!!”
Setiap penyakit ada obatnya. Sang ayah menjadi sakit karena banyak sedih akibat kehilangan anaknya. Obatnya adalah pertemuan. Paling tidak muqoddimahnya yaitu mencium aroma bau anaknya terlebih dahulu agar semangat kejiwaannya bangkit kembali. Pada hal yang demikian ini terdapat hikmah dan rahasia Allah. Tetapi tidak semua orang mengetahuinya.
Penglihatan Nabi Ya’qub alaihissalam kembali normal
Ketika kafilah itu telah meninggalkan negeri Mesir memasuki Palestina dengan membawa pakaian Yusuf, Ya’qub berkata kepada orang-orang yang bersamanya,
”Sesungguhnya saya benar-benar mencium aroma bau Yusuf”.
Orang-orang yang ada di sekitarnya terkejut dengan ucapan Ya’qub itu dan memandanginya dengan terheran-heran, “Engkau tidak benar, jangan-jangan engkau mengigau?”
“Lho… kalian jangan mengira saya ini mengigau, melamun, meracau…. . Saya ini ngomong dengan sadar!”, jelas Ya’qub memecahkan kebekuan.
Ketika mereka sudah sampai rumah, memancarlah cahaya kegembiraan. Seseorang yang membawa baju Yusuf bergegas menuju Ayah dan langsung mengusapkannya pada wajahnya. Seketika itu, beliau bisa melihat normal kembali. Ya’qub alaihissalam lalu mengatakan kepada anak-anaknya dan orang-orang yang di sekitarnya,
“Bukankah saya telah katakan kepada kalian saya ini telah mencium aroma bau Yusuf, tetapi kalian sepertinya tidak percaya”.
“Ketahuilah saya mengetahui dari Allah ta’ala sesuatu yang kalian tidak mengetahuinya”.
Anak-anaknya sangat senang sekali dengan kesembuhan ayah mereka, tetapi pada saat yang sama mereka sangat ketakutan atas makar yang telah diperbuatnya. Barcampurlah pada diri mereka antara rasa gembira, ketakutan dan rasa bersalah.
“Ayah, maafkanlah kami….. !”
“Ayah, maafkanlah kami..!”
“Ayah, mohonkan ampunan kepada Allah untuk kami..!”
“Ayah, mohonkan ampunan kepada Allah untuk kami..!”
“Sudah pasti, Anak-anakku. Harapanku sedemikian besar agar Allah Al-Ghofur Ar-Rohim mengampuni dan melimpahkan rahmat kepada kalian dan kita semua. Tetapi, saya akan memanjatkannya nanti di waktu sahur. Waktu yang mustajab untuk berdoa”, jawabnya memenuhi permintaan maaf anak-anaknya.
Bersama, berangkat menuju istana Mesir
Nabi Ya’qub alahissalam, anak-anaknya dan seluruh keluarga mereka melakukan persiapan untuk keberangkatan menemui Yusuf dan Bunyamin di istana Mesir. Mereka menyiapkan apa saja yang diperlukan. Ketika sudah sampai, mereka langsung masuk ke istana dan segera menuju tempat Yusuf berada. Begitu melihat mereka, Yusuf langsung mendekap dan memeluk kedua orangtuanya dengan penuh kehangatan. Yusuf menunjukkan sikap rindu dan ta’zhim kepada orangtuanya. Suasana haru dan bahagia meliputi Nabi Ya’qub dan keluarganya. Lengkap sudah Ya’qub berkumpul dengan anak-anaknya.
“Ahlan wa sahlan…. Ayah, Ibu dan seluruh saudara-saudaraku dengan seluruh keluarganya. Aman…aman….aman… di Mesir ini in syaa-a Allah”, ujar Yusuf yang menambah suasana semakin hangat dan akrab.
Terwujudnya takwil mimpi
Yusuf alaihissalam menempatkan ayah dan ibunya untuk duduk di tempat terhormat, singgasana kerajaan. Lalu, ayah dan ibu serta seluruh saudaranya sujud kepadanya sebagai bentuk penghormatan. Melihat keadaan yang demikian, Yusuf langsung berujar,
“Ayah, ini takwil mimpi yang dulu saya ceritakan kepada engkau…”
“Ketika itu saya bermimpi melihat matahari, bulan dan sebelas bintang semuanya sujud kepadaku. Inilah wujudnya. Allah ta’ala telah menjadikannya sebagai kenyataan. Bukan bunga tidur belaka”.
“Sungguh, Allah ta’ala telah berbuat baik kepadaku. Dia Ta’ala mengeluarkanku dari penjara dan mendatangkan suadara-saudaraku dari tempat yang jauh…”
“Sungguh Allah ta’ala telah mempertemukan saya dan saudara-saudaraku setelah syetan mencerai-beraikan kami..”.
“Sungguh Allah itu AL-LATHIIF Dzat Yang Maha Lembut kepada siapa saja yang dikehendaki”.
Di sini Yusuf mengatakan Allah telah berbuat baik “kepadaku”, tidak mengatakan “kepada kita”, untuk mensyukuri nikmat bahwa balasan orang yang sabar dan berbuat baik seperti dirinya adalah kebaikan juga.
Di sini juga tampak agungnya budi pekerti Yusuf. Dia hanya menyebut kondisinya ketika di penjara, sama sekali tidak menyinggung keberadaannya di sumur. Karena hal itu akan mengungkit kesalahan saudara-saudaranya. Sungguh dia seorang pemaaf.
Dia juga tidak mengatakan bahwa Allah ta’ala telah mendatangkan saudara-saudaranya ”dari kelaparan”. Tetapi, yang dikatakan “dari tempat yang jauh”. Dia bersikap tawadhu’ atas kebaikan yang telah diperbuatnya terhadap saudara-saudaranya yang kelaparan.
Kemudian Nabi Yusuf alaihissalam memuji Allah ta’ala dan berdoa kepada-Nya,
رَبِّ قَدْ ءَاتَيْتَنِى مِنَ ٱلْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِى مِن تَأْوِيلِ ٱلْأَحَادِيثِ ۚ فَاطِرَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ أَنتَ وَلِىِّۦ فِى ٱلدُّنْيَا وَٱلْءَاخِرَةِ ۖ تَوَفَّنِى مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِى بِٱلصَّٰلِحِينَ
“Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kerajaan dan telah mengajariku sebagian takwil mimpi. Wahai Dzat Pencipta langit dan bumi, Engkau Pelindungku di dunia dan Akherat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan kumpulkanlah aku dengan orang-orang yang shaleh.
Judul Buku: Nabi Yusuf alaihissalam (Kisah dan ‘Ibrah)
Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

