A. Muqoddimah
Jum’at adalah hari yang Allah ta’ala anugerahkan untuk ummat Islam sebagai hari yang spesial dan paling utama dari antara hari-hari dalam satu pekan. Sebagaimana terkait dengan bulan, Allah ta’ala memilih Ramadhan. Sebagaimana terkait dengan Nabi Allah ta’ala memilih Muhammad shalallahu alaihi wasallam. Sebagaimana terkait dengan tempat Allah ta’ala memilih Makkah dan Madinah. Bahkan Allah ta’ala menamai salah satu surat dalam Al-Qur’an dengan “Jum’at”. Ini menguatkan betapa ia hari yang diutamakan. Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda,
خيرُ يومٍ طلعَتْ عليهِ الشمسُ يومُ الجمعَةِ فيهِ خُلِقَ آدَمُ ، وفِيهِ أُدْخِلَ الجنَّةَ ، وفيهِ أُخْرِجَ منهَا ، ولا تَقُومُ الساعةُ إلا في يومِ الجمعَةِ (رواه مسلم عن أبى هريرة)
“Sebaik-baik hari yang padanya matahari terbit adalah hari Jum’at. Di dalamnya Adam diciptakan, dimasukkan ke dalam Surga dan dikeluarkan darinya. Dan, tidaklah Kiamat terjadi kecuali di hari Jum’at” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)
Untuk itu kita harus memandang agung sesuatu yang Allah memilih dan mengkhususkannya dengan cara mempelajari dan menunaikan adab-adabnya.
B. ADAB-ADAB
1. Memperbanyak membaca sholawat dan salam untuk Nabi shalallahu alaihi wasallam
Disebutkan di dalam Hadits,
عن أَوْس بن أوس رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إن مِن أفضل أيامِكم يومَ الجمعة؛ فيه خُلق آدم وفيه قُبِض، وفيه النفخة وفيه الصعقة، فأكثروا عليَّ من الصلاة فيه، فإن صلاتكم معروضةٌ عليَّ ، قال: قالوا: يا رسول الله، وكيف تُعرض صلاتنا عليك وقد أرِمْتَ – يقولون: بَلِيتَ – فقال: إن الله عز وجل حرَّم على الأرض أجسادَ الأنبياء) (رواه أبو داود والنسائي)
“Dari Aus bin Aus radiallahu anhu, dia berkata: Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya di antara hari-hari kalian yang paling utama adalah Jum’at. Di hari itu Adam diciptakan dan diwafatkan, sangkakala ditiup dan di hari itu (manusia) dibangkitkan. Untuk itu perbanyaklah shalawat kepadaku, sesungguhnya shalawat kalian ditampakkan kepadaku. Mereka bertanya: Ya Rasulullah, bagaimana shalawat kami ditampakkan kepadamu sementara engkau sudah hancur (menjadi tanah). Beliau menjawab: Sesungguhnya Allah azza wa jalla mengharamkan bumi atas jasad-jasad para Nabi” (HR. Abu Daud dan An-Nasa’i)
Pada Hadits di atas disebutkan
“فأكثروا عليَّ من الصلاة فيه”
yang artinya perbanyaklah shalawat kepadaku.
Sebenarnya kita bisa berdzikir dengan berbagai macam dzikir seperti tasbih, tahmid, takbir, istighfar, hauqolah, tahlil dan lain-lain. Tetapi khusus untuk hari Jum’at, perbanyaklah dzikir dengan shalawat.
Memperbanyak shalawat itu di siang dan malam Jum’at. Jadi bukan siangnya saja. Disebutkan di dalam hadits, beliau bersabda,
أَكثِروا الصَّلاةَ عليَّ يومَ الجمعةِ وليلةَ الجمعةِ فمن صلَّى عليَّ صلاةً صلَّى اللَّهُ عليْهِ عشرًا (رواه البيهقى عن أنس بن مالط و إسناده صالح)
“Perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari Jum’at dan malam Jum’at. Barangsiapa bershalawat kepadaku satu shalawat niscaya Allah ta’ala akan bershalawat kepadanya sepuluh kali” (HR. Baihaqi dari Anas bin Malik, sanadnya bagus)
Perbanyaklah dengan tidak ada batasan waktu; sambil jalan kaki, antri, berkendara, duduk, rebahan, hendak dan seusai HP-an, dan lain-lain.
Di antara lafazh shalawat yang warid dalam hadits berikut ini,
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كما صليت على إبراهيم، وعلى آل إبراهيم، إنك حميد مجيد، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم، إنك حميد مجيد (رواه البخاري ومسلم)
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ (رواه مسلم)
اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ، وَعَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ، وَعَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ (رواه الإمام أحمد)
اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَآلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ (رواه أحمد)
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا باركت على إبراهيم وآل إبراهيم (رواه البخاري)
Boleh bershalawat dengan redaksi yang tidak warid dari hadits dengan syarat tidak mengandung unsur ghuluw dan kesyirikan.
2. Membaca surat As-Sajdah dan Al-Insan
Ketika shalat Shubuh setelah membaca al-Fatihah membaca surat as-Sajdah dan al-Insan. Disebutkan di dalam Hadits,
عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم: كان يقرأ في الصبح يوم الجمعة بـ﴿ الم * تَنْزِيلُ ﴾ في الركعة الأولى، وفي الثانية: ﴿ هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا ﴾ (رواه البخارى مسلم)
“Dari Abu Hurairah radiallahu anhu bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam membaca surat Alif Tanzil (surat As-Sajdah) pada shalat Shubuh hari Jum’at pada rakaat pertama, dan surat Hal Ataa ‘alal insan (surat Al-Insan) pada rakaat kedua” (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Shalat Jum’at
Bagi lelaki yang baligh dan tidak dalam keadaan safar wajib menghadiri shalat Jum’at. Raihlah sebesar-besarnya pahala dan fadhilah-nya. Untuk itu perhatikanlah adab-adab yang khusus terkait shalat Jum’at. Yaitu:
a. Mandi besar
Yaitu mandi sebagaimana mandi junub. Disebutkan di dalam Hadits,
عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: الغُسل يوم الجمعة واجبٌ على كل مُحتَلِم (رواه البخارى ومسلم)
“Dari Abu Sa’id al-Khudri radiallahu anhu, dia berkata: Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: Mandi pada hari Jum’at wajib bagi setiap muslim” (HR. Bukhari dan Muslim)
عن عبدالله بن عمر رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ((إذا جاء أحدُكم الجمعة فليغتَسِلْ (رواه البخارى)
“Dari Abdullah bin Umar radiallahu anhu bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: Jika seseorang di antara kalian mendatangi (shalat) Jum’at maka hendaklah dia mandi” (HR. Bukhari)
Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum mandi Jum’at. Sebagian mengatakan wajib, sebagian lainnya mengatakan sunnah. Adapun jumhur ulama termasuk madzhab empat memandangnya sunnah.
Terlepas dari perbedaan pendapat, maka sebaiknya mandi. Jika seseorang mandi, maka tidak menyelisihi kedua pendapat tersebut. Jika tidak mandi, memang terhadap yang memandang sunnah tidak menyelisihi tetapi terhadap yang memandang wajib, menyelisihi.
Adapun waktu untuk mandi dimulai setelah masuknya waktu Shubuh hingga sebelum berangkat menuju masjid untuk shalat Jum’at.
b. Memakai wewangian
Pernahkah Anda shalat lalu mencium bau tidak sedap dari teman di samping Anda atau dari depan Anda? Anda pasti tidak nyaman bukan? Sebagaimana manusia tidak nyaman, demikian pula Malaikat. Disebutkan di dalam Hadits,
نَهَى رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ، عن أكْلِ البَصَلِ والْكُرَّاثِ، فَغَلَبَتْنا الحاجَةُ، فأكَلْنا مِنْها، فقالَ: مَن أكَلَ مِن هذِه الشَّجَرَةِ المُنْتِنَةِ، فلا يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنا، فإنَّ المَلائِكَةَ تَأَذَّى، ممَّا يَتَأَذَّى منه الإنْسُ. (رواه مسلم عن جابر بن عبد الله)
“Rasulullah shalallahu alaihi wasallam melarang makan bawang merah dan bawang putih. Kami sangat membutuhkannya maka kami tetap memakannya. Lalu beliau bersabda: Barangsiapa yang makan tanaman yang beraroma bau ini maka jangan sekali-kali mendekati masjid kami. Karena Malaikat merasa tidak nyaman dengan apa yang menjadikan manusia tidak nyaman”. (HR. Muslim dari Jabir bin Abdullah)
Untuk itu Anda harus memastikan telah hilang dari diri Anda aroma apapun yang tidak sedap. Terlebih di hari Jum’at yang merupakan majlis besar bertemunya kaum Muslimin. Disebutkan di dalam Hadits,
عن سلمان الفارسي رضي الله عنه قال: قال النبي صلى الله عليه وسلم: لا يغتَسِل رجلٌ يوم الجمعة، ويتطهَّر ما استطاع من طُهر، ويدَّهن من دهنه، أو يمَس من طِيب بيته، ثم يخرج، فلا يفرق بين اثنين، ثم يُصلي ما كُتب له، ثم ينصت إذا تكلم الإمام؛ إلا غُفر له ما بينه وبين الجمعة الأخرى (رواه البخارى)
“Dari Salman al-Farisi radiallahu anhu berkata: Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda: Tidaklah seseorang mandi pada hari Jumat, bersuci semampunya, memakai minyak rambut, atau memakai wangi-wangian rumahnya, kemudian keluar (menuju masjid) dan tidak memisahkan antara dua orang (yang duduk), lalu shalat sunnah (sebagaimana yang) ditetapkan baginya, kemudian diam ketika imam berkhutbah, melainkan akan diampuni dosanya antara Jumat itu dan Jumat berikutnya”. (HR. Bukhari)
Disebutkan di dalam Hadits “memakai minyak rambut, atau memakai wangi-wangian rumahnya“, ini menunjukkan betapa beraroma wangi sangat ditekankan. Penyebutan “wewangian rumah“ maksudnya adalah minyak yang dipakai oleh istrinya yang biasanya aromanya tidak menyengat. Artinya jika tidak memiliki parfum, maka parfum apapun yang dijumpai di rumahnya. Yang terpenting bisa beraroma wangi ketika berangkat ke masjid. Ini menunjukkan ditekannya hal ini.
Saudaraku! Anggarkanlah keuangan untuk membeli parfum demi ta’zhim terhadap pelaksanaan shalat Jum’at. Karena syariat sangat menekankannya.
Jika Anda bisa selalu wangi setiap kali shalat bukan saja ketika hendak shalat Jum’at melainkan seluruh shalat maka itu lebih utama lagi. Memang tidak ada Nash secara khusus yang memerintahkan berparfum setiap kali hendak shalat. Tetapi Nabi shalallahu alaihi wasallam sangat mencintai berparfum dalam banyak kesempatan. Disebutkan di dalam Hadits Anas bin Malik,
حُبِّبَ إليَّ من دُنْياكمُ النِّساءُ والطِّيبُ وجُعِلَت قُرَّةُ عَيني في الصَّلاةِ (رواه النسائى و أحمد)
“Dicintakan kepadaku dari dunia kalian yaitu wanita dan wewangian, dan dijadikan penyejuk mataku ketika shalat” (HR. An-Nasa’i dan Ahmad)
Allah ta’ala berfirman,
يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ (الأعراف: 31)
“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah setiap kali (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”. (QS. Al-A’raf: 31)
Disebutkan di dalam tafsir Ibnu Katsir tentang ayat ini,
ولهذه الآية ، وما ورد في معناها من السنة ، يستحب التجمل عند الصلاة ، ولا سيما يوم الجمعة ويوم العيد ، والطيب لأنه من الزينة ، والسواك لأنه من تمام ذلك
Berdasarkan ayat ini dan Hadits-Hadits yang semakna, disunnahkan setiap kali hendak shalat untuk memperbagus diri dan memakai wewangian. Terlebih pada hari Jumat dan hari raya. Wewangian itu bagian dari berhias termasuk juga siwak, ia sebagai penyempurnanya.
Judul Buku: Nine On Jum’at
Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)
