(https://www.islamweb.net/ar/fatwa/49196)
Teks Arab
شروط صحة الوقف على الأولاد
السؤال
ما قول الشرع في الوقف الذرية حيث أن والدي رحمه الله قد أوقف جميع أملاكه قبل وفاته وقف ذرية لغرض أن يبقى بحوزة أولاده من بعده ولا يستطيعون بيعه لشخص آخر ولم يوثق هذا لدى الجهات الرسمية بل لدى شيخ المحل في القرية ونحن الآن بحاجة لكي نبيع نصيبنا من الميراث فهل يجوز لنا ذلك أم أنه غير جائز أفيدونا بالصواب جزاكم الله عنا خيرا
الإجابــة
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
فوقف المرء المال على أولاده يصح إن وقع بصيغة ناجزة، بأن يخلي بينهم وبين الشيء الموقوف في حياته، أو يخلي بينه وبين ناظره، وأما لو بقي تحت يده هو حتى مات فإن الوقف يبطل لعدم الحوز، قال الدرديري: وأما ما له غلة كربع وحائط وحانوت يحبسه في صحته، وكان يكريه ويفرق غلته على مستحقيه كل عام -مثلا- ولم يخرجه من يده قبل المانع كالموت حتى حصل المانع، بطل وقفه لعدم الحوز.أهـ. ومثل ذلك في البطلان ما إذا أوقفه عليهم بصيغة الوصية ، بأن قال: هو وقف على أولادي بعد موتي فإنه لا يصح حينئذ لكونه صار وصية لوارث، وراجع فيه الفتوى رقم: 17081.
ثم إن أهل العلم اختلفوا في تحديد ما يصح وقفه من المال وما لا يصح وقفه، والذي عليه جمهورهم أنه لا يصح أن يوقف إلا ما يمكن الانتفاع بغلته مع بقاء عينه، وراجع في هذا الفتوى رقم: 53841.
وبناء على جميع ما تقدم.. فإن وقف أبيكم هذا صحيح فيما تعلق بالدور والحيوانات والعقار بكافة أنواعه، والآلات والأفرشة، وغير صحيح عند الجمهور فيما كان مثل الأطعمة والأشربة والمبالغ النقدية ونحو ذلك مما لا يصح استغلاله وبقاء عينه، وبناء على قول الجمهور فلا يصح إذاً لأي منكم أن يبيع شيئا مما بينا صحة وقفه، بخلاف غيره فلكم الانتفاع به على أي وجه أردتموه.
والله أعلم.
Terjemahan teks Arab
Pertanyaan: Bagaimana menurut syariat mengenai wakaf untuk anak cucu. Ayahku rahimahullah telah mewakafkan seluruh hartanya sebelum wafatnya, yaitu wakaf untuk anak cucu. Tujuannya agar hartanya tetap untuk anak-anaknya setelah wafatnya. Mereka tidak bisa menjualnya kepada orang lain. Namun, hal ini tidak disahkan pada lembaga resmi, tetapi sekedar pada seorang Syaikh di kampung. Sementara kami sekarang memiliki kebutuhan untuk menjual apa yang merupakan bagian warisan kami. Apakah diperbolehkan ataukah tidak? Mohon pencerahannya. Jazakumullahu khairan.
Jawab:
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Wakafnya seseorang berupa harta untuk anak keturunannya adalah sah, jika dilakukan dengan lafal yang sempurna. Di mana ia menyerahkan harta wakaf tersebut kepada mereka atau Nazhir (pengawas) nya semasa masih hidup. Adapun jika harta masih di bawah kekuasaannya hingga mati maka wakafnya batal karena tidak adanya penguasaan. Ad-Dardiry berkata: Barang-barang yang mendatangkan keuntungan seperti kebun, rumah dan toko yang seseorang menahannya semasa masih sehat di mana dia menyewakannya lalu membagi-bagi keuntungannya kepada siapa saja yang berhak setiap tahun misalnya dan tidak melepas dari tangannya sebelum datangnya penghalang seperti kematian atau lainnya maka batal wakafnya karena tidak adanya penyerahan [selesai]. Termasuk batal juga jika seseorang mewakafkan dengan lafal wasiat, contoh: ini diwakafkan untuk anak keturunanku setelah kematianku, maka ini tidak sah kerena ia berubah menjadi wasiat bagi ahli waris. Silahkan lihat Fatwa no. 18071.
Ahli ilmu berbeda pendapat mengenai ketentuan harta yang sah dan tidak sah untuk diwakafakan. Menurut jumhur tidaklah sah kecuali apa yang bisa dimanfaatkan keuntungannya sementara barangnya tetap utuh. Lihat Fatwa no. 14835
Berdasarkan keterangan di atas, wakaf ayahmu shohih yang terkait dengan rumah, binatang, tempat tinggal dengan variannya, peralatan-peralatan, dan perabotan. Tetapi tidak shohih menurut Jumhur ulama yang berupa makanan, minuman, uang tunai, dan lain-lain yang tidak mendatangkan keuntungan dengan tetap utuhnya barang. Berdasarkan pendapat jumhur ulama, tidak diperbolehkan bagi kalian untuk menjual sesuatu yang telah sah diwakafkan. Berbeda dengan selainnya, maka kalian boleh memanfaatkannya dengan cara apa pun yang kalian inginkan. Allahu A’lam.
Judul Buku: Terkadang Ditanyakan 27
Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

