Solusi Investasi Akhirat Anda

Nama Allah Al-Awwal & Al-Akhiru

5.  Nama Allah Al-Awwal (الأول)

A. Penyebutan Al-Awwal (الأول) di dalam Nash

Al-Awwal (الأول) di dalam Al-Qur’an disebutkan  hanya sekali, yaitu:

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [الحديد: 3]

“Dialah Dzat Yang Awwal, Yang Akhir, Yang Zhahir, dan Yang Bathin. Dan Dia Maha Mengetahui terhadap segala sesuatu. (Qs. Al-Hadid: 3)

Adapun di dalam Hadits,

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَدْعُو عِنْدَ النَّوْمِ « اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَوَاتِ السَّبْعِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَىْءٍ مُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَىْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ أَنْتَ الأَوَّلُ لَيْسَ قَبْلَكَ شَىْءٌ وَأَنْتَ الآخِرُ لَيْسَ بَعْدَكَ شَىْءٌ وَأَنْتَ الظَّاهِرُ لَيْسَ فَوْقَكَ شَىْءٌ وَأَنْتَ الْبَاطِنُ لَيْسَ دُونَكَ شَىْءٌ اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وَاغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ » (مسند أحمد)

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa ketika mau tidur: “…..Anta Al-Awwalu….” (Musnad Imam Ahmad)

B. Makna Al-Awwal (الأول) ditinjau dari sisi bahasa

Yaitu sesuatu yang diikuti sesuatu lainnya. Ia terbagi dalam beberapa penggunaan:

  1. Terkait dengan waktu, contoh: Abu Bakar dulu baru kemudian Umar.
  2. Terkait dengan kedudukan, contoh: Presiden dulu baru kemudian menteri.
  3. Terkait dengan letak, contoh: Kalau dari arah Surabaya Tegal dulu baru kemudian Brebes.
  4. Terkait dengan progress, contoh: Pondasi dulu baru kemudian dinding.

C. Makna Al-Awwal (الأول) sebagai nama Allah

Cukuplah bagi kita penjelasan sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

أَنْتَ الأَوَّلُ لَيْسَ قَبْلَكَ شَىْءٌ

“Engkaulah Al-Awwal (الأول), Dzat yang tidak ada sesuatu apapun sebelum-Mu.”

Oleh karena itu,

  • Ibnu Jarir mengatakan: Dia Dzat Yang Pertama sebelum segala sesuatunya tanpa batas.
  • Al-Khuthobi mengatakan: Al-Awwal (الأول), Yang mendahului segala sesuatu apapun. Yang Ada sebelum segala sesuatunya. Maka Dialah yang berhak untuk disebut : Al-Awwal (الأول), di mana keberadaan-Nya tidak ada sesuatupun sebelumnya dan  tidak pula sesuatupun  yang bersamanya.
  • Al-Baihaqi mengatakan: Dialah : Al-Awwal (الأول), Dzat yang pertama tanpa ada permulaannya.

D. Bagaimanakah penamaan Allah dengan Al-Qodim (القديم) yang berarti  sesuatu yang terdahulu?

Al-Qodim (القديم) tidaklah termasuk nama Allah. Jadi, wajib menamai-Nya dengan Al-Awwal (الأول) karena sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah dan dari sisi bahasa.

Secara bahasa makna Al-Awwal (الأول) lebih kuat daripada Al-Qodim (القديم).

Al-Qodim (القديم) berlaku umum untuk siapa saja yang lebih dahulu atas yang lainnya. Sementara Al-Awwal (الأول) maknanya mutlak terdahulu, tidak ada sesuatupun yang mendahuluinya. Maka, Dia lah Al-Awwal (الأول).

E. Tadabbur

  1. Memahami nama Allah Al-Awwal (الأول) mengharuskan kita tidak mencari-cari pembahasan tentang bagaimana Dia bermula. Cukuplah bagi kita memandang kepada karunia dan rahmat-Nya bahwa Dia Dzat yang memulai segala kebaikan tanpa wasilah apapun dari makhluk.
  2. Kalau ada orang atheis mengatakan: “Bukankah muslim meyakini segala yang ada di alam semesta ini pasti ada yang mengadakan, sesuatu yang berwujud pasti ada yang mewujudkan? Tolong jawab, Bukankah Allah itu ada, lalu siapakah yang mengadakan, siapakah yang mewujudkan?”

Jawablah dengan lantang:

“Dari manakah angka 5 itu? Pasti Anda menjawab dari 4+1.”

“Dari manakah angka 4 itu?  Pasti Anda menjawab dari 3+1.”

“Dari manakah angka 3 itu? Pasti Anda menjawab dari 2+1.”

“Dari manakah angka 2 itu? Pasti Anda menjawab dari 1+1.”

“Dari manakah angka 1 itu? Ayo jawab!”

Ketahuilah Anda pasti akan menjawab bahwa hal itu tidak perlu dipertanyakan. Yang pasti angka 1 haruslah ada tanpa ditanyakan dari mana ia. Karena tanpa angka 1, maka tidak pernah ada bilangkan apapun 2, 3, 4, 5, 6, 7, dan seterusnya!”

Nah, ini baru satu makhluk yang namanya BILANGAN. Anda pasti sepakat bahwa angka 1 haruslah ada tanpa dipertanyakan dari mana ia berasal. Bagaimana beradanya. Bagaimana berwujudnya. Ini baru makhluk, lalu bagaimanakah dengan Allah AL-KHOLIQ?

6.   Nama Allah Al-Akhiru (الآخر)

A. Penyebutan Al-Akhiru (الآخر) di dalam Nash

Al-Akhiru (الآخر) di dalam Al-Qur’an disebutkan  hanya sekali, yaitu:

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [الحديد: 3]

“Dialah Dzat Yang Awwal, Yang Akhir, Yang Zhahir, dan Yang Bathin. Dan Dia Maha Mengetahui terhadap segala sesuatu. (Qs. Al-Hadid: 3)

B. Makna secara bahasa

Secara bahasa Al-Akhir (الآخر) adalah kebalikannya Al-Awwal (الأول). Yaitu sesuatu yang tidak diikuti  sesuatu lainnya. Atau tidak ada sesuatu pada berikutnya baik secara mutlak atau terkait di dalam suatu perkara tertentu. Misalnya: Akhir bulan, akhir tahun, akhir halaman buku.

C. Makna Al-Akhir (الآخر) sebagai nama Allah

  • Al-Khitobi mengatakan: Al-Akhir(الآخر)  adalah Dzat Yang Kekal setelah hancurnya seluruh makhluk.  Bukanlah maknanya sesuatu yang memiliki kesudahan. Ini sebagaimana Al-Awwal (الأول) Dzat yang Pertama yang tidak ada permulaannya.
  • Al-Baihaqi mengatakan: Al-Akhir (الآخر) adalah Dzat Yang tidak berkesudahan.
  • Ath-Thobari mengatakan: Dzat Yang Akhir tanpa batasan waktu setelah hancurnya segala sesuatu.
  • Tentu pengertian yang paling sempurna adalah pengertian sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَدْعُو عِنْدَ النَّوْمِ « اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَوَاتِ السَّبْعِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَىْءٍ مُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَىْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ أَنْتَ الأَوَّلُ لَيْسَ قَبْلَكَ شَىْءٌ وَأَنْتَ الآخِرُ لَيْسَ بَعْدَكَ شَىْءٌ وَأَنْتَ الظَّاهِرُ لَيْسَ فَوْقَكَ شَىْءٌ وَأَنْتَ الْبَاطِنُ لَيْسَ دُونَكَ شَىْءٌ اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وَاغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ » (مسند أحمد)

“……وَأَنْتَ الآخِرُ لَيْسَ بَعْدَكَ شَىْء (Engkaulah Dzat Yang Akhir, yang tidak ada sesuatupun setelah-Mu)…… (Musnad Imam Ahmad)

  • Ibnul Qoyyim mengatakan: Allah mendahului segala sesuatu dengan Al-Awwal (الأول) nya, dan Dia Dzat Yang kekal setelah hancurnya segala sesuatu dengan Al-Akhir (الآخر) nya.

D. Tadabbur

  1. Sebagaimana kita telah memahami dari nama Al-Awwal (الأول) bahwa Allah adalah Dzat yang ada tanpa permulaan, maka dengan nama Al-Akhir (الآخر) kita mengetahui bahwa Dia adalah Dzat yang ada tanpa berkesudahan. Hal ini juga mengharuskan kita untuk tidak mencari-cari pembahasan tentang bagaimana tidak berkesudahan-Nya. Dialah AL-KHOLIQ yang tidak mungkin binasa sebagaimana makhluknya.
  2. Memahami nama Allah Al-Akhir (الآخر) menjadikan kita semakin kuat untuk hanya bergantung kepada Dzat yang tidak berkesudahan. Sementara selain Allah pasti berkesudahan alias mati atau binasa.

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafizhahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa THAYBAH Surabaya)