Solusi Investasi Akhirat Anda

Kiat-kiat Seseorang Masuk Surga bagian 2

Imam Ibnu Katsir rahima hullah berkata dalam tafsirnya:

Ayat di atas semisal atau semakna dengan firman Allah ta’ala dalam beberapa ayat semisal:

مَّنْ عَمِلَ صَٰلِحًا فَلِنَفْسِهِۦ ۖ وَمَنْ أَسَآءَ فَعَلَيْهَا ۗ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri”. (QS. Fusshilat: 46)

مَن كَفَرَ فَعَلَيْهِ كُفْرُهُۥ ۖ وَمَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا فَلِأَنفُسِهِمْ يَمْهَدُونَ

“Barangsiapa yang kafir maka dia sendirilah yang menanggung (akibat) kekafirannya itu; dan barangsiapa yang beramal saleh maka untuk diri mereka sendirilah mereka menyiapkan (tempat yang menyenangkan)”. (QS. Ar Ruum: 44)

Sedangkan maksud firman Allah ta’ala:

وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ

“Barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”. (QS. An Naml: 40)

Beliau rahima hullah berkata:

هو غني عن العباد وعبادتهم

“Dia tidak membutuhkan para hamba-Nya dan ibadah mereka”. (Tafsir Ibnu Katsir)

Begitu pula dalam hadis qudsi, Allah ta’ala juga mengatakan yang isinya Dia ta’ala tidak membutuhkan para hamba-Nya:

يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِى مُلْكِى شَيْئًا يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِى شَيْئًا

“Wahai para hamba-Ku, kalau orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu bertaqwa seperti orang yang paling bertaqwa di antara kalian, tidak akan menambah kekuasaan-Ku sedikit pun. Jika orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu berhati jahat seperti orang yang paling jahat di antara kalian, tidak akan mengurangi kekuasaan-Ku sedikit pun juga”. (HR. Muslim no: 2577)

Kemudian balasan yang Allah ta’ala janjikan kepada orang-orang yang menjaga shalatnya yang paling tinggi ialah Surga-Nya. Banyak sekali nash yang menunjukkan akan hal demikian. Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam bersabda:

خَمْسُ صَلَوَاتٍ كَتَبَهُنَّ اللهُ عَلَى الْعِبَادِ ، مَنْ أَتَىٰ بِهِنَّ لَمْ يُضَيِّعْ مِنْهُنَّ شَيْئًا اسْتِخْفَافًا بِحَقِّهِنَّ ؛ كَانَ لَهُ عِنْدَ اللهِ عَهْدٌ أَنْ يُدْخِلَهُ الْـجَنَّـةَ ، وَمَنْ لَمْ يَأْتِ بِهِنَّ ، فَلَيْسَ لَهُ عِنْدَ اللهِ عَهْدٌ ، إِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ ، وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُ.

“Lima shalat yang Allah wajibkan atas hamba-Nya. Barangsiapa mengerjakannya dan tidak menyia-nyiakannya sedikit pun karena menganggap enteng, maka ia memiliki perjanjian dengan Allah untuk memasukkan dia ke Surga. Barangsiapa tidak mengerjakannya, maka dia tidak memiliki perjanjian dengan Allah. Jika Allah berkehendak, maka Dia mengadzabnya dan jika Dia berkehendak Dia mengampuninya”. (HR. Ahmad 5/315)

Dalam hadis yang dinukil dari Sahabat Rabi’ah bin Ka’ab Al Aslami radiallahu anhu dia berkata:

كُنْتُ أَبِيتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم فَأَتَيْتُهُ بِوَضُوئِهِ وَحَاجَتِهِ فَقَالَ لِى : سَلْ! فَقُلْتُ أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِى الْجَنَّةِ. قَالَ : أَوَغَيْرَ ذَلِكَ. قُلْتُ هُوَ ذَاكَ. قَالَ : فَأَعِنِّى عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ

“Aku pernah bermalam bersama Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Aku mendatangi beliau shalallahu alaihi wasallam dengan membawakan air wudhu dan keperluan beliau shalallahu alaihi wasallam, lalu beliau shalallahu alaihi wasallam bersabda: ‘Mintalah!’ Aku berkata, ‘Aku meminta kepadamu supaya dapat bersamamu di Surga’. Beliau shalallahu alaihi wasallam berkata: ‘Atau ada permintaan selain itu?’ Aku menjawab: ‘Itu saja yang aku minta’. Beliau shalallahu alaihi wasallam bersabda: ‘Tolonglah aku untuk mewujudkan keinginanmu itu dengan engkau memperbanyak sujud'”. (HR. Muslim no. 489)

Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَلَّى الْبَرْدَيْنِ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Siapa yang shalat di dua waktu barad (dingin) maka akan masuk surga”. (HR. Al Bukhari no. 574)

4. Bertaubat

Banyak sekali orang-orang yang mengira bahwasanya taubat itu hanya wajib dilakukan bagi orang-orang yang telah melakukan banyak kesalahan atau kemaksiatan, sedangkan orang-orang yang masih menjalankan keta’atan dan meninggalkan kemaksiatan mereka tidak perlu bertaubat. Ini adalah hal yang keliru. Setiap mukmin dituntut di dalam syari’at ini untuk memperbanyak taubat dan istighfar dalam setiap waktu yang akan dilaluinya.

Bahkan seharusnya orang yang semakin mengenal Allah ta’ala, maka dia akan memperbanyak taubat dalam kesehariannya. Lihatlah Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, beliau adalah orang yang ma’shum, beliau shalallahu alaihi wasallam adalah orang yang paling bertaqwa, paling takut kepada Allah ta’ala, paling baik akhlaknya, bersamaan dengan itu beliau masih bertaubat dan beristighfar. Dalam sebuah hadis, Nabi shalallahu alaihi wasallam pernah bersabda:

وَاللَّهِ إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

“Demi Allah, aku sungguh beristighfar pada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari 70 kali”. (HR. Al Bukhari no. 6307)

Di dalam Al Qur’an disebutkan perintah agar seseorang senantiasa menjadi orang bertaubat. Bahkan Allah ta’ala mencintai seorang hamba yang senantiasa bertaubat. Allah ta’ala berfirman:

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Dan bertaubatlah kalian semua wahai orang-orang yang beriman supaya kalian beruntung”. (QS. An-Nur: 31)

Begitu juga firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang suka bertaubat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri”. (QS. Al Baqarah: 222)

Taubat juga salah satu bukti penyesalan dari seorang hamba tatkala dia baru saja berbuat kemaksiatan. Dalam sebuah hadis Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam pernah bersabda:

اَلنَّدَمُ تَوْبَةٌ

“Penyesalan adalah taubat”. (HR. Ibnu Majah no: 4252)

Hingga sebagian ulama salaf rahima humullah mereka berkata:

يَكْفِي فِي التَّوْبَةِ تَحَقُّقُ النَّدَمِ ؛ فَإِنَّهُ يَسْتَلْزِمُ الْإِقْلَاعَ عَن الذنوب ، وَالْعَزْمِ عَلَى عَدَمِ الْعَوْدِ؛ فَهُمَا نَاشِئَانِ عَنِ النَّدَمِ لَا أَصْلَانِ مَعَهُ

“Di dalam taubat cukup menghadirkan rasa penyesalan; karena dengannya bisa mencabut diri dari dosa dan berazam untuk tidak mengulanginya lagi, keduanya tumbuh dari penyesalan tidak ada hal yang pokok lainnya bersamanya”. (Fathul Baari 13/471)

Al Qaari rahima hullah berkata:

(النَّدَمُ تَوْبَةٌ) إِذْ يَتَرَتَّبُ عَلَيْهَا بَقِيَّةُ الْأَرْكَانِ مِنَ الْقَلْعِ وَالْعَزْمِ عَلَى عَدَمِ الْعَوْدِ، وَتَدَارُكِ الْحُقُوقِ مَا أَمْكَنَ…. وَالْمُرَادُ النَّدَامَةُ عَلَى فِعْلِ الْمَعْصِيَةِ مِنْ حَيْثُ إِنَّهَا مَعْصِيَةٌ لَا غَيْرَ

“Penyesalan merupakan bentuk taubat, maksudnya ialah di atasnya ada rukun-rukun taubat lainnya; mencabut diri dari dosa dan berazam untuk tidak mengulanginya lagi, menyelesaikan hak-hak yang belum selesai sebisa mungkin. Maksud dari penyesalan dari kemaksiatan adalah karena kemaksiatan itu sendiri bukan yang lainnya”. (Mirqatul Mafatih 4/1637)

Maka ini adalah ibadah yang sangat agung apabila diketahui oleh para hamba-Nya. Ganjaran dari ibadah ini juga tidak main-main. Allah ta’ala berfirman dalam sebuah ayat:

إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحًا فَأُو۟لَٰٓئِكَ يَدْخُلُونَ ٱلْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ شَيْـًٔا

“Kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk Surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun”. (QS. Maryam: 60)

Begitu pula firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ ۖ نُورُهُمْ يَسْعَىٰ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb-mu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia, sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan, ‘Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu”. (QS. At Tahrim: 8)

Syaikh ‘Abdurahman bin Nashir As Sa’di rahima hullah berkata:

قد أمر الله بالتوبة النصوح في هذه الآية، ووعد عليها بتكفير السيئات، ودخول الجنات، والفوز والفلاح، حين يسعى المؤمنون يوم القيامة بنور إيمانهم، ويمشون بضيائه، ويتمتعون بروحه وراحته، ويشفقون إذا طفئت الأنوار، التي لا تعطى المنافقين، ويسألون الله أن يتمم لهم نورهم فيستجيب الله دعوتهم، ويوصلهم ما معهم من النور واليقين، إلى جنات النعيم، وجوار الرب الكريم، وكل هذا من آثار التوبة النصوح

“Allah ta’ala memerintahkan untuk bertaubat dengan sungguh-sungguh dalam ayat ini. Dia menjanjikan terhapusnya kesalahan-kesalahan, dimasukkan ke dalam surga, mendapatkan keberuntungan, kemenangan pada saat orang-orang yang beriman berjalan dengan cahaya keimanan pada hari kiamat. Mereka menikmati rezeki dan kenikmatan. Mereka berbelas kasih pada orang-orang munafik ketika cahaya mereka dipadamkan. Mereka meminta kepada Allah ta’ala untuk menyempurnakan cahaya tersebut, dan Dia mengabulkan permintaan mereka. Allah mengantarkan mereka beserta cahaya dan keyakinan yang ada pada diri mereka menuju Surga penuh kenikmatan dan berada di dekat Rabb Yang Maha Mulia. Ini semua adalah buah dari taubat nasuha”. (Selesai dari kitab Taisir Karim Ar Rahman)

Judul Buku: Kiat-kiat Seseorang Masuk Surga

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)