Solusi Investasi Akhirat Anda

Mengapa Saya Beragama Islam? bagian 3

9. Bisa Saja Terjadi Hal-Hal yang Dirasa Memusingkan Dalam Masalah Aqidah, Tetapi Hal Itu Tidaklah Mustahil

Keyakinan kepada perkara ghaib seperti siksa kubur, nikmat kubur, shirath, haudh, Surga, Neraka bisa saja memusingkan. Tetapi akal tidak menilainya mustahil. Karena akal telah memasrahkan kepada keimanan.  Sedangkan aqidah-aqidah agama lain berisi hal-hal yang memusingkan dan akal meniiainya mustahil. Beberapa contoh, diantaranya:

a. Orang Yahudi beranggapan bahwa mereka adalah bangsa pilihan Allah. Allah telah menjadikan bangsa-bangsa lainnya sebagai keledai-keledai yang harus ditunggangi untuk kepentingan mereka. Apakah akal menerimanya? Bagaimana mungkin Allah yang Maha Bijaksana menjadi rasialis, berpihak kepada salah satu etnis dan menterlantarkan etnis-etnis lainnya. Ketahuilah di dalam Islam, semua manusia memiliki kedudukan yang sama di hadapan Allah azza wa jalla, yang membedakan hanyalah ketakwaannya. 

b. Nashrani memiliki konsep keesaan tuhan : “ satu sama dengan tiga, tiga sama dengan satu. Akal mana yang mau menerima konsep ini? Selama-lamanya satu tidak sama dengan tiga atau sebaliknya.  Mereka menyamakan teologi trinitas dengan sebuah bidang segitiga. Kata mereka, “sebuah bidang segitiga jumlahnya satu tetapi ia memiliki 3 sisi, demikian pula trinitas; satu tuhan terdiri dari tiga unsur”. Analogi ini tidaklah benar. Sebuah bidang segitiga terdiri dari 3 sisi, tetapi masing-masing sisi tidak disebut bidang segitiga. Sedangkan teologi trinitas, masing-masing unsur jelas-jelas diyakini sebagai  tuhan (tuhan bapak, tuhan  ruh kudus dan tuhan anak). Jadi, jelaslah mereka menyembah 3 tuhan. Bukan tiga tuhan sama dengan satu tuhan.  Logika mana yang bisa menerimanya?

c. Nashrani memiliki akidah “perjamuan tuhan”. Barangsiapa makan roti dan khamr di gereja pada hari paskah maka ia akan berubah wujud dalam dirinya. Khamr adalah darah yesus dan roti adalah jasad yesus. Inilah aqidah mereka, dan ini mustahil. Bukankah yesus itu satu jasad? Sementara berapa orang yang merayakan hari paskah, tentunya ribuan. Berarti jasad yesus menjadi ribuan jasad? Logika mana yang bisa menerimanya?

d. Katholik memiliki aqidah “sertifikat pengampunan dosa”. Maksudnya siapapun umatnya yang berbuat dosa, asalkan membeli sertifikat ampunan dari pastur atau orang yang diberi wewenang, niscaya dosa-dosa diampuni. Ini berarti menjual Surga dengan mengisi sertifikat. Jelas, ini aqidah yang sangat rusak. Pertama: Dimanakah otoritas Tuhan sebagai satu-satunya Dzat yang memberi pahala atau dosa atas amalan hamba-hambanya? Kedua: Dampak apakah yang akan terjadi jika dosa manusia menjadi hilang dengan cukup membeli sertifikat ampunan dari manusia? Pertanyaan ini tidak perlu dijawab, karena setiap orang yang berakal pasti sangat menentangnya.

e. Syiah berkeyakinan al-Qur’an yang berada di tangan kaum muslimin tidaklah lengkap. Al-Qur’an yang lengkap ada pada Imam Mahdi yang akan keluar akhir zaman dari sebuah terowongan di Samura. Mari kita gunakan akal kita; apa gunanya al-Qur’an yang tidak akan muncul kecuali menjelang Kiamat nanti? Kemudian, sesuaikah dengan kebijaksanaan, kasih sayang, dan keadilan Allah bilamana manusia hidup tanpa petunjuk dan wahyu hingga ketika akhir zaman tiba? Akal pasti akan mengatakan; berarti Allah berbuat kedzaliman karena membiarkan manusia tanpa petunjuk hingga menjelang Kiamat. Jelas, ini mustahil.

f. Syiah sekte qomariyah meyakini warna kehitam-hitaman di bulan adalah rumah Ali. Mereka pun mengkultuskan bulan dan menyembah Ali yang berada di situ. Laa haula wa laa quwwata illa billah… Lalu, apa gerangan bagian kehitam-hitaman bulan sebelum Ali diciptakan? Sebagian lainnya beranggapan bahwa Ali berada di matahari. Oleh karena itu, mereka menghadap ke arah matahari ketika beribadah. Mereka dikenal dengan sebutan firqah Syamsiyah.

g. Bahaiyah, pengikutnya ketika mengerjakan ibadah menghadap ke arah pemimpin mereka, al-Baha’ al-Mazandarani. Hal itu ditegaskan sendiri oleh sang pemimpin. Kiblat itu berpindah-pindah seiring dengan perpindahan dan pergerakan sang pemimpin. Ketika dia berada di Teheran, maka Teheran adalah kiblat ibadahnya. Ketika di Baghdad, maka Baghdad adalah kiblatnya. Demikian pula ketika di Akkad, maka kiblat mereka adalah Akkad dan begitu seterusnya. Adakah seseorang yang pernah melihat permainan seperti ini? Kemudian, bagaimana cara penganut Bahaiyyah mengetahui kiblat mereka sewaktu al-Baha’- sang pemimpin- berada di perjalanan pada waktu alat komunikasi nirkabel dan televise belum ada?

10. Memuliakan Wanita

Islam sangat memuliakan wanita. Bagaimanakah kondisi wanita Arab sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus? Wanita sangat rendah dan tidak ada nilainya. Ketika anak perempuan lahir, tidak ada pilihan bagi keluarganya kecuali salah satu dari dua; (i) membiarkannya hidup dengan menanggung malu, atau (ii) menguburnya hidup-hidup agar terbebas dari aib. Allah ‘azza wa jalla menginformasikan hal ini:

وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالْأُنْثَى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ (58)  يَتَوَارَى مِنَ الْقَوْمِ مِنْ سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ أَيُمْسِكُهُ عَلَى هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ أَلَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ (النحل:59)

“Apabila seseorang diantara mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, wajahnya menjadi hitam (merah padam) dan dia sangat marah. Dia bersembunyi dari orang banyak disebabkan berita buruk yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan (menangung) kehinaan ataukah akan membenamkannya ke dalam tanah (menguburnya hidup-hidup). Ingatlah alangkah buruknya (keputusan) yang mereka tetapkan itu” (QS. An-Nahl: 58-59)

Ketika Nabi shalallahu alaihi wasallam diutus, beliau membebaskan kaum wanita dari penistaan. Beliau menjadikan wanita berkedudukan sangat terhormat. Beliau bersabda:

مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ دَخَلْتُ أَنَا وَهُوَ الْجَنَّةَ كَهَاتَيْنِ (رواه الترمذى )

“Barangsiapa yang mengasuh dua anak perempuan, niscaya saya dan dia masuk Surga seperti ini (beliau mengisyaratkan dengan dua jarinya, menunjukkan kedekatannya)” (HR. at-Tirmidzi)

Bukan saja Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, yang memuliakan wanita tetapi juga nabi Ibrahim.

عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِى بَكْرٍ – رضى الله عنهما – قَالَتْ رَأَيْتُ زَيْدَ بْنَ عَمْرِو بْنِ نُفَيْلٍ قَائِمًا مُسْنِدًا ظَهْرَهُ إِلَى الْكَعْبَةِ يَقُولُ يَا مَعَاشِرَ قُرَيْشٍ ، وَاللَّهِ مَا مِنْكُمْ عَلَى دِينِ إِبْرَاهِيمَ غَيْرِى ، وَكَانَ يُحْيِى الْمَوْءُودَةَ ، يَقُولُ لِلرَّجُلِ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَقْتُلَ ابْنَتَهُ لاَ تَقْتُلْهَا ، أَنَا أَكْفِيكَهَا مَئُونَتَهَا . فَيَأْخُذُهَا فَإِذَا تَرَعْرَعَتْ قَالَ لأَبِيهَا إِنْ شِئْتَ دَفَعْتُهَا إِلَيْكَ ، وَإِنْ شِئْتَ كَفَيْتُكَ مَئُونَتَهَا (رواه البخارى ) 

“Dari Asma binti Abu Bakar radiallahu anhu berkata: saya melihat Zaid bin Amr bin Nufail  berdiri menyandarkan punggungnya pada ka’bah sambil berkata : wahai orang Quraisy demi Allah tidak ada di antara kalian yang berada di atas agama Ibrahim selainku, Beliau (nabi Ibrahim) membiarkan para wanita tetap hidup. Dia (Zaid bin Amr bin Nufail) berkata seseorang yang akan membunuh anak perempuannya, jangan kau bunuh, sayalah yang akan menjamin (hidupnya), dia pun mengambilnya (untuk diasuh). Jika ia (anak perempuan tersebut) sudah besar, dia (Zaid bin Amr bin Nufail) berkata kepada ayahnya, jika kamu mau anak ini saya kembalikan kepada anda atau saya tetap mengasuhnya.” (HR. al-Bukhari)

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi Ibrahim sangat memuliakan wanita. Tentunya tidak hanya dua nabi ini saja, tetapi seluruh nabi. Karena mereka seluruhnya membawa ajaran Allah azza wa jalla, yang diantaran ajarannya adalah bahwa semua manusia di hadapan Allah azza wa jalla memiliki kedudukan yang sama. Allah azza wa jalla berfirman:

أَنِّي لَا أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِنْكُمْ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى بَعْضُكُمْ مِنْ بَعْضٍ [آل عمران: 195] 

“Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu, (baik) laki-laki maupun perempuan (karena) sebagian kamu adalah (keturunan) sebagian yang lain” (QS. Ali Imran: 195)

Maksud kalimat yang bergaris bawah adalah sebagaimana lelaki berasal dari lelaki dan perempuan, maka demikian pula halnya perempuan berasal dari lelaki dan perempuan. Keduanya sama-sama manusia, tidak ada kelebihan yang satu atas yang lainnya tentang penilaian iman dan amalnya.

Lihatlah sejarah perjalanan wanita pada agama-agama lain, di antaranya:

a. Ajaran Hamurabi, wanita digolongkan dalam kelompok hewan ternak yang dimiliki

b. Masyarakat Hindu, para pemuka agama Hindu yang terdahulu memandang kaum wanita tidak mempunyai hak untuk hidup sesudah suaminya meninggal dunia, maka dari itu menurut mereka, perempuan wajib mati pada hari suaminya mati dan harus dibakar hidup-hidup di dalam tempat pembakaran bersama suaminya. Dan kaum perempuan dijadikan kurban-kurban untuk dewa-dewa mereka agar dewa-dewa itu memberikan rizki atau menurunkan hujan untuk mereka. Di dalam ajaran mereka disebutkan: topan, kematian, neraka, ular-ular besar dan api tidak lebih buruk daripada kaum perempuan.

c. Masyarakat Yahudi, sebagian kelompok Yahudi memandang bahwa seorang ayah berhak menjual anak perempuannya secara paksa. Kaum Yahudi menganggap kaum perempuan sebagai kutukan (laknat), karena perempuanlah yang telah menipu Nabi Adam. Di dalam Taurat disebutkan: Perempuan adalah sebagian dari kematian, dan orang yang shalih di hadapan Allah itu adalah orang yang selamat darinya (perempuan)

d. Masyarakat Nasrani, penghinaan terhadap kaum perempuan di masyarakat barat dan pengebirian terhadap hak-hak asasinya itu terus berlanjut sepanjang abad pertengahan. Dalam pandangan mereka, perempuan itu hina dan tidak bisa membelanjakan harta miliknya sendiri tanpa izin dari suaminya. Bahkan sampai pada pembahasan apakah perempuan itu hanya sebatas jasad tanpa ruh atau mempunyai ruh? Apakah perempuan tergolong manusia atau tidak? Pada akhirnya mereka menetapkan bahwa perempuan adalah manusia yang diciptakan untuk berkhidmat kepada kaum lelaki. Dan undang-undang di Inggris yang berlaku hingga tahun 1805 M menyatakan suami boleh menjual istrinya.

Judul buku: Mengapa Saya Beragama Islam?

Penulis: Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)