Solusi Investasi Akhirat Anda

Laisa minna bagian 2

Nabi shalallahu alaihi wasallam juga pernah mencandai anak-anak dengan semburan air dari mulut beliau shalallahu alaihi wasallam. Dari Mahmud bin Ar Rabi’ radiallahu anhu ia berkata:

عَقَلْتُ مِنَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم مَجَّةً مَجَّهَا فِي وَجْهِي، وَأَنَا ابْنُ خَمْسِ سِنِينَ مِنْ دَلْوٍ

“Aku ingat sekali dari Rasulullah shalallahu alaihi wasallam adalah semburan air dari mulutnya ke wajahku. (Air tersebut) beliau (semburkan dengan) mengambilnya dari sebuah ember, dan kala itu aku berumur lima tahun.” (HR. Bukhari no. 77)

Dalam hadis-hadis yang sifatnya Umum Nabi shalallahu alaihi wasallam banyak bersabda kepada ‘Aisyah radiallahu anha:

يَاعَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ رَفِيْقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِيْ الأَمْرِ كُلِّهِ

“Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah ta’ala Maha Lembut dan menyukai kelembutan dalam segala urusan.” (HR. Bukhari no. 6415)

Dalam hadis yang lain juga disebutkan:

يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ رَفِيْقٌ يُحِبُ الرِّفْقَ وَيعْطِى عَلَى الرِّفْقِ مَا لاَ يُعطِي عَلَى الْعُنْفِ وَمَالاَ يعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ

“Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan menyukai kelembutan. Dia memberi pada kelembutan itu sesuatu yang tidak diberikan-Nya pada sikap kasar, dan apa yang tidak diberikan-Nya pula pada yang lainnya.” (HR. Muslim no. 2593)

C. Niyahah (meratap)

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الخُدُودَ، وَشَقَّ الجُيُوبَ، وَدَعَا بِدَعْوَى الجَاهِلِيَّةِ

Dalam sebuah ayat Allah ta’ala telah menegaskan bahwasanya setiap yang hidup pasti akan merasakan yang namanya kematian. Allah ta’ala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ 

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu.” (QS. Ali ‘Imron: 185)

Begitu pula dalam firman-Nya Allah ta’ala juga telah menegaskan bahwasanya tidak ada satu pun makhluk yang akan kekal abadi, Allah ta’ala berfirman:

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْد

“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad).” (QS. Al Anbiya’: 34)

Maka dari itu merupakan sebuah kewajiban bagi orang-orang yang ditinggal mati oleh orang-orang yang dicintainya adalah menerima takdir Allah ta’ala ini dan bersabar atasnya. Namun sebagian manusia ada diantara mereka yang tidak bisa atau belum menerima hal ini (kematian), sehingga ada diantara mereka yang melakukan perbuatan warisan dari kaum jahiliyyah yaitu niyahah

Niyahah sebagaimana dijelaskan oleh Imam An Nawawi rahima hullah adalah:

واعلم أن النياحة : رفع الصوت بالندب ، والندب : تعديد النادبة بصوتها محاسن الميت

“Ketahuilah bahwa niyahah berarti: mengangkat suara dengan an nadb, dan an nadb  adalah mengulang-ngulang ratapan dengan suara nyaring disertai dengan menyebut-nyebut kebaikan-kebaikan mayit.” (Al Adzkar 1/147)

Niyahah ini adalah ekspresi seseorang saat meluapkan emosi dalam jiwanya akibat dari ditinggal mati oleh keluarga yang dicintainya. Niyahah bisa dalam bentuk berteriak-teriak, menangis yang menjadi-jadi, bergulung-gulung di tanah, merobek-robek pakaian, atau memukul-mukul badan. Banyak sekali dalil-dalil yang menunjukkan larangan niyahah. Dalam sebuah hadis Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam pernah bersabda:

 أَرْبَعٌ فِى أُمَّتِى مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لاَ يَتْرُكُونَهُنَّ الْفَخْرُ فِى الأَحْسَابِ وَالطَّعْنُ فِى الأَنْسَابِ وَالاِسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ وَالنِّيَاحَةُ ». وَقَالَ النَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ

“Empat hal yang terdapat pada umatku yang termasuk perbuatan jahiliyah yang susah untuk ditinggalkan: (1) Membangga-banggakan kebesaran leluhur, (2) Mencela keturunan, (3) Mengaitkan turunnya hujan kepada bintang tertentu, dan (4) Meratapi mayit (niyahah)”. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan sabdanya, “Orang yang melakukan niyahah apabila mati sebelum ia bertaubat, maka ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dan ia dikenakan pakaian yang berlumuran dengan cairan tembaga, serta mantel (pakaian) yang bercampur dengan penyakit gatal.” (HR. Muslim no: 934)

Dari hadis di atas sudah nampak bahwasanya niyahah itu merupakan dosa besar karena dia diancam dengan hukuman siksa pada hari kiamat kelak. Dalam hadis lain pula Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda menyebutkan bahwasanya siapa yang melakukan perbuatan niyahah, maka dia bukan termasuk pengikut Nabi shalallahu alaihi wasallam yang baik:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الخُدُودَ، وَشَقَّ الجُيُوبَ، وَدَعَا بِدَعْوَى الجَاهِلِيَّةِ

“Tidak termasuk golongan kami orang yang menampar pipi, merobek juyuub (saku/pakaian), dan berteriak dengan teriakan  jahiliyah (yakni ketika ditimpa musibah kematian.” (HR. Bukhari no. 1294 dan Muslim no. 103)

Dari Al Mughirah bin Syu’bah radiallahu anhu, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ نِيحَ عَلَيْهِ يُعَذَّبُ بِمَا نِيحَ عَلَيْهِ

Siapa yang diratapi maka dia disiksa karena ratapan yang ditujukan kepadanya. (HR. Bukhari no. 1291 dan Muslim no. 927)

Diantara bahaya perbuatan niyahah ialah:

1. Termasuk kufur asghar (kufur kecil):

اثْنَتَانِ فِي النَّاسِ هُمَا بِهِمْ كُفْرٌ: الطَّعْنُ فِي النَّسَبِ وَالنِّيَاحَةُ عَلَى الْمَيِّتِ 

“Ada dua perkara pada manusia yang menyebabkan mereka kufur yaitu mencela nasab dan niyahah terhadap mayit.” (HR. Muslim no. 67)

2. Nabi shalallahu alaihi wasallam berlepas diri dari pelaku niyahah

وَجِعَ أَبُو مُوسَى وَجَعًا فَغُشِيَ عَلَيْهِ، وَرَأْسُهُ فِي حِجْرِ امْرَأَةٍ مِنْ أَهْلِهِ فَصَاحَتِ امْرَأَةٌ مِنْ أَهْلِهِ، فَلَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يَرُدَّ عَلَيْهَا شَيْئًا، فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ: أَنَا بَرِيءٌ مِمَّا بَرِئَ مِنْهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، «فَإِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَرِئَ مِنَ الصَّالِقَةِ، وَالْحَالِقَةِ، وَالشَّاقَّةِ

Abu Musa pernah menderita sakit parah hingga ia pingsan, saat itu kepalanya berada di pangkuan salah seorang wanita dari kalangan keluarganya. Seorang wanita dari kalangan keluarganya menjerit, tetapi Abu Musa tidak mampu membantahnya. Ketika Abu Musa telah sadar, dia berkata: “Aku berlepas diri terhadap apa yang Rasûlullâh shalallahu alaihi wasallam berlepas diri darinya. Sesungguhnya Rasûlullâh shalallahu alaihi wasallam berlepas diri dari wanita yang berteriak, wanita yang mencukur rambutnya, dan wanita yang merobek pakaiannya (ketika terjadi musibah kematian).” (HR. Bukhari no. 1296 dan Muslim no. 104)

3. Bisa menyebabkan mayit tersakiti karena ratapan orang yang masih hidup.

Dari sahabat An Nu’man bin Basyir radiallahu anhu, beliau berkata:

أُغْمِيَ عَلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ رَوَاحَةَ فَجَعَلَتْ أُخْتُهُ عَمْرَةُ تَبْكِي وَا جَبَلَاهْ وَا كَذَا وَا كَذَا تُعَدِّدُ عَلَيْهِ فَقَالَ حِينَ أَفَاقَ مَا قُلْتِ شَيْئًا إِلَّا قِيلَ لِي آنْتَ كَذَلِكَ

“Dahulu aku pingsan mendengar kematian ‘Abdullah bin Rawahah. Seketika itu pula saudara perempuannya (saudara perempuan Nu’man) menangis dan mengatakan, ‘Aduuh, telah binasa orang yang mulia.’ Demikian ia katakan secara berulang-ulang. Ketika Nu’man siuman: Nu’man berkata kepada saudara perempuannya, ‘Semua yang kamu katakan tadi ditanyakan kepadaku, Apakah engkau juga seperti itu pula?‘” (HR. Bukhari no. 4267)

Dari sahabat Abu Musa Al ‘Asy’ari radiallahu anhu, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

مَا مِنْ مَيِّتٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ بَاكِيهِ، فَيَقُولُ: وَاجَبَلَاهْ وَاسَيِّدَاهْ أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ، إِلَّا وُكِّلَ بِهِ مَلَكَانِ يَلْهَزَانِهِ: أَهَكَذَا كُنْتَ؟

“Tidaklah seseorang meninggal, lalu orang-orang berdiri meratapinya dengan berkata, ‘Wa jaballah, wa sayyidah!’ (Aduhai celakanya aku, Aduhai sialnya aku!) dan sejenisnya, niscaya akan dikirim dua malaikat untuk memukulinya sambil menghardiknya dengan berkata, ‘Betulkah demikian keadaanmu (di dunia)?‘” (HR. At Tirmidzi no. 1003 dan Ibnu Majah no. 1594)

Bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dan beberapa sahabatnya pernah menjenguk Sa’d bin Ubadah radiallahu anhu yang ketika itu sedang dirundung kesedihan seluruh keluarganya. Melihat suasana sedih, Nabi shalallahu alaihi wasalla bertanya, “Apa dia sudah meninggal?”

’Belum, ya Rasulullah.’ jawab keluarganya.

Kemudian Nabi shalallahu alahi wasallam menangis. Para sahabat pun ikut menangis. Kemudian Nabi shalallahu alahi wasallam bersabda:

أَلاَ تَسْمَعُونَ إِنَّ اللَّهَ لاَ يُعَذِّبُ بِدَمْعِ العَيْنِ، وَلاَ بِحُزْنِ القَلْبِ، وَلَكِنْ يُعَذِّبُ بِهَذَا – وَأَشَارَ إِلَى لِسَانِهِ – أَوْ يَرْحَمُ، وَإِنَّ المَيِّتَ يُعَذَّبُ بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ

“Tidakkah kalian mendengar, bahwa Allah tidak menyiksa disebabkan tetesan air mata atau kesedihan hati. Namun Allah menyiksa atau merahmati disebabkan ini, – beliau berisyarat ke lisannya -. Sesungguhnya mayit disiksa disebabkan tangisan keluarganya kepadanya.” (HR. Bukhari no. 1304 dan Muslim no. 924)

Begitu pula Imam Asy Syafi’i rahima hullah menganggap bahwasanya berkumpul-kumpul di rumah keluarga mayit kemudian ditambah ada makanan di dalamnya serta acara-acara yang tidak ada tuntunannya dari syari’at agama Islam, semuanya termasuk perbuatan niyahah. Beliau rahima hullah berkata:

وأكره النياحة على الميت بعد موته وأن تندبه النائحة على الانفراد لكن يعزى بما أمر الله عزوجل من الصبر والاسترجاع وأكره المأتم وهى الجماعة وإن لم يكن لهم بكاء فإن ذلك يجدد الحزن

“Aku membenci niyahah (peratapan) pada mayit setelah kematiannya, begitu juga aku membenci jika bersedih tersebut dilakukan seorang diri. Seharusnya yang dilakukan adalah seperti yang Allah Ta’ala perintahkan yaitu dengan bersabar dan mengucapkan istirja’ (innalillahi wa inna ilaihi rooji’un). Aku pun tidak suka dengan acara ma’tam yaitu berkumpul di kediaman si mayit walau di sana tidak ada tangisan. Karena berkumpul seperti ini pun hanya membuat keluarga mayit mengungkiti kesedihan yang menimpa mereka.” (Al Umm 1/318)

Judul Buku: Laisa minna

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)