Solusi Investasi Akhirat Anda

Kiat-kiat Seseorang Masuk Surga bagian 1

Sebab-sebab Seseorang Masuk Surga

1. Mentauhidkan Allah ta’ala

Di antara amal sholih yang paling utama ialah seseorang mentauhidkan Allah ta’ala. Ini perintah yang sangat agung dari Rabbul ‘Alamin. Mentauhidkan Allah ta’ala maknanya menjadikan Allah ta’ala sebagai satu-satunya zat yang berhak diibadahi dengan benar. Mentauhidkan Allah ta’ala maknanya meyakini bahwa hanya Allah ta’ala saja yang menciptakan, mengatur, memiliki, menghidupkan, dan mematikan seluruh apa-apa yang ada di muka bumi ini. Dalam banyak ayat Allah ta’ala telah menyebutkan:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ 

“Tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku.” (QS.  Adz-Dzariyat: 56).

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّـهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ 

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada setiap umat (untuk menyerukan): ‘Beribadahlah kepada Allah (saja) dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36)

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

“Dan sembahlah Allah dan janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.” (QS. An Nisa: 36)

Allah ta’ala juga berfirman:

أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Rabb semesta alam.” (QS. Al-A’raf: 54)

Allah ta’ala berfirman:

ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ

“…Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah Rabb-mu, milik-Nya-lah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah, tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.” (QS. Fathir: 13)

Allah ta’ala berfirman:

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ

“Allah yang menciptakan segala sesuatu.” (QS. Az-Zumar: 62)

Bahwasanya Dia adalah Pemberi rezeki bagi setiap manusia, binatang, dan makhluk lainnya. Allah ta’ala berfirman:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” (QS. Hud: 6)

Inilah perintah-perintah Allah ta’ala di dalam Al-Qur’an agar manusia mentauhidkannya. Allah ta’ala juga menjanjikan ganjaran atau balasan yang sangat indah bagi orang-orang yang benar-benar mentauhidkannya. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa yang mati dan ia mengetahui bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Allah, maka ia masuk Surga.” (HR. Muslim no. 26)

Fudhail bin ‘Iyadh rahima hullah berkata:

كُلُّ من مات على الإيمانِ، وشَهِدَ مُخلِصًا من قَلْبِه بالشَّهادتينِ، فإنَّه يدخُلُ الجنَّةَ

“Setiap orang yang mati di atas iman, kemudian dia mengucapkan kalimat syahadat Ikhlas dari dalam hatinya, maka dia akan masuk Surga.” (Ikmal Al Mu’allim 1/255)

مَنْ مَاتَ لاَيُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, ia masuk Surga.” (HR. Muslim no. 93)

2. Menuntut Ilmu

Kemudian amalan yang bisa memasukkan seseorang ke dalam Surga Allah ta’ala ialah dengan seseorang menuntut ilmu agama. Ilmu adalah mengetahui kebenaran atau petunjuk dan mengikutinya. Dengan ilmu kehidupan manusia menjadi terbimbing. Dengan ilmu seseorang bisa sangat terbantu untuk menggapai apa yang diharapkan dari urusan dunia dan Akhirat. Dengan ilmu juga seseorang bisa meraih Surga Allah ta’ala. Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda dalam hadis yang panjang:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ، يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا، سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ، وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْـمَلاَئِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ، وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ، لَـمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ

“Barangsiapa yang melapangkan suatu kesusahan dunia dari seorang mukmin, maka Allah melapangkan darinya satu kesusahan pada hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan (urusan) atas orang yang kesulitan (hutang), maka Allah memudahkan baginya di dunia dan Akhirat. Barangsiapa menutupi (aib) seorang muslim, maka Allah menutupi (aib)-nya di dunia dan Akhirat. Allah senantiasa menolong hamba selama hamba tersebut senantiasa menolong saudaranya. Barangsiapa yang meniti suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan untuknya jalan menuju Surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Al-Qur’an dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan ketenteraman turun atas mereka, rahmat meliputi mereka, Malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyanjung mereka di tengah para Malaikat yang berada di sisi-Nya. Barangsiapa yang lambat amalnya, maka tidak dapat dikejar dengan nasabnya.” (HR. Muslim no. 2699)

Maka siapa pun dari manusia yang berharap bisa masuk ke dalam Surga-Nya Allah ta’ala maka dia wajib menuntut ilmu. Menunut ilmu agama bagi setiap muslim dan muslimah adalah sebuah kewajiban (fardhu ‘ain). Dalam sebuah hadits Nabi shalallahu alaihi wasallam pernah berkata:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah no. 224)

Imam Asy Syafi’i rahima hullah berkata:

   مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ

“Barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) dunia, maka hendaknya dengan ilmu. Barangsiapa juga yang menginginkan (kebahagiaan) akhirat, maka hendaknya dengan ilmu.” (Manaqib Asy Syafi’i, 2/139)

Kalau dalam urusan kebahagiaan dunia maka seseorang wajib menuntut ilmu, maka bagaimana dengan urusan kebahagiaan pada hari Akhirat maka juga membutuhkan ilmu. Jika kaidah umum di dunia ialah tidak ada makan siang gratis, maka begitu pula dalam urusan Akhirat kita juga harus berusaha untuk menggapainya yaitu dengan menuntut ilmu. Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam pernah bersabda:

أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ غَالِيَةٌ أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ الْجَنَّةُ

“Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu mahal. Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu adalah Surga.” (HR. At Tirmidzi no. 2450)

Lihatlah dunia yang sedang kita tinggali sekarang ini, menjadi rusak, berantakan, timbul banyak kemaksiatan, di antara sebabnya ialah karena kebodohan yang hinggap di kehidupan sebagian manusia. Maka dari itu Imam Ibnul Qoyyim rahima hullah pernah berkata:

وَلَا رَيْبَ أَنَّ الْجَهْلَ أَصْلُ كُلِّ فَسَادٍ، وَكُلُّ ضَرَرٍ يَلْحَقُ الْعَبْدَ فِي دُنْيَاهُ وَأُخْرَاهُ فَهُوَ نَتِيجَةُ الْجَهْلِ

“Tidak diragukan lagi bahwa kebodohan (dalam perkara agama) adalah pangkal segala kerusakan. Setiap bahaya yang menimpa seorang hamba di dunia dan akhiratnya, maka itu hasil dari kebodohan.” (Miftah Daaris Sa’adah, 1/242)

Lalu bagaimana seseorang bisa masuk Surga dengan ilmu? Imam Ibnu Rojab rahima hullah berkata:

1. Dengan berjalannya dia mencari ilmu itu sendiri, maka Allah ta’ala akan memudahkannya masuk ke dalam Surga

2. Dengan menuntut ilmu maka seseorang akan mendapatkan hidayah dari Allah ta’ala. Hidayah inilah yang akan mengantarkannya ke dalam Surga Allah ta’ala

3. Dengan menuntut sebuah ilmu, akan mengantarkan pelakunya untuk mendapatkan ilmu yang lain dan dengan ilmu lain tersebut dia terantarkan untuk mendapatkan Surga. Sebagaimana yang Allah ta’ala terangkan dalam beberapa ayat:

وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى

“Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk.” (QS. Maryam: 76)

4. Bisa juga maknanya dia akan dimudahkan jalannya saat melewati shirath kelak. (Jami’ Al ‘Ulum wa Al Hikam 2/297-298 secara ringkas)

Maka jangan sampai diri kita menjadi orang yang Allah ta’ala firmankan dalam sebuah ayat:

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (tampak) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar-Rum: 7)

Ibnu Katsir rahima hullah berkata:

أكثر الناس ليس لهم علم إلا بالدنيا وأكسابها وشئونها وما فيها ، فهم حذاق أذكياء في تحصيلها ووجوه مكاسبها ، وهم غافلون عما ينفعهم في الدار الآخرة ، كأن أحدهم مغفل لا ذهن له ولا فكرة .

“Kebanyakan manusia tidak memiliki ilmu pengetahuan kecuali dalam yang berkaitan dengan dunia, keuntungan-keuntungannya, urusan-urusan dan semua hal yang berhubungan dengannya. Mereka sangat tekun dan pandai dalam usaha meraih (kebahagiaan) dan cara-cara mengusahakan kebahagiaan duniawi. Namun dalam meraih (kebahagiaan) di negeri Akhirat mereka lalai. Seakan-akan mereka seperti orang bodoh yang tidak punya akal dan pikiran (sama sekali).” (Kitab Tafsir Ibnu Katsir, 3/560).

3. Shalat lima waktu

Shalat lima waktu juga termasuk amalan-amalan yang Allah ta’ala syari’atkan kepada para hamba-Nya yang beriman. Terdapat banyak nash yang menyebutkan akan wajibnya mengerjakan shalat lima waktu sehari semalam. Misalnya dalam sebuah ayat Allah ta’ala berfirman:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًا نَّحْنُ نَرْزُقُكَ وَٱلْعَٰقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thoha ayat: 132)

Dalam ayat yang lain Allah ta’ala juga berfirman:

ٱتْلُ مَآ أُوحِىَ إِلَيْكَ مِنَ ٱلْكِتَٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ ۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ ٱللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُون

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ankabut: 45)

Ini adalah sebagian dalil dari banyaknya dalil dalam Al Qur’an yang memerintahkan kepada para hamba-Nya agar melaksanakan shalat 5 waktu. Shalat yang dikerjakan oleh seorang hamba sebetulnya ialah kebutuhan hamba dalam kehidupannya. Karena pada hakikatnya ibadah shalat dan ibadah-ibadah lainnya manfaatnya akan kembali kepada diri kita masing-masing. Allah ta’ala misalnya berfirman dalam sebuah ayat:

وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ

“Dan barang siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (QS. An Naml: 40)

Judul Buku: Kiat-kiat Seseorang Masuk Surga

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)