Solusi Investasi Akhirat Anda

Risalah Qurban

Allah ta’ala telah memberikan kepada kita begitu banyak karunia-Nya. Karunia-karunia yang apabila manusia ingin menghitungnya maka dia tidak akan pernah bisa. Allah ta’ala berfirman:

وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ اللهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nahl ayat: 18)

Diantara nikmat besar yang Allah ta’ala karuniakan kepada kita semua ialah nikmat harta. Memiliki harta ialah salah satu karunia diantara banyak karunia Allah ta’ala. Banyak sekali manusia bermimpi agar mereka memiliki banyak harta. Banyak manusia bekerja keras demi memiliki harta yang cukup atau melimpah. Bahkan sebagian manusia ada yang na’udzubillah tidak peduli lagi darimanakah berasal hartanya. Sungguh benar sabda Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam:

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ, أَمِنْ حَلاَلٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ ؟

“Akan datang suatu masa, orang-orang sudah tidak peduli lagi dengan apa dia mendapatkan harta. Apakah dari jalan yang halal ataukah dari jalan yang haram?“ (HR. Al Bukhari no: 1941)

Padahal kalau kita melihat hadist Nabi shalallahu alaihi wasallam yang lainnya, disebutkan bahwa yang dikatakan sebagai harta kita ada 3 cirinya:

ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﺑْﻦُ ﺁﺩَﻡَ ﻣَﺎﻟِﻰ ﻣَﺎﻟِﻰ – ﻗَﺎﻝَ – ﻭَﻫَﻞْ ﻟَﻚَ ﻳَﺎ ﺍﺑْﻦَ ﺁﺩَﻡَ ﻣِﻦْ ﻣَﺎﻟِﻚَ ﺇِﻻَّ ﻣَﺎ ﺃَﻛَﻠْﺖَ ﻓَﺄَﻓْﻨَﻴْﺖَ ﺃَﻭْ ﻟَﺒِﺴْﺖَ ﻓَﺄَﺑْﻠَﻴْﺖَ ﺃَﻭْ ﺗَﺼَﺪَّﻗْﺖَ ﻓَﺄَﻣْﻀَﻴْﺖَ

“Manusia berkata, “Hartaku-hartaku.” Beliau bersabda, “Wahai manusia, apakah benar engkau memiliki harta? Bukankah yang engkau makan akan lenyap begitu saja? Bukankah pakaian yang engkau kenakan juga akan usang? Bukankah yang engkau sedekahkan maka akan berlalu?” (HR. Muslim no: 2958)

Setelah Allah ta’ala karuniakan kepada kita nikmat harta, kita dituntut setelahnya untuk menysukuri nikmat tersebut. Bersyukur atas nikmat Allah ta’ala adalah sebuah perintah dari-Nya. Allah ta’ala berfirman:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.” (QS. Al Baqarah ayat: 152)

Bahkan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam pernah berkata kepada Mu’adz bin Jabal radiallahu anhu dengan mengajarkan sebuah do’a:

إِنِّيْ لَأُحِبُّكَ ، لاَ تَدَعَنَّ فِيْ دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ تَقُوْلُ:  اَللّٰهُمَّ  أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Sungguh aku mencintaimu, janganlah engkau tinggalkan di akhir (setelah selesai) setiap shalat untuk mengucapkan ; ‘Ya Allâh, tolonglah aku untuk berdzikir (selalu ingat) kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, serta memperbaiki ibadah kepada-Mu’.” (HR. Abu Dawud no: 1522)

Bagaimana cara kita mensyukuri nikmat harta, diantaranya ialah dengan cara ber-qurban. Dalam sebuah ayat Allah ta’ala berfirman:

إِنَّآ أَعْطَيْنَٰكَ ٱلْكَوْثَرَ (1) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنْحَرْ (2) إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ ٱلْأَبْتَرُ (3)

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak (1) Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan ber-qurbanlah (2) Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus (3).” (QS. Al Kautsar ayat: 1-3)

A. Pengertian Qurban

Ber-qurban dalam Bahasa Arab disebut dengan Al-Udhhiyyah (الأضْحِيَّة). Al Udhhiyyah secara bahasa berarti sesuatu yang disembelih pada saat ‘idul adha, dan bentuk jama’ dari kata Al Udhhiyyah adalah Al Adhohiy. (Anis Al Fuqoha’ hal : 103)

Ber-qurban secara istilah maknanya ialah:

ما يُذبَحُ من بهيمةِ الأنعامِ في يومِ الأضحى إلى آخِرِ أيَّامِ التَّشريقِ تقرُّبًا إلى اللهِ تعالى

“Apa-apa yang disembelih dari binatang ternak pada hari ‘ied adha hingga hari tasyrik dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah ta’ala.” (Fathul Qodir 9/505)

B. Pensyari’atan Qurban

Ibadah Qurban adalah sebuah ibadah yang disyari’atkan oleh Allah ta’ala berdasarkan dalil-dalil dari al Qur’an, sunnah, dan ijma’ para ulama’. Diantara dalil-dalil yang menjadi landasan perintah ber-qurban ialah

Allah ta’ala berfirman:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan ber-qurbanlah.” (QS. Al Kautsar ayat: 2)

Allah ta’ala berfirman:

قُلْ إِنَّ صَلاَتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى للَّهِ رَبِّ الْعَـلَمِينَ * لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَاْ أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

“Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS. Al An’am ayat: 162-163)

Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam bersabda:

ضَحَّى النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا

“Nabi shalallahu alaihi wasallam ber-qurban dengan dua ekor domba gemuk dan bertanduk. Keduanya disembelih dengan tangannya, dia membaca basmalah dan bertakbir. Dia letakkan kakinya di atas kedua leher hewan tersebut.” (HR. Al Bukhari no: 5558 dan Muslim no: 1966)

Dari ‘Abdullah bin‘Umar radiallahu anhu dia berkata:

أَقَامَ النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِينَةِ عَشْرَ سِنِينَ يُضَحِّي 

“Nabi shalallahu alaihi wasallam menetap di Madinah selama sepuluh tahun beliau selalu ber-qurban.” (HR. Ahmad no: 4935 dan At Tirmidzi no: 1507)

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radiallahu anhu dia berkata:

 قَسَمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَصْحَابِهِ ضَحَايَا فَصَارَتْ لِعُقْبَةَ جَذَعَةٌ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صَارَتْ لِي جَذَعَةٌ قَالَ ضَحِّ بِهَا

“Sesungguhnya Nabi shalallahu alaihi wasallam membagi hewan Qurban kepada para shahabatnya, maka Uqbah mendapatkan jaza’ah, lalu dia berkata, “Wahai Rasulullah, saya mendapatkan jaza’ah (kambing usia sekitar 8 bulan).” Maka beliau bersabda, “Ber-qurbanlah dengannya.” (HR. Al Bukhari no: 5547)

Begitu pula dalil dari Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam bersabda:

من ذَبَحَ بَعْدَ الصَّلَاةِ تَمَّ نُسُكُهُ وَأَصَابَ سُنَّةَ الْمُسْلِمِينَ

“Barangsiapa yang menyembelih (Qurban) setelah shalat  (‘Idul Adha) maka ibadahnya sempurna dan sesuai dengan ajaran kaum muslimin.” (HR. Al-Bukhari no: 5545)

Para ulama’ rahimahumullah pun mereka bersepakat bahwa ber-qurban ialah salah satu ibadah yang disyari’atkan di dalam agama Islam ini. Diantaranya ialah ucapan Ibnu Qudamah rahimahullah dia berkata:

أجمع المسلمون على مشروعيَّة الأُضْحِيَّة

“Kaum muslimin mereka bersepakat tentang disyari’atkannya ber-qurban.” (Al Mughni 9/435)

Begitu pula disebutkan oleh Ibnu Daqiq Al ‘Id rahimahullah:

لا خلاف أنَّ الأُضْحِيَّة من شعائِرِ الدِّينِ

“Tidak ada perselisihan pendapat bahwasanya ber-qurban diantara syi’ar-syi’ar agama Islam.” (Ihkam Al Ahkam hal: 482) 

Sama halnya dengan ucapan Imam Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah, beliau juga berkata:

ولا خلاف في كونها من شرائع الدين

“Tidak ada perselisihan bahwasanya hal tersebut (al udhhiyyah) termasuk dalam syi’ar-syi’ar agama.” (Fathul Bari 3/10)

C. Hikmah Disyari’atkan Ber-qurban

Setiap syari’at yang Allah ta’ala tetapkan pasti memiliki hikmah yang sangat agung di dalamnya. Terkadang hikmah tersebut bisa diketahui oleh manusia, seringnya hikmah tersebut tidak dapat diketahui oleh manusia. Karena Allah ta’ala memiliki nama Al Hakim (Yang Maha Bijaksana). Begitu pula syari’at Qurban, di dalamnya juga ada hikmah-hikmah yang agung. Diantara hikmah tersebut ialah:

1. Sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman:

وَاٰتٰىكُمْ مِّنْ كُلِّ مَا سَاَلْتُمُوْهُۗ وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَاۗ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌ 

2. Menghidupkan sunnah Nabi Ibrahim alaihissalam. Dimana Ketika itu Allah ta’ala memerintahkannya untuk menyembelih anaknya yang bernama Isma’il alaihissalam. Sebagaimana yang Allah ta’ala firmankan dalam sebuah ayat:

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ ٱتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَٰهِيمَ حَنِيفًا ۖ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS. An Nahl ayat: 123)

3. Sebagai pembelajaran seorang muslim tentang masalah kesabaran. Lihat bagaimana kesabaran mereka berdua yaitu Ibrahim dan Isma’il alaihissalam. Sang ayah (Ibrahim alaihissalam) menerima perintah untuk menyembelih dan dia bersabar atasnya. Sedangkan sang anak (Isma’il alaihissalam) pun juga bersabar saat menerima takdir tersebut. Maka sungguh benar sabda Nabi Muhammad shalallahu alahi wasallam:

أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى النَّاسُ عَلَى قَدْرِ دِينِهِمْ، فَمَنْ ثَخُنَ دِينُهُ، اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَمَنْ ضَعُفَ دِينُهُ ضَعُفَ بَلَاؤُهُ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لِيُصِيبَهُ الْبَلَاءُ حَتَّى يَمْشِيَ فِي النَّاسِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

“Manusia dengan cobaan terberat adalah para nabi, lalu yang semisalnya, dan yang semisalnya, masing-masing diuji sesuai kadar imannya. Barang siapa kuat imannya maka berat ujiannya, dan barang siapa lemah imannya maka ringan ujiannya. Semua orang pasti akan diuji sehingga gugur dosa-dosanya.” (HR. At Tirmidzi no: 2398)

4. Menumbuhkan rasa cinta diantara sesama kaum muslimin dengan memberikan kepada saudara-saudara kita daging-daging Qurban dari hewan Qurban terbaik yang mampu untuk kita Qurbankan. Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam bersabda:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya.” (HR. Al Bukhari no: 13)

D. Keutamaan Ber-qurban

Tidak diragukan lagi di dalam ber-qurban memiliki banyak sekali keutamaan yang agung di dalam agama Islam. Diantara keutamaan orang-orang yang mau ber-qurban maka pada hakikatnya dia sedang menghidupkan syi’ar-syi’ar Islam. Allah ta’ala berfirman:

ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى ٱلْقُلُوبِ

Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al Hajj ayat: 32)

Selain menghidupan syi’ar-syi’ar Islam, melalui ber-qurban seseorang telah mencocoki sunnah Nabi Muhammad shalallahu alahi wasallam dan kaum muslimin. Di dalam sebuah hadis Nabi Muhammad shalallahu alahi wasallam pernah bersabda:

مَن ذبَحَ قبل الصَّلاةِ فإنَّما يذبحُ لنَفْسِه، ومَن ذَبَحَ بعد الصَّلاةِ فقد تَمَّ نسُكُه وأصاب سُنَّةَ المُسْلمينَ

“Barangsiapa yang menyembelih Qurban sebelum shalat (Idul Adha), maka ia berarti menyembelih untuk dirinya sendiri. Barangsiapa yang menyembelih setelah shalat (Idul Adha), maka ia telah menyempurnakan Qurbannya dan ia telah melakukan sunnah kaum muslimin.” (HR. Bukhari no. 5556)

Begitu pula dengan ber-qurban maka seseorang sedang melakukan ibadah yang agung dari antara ibadah agung yang ada di dalam agama Islam. Bahkan Allah ta’ala di dalam surat Al Kautsar menggabungkan antara ibadah sholat dengan ibadah ber-qurban.

Judul Buku: Risalah Qurban

Penulis : Ananda Ridho Gusti Hafidzahullah