Solusi Investasi Akhirat Anda

Kiat-kiat Seseorang Masuk Surga bagian 3

5. Istiqomah dalam beragama

Diantara hal yang Allah ta’ala perintahkan setelah seseorang beriman ialah agar dia senantiasa istiqomah di dalam menjalankan syari’at Allah ta’ala. Begitu banyak rintangan dan godaan saat seseorang menjalankan agama Islam ini. Banyak sekali godaan syubhat dan syahwat yang setiap saat menggelincirkan seorang hamba dari jalan yang lurus.

Allah ta’ala berfirman dalam sebuah ayat:

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Maka istiqomahlah (tetaplah kamu pada jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Hud: 112)

Imam Ibnu Katsir rahima hullah berkata:

أمر نبيه محمدا صلى الله عليه وسلم، ومن معه، من المؤمنين، أن يستقيموا كما أمروا، فيسلكوا ما شرعه الله من الشرائع، ويعتقدوا ما أخبر الله به من العقائد الصحيحة، ولا يزيغوا عن ذلك يمنة ولا يسرة، ويدوموا على ذلك، ولا يطغوا بأن يتجاوزوا ما حده الله لهم من الاستقام

“Allah ta’ala memerintahkan kepada Rasul-Nya dan para hamba-Nya yang beriman agar bersikap teguh dan tetap berjalan pada apa yang telah Allah ta’ala syari’atkan. Begitu pula berkeyakinan dengan keyakinan-keyakinan yang benar. Lalu Allah melarang seseorang agar jangan sampai menyimpang ke kanan dan ke kiri serta agar jangan sampai bersikap melampaui batas.”

Begitu pula firman-Nya:

فَلِذَٰلِكَ فَادْعُ ۖ وَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ ۖ وَقُلْ آمَنْتُ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنْ كِتَابٍ ۖ وَأُمِرْتُ لِأَعْدِلَ بَيْنَكُمُ ۖ اللَّهُ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ ۖ لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ ۖ لَا حُجَّةَ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ ۖ اللَّهُ يَجْمَعُ بَيْنَنَا ۖ وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ

“Maka karena itu serulah (mereka kepada agama ini) dan istiqomahlah (tetaplah dalam agama dan lanjutkanlah berdakwah) sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka. Dan katakanlah: “Aku beriman kepada semua kitab yang diturunkan Allâh dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu. Allâh-lah tuhan kami dan tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu, tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allâh akan mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah tempat kembali (kita).” (QS. Asy Syura: 15)

Ada seorang sahabat Nabi shalallahu alaihi wasallam yang bernama Sufyan bin ‘Abdullah Ats-Tsaqofi radiallahu anhu pernah bertanya kepada beliau shalallahu alaihi wasallam:

يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ 

“Wahai Rasulullah, katakan kepadaku di dalam Islam satu perkataan yang aku tidak akan bertanya kepada seorang pun setelah Anda!”

Maka Nabi shalallahu alaihi wasallam menjawab:

قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ

“Katakanlah, ‘aku beriman’, lalu istiqomahlah.” (HR. Muslim: 38)

Istiqomah dalam beragama pada masa sekarang adalah hal yang sangat berat. Terlebih lagi pintu-pintu kemaksiatan pada zaman ini juga sudah semakin banyak pula. Janganlah seseorang merubah kebaikan yang pernah dikerjakan menjadi keburukan yang akan dikerjakan. Shalat 5 waktu yang kita kerjakan pada hari ini juga shalat 5 waktu yang akan kita kerjakan esok hari Jika Allah ta’ala berikan kesempatan. Membaca, menghafal, mentadabburi, mengamalkan Al Qur’an pada hari ini juga sama dengan hari esok. Hari-hari yang akan kita jalani sebetulnya sama seperti kita memutari sebuah garis lingkaran. Apa yang telah kita lewati pada hari ini, sebetulnya akan sama juga dengan yang akan kita lalui pada hari esok.

Alangkah indahnya apabila seseorang tatkala memutari jarum jam kehidupannya, dia memutarinya dengan keistiqomahan. Allah ta’ala telah membuat perumpamaan dalam Al Qur’an bagi orang yang kembali kepada kondisi yang jelek. Dia menghancurkan setelah apa yang dibangunnya dan dia berpaling dari jalan petunjuk. Perumpamaan tentang buruknya sikap yang dia pilih seperti itu serta memperingatkan hamba-Nya dari perbuatan tersebut, bahwa hal itu termasuk perilaku orang bodoh. Allah ta’ala berfirman:

وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلا تَنْقُضُوا الأيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلا إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ * وَلا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا تَتَّخِذُونَ أَيْمَانَكُمْ دَخَلا بَيْنَكُمْ أَنْ تَكُونَ أُمَّةٌ هِيَ أَرْبَى مِنْ أُمَّةٍ إِنَّمَا يَبْلُوكُمُ اللَّهُ بِهِ وَلَيُبَيِّنَنَّ لَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat. Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian) mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari Kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu.” (QS. An Nahl: 91-92)

 Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahima hullah berkata:

وهذا يشمل جميع ما عاهد العبد عليه ربه من العبادات والنذور والأيمان التي عقدها ، إذا كان الوفاء بها برا. ويشمل أيضا ما تعاقد عليه هو وغيره كالعهود بين المتعاقدين..

وَلا تَكُونُوا  في نقضكم للعهود بأسوأ الأمثال وأقبحها وأدلها على سفه متعاطيها ، وذلك  كَالَّتِي  تغزل غزلا قويا فإذا استحكم وتم ما أريد منه نقضته فجعلته  أَنْكَاثًا  فتعبت على الغزل ثم على النقض، ولم تستفد سوى الخيبة والعناء وسفاهة العقل ونقص الرأي، فكذلك من نقض ما عاهد عليه فهو ظالم جاهل سفيه ناقص الدين والمروءة

“Hal ini meliputi semua janji seorang hamba kepada Tuhan-Nya baik berupa ibadah, nadzar, janji-janji yang telah dibuatnya, menunaikannya merupakan suatu kebaikan. Hal ini juga mencakup perjanjian antara dia dengan orang lain, seperti perjanjian di antara dua orang yang membuat kesepakatan. Jangan sampai terjadi ingkar janji lalu menjadi contoh yang terburuk menggambarkan kebodohan orang yang melakukannya. Hal itu seperti orang yang telah menenun dengan tenunan yang kuat, ketika telah berhasil dan hampir sempurna apa yang diinginkannya, kemudian dilepaskan sampai cerai berai, dia lelah-lelah memintalnya, namun  kemudian diuraikan kembali. Tidak ada manfaat yang didapat kecuali hanya sekedar angan kosong dan kelelahan serta kebodohan akalnya dan kekurangan pikirannya. Begitu juga orang yang menginkari apa yang dia janjikan, maka dia termasuk orang yang zalim, bodoh, kurang agama dan kehormatannya.” (Taisir karim Ar-Rahman: 447).

Karena beratnya keistiqomahan dalam menjalan agama Islam ini, maka Allah ta’ala pun memberi balasan yang besar pula. Dalam sebuah ayat, Allah ta’ala pernah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allâh” kemudian mereka istiqomah (meneguhkan pendirian mereka), maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan bergembiralah dengan Surga yang telah dijanjikan Allâh kepadamu.” (QS. Fusshilat: 30)

Tatkala Imam Al Hasan Al Bashri rahima hullah membaca ayat di atas, beliau berdo’a:

اللَّهُمَّ فَأَنْتَ رَبُّنَا، فَارْزُقْنَا ٱلِٱسْتِقَامَةَ

“Ya Allah! Engkaulah Rabb kami, rezekikanlah istiqomah kepada kami.” (Tafsir Ath Thabari  21 465)

Dalam firman-Nya yang lain Allah ta’ala juga mengatakan:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ﴿٣١﴾ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allâh”, kemudian mereka tetap istiqomah (teguh pendirian dalam tauhid dan tetap beramal yang shalih) maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-Ahqaf: 13-14)

Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam pun juga pernah berdo’a:

اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ القُلُوْبِ صَرِّفْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

“Ya Allah Zat Yang Membolak-balikkan hati, balikkanlah hati kami untuk ta’at kepada-Mu).” (HR. Muslim no. 2654)

Ummu Salamah radiallahu anha pernah menanyakan kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengapa doa tersebut yang sering beliau baca. Nabi shalallahu alaihi wasallam menjawab:

يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِىٌّ إِلاَّ وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ

“Wahai Ummu Salamah, tidaklah hati manusia melainkan berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.” (HR. At-Tirmidzi: 3522)

Judul Buku: Kiat-kiat Seseorang Masuk Surga

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)