43. Kebaikan-kebaikan di dunia dan akhirat tidak lain merupakan pengaruh dari taqwa dan sabar. Sebagaimana ucapan Nabi Yusuf alaihissalam dalam Al-Qur’an,
قَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا إِنَّهُ مَنْ يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ (يوسف: 90)
“Sungguh Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami. Sesungguhnya barangsiapa yang bertaqwa dan bersabar, maka sungguh Allah tidak menyia-nyiakan balasan orang-orang yang berbuat baik” (QS. Yusuf: 90)
44. Jika seorang hamba mendapatkan kelapangan dan kenikmatan maka seyogyanya dia mengingat keadaan sebelumnya ketika ditimpa kesempitan dan cobaan sehingga dia akan lebih bisa merasakan besarnya nikmat dan bisa bersyukur secara lebih berkualitas. Demikianlah yang dilakukan Nabi Yusuf alaihissalam sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur’an,
وَقَدْ أَحْسَنَ بِي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ السِّجْنِ وَجَاءَ بِكُمْ مِنَ الْبَدْوِ مِنْ بَعْدِ أَنْ تَزَغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي (يوسف: 10)
“Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, Dia telah membebaskanku dari penjara dan ketika membawa kalian dari dusun padang pasir, setelah syetan merusak (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (QS. Yusuf: 100)
45. Di dalam kisah ini terdapat bentuk-bentuk kasih sayang dan kelembutan Allah ta’ala. Di antaranya kisah mimpi Yusuf yang mengandung makna kegembiraan baginya dan ayahnya, Nabi Ya’qub. Juga wahyu- Nya kepada Yusuf ketika berada di dalam sumur bahwa dirinya akan memberitahukan semua perbuatan suadara-saudaranya. Juga perpindahan dari satu keadaan ke keaadan lain terdapat kasih sayang Allah ta’ala yang zhahir dan tersembunyi. Untuk itu di akhir perjalanan ini Nabi Yusuf alaihissalam mengatakan bahwa Allah “Lathif” sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur’an,
إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِمَا يَشَاءُ [يوسف: 100]
“Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki” (QS. Yusuf: 100).
Allah Al-Lathiif menggiring Yusuf kepada suatu kemuliaan yang telah diisyaratkan-Nya dalam mimpi tanpa dia mengetahuinya. Yusuf baru menyadarinya betapa Allah itu Al-Lathif setelah kemuliaan yang diisyaratkan-Nya terwujud.
Untuk mendapatkan penjelasakan lebih luas mengenai Al-Lathiif sebagai nama Allah bisa dilihat buku saku yang saya tulis dengan judul “Memahami Al-Asma’ul Husna” jilid 12.
46. Sujud yang dilakukan oleh saudara-saudara Yusuf dan kedua orang tuanya terhadap dirinya adalah sujud sebagai bentuk penghormatan, bukan peribadahan. Meski demikian hal itu diharamkan pada syari’at Nabi kita, Muhammad shalallahu alaihi wasallam.
لَمَّا قَدِمَ مُعَاذٌ مِنَ الشَّامِ سَجَدَ لِلنَّبِيِّ ـ صلى الله عليه وسلم ـ قَالَ ” مَا هَذَا يَا مُعَاذُ ” . قَالَ أَتَيْتُ الشَّامَ فَوَافَقْتُهُمْ يَسْجُدُونَ لأَسَاقِفَتِهِمْ وَبَطَارِقَتِهِمْ فَوَدِدْتُ فِي نَفْسِي أَنْ نَفْعَلَ ذَلِكَ بِكَ . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ـ صلى الله عليه وسلم ـ ” فَلاَ تَفْعَلُوا فَإِنِّي لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِغَيْرِ اللَّهِ لأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا
“Ketika Mu’adz baru pulang dari negeri Syam, dia bersujud kepada Nabi shalallahu alaihi wasallam. Nabi bersabda: “Apa ini wahai Mu’adz?!”. Mu’adz menjawab: “Aku datang ke kota Syam, dan aku mendapati mereka bersujud kepada uskup-uskup mereka dan panglima-panglima perang mereka. Maka aku ingin untuk melakukannya terhadap engkau wahai Rasulullah”. Maka Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kamu lakukan demikian! Sesungguhnya andaikan aku memerintahkan seseorang sujud kepada selain Allah, maka aku akan perintahkan para istri agar sujud kepada suaminya…..” (HR. Ibnu Majah).
C. Penutup
Al-Qur’an tidak sedikit memuat kisah-kisah. Tujuannya, agar kita bisa mengambil ‘ibrah-nya. Sebagaimana firman-Nya,
فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
“Maka kisahkanlah kisah-kisah agar mereka berpikir” (QS. Al-A’rof: 176)
Janganlah kisah-kisah terbiarkan tanpa ada faedah-faedah yang bisa kita ambil. Akhirnya, hambar begitu saja tidak berdampak kepada peningkatan keimanan dan ketaqwaan. Semoga kita semua masuk golongan ulul Albab, yaitu orang-orang yang bisa mengambil ‘ibrah dan hikmah dari kisah, peristiwa dan fenomena apapun. Allah ta’ala berfiman,
إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا الْأَلْبَبِ (الرعد: ١٩)
Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran (QS. Ar-Ra’d : 19)
Judul Buku: Nabi Yusuf alaihissalam (Kisah dan ‘Ibrah)
Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

