Solusi Investasi Akhirat Anda

Mengapa Saya Beragama Islam? bagian 2

وَلَا تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِمْ مِنْ شَيْءٍ وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِمْ مِنْ شَيْءٍ فَتَطْرُدَهُمْ فَتَكُونَ مِنَ الظَّالِمِينَ (الأنعام: 52)

“Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaanNya. Kamu tidak memikul tanggungjawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka dan merekapun tidak memikul tanggungjawab sediktpun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu hendak mengusir mereka, sehingga kamu termasuk orang-orang yang zhalim” (QS. al-An’am: 52)

Disebutkan dalam tafsir at-Thabari, Ibnu Mas’ud berkata tentang sebab turunnya ayat ini: Beberapa pemuka Quraisy melewati Nabi shalallahu alaihi wasallam yang sedang bersama beberapa sahabat miskin; Shuhaib, ‘Ammar, Bilal, Khobbab dan yang lainnya. Mereka berkata kepada beliau shalallahu alaihi wasallam, Hai Muhammad ! Apakah kamu rela berkumpul bersama orang-orang lemah? Apakah mereka diberi karunia oleh Allah sebagaimana kami? Mustahil kami akan mau menjadi pengikut mereka. Hai Muhammad! Usir mereka, nanti kami mau mengikutimu. Kemudian turunlah ayat ini yang menjelaskan bahwa kedudukan manusia dihadapan Allah adalah sama.

Dengan ajaran yang mulia ini, kehidupan kaum muslimin adalah kehidupan yang sangat indah. Tidak akan terjadi kesewenang-wenangan oleh pejabat, penghinaan oleh orang kaya, sikap sombong kepada budak, ras kulit hitam,dan wanita tak cantik. Mereka menyadari sepenuhnya bahwa kelebihan yang mereka dapatkan tidak akan meninggikan  derajat di hadapan Allah bahkan bisa menjerumuskan, merendahkan dan menghinakannya jika disalahgunakan. Akibatnya mereka berhati-hati terhadap orang lain yang tidak memiliki kelebihan seperti mereka.  Dampak positif pun sangat dirasakan di tengah- tengah kehidupan mereka, di mana mereka saling menghormati dan menyayangi, menunaikan hak dan menjaga amanah, memperhatikan dan peduli.

6. Seluruh Ajaran Islam Ada Dokumentasinya

Kalau kita perhatikan peribadahan orang Nashrani di gereja-gereja mereka, niscaya kita mendapati bahwa tidak ada kesamaan tata cara ibadah mereka. Di suatu gereja cara beribadahnya dengan tepuk-tepuk tangan, di gereja yang lain dengan gitar, di gereja yang lainnya lagi dengan orgen atau kendang dan lain-lain. Bacaan yang dipanjatkan untuk puji tuhan pun beragam tergantung dewan gereja/pendetanya. Pernah suatu ketika penulis membaca majalah Kristen, di situ dikisahkan ada seorang pemuda muslim yang pindah agama ke Kristen. Kebetulan pemuda itu dipandangnya bisa berbahasa Arab. Akhirnya dia ditugaskan oleh dewan gereja/pendeta untuk meyusun lafadz-lafadz puji tuhan dalam bahasa Arab. Dia pun menyusunnya. Lalu hasil cipta karya seorang murtad ini selalu digunakan oleh jama’ah Kristen gereja tersebut ketika beribadah. Mereka berkomentar, “ternyata lebih khusyik yah puji tuhan dengan bahasa Arab”. Padahal ketika penulis memabaca cipta karya seorang murtad ini, penulis tidak bisa memahaminya. Bahasa Arabnya adalah bahasa yang tidak dimengerti oleh orang Arab. Meskipun demikian, ia disanjung-sanjung. Kenapa demikian? Jawabannya adalah karena tidak ada dokumentasi yang melandasi peribadahan mereka. Jadi, semuanya tergantung masing-masing gereja dengan pendetanya. Bandingkanlah peribadahan dalam Islam!! Contoh: Shalat sejak zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai sekarang ini di seluruh belahan bumi sama saja, baik rakaatnya, tata caranya, bacaannya dan yang lainnya. Demikian pula ibadah-ibadah yang lainnya tidak pernah berubah sejak zaman Nabi hingga sekarang. Tidak hanya masalah ibadah, tetapi apa pun yang merupakan ajaran Islam. Kenapa bisa demikian? Jawabannya adalah karena semuanya itu ada dokumentasinya, yang tidak lain adalah al-Qur’an dan Hadits dengan pemahaman para Sahabat  yang diriwayatkan secara terus-menerus hingga bersambung ke zaman kita. Hal ini dikenal dengan istilah sanad. Seorang Tabiut Tabi’in, Abdullah Ibnu Mubarak mengatakan:

لولا السند لقال من شاء ما شاء

“Seandainya tidak ada sanad, niscaya siapa saja bisa mengatakan apa saja”.

Dengan sanad inilah ajaran Islam tetap terjaga keotentikannya sampai hari Kiamat nanti. Siapa pun tidak bisa sembarangan berbuat/mengatakan sesuatu atas nama Islam. Karena hal itu akan mudah terdeteksi oleh sanad.

Catatan: Jika ada ummat Islam yang memiliki keyakinan tentang suatu akidah atau melakukan suatu ritual atau suatu pemahaman tertentu tetapi tidak ada dokumentasinya yang bisa diketahui dari periwayatan (sanad) maka pastikanlah 100% bahwa perkara tersebut bukan dari Islam. Bisa jadi mereka terpengaruh oleh adat istiadat yang telah menjamur. Bisa jadi terpengaruh oleh ajaran Hindu dan Budha yang telah ada terlebih dulu. Bisa jadi terpengaruh oleh dominasi akal atas nash-nash yang ada. Ketahuilah bahwa syariat Islam telah sempurna dan berlaku untuk umat Nabi terakhir sampai hari Kiamat sehingga sifatnya harus mandeg/stagnan. Cukuplah kita meng-“copy paste” saja. Yang diperintahkan untuk terus dikembangkan adalah perkara duniawi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا ، فَهْوَ رَدٌّ (رواه البخارى و مسلم)

“Barangsiapa mengamalkan suatu amalan (urusan syariat) yang tidak pernah ada pada kami niscaya tertolak” (HR. Bukhari dan Muslim)

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ (رواه مسلم)

“Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian” (HR. Muslim)

7. Islam Sangat Peduli Terhadap Masalah Sosial

Islam bukanlah agama yang hanya mengajarkan hubungan baik dengan Tuhannya. Tetapi, Islam juga menekankan hubungan baik dengan sesama manusia. Suatu ketika ada seseorang yang melaporkan tentang seorang wanita yang ahli shalat dan ahli puasa, tetapi dia tidak baik kepada tetangganya. Apa sabda beliau tentang wanita tersebut:

هِىَ فِى النَّارِ (رواه أحمد)

“Dia berada di Neraka” (HR. Imam Ahmad)

Kafarat (denda atas suatu pelanggaran) dalam Islam tidak sedikit yang berupa pembebasan budak. Sepasang suami istri yang melakukan hubungan badan di siang hari Ramadhan di antara kaffaratnya adalah membebaskan budak. Membunuh seorang muslim karena kesalahan atau tidak sengaja diantara kaffaratnya adalah membebaskan budak. Melanggar sumpah diantara kaffaratnya adalah membebaskan budak. Kaffarat zhihar diantaranya adalah dengan membebaskan budak. Terlepas dari kaffarat, Islam sangat menganjurkan agar Kaum muslimin banyak membebaskan budak. Juga, diantara delapan golongan yang berhak menerima zakat adalah seorang yang tengah berupaya membebaskan dirinya sebagai budak sehingga perlu dibantu dengan zakat.

Islam menganjurkan agar muslim membantu saudaranya yang dalam kesusahan. Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ (رواه أبو داود) 

“Barangsiapa yang melapangkan suatu beban dari beban-beban seorang mukmin di dunia niscaya Allah azza wa jalla akan melapangakan suatu beban dari beban-bebannya pada hari Kiamat. Barangsiapa yang memudahkan orang yang kesulitan niscaya Allah akan memudahkannya di dunia dan di Akherat. Barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim niscaya Allah akan menutupinya (aib)nya di dunia dan di Akherat. Allah azza wa jalla senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya” (HR. Abu Daud)

Islam memerintahkan pemeluknya agar mengasuh anak-anak yatim. Nabi shalallahu alaihi wasallam bersada:

كَافِلُ الْيَتِيمِ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ أَنَا وَهُوَ كَهَاتَيْنِ فِى الْجَنَّةِ (رواه مسلم)

“Orang yang mengasuh anak yatim, baik bersamanya atau tidak, maka saya dan dia (kedekatannya) di Surga seperti ini (mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah)” (HR. Muslim) 

Islam sangat menganjurkan ummatnya untuk menyisihkan sebagian hartanya bagi orang-orang lemah dan kepentingan social lainnya. Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda, 

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا ، وَيَقُولُ الآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا (رواه البخارى)

“Tidaklah suatu hari yang seorang hamba mendapati pagi melainkan ada dua malaikat turun, salah satunya berdoa ‘ya Allah berilah ganti bagi orang yang berinfak’. Satunya lagi berdo’a Allah berilah kehancuran bagi orang yang menahan (bakhil)” (HR. Bukhari)

Kemaslahatan sosial apapun yang menyangkut kehidupan manusia, Islam sangat memperhatikannnya meskipun sekedar menyingkirkan duri dari jalan. Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda,

الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ (رواه مسلم)  

“Iman itu tujuh sekian cabang, yang paling utama adalah “laa ilaaha illa Allah” dan yang paling rendah adalah menyingkirkan sesuatu yang membahayakan (duri dan semacamnya) dari jalan” (HR. Muslim)

8. Tidak Bertentangan Dengan Ilmu Pengetahuan

Islam tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan yang benar. Syariat Islam yang sempurna dan universal mendukung, menganjurkan, dan memerintahkan manusia untuk mempelajari semua ilmu pengetahuan yang mengantarkan kepada tujuan-tujuan luhur dan membuahkan buah-buah yang bermanfaat, baik dalam konteks dunia maupun akhirat. Seperti: Ilmu Ushuludin, ilmu fiqh, Ilmu Biologi, Fisika, Kimia, Perindustrian, Ilmu Bahasa, Kedokteran dan lain-lain. Oleh karena itu tidak mungkin akan terjadi kontradiksi  antara fakta-fakta ilmiyah yang benar dengan nash-nash syariat. Karena keduanya (disiplin ilmu dunia dan akhirat)  diperintahkan oleh Islam. Apabila realitas (kenyataan) menunjukkan sesuatu yang secara lahiriyah terjadi kontradiksi, maka bisa jadi realitas itu adalah klaim yang tidak memiliki fakta, atau nash yang dimaksud tidak secara eksplisit menunjukkan kontradiksi. Karena nash yang eksplisit (sharih) dan fakta ilmiyah adalah dua hal yang sama-sama qath’iy (pasti), sehingga tidak mungkin terjadi kontradiksi antara keduanya. 

Berbeda dengan Kristen, pada sekitar abad 14-16 M pembesar keagamaan; Paus, Kardinal dan Uskup menentang keras para ilmuwan. Mereka sangat anti pemikiran/penemuan ilmiah. Melalui institusi gereja, dengan kekuatan represif mereka menggunakan lembaga keadilan untuk menghadapi kaum ilmuwan tersebut. Akibatnya banyak ilmuwan menjadi korban kekerasan, bahkan ada yang dibakar hidup-hidup dan disiksa sampai mati, seperti; Galileo Galilei (penemu teori bumi bulat), Niccolas Coppernicus (ilmuwan teori bumi bulat), Giardano Bruno (matematikawan dan astronom), Johannes Kepler (Ilmuwan pergerakan planet). Lain halnya dengan Islam, ia sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Lihatlah perintah Allah ‘azza wa jalla agar umat Islam menghargai spesifikasi bidang-bidang tertentu,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ  [النحل: 43]

“Bertanyalah kepada ahlinya jika kalian tidak mengetahui” (QS. An-Nahl: 43)

Lihat juga sabda Nabi shalallahu alaihi wasallam yang memotivasi umatnya agar banyak mempelajari dan mengembangkan ilmu pengetahuan dunia.

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ (رواه مسلم)

“Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian” (HR. Muslim)

Judul buku: Mengapa Saya Beragama Islam?

Penulis: Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)