Solusi Investasi Akhirat Anda

Nabi Yusuf alaihissalam (Kisah dan ‘Ibrah) bagian 4

Mereka pun memasuki kerajaan Mesir secara berpencar sebagaimana yang diwasiatkan ayah mereka. Ketika mereka masuk menemui Nabi Yusuf alaihissalam, mereka berkata,

“Ini saudara kami yang Paduka perintahkan agar turut serta bersama kami. Jadi, kami telah memenuhi perintahmu”.

“Betul betul betul…. Sungguh kalian telah memenuhi perintahku. Terimakasih. Sekarang saya yakin kalian adalah orang-orang yang jujur. Kami akan berikan kalian hadiah”, Yusuf menyambut mereka dengan senang hati.

Kemudian dia mengatur situasi. Dia memerintahkan agar mereka dijamu sebaikbaiknya dengan berbagai hidangan dan minuman. Dan setiap tempat duduk di-design untuk dua orang. Mereka pun dipersilahkan menempati tempat tersebut, lalu dikondisikanlah agar Bunyamin sendirian.

“Qoddarallah, Kalau saudaraku Yusuf masih hidup, tentu saya akan ditempatkan bersamanya”, gumam Bunyamin dalam hati.

Nabi Yusuf alaihissalam berkata: ‘Sungguh, saudara kalian sendirian. Biarlah saya yang menemaninya”, Lalu Nabi Yusuf mendatanginya dan menyantap makanan bersama Bunyamin.

Ketika malam tiba, Nabi Yusuf alaihissalam memerintahkan agar setiap dua orang untuk tidurnya menempati satu tempat. Sebagaimana sebelumnya, Bunyamin dibiarkan sendirian. Maka Nabi Yusuf berkata,

“Saudara kalian yang sendirian biarlah saya yang menemaninya”.

Yusuf mendatanginya dan langsung memeluknya lalu mengajaknya berbincang-bincang , “Siapa namamu?”

“Bunyamin”.

“Siapa nama Ibumu?”, tanya Yusuf kembali.

“Rahil binti Lawi”.

“Apa hubunganmu dengan saudara-saudaramu itu?”

“Saudara seayah”

“Teruss… hmmm… dari ibumu kamu punya saudara?”

“Iya, punya tapi sudah tidak ada”, jawab Bunyamin dengan mata berkaca-kaca.

“Siapa namanya?”

“Namanya Yusuf”

“Hhmmm…. Bunyamin, apakah kamu mau kalau aku jadi saudaramu?”

Tersentak kaget Bunyamin menjawab, “Wahai Paduka yang mulia, siapa yang tidak senang mempunyai saudara seperti engkau… tetapi Ya’qub dan Rahel tidak pernah melahirkanmu…”,

Yusuf tidak kuat menahan diri, dan berderailah air matanya, “Wahai Bunyamin, saya ini Yusuf saudaramu”.

Tercengang kaget seakan tak percaya, Bunyamin memandangi Yusuf. Lalu keduanya berpelukan erat.

“Bunyamin, tolong rahasiakan ini! Jangan bersedih atas apa yang telah mereka perbuat! Yang terpenting Allah ta’ala telah berbuat baik kepada kita semua”, bisik Yusuf terharu bercampur bahagia.

Nabi Yusuf alaihissalam melanjutkan skenario

Nabi Yusuf alaihissalam membuat skenario agar Bunyamin menetap tidak turut pulang bersama mereka. Ketika membagi-bagikan jatah bahan makanan ke kantong-kantong mereka, dia memasukan piala ke dalam kantong Bunyamin. Ketika mereka baru bertolak meninggalkan istana, sebagian staff Yusuf berteriak,

“Tunggu…. Tunggu… Tunggu!!! Ternyata kalian ini pencuri?!”

Mereka berhenti dan langsung menemui, “Kalian kehilangan apa, kenapa menuduh kami pencuri?”

“Kami kehilangan piala raja”

“Demi Allah! Bukankah kalian mengetahui kami ini orang baik-baik?!”, bantah saudara-saudara Yusuf.

“Bukankah kalian mengetahui kami tidak berbuat kegaduhan apalagi kerusakan sepanjang perjalanan kami kemari?!”

“Sudah begini saja. Bagi kami yang terpenting piala raja bisa ditemukan.”

“Kami bikin sayembara siapa yang bisa menemukan piala raja maka baginya hadiah berupa tambahan jatah bahan makanan”.

“Lho…sama sekali kami bukanlah pencuri!!”, tegas mereka membela diri.

“Terus, apa yang harus kami lakukan jika kalian berbohong?”, kata pegawai kerajaan balik bertanya.

“Jika piala tersebut ditemukan di kantong salah seorang di antara kami, maka si pemilik kantong tersebut menjadi budak pemilik barang yang dicuri selama satu tahun, hukum yang berlaku pada kami seperti itu”, jelas saudara-saudara Yusuf.

“Baik, kami akan periksa kantong-kantong kalian”.

“Tidak mungkin kalian akan mendapatkannya dalam kantong-kantong kami. Kami bukan pencuri. Kami ini orang baik-baik”, ucap sebagian mereka dengan penuh kesal.

Pemeriksaan pun dilakukan…

Pegawai kerajaan melakukan pemeriksaan tidak langsung ke Bunyamin. Tetapi dimulai dari yang lainnya terlebih dahulu. Ini untuk menghindarkan dugaan bahwa hal ini sudah di-setting. Satu persatu dicek hingga keseluruhannya, piala tidak ditemukan. Tinggallah kantong Bunyamin. Ketika dibuka, piala raja didapatinya ada di dalamnya, “naah…. ini ada kan?!”

Maka, dia langsung ditangkap.

“Jika dia mencuri…. yaa wajarlah… dia kan saudaranya Yusuf…. yaa sama lah sifatnya, memang bisa saja keduanya berbuat jahat”, ujar sebagian mereka yang dibenarkan oleh sebagian lainnya untuk saling menenangkan, “iya betul… betul… betul !!!”

Yusuf mendengarkan percakapan sesama mereka. Dia bersabar menahan diri. Dia tidak berkata apa-apa melainkan sekedar bergumam di dalam hati, “Justru kalian berbuat lebih buruk dengan apa yang telah kalian lakukan”.

Bunyamin pun ditahan. Nabi Yusuf alaihissalam berhasil menahan adiknya untuk tetap tinggal bersamannya dengan suatu cara yang tidak disadari oleh saudara-saudaranya.

Nabi Yusuf alaihissalam tidak memberlakukan hukum untuk adiknya dengan hukum kerajaan Mesir. Melainkan dengan hukum yang diberlakukan di negeri tempat mereka tinggal yaitu dijadikannya budak selama setahun bagi pemilik barang yang dicuri. Dengan demikian, Yusuf bisa terus bersama adiknya. Lain halnya jika yang diterapkan hukum kerajaan Mesir, yaitu dipukul dan diwajibkan mengganti nilai barang yang dicurinya, maka Yusuf pun akan menyakiti adiknya. Itulah kecerdikan Yusuf.

Allahu Akbar !! Sungguh cara yang halus dan terpuji sehingga tidak diketahui oleh suadarasaudaranya dan tidak sampai menimpakan kerugian atau penderitaan kepada objek sasaran. Jelaslah di atas orang berilmu ada yang lebih berilmu lagi. Dan yang paling tinggi dari setiap yang berilmu adalah Allah ta’ala.

Berat, harus pulang tanpa Bunyamin

Mereka memohon kepada Yusuf dengan penuh iba agar dia berkenan membebaskan Bunyamin.

“Paduka yang mulia, saudara kami yang engkau ambil untuk dijadikan budak selama satu tahun ini memiliki ayah yang sudah tua. Cintanya kepada Bunyamin sangat luar biasa. Bagaimana keadaannya nanti kalau kami pulang tanpa Bunyamin?”

“Paduka yang mulia, kami memohon ambillah salah seorang dari antara kami sebagai penggantinya untuk engkau jadikan budak selama setahun sebagai konsekuensi hukuman pencurian”.

“Paduka yang mulia, tidaklah kami memohon permohonan ini melainkan karena kami melihat engkau orang yang sangat baik. Kami sangat merasakan bagaimana engkau memperlakukan kami selama ini”.

“Sungguh kami memohon, Paduka yang mulia”.

Permohonan mereka tidak membuahkan hasil. Nabi Yusuf alaihissalam menolaknya,

“Kami berlindung kepada Allah, tidak mungkin kami menghukum kecuali terhadap orang yang piala kami dijumpai ada padanya. Kalau tidak demikan, maka kami termasuk orang-orang zhalim”.

Ketika mereka putus asa upaya-upayanya kandas tidak bisa membebaskan Bunyamin, maka mereka pun menjauh kumpul sesama mereka sendiri dan saling berbicara dengan lirih. Saudara tertua mereka berkata,

“Bukankah kalian menyadari Ayah dengan nama Allah ta’ala telah mengambil janji dari kita untuk menjaga Bunyamin baik-baik dan untuk turut serta pulang bersama kita kecuali ada hal-hal seperti bencana dan lainnya yang di luar kemampuan kita?”

“Dan ingat juga, sebelumnya kita telah berbuat zhalim terhadap Yusuf. Jadi, terkumpul pada kita dua kesalahan besar. Coba kalian pikirkan!!”

“Sungguh saya tidak akan pulang….. kecuali kalau Ayah memaafkan dan mengizinkanku pulang…. atau Allah Ta’ala memutuskan lain, saya tetap pulang sendirian atau pulang bersama Bunyamin, Allah lah sebaik-baiknya Dzat yang memutuskan”.

“Pulanglah kalian kepada Ayah dan katakanlah, ‘Wahai Ayah, Bunyamin telah mencuri piala raja. Lalu ditahan. Kami sudah berupaya sekuat tenaga agar bisa dibebaskan tapi tidak berhasil. Sungguh kami tidak bisa mempersaksikan apa-apa kecuali sebatas yang kami ketahui. Dan, yang kami ketahui memang piala itu dikeluarkan dari kantongnya”.

“Jangan lupa kalian juga harus mengatakan begini, ‘Ayah kami tidak mengetahui perkara ghoib. Sekiranya kami mengetahui perkara ghoib tentu kami tidak akan meminta-minta kepadamu untuk membawa Bunyamin ketika engkau mengambil sumpah dari kami”.

“Juga kalian harus mengatakan begini, ‘Ayah jika engkau ragu-ragu terhadap penjelasan kami maka silahkan tanya penduduk daerah yang kami melewatinya dan rombongan-rombongan musafir yang kami jumpai, sungguh kami tidak mengada-ada”.

Nabi Ya’qub alaihissalam semakin sedih

Ketika mereka kembali kepada ayah mereka dan memberitakan kepadanya tentang kejadian itu, Nabi Ya’qub alaihissalam sangat sedih dan kesedihannya semakin bertambah. Beliau curiga terhadap mereka dalam masalah ini, sebagaimana beliau curiga pada peristiwa sebelumnya, yaitu peristiwa hilangnya Yusuf. Namun, beliau hanya berkomentar,

“Sebenarnya nafsu kalian telah memperdaya kalian, sabar…sabar…. sabar…. wahai diriku!!!”.

Betapa Nabi Ya’qub alaihissalam menahan diri dari keluh kesah. Beliau menyerahkan segala urusan sepenuhnya kepada Allah ta’ala. Sedikitpun tidak mengeluh kepada manusia. Lalu terlontarlah dari lisannya,

Mudah-mudahan Allah ta’ala akan mengumpulkan mereka semua kepadaku”.

Setelah itu Ya’qub alaihissalam berpaling dari mereka. Hatinya dipenuhi kesedihan dan duka yang bertambah- tambah hingga banyak menangis dan matanya menjadi putih. Luka lama yang telah terpendam kini muncul kembali. Rasa sedih dan rindu yang membuncah menggerakkan lisannya terus berucap,

“Yusuf…. Yusuf….Yusuf…. sungguh kasihan kamu!!!”

“Ayah, engkau masih terus mengingat-ingat Yusuf sepanjang hidupmu sampai badanmu melemah seperti ini? Ayah kalau keadaanmu terus-menerus seperti ini maka engkau bisa terbujur kaku tidak bisa gerak dan tidak bisa bicara!”, respon anak-anaknya dengan penuh iba melihat keadaan ayah.

Ayah menyanggah, “Tidak anak-anakku. Saya tidak mengeluhkan duka dan kesedihanku melainkan kepada Allah ta’ala. Tidak kepada kalian tidak pula kepada manusia. Kalian mau mengatakan apapun terserah saja, tetapi saya mengetahui apa yang kalian tidak ketahui. Mereka akan dikembalikan semua kepadaku!”

Judul Buku: Nabi Yusuf alaihissalam (Kisah dan ‘Ibrah)

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)