Solusi Investasi Akhirat Anda

Nabi Yusuf alaihissalam (Kisah dan ‘Ibrah) bagian 3

Diangkat menjadi pejabat kerajaan

Ketika raja dan seluruh orang meyakini akan kebenaran dan kebaikan Yusuf, dia memerintahkan seseorang agar membawa Yusuf ke hadapan dirinya. Setelah berada di hadapannya dan mengajaknya berbicara, raja begitu terkagum-kagum dengan pembicaraannya yang menunjukkan bahwa ia orang yang amanah, bersih dari tuduhan, berwawasan luas dan berakhlak mulia. Hal ini menjadikan raja berkeinginan kuat untuk menjadikannya sebagai orang kepercayaannya di kerajaan,

“Wahai Yusuf, saya ingin mengangkatmu pada kedudukan khusus di kerajaan Mesir ini. Bagaimana menurutmu?”

“Baik Paduka yang mulia. Kalau saya dipercaya untuk itu, jadikanlah saya sebagai penanggung jawab perbendaharaan bumi Mesir. Saya akan bertugas sebagai pengawas, penjaga, dan pengelola yang baik. In syaa-a Allah saya amanah dan professional. Saya akan menjaga sepenuhnya tanggung jawab ini sehingga tidak ada yang hilang atau dialokasikan bukan pada tempatnya. Dan saya akan dapat mengatur pemasukan dan pengeluaran dengan baik demi stabilitas pangan dan perekonomian kerajaan’, jelas Yusuf mengajukan dirinya untuk posisi tertentu.

Permintaan ini bukanlah karena Nabi Yusuf alaihissalam menginginkan kekuasaan, tetapi tidak lain beliau ingin memberikan manfaat bagi masyarakat. Beliau menyadari bahwa dirinya memiliki kemampuan, amanah, dan penjagaan yang tidak mereka ketahui sebelumnya. Oleh karena itu, beliau meminta raja untuk menempatkannya sebagai penanggung jawab perbendaharaan bumi, dan raja pun mengangkatnya untuk tugas tersebut.”

Demikianlah Allah ta’ala memberikan kekuasaan kepada Yusuf di bumi Mesir, dia dapat menempati kedudukan di mana saja yang dia kehendaki. Dia hidup dalam kemakmuran, kenikmatan yang luas, dan kedudukan yang tinggi. Allah ta’ala menganugerahkan rahmat kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Allah ta’ala tidak menyia-nyiakan balasan orang-orang yang berbuat baik. Yusuf termasuk orang yang terbaik di antara orang-orang yang berbuat baik. Maka, Allah ta’ala menetapkan rahmat dan anugerah yang sangat besar kepadanya, tentu tidak terbatas hanya pada kenikmatan duniawi melainkan juga kenikmatan ukhrowi. Dan, tentunya kenikmatan ukhrowi jauh lebih tinggi daripada duniawi.

Saudara-saudara Yusuf datang

Nabi Yusuf alaihissalam mulai menjalankan perannya sebagai penanggung jawab perbendaharaan bumi Mesir. Beliau mengatur dan mengelolanya dengan sangat baik. Dimulailah program besar penanaman gandum di seluruh tanah Mesir sejak awal dan terus berlangsung selama tahun-tahun yang subur. Hasil panen beliau kumpulkan dan simpan dalam jumlah yang sangat besar. Beliau menyimpannya dengan sangat baik dan rapi.

Ketika tahun-tahun paceklik dan kemarau tiba dan melanda luas hingga berbagai negeri termasuk wilayah Palestina di mana Nabi Ya’qub alaihissalam dan putra-putranya tinggal. “Anak-anakku, berangkatlah kalian ke Mesir. Belilah bahan makanan di sana. Saya dengar berita penguasanya sangat arif dan bijaksana”, perintah Nabi Ya’qub alaihissalam kepada putra-putranya. Sesampainya di Mesir, mereka memasuki wilayah istana kerajaan. Yusuf alaihissalam melihat mereka dan sangat mengenalinya. Sebaliknya mereka tidak mengenali Yusuf sama sekali. Mungkin karena perpisahan yang sangat lama sekitar 40 tahun. Atau mungkin juga kostum kerajaan yang dikenakannya berupa mahkota dan lainnya yang menjadikan mereka pangling.

Nabi Yusuf alaihissalam memperlakukan mereka dengan sangat baik. Dia juga menyuguhkan hidangan dan lain-lain yang merupakan hajat mereka sebagai musafir dari tempat jauh sehingga mereka sangat menghormati dan respek kepadanya.

“Kalian semua dari mana?”, tanya Yusuf mengawali perbincangan.

“Kami penduduk Syam”, jawab mereka.

“Kami datang untuk membeli bahan makanan”

“Berapa jumlah keluarga kalian?”, tanya Yusuf lagi.

“Kami dua belas bersaudara, yang satu saudara seayah sudah tidak ada, yang satu lagi si bungsu saudara seayah juga tidak ikut biar di rumah saja menemani Ayah Ibu”, jawab mereka dengan rinci.

“Siapa nama Ayah kalian?”, tanya Yusuf pura-pura tidak tahu.

“Nama Ayah kami Ya’qub”.

“Kalau adik kalian yang bungsu namanya siapa?”

“Namanya Bunyamin”.

Kemudian Yusuf membagikan jatah bahan makanan kepada mereka sebagaimana yang biasa dilakukan terhadap orang lain. Salah satu kebijakan beliau adalah tidak memberi jatah kepada setiap orang melampaui beban seekor unta. Karena dia harus mengatur pengeluaran dengan sebaik-baiknya.

“Wahai Paduka yang mulia, kami memohon kebijaksanaanmu untuk ditambah porsi gandumnya, karena kami ada keluarga di rumah yang tidak ikut,” pinta mereka.

“Hmmmm… boleh… boleh asalkan dengan syarat”, jawab Yusuf. Permintaan mereka semakin menguatkan planning Yusuf untuk bisa bertemu dengan keluarganya.

“Apa syaratnya?”, tanya mereka sedikit mendesak karena bergembira merasa akan dipenuhi keinginannya.

“Syaratnya bawa adik bungsu kalian kemari, nanti kami tambahkan bahan makanan, sekaligus saya ingin mengetahui kejujuran kalian”.

“Apakah benar apa yang kalian katakan? Atau jangan-jangan kalian bohong”.

“Dan, ingat baik-baik kalian tidak diperbolehkan kemari lagi untuk membeli bahan makanan kecuali kalau kalian membawa adik bungsu kalian”.

Mereka bingung. Karena ini persyaratan yang sulit. Mereka menyadari betul tidak mudah bagi ayahnya untuk mengizinkannya disebabkan tindakan mereka terhadap Yusuf masa lalu.

Tapi, karena ini persyaratan yang harus dipenuhi demi bisa datang lagi untuk membeli bahan makanan maka mau tak mau harus disanggupi, “Baiklah Paduka yang mulia, kami akan merayu Ayah kami untuk mengizinkannya”.

Yusuf mengembalikan uang pembayaran mereka

Nabi Yusuf alaihissalam memerintahkan para pegawainya: ‘Masukkanlah uang mereka yang digunakan untuk membeli makanan ke dalam karung-karung mereka, nanti mereka akan mengetahuinya ketika mereka membuka karung-karung tersebut. Bisa jadi mereka akan merasa risih karena menerima uangnya lagi lalu terdorong kuat untuk datang lagi kemari”.

Padahal yang sebenarnya, Nabi Yusuf ingin berbuat baik kepada mereka. selain memberikan jatah makanan yang cukup juga mengembalikan uang alat transaksi pembayarannya tanpa mereka sadari. Karena kebaikan yang diberikan ini dapat menimbulkan rasa penghormatan dan loyalitas dari orang yang menerima kebaikan tersebut.

Ketika sudah kembali ke rumah di hadapan ayahnya mereka mengatakan, “Ayah alhamdulillah kita bisa membawa bahan makanan untuk keperluan kita sehari-hari. Sang penguasa sangat baik dan ramah sekali kepada kami. Kami dijamu dengan makanan dan minuman. Kami berbincang-bincang sangat hangat. Tapi ayah…..”.

“Tapi apa, Nak….?”, tanya Ayah penuh penasaran.

“Ayah….., kami tidak boleh lagi datang ke sana untuk beli bahan makanan”.

“Lho kenapa…?”, tanya Ayah semakin penasaran.

“Boleh tapi dengan syarat, Ayah!”

“Apa syaratnya…?!”, tanya ayah semakin bertambah penasaran.

“Syaratnya Benyamin harus ikut serta bersama kami”

“Hahhh,,,,,”, respon ayah sambil menghela nafas panjang tersontak kaget.

“Ayah… percayalah pada kami. Kami benar-benar akan menjaganya”.

“Ayah… ini mesti dilakukan Ayah…., kalau tidak maka kita tidak akan pernah mendapatkan bahan makanan lagi. Ayah…. Percayalah! Kami benarbenar akan menjaganya”.

“Akankah saya mempercayakan Bunyamin kepada kalian??!! Dulu bagaimana nasib Yusuf bersama kalian?”, jawab ayah dengan penuh kesedihan.

Mereka semua terdiam. Suasana menjadi sangat hening.

Lalu mereka membuka kantong-kantong, “Masya Allah… masya Allah…. Coba lihat coba lihat… Allahu Akbar… Allahu Akbar… uang kita dikembalikan utuh???!!!

Ayah lihat sendiri kan betapa baik hati sang penguasa itu, kita diberikan jatah dengan semestinya dan semua uang kita dikembalikan. Ayah, apa lagi yang kita inginkan setelah diperlakukan sebaik ini? Sungguh ini bentuk keikhlasan dan akhlak yang mulia sang penguasa”.

“Jika kita membawa Bunyamin, maka kita bisa mendapatkan jatah lebih banyak lagi sebesar beban seekor unta. Maka, kita bisa menjaga keluarga dan saudara. Ayah ini perkara yang mudah, tidak ada resiko tetapi manfaatnya jelas”.

“Ayah….coba apa lagi yang dipikir? Izinkanlah dia pergi bersama kami pada keberangkatan nanti!”

Mereka begitu gigih unuk meyakinkan ayah agar mengizinkan Bunyamin. Namun demikian, dia tidak langsung menerimanya.

“Sekali-kali saya tidak akan mengizinkan hingga kalian bersumpah atas nama Allah betapa kalian akan membawanya kembali bersama kalian. Kecuali kalau terjadi hal-hal yang ditakdirkan di luar kemampuan kalian. Ayo bersumpahlah!!”

“Baik Ayah, Demi Allah kami akan membawa Bunyamin kembali bersama kami!!”

“Baiklah anak-anakku, kalian telah bersumpah atas nama Allah. Dia lah Al-Wakiil atas sumpah kalian”.

Pertemuan dengan Bunyamin

Setelah mengizinkan Bunyamin ikut serta bersama mereka, ayah berpesan, “Anak-anaku janganlah kalian memasuki Mesir dari satu pintu. Berpencarlah kalian, masuklah dari beberapa pintu!”

Nabi Ya’qub alaihissalam berpesan demikian sebagai upaya untuk terhindar dari penyakit ‘ain. Karena mereka satu keluarga semuanya ganteng-ganteng dan rupawan. ‘Ain itu penyakit yang disebabkan oleh pandangan mata orang yang dengki. Beliau menyadari betul apa yang diperintahkannya adalah mutlak sebagai ikhtiar, sedikitpun tidak dapat menolak ketentuan Allah ta’ala. Yang mendorong Nabi Ya’qub alaihissalam memerintahkan demikian adalah hasrat yang dalam untuk melindungi anak-anaknya karena dorongan cinta yang besar kepada mereka. Ini bentuk menggabungkan antara ikhtiar dan tawakkal. Banyak manusia yang belum mengetahui bahwa ikhtiar dan tawakkal adalah dua hal yang tidak bertentangan. Beliau alaihissalam menggabungkan dua hal ini, tentu beliau sebagai Nabi melakukannya berdasarkan wahyu,

“Anak-anakku, sedikitpun saya tidak punya kuasa. Allah lah Dzat yang menetapkan segalanya. Apa yang Dia ta’ala tetapkan pasti terjadi. Kepada-Nya lah saya bertawakkal. Dan kepada-Nya saja hendaknya seluruh muslim bertawakkal”.

Mereka pun memasuki kerajaan Mesir secara berpencar sebagaimana yang diwasiatkan ayah mereka. Ketika mereka masuk menemui Nabi Yusuf alaihissalam, mereka berkata,

“Ini saudara kami yang Paduka perintahkan agar turut serta bersama kami. Jadi, kami telah memenuhi perintahmu”.

“Betul betul betul…. Sungguh kalian telah memenuhi perintahku. Terimakasih. Sekarang saya yakin kalian adalah orang-orang yang jujur. Kami akan berikan kalian hadiah”, Yusuf menyambut mereka dengan senang hati.

Judul Buku: Nabi Yusuf alaihissalam (Kisah dan ‘Ibrah)

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)