Solusi Investasi Akhirat Anda

Kiat-kiat Seseorang Masuk Surga bagian 4

6. Meninggalkan debat

Setiap yang diucapkan manusia dalam kehidupannya akan ada hisabnya di sisi Allah ta’ala. Karenanya Allah ta’ala berfirman:

مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 18)

Karena semua ucapan akan dipertanggungjawakan di sisi Allah ta’ala, maka semua manusia harus berkata dengan ucapan yang baik. Sehingga dengan ucapan-ucapan yang baik akan mendatangkan pahala baginya. Jika ada ucapan-ucapan yang baik dan dengannya pahala akan didapat, maka juga ada ucapan-ucapan yang buruk yang dengannya dosa akan didapat. 

Diantara ucapan-ucapan buruk ialah berdebat. Yang namanya perdebatan dalam bahasa Arab lebih dikenal dengan sebutan Al Jadal. Debat atau Al Jadal bermakna:

دَفعُ المرءِ خَصمَه عن إفسادِ قَولِه، بحُجَّةٍ أو شُبهةٍ، أو يَقصِدُ به تصحيحَ كلامِه

“Usaha seseorang untuk meruntuhkan pendapat lawannya yang bertujuan untuk membatalkan perkataannya, dengan menggunakan sebuah argument atau syubhat, atau dengan tujuan untuk menguatkan pendapatnya sendiri.” (At-Ta’rifat: 74)

Maka dari itu datang dalam ayat dan hadis larangan seseorang untuk melakukan yang namanya perdebatan. Apalagi perdebatan tersebut dalam hal agama. Allah ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ صَرَّفْنَا فِي هَذَا الْقُرْآنِ لِلنَّاسِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ وَكَانَ الْإِنْسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلًا

“Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al Quran ini bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak mendebat.” (QS. Al Kahfi: 54)

Ibnu Katsir rahima hullah berkata:

الإنسانُ كثيرُ المُجادَلةِ والمخاصَمةِ والمعارَضةِ للحَقِّ بالباطِلِ، إلَّا مَن هدى اللهُ وبَصَّرَه لطَريقِ النَّجاةِ

“Manusia banyak mendebat, memprotes dan menyanggah kebenaran dengan kebatilan. kecuali orang-orang yang Allah berikan petunjuk kepada jalan keselamatan” (Tafsir Ibnu Katsir, 5/171)

Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam pernah bersabda:

إنَّ أَبْغَضَ الرِّجَالِ إلى اللَّهِ الألَدُّ الخَصِمُ

“Sesungguhnya orang yang paling dibenci oleh Allah adalah orang yang sangat suka berdebat.” (HR. Bukhari no. 2457)

Bahkan yang lebih buruk dari Al Jadal ialah Al Mira’. Al Mira’ ialah:

طعن في كلام الغير لإظهار خلل فيه، من غير أن يرتبط به غرض سوى تحقير الغير

“Al Mira’ adalah mencela mengkritik orang lain untuk menunjukkan cacat pada perkataan orang lain tersebut, dan tidak ada tujuan lain selain hanya untuk merendahkan orang tersebut” (At Ta’rifat hal. 209)

Karenanya Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda memberikan jaminan Surga bagi orang-orang yang mampu meninggalkan debat. Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam mengatakan:

أنا زعيمٌ ببَيْتٍ في رَبَضِ الجَنَّةِ لِمَن ترَك المِراءَ وإنْ كان مُحِقًّا، وببَيْتٍ في وسَطِ الجَنَّةِ لِمَن ترَك الكَذِبَ وإن كان مازحًا، وببَيْتٍ في أعلى الجَنَّةِ لِمَن حسُنَ خُلُقُهُ

“Aku menjamin sebuah rumah di pinggiran Surga bagi orang yang meninggalkan debat walaupun ia benar. Dan aku menjamin rumah di tengah Surga, bagi orang yang meninggalkan dusta ketika bercanda. Dan aku menjamin rumah di Surga yang paling tinggi bagi orang yang akhlaknya baik” (HR. Abu Dawud no. 4800)

Dengan seseorang berdebat, maka sebetulnya ucapan-ucapan tersebut bukanlah ucapan yang mendatangkan kebaikan. Allah ta’ala berfirman:

لاَ خَيْرَ فِيْ كَثِيْرٍ مِنْ نَجْوَاهُمِ إِلاَّ مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوِ مَعْرُوْفٍ أَوْ إِصْلاَحٍ بَيْنَ النَّاسِ

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia” (QS. An Nisa’: 114)

Nabi shalallahu alaihi wasallam juga mengancam orang yang suka debat maka lama-lama dia akan tersesat. Nabi shalallahu alaihi wasallam mengatakan:

ما ضَلَّ قومٌ بعدَ هُدًى كانوا عليهِ إلَّا أوتوا الجدَلَ

“Tidaklah suatu kaum menjadi sesat setelah mereka mendapat petunjuk, kecuali karena mereka diberikan kemampuan debat” (HR. At Tirmidzi no. 3253)

Kebanyakan yang ada dalam perdebatan dalam hati seseorang ialah memenangkan argumennya meskipun kebenaran telah berada di kedua pelupuk matanya. Begitu pula ada di dalam hati sebagian orang saat berdebat ialah dia tidak mau kalah bahkan malu apabila kalah dalam berdebat. Maka dari itu Imam Asy Syafi’i rahima hullah pernah mengatakan:

وَاللَّهِ ، مَا نَاظَرْتُ أَحَدًا ، فَأَحْبَبْتُ أَنْ يُخْطِئَ

“Demi Allah, tidaklah aku mendebat seseorang melainkan berharap akulah yang keliru.” (Tabyin Kadzbil Muftari hal. 340)

7. Senantiasa menjaga kesucian

Ini adalah keadaan yang cukup berat pada sebagian manusia yaitu dengan menjaga kesuciannya setiap kali dia berhadats. Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam bersabda:

يَا بِلاَلُ بِمَ سَبَقْتَنِى إِلَى الْجَنَّةِ مَا دَخَلْتُ الْجَنَّةَ قَطُّ إِلاَّ سَمِعْتُ خَشْخَشَتَكَ أَمَامِى دَخَلْتُ الْبَارِحَةَ الْجَنَّةَ فَسَمِعْتُ خَشْخَشَتَكَ أَمَامِى

“Wahai Bilal, dengan apa engkau mendahuluiku masuk Surga? Aku tidaklah masuk Surga sama sekali melainkan aku mendengar suara sendalmu di hadapanku. Aku memasuki Surga di malam hari dan aku dengar suara sendalmu di hadapanku.”

Beliau radiallahu anhu berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَذَّنْتُ قَطُّ إِلاَّ صَلَّيْتُ رَكْعَتَيْنِ وَمَا أَصَابَنِى حَدَثٌ قَطُّ إِلاَّ تَوَضَّأْتُ عِنْدَهَا وَرَأَيْتُ أَنَّ لِلَّهِ عَلَىَّ رَكْعَتَيْنِ

“Wahai Rasulullah, aku biasa tidak meninggalkan shalat dua raka’at sedikit pun. Setiap kali aku berhadats, aku lantas berwudhu dan aku membebani diriku dengan shalat dua raka’at setelah itu.” (HR. At Tirmidzi no. 3689)

Belum lagi keutamaan-keutamaan dari berwudhu dalam hadis-hadis yang lainnya. Misalnya dalam sebuah hadis, Nabi shalallahu alaihi wasallam pernah mengatakan:

إِذَا تَوَضَّأَ الْعَبْدُ الْمُسْلِمُ أَوْ الْمُؤْمِنُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ خَرَجَ مِنْ وَجْهِهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ نَظَرَ إِلَيْهَا بِعَيْنَيْهِ مَعَ الْمَاءِ أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ فَإِذَا غَسَلَ يَدَيْهِ خَرَجَ مِنْ يَدَيْهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ كَانَ بَطَشَتْهَا يَدَاهُ مَعَ الْمَاءِ أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ فَإِذَا غَسَلَ رِجْلَيْهِ خَرَجَتْ كُلُّ خَطِيئَةٍ مَشَتْهَا رِجْلَاهُ مَعَ الْمَاءِ أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ حَتَّى يَخْرُجَ نَقِيًّا مِنْ الذُّنُوبِ

“Jika seorang hamba muslim atau mukmin berwudhu kemudian ia mencuci wajahnya, keluarlah dari wajahnya seluruh dosa karena penglihatan kedua matanya bersamaan dengan air atau akhir tetesan air. Jika ia mencuci kedua tangannya, keluarlah dari kedua tangannya setiap dosa yang dilakukan tangannya bersamaan dengan air atau tetesan air terakhir. Jika ia mencuci kedua kakinya keluarlah semua dosa yang dilakukan langkah kakinya bersamaan dengan air atau tetesan air terakhir, hingga ia keluar (dari berwudhu) dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Muslim no. 360)

Begitu pula Nabi shalallahu alaihi wasallam juga pernah berkata:

وَلاَ يُحَافِظُ عَلَى الْوُضُوءِ إِلاَّ مُؤْمِنٌ

“Dan tidaklah menjaga wudhu kecuali seorang mukmin.” (HR. Ahmad no. 21380)

Judul Buku: Kiat-kiat Seseorang Masuk Surga

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)