5. Kartu Kredit
Penulis tidak tahu sepenuhnya cara kerja pada kartu kredit. Bi idznillah, penulis hanya akan memberikan kaidah umum, sehingga bisa diketahui apakah mekanisme yang ada syar’i atau tidak.
Bank atau suatu perusahaan memberikan kartu kredit kepada orang tertentu untuk menggunakannya sebagai alat pembayaran secara kredit atas perolehan barang atau jasa, atau untuk menarik uang tunai dalam batasan yang telah ditentukan oleh bank perusahaan yang bersangkutan. Dalam kasus yang demikian, maka bank atau perusahaan tersebut telah melakukan akad qardh (pinjam meminjam) kepada nasabah. Syariat menyatakan bahwa tidak dihalalkan mengambil keuntungan dari akad qardh. Jadi, seharusnya nasabah hanya mengembalikan uang sesuai dengan nilai yang telah ia gunakan. Apabila ada kelebihan maka terjadi riba. Akan semakin fatal, jika di dalam akad tersebut ada ketentuan bahwa terlambat pembayaran/pelunasan kredit ada dendanya. Jika ada yang bertanya: pihak bank/suatu perusahaan akan mengeluarkan biaya operasional atau admininistrasi untuk penerbitan kartu dan yang lainnya? Jika permasalahannya demikian maka bank/perusahaan tersebut hanya boleh mengenakan biaya kepada nasabah sebatas biaya administrasi. Sedikitpun tidak boleh menarik laba dari biaya administrasi. Karena ini adalah riba yang diharamkan.
Lalu bagaimana bisa diketahui ia tidak sekedar menarik bahwa administrasi, tetapi juga mengambil laba? Hal itu bisa diketahui dengan melihat penerapan persentasi dari jumlah uang yang ditarik. Misalnya: ada ketentuan setiap nominal tertentu akan dikenakan biaya administrasi 2%. Maka 2% ini adalah riba. Karena jika itu murni biaya administrasi tentunya tidak dikaitkan dengan jumlah dana yang ditarik. Walllahu a’lam.
Seandainya kita tidak mendapatkan praktek bisnis atau perekonomian yang syar’i, maka kita harus bersabar. Jangan seperti mereka yang tidak bersabar dan dengan gampang-gampangnya mengatakan ini kan darurat. Seakan-akan mereka tidak memiliki rasa takut kepada adzab Allah. Ingat susah di dunia jauh lebih ringan jika dibandingkan susah di akhirat.
F. Pertanyaan-Pertanyaan
1. Bolehkah membeli emas dengan cara kredit?
Jawab: membeli emas dengan cara kredit hukumnya haram. Karena emas dan uang termasuk dari enam (6) komoditi ribawi, yang jika terjadi pertukaran (jual beli) pada keduanya harus dilakukan secara cash atau kontan. Jika pembayarannya dilakukan secara tertunda atau kredit, maka terjadi riba nasi’ah.
2. Jika seseorang meminjami/menghutangi uang kepada seorang pedagang untuk modal dan pembayarannya dilakukan dengan cara diangsur. Selama belum lunas pedagang tersebut memberi persentase keuntangan kepada si piutang. Apakah hal ini diperbolehkan? Jawab: Hal ini tidak diperbolehkan karena akadnya adalah hutang-piutang. Tidak boleh ada unsur profit di dalam akad hutang-piutang. Ini termasuk riba nasi’ah. Tetapi jika akadnya menanam modal, maka hukumnya halal untuk mengambil keuntungan dengan prosentase yang telah disepakati dengan ketentuan untung dan rugi ditanggung bersama.
3. Bagaimana hukum bekerja di bank? Jawab: Transaksi-transaksi di bank-bank adalah transaksi ribawi, termasuk bank syariah, selama sistemnya belum syar’i maka transaksi-transaksinya juga masih ribawi. Oleh karena itu tidak diperbolehkan bekerja di bank, karena gaji yang diperolehnya tentunya haram. Disebutkan di dalam Hadits Jabir:
لَعَنَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكل الربا، وَمُؤْكِلَهُ، وَكَاتِبَهُ، وَشَاهِدَيْه وَقَالَ: «هُم سواء» (صحيح مسلم)
“Rasulullah melaknat pemakan riba, yang mewakilkannya, pencatatnya, dan dua orang saksinya. Beliau bersabda: Semuanya sama” (HR. Muslim)
4. Apa hukum bunga bank? Jawab: bunga bank hukumnya haram, karena transaksi yang dilakukan bank adalah transaksi ribawi yang jelas haramnya, maka hasil atau bunganya juga haram.
5. Bolehkah menerima hadiah dari bank? Jawab: Diperbolehkan menabung uang di bank dengan alasan keamanan, tetapi seandainya mendapatkan hadiah maka tidak boleh diambil sebagaimana bunga bank.
6. Bolehkah membeli rumah atau mobil atau sepeda motor atau barang apa pun dengan sistem kredit? Jawab: Jika total uang angsuran dan DP nya sama persis dengan harga barang yang disepakati dalam akad maka hukumnya boleh dan halal. Tetapi jika tidak sama, maka hukumnya haram. Contoh: Di dalam akad jual beli sebuah rumah dinyatakan dengan harga Rp200 juta. Uang DP 10%. Setelah dihitung, total DP + cicilan sebesar Rp250 juta. Ini kredit yang haram. Tetapi jika total DP + cicilan sebesar Rp200 juta, ini diper- bolehkan, karena sesuai dengan akad.
7. Pak Lakon menukarkan beras 50 kg berkualitas binsa kepada kawannya dengan beras 50 kg berkualitas super. Ketika Pak Lakon menyerahkan beras tersebut, kawannya ternyata hanya memiliki 40 kg, lalu dia mengatakan bahwa kekurangannya yang 10 kg akan dibayarkan keesokan harinya. Bolehkah ini?
Jawab: Tidak boleh. Karena ini adalah jual-beli atau tukar-menukar pada komoditi yang sejenis, maka disyaratkan harus sama di dalam takaran atau timbangannya dan harus kontan. Jadi, tidak boleh tertunda.
8. Saya menukarkan uang Rp100.000,- kepada teman saya dengan pecahan Rp1.000,-. Setelah dihitung ternyata pecahan Rp1.000,- cuma ada 90 lembar. Lalu teman saya mengatakan bahwa kekurangannya. Jawab: Tidak boleh, ini sama dengan pertanyaan no. 7 yang termasuk jual beli atau tukar-menukar pada komoditi yang sejenis, maka disyaratkan harus sama di dalam nilainya dan harus kontan. Jadi, tidak boleh tertunda. Jika diadakan akad baru di mana kawannya mengatakan bahwa ia berhutang Rp10.000,- kepada Anda, maka boleh.
9. Karena darurat, saya menggadaikan kalung saya untuk mendapatkan uang Rp2.000.000,-. Untuk menebusnya saya harus mencicil Rp220.000,- perbulan selama 10 kali. Bolehkah? Saya sudah tahu bahwa ini adalah riba karena jumlah pengembalian uang lebih besar daripada jumlah uang yang dipinjam. Tetapi saya benar-benar dalam kondisi terpaksa. Mohon jawabannya?
Jawab:
a. Jangan mudah-mudahnya mengatakan darurat agar bisa menghalalkan sesuatu yang jelas-jelas Allah ta’ala haramkan. Bertakwalah kepada Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman:
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا () وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَحَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya solusi. Dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya” (QS. Ath- Thalaq: 2-3)
Jadi, jika Anda tidak bisa mendapatkan pinjaman hutang dari kawan atau keluarga, yang semestinya Anda lakukan adalah menjual kalung tersebut untuk mendapatkan uang. Tidak perlu merasa sayang, karena ini kalung unik, atau sangat berkesan atau alasan lain. Inilah bentuk ketakwaaan.
b. Diharapkan bagi kawan atau keluarga yang memang memiliki uang, jika memang orang yang memerlukan uang itu adalah orang baik dan jujur maka berlomba-lombalah untuk meminjamkannya. Jangan biarkan dia digoda oleh syaitan yang akhirnya melakukan transaksi ribawi. Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda:
مسند أحمد – عَنْ سُلَيْمَانَ بْن بُرَيْدَةَ عن أبيه، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ مِثْلِهِ صَدَقَةٌ ، قَالَ: ثُمَّ سَمِعْتُهُ يَقُولُ: «مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ مِثْلَيْهِ صَدَقَةٌ ، قُلْتُ: سَمِعْتُكَ يا رسول الله تقول: من أنظر معرا فلة بكل يوم مثله صدقة ، ثم سمعتك تقول من انظر مُعْشِرًا فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ مثليه صدقة ، قَالَ لَهُ بِكُل يوم صدقة قبل أن يحل الدينُ، فَإِذَا حَلْ الدين فأنظره فلهُ بِكُلِّ يَوْمٍ مِثْلَيْهِ صدقة
“Dari Sulaiman bin Buraidah dari ayahnya, mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa memberi tempo kepada orang yang berada dalam kesulitan, maka dia mendapatkan (pahala) sedekah sepertinya (satu kali lipat). Kemudian aku mendengar beliau bersabda: Barangsiapa memberi tempo kepаda orang yang dalam kesulitan maka baginya (pahala) shadaqah dua kali lipatnya. Aku bertanya: Ya Rasulullah aku mendengar engkau bersabda: barangsiapa yang memberi tempo kepada orang yang dalam kesulitan, maka ia mendapatkan (pahala) sedekah sepertinya (satu kali lipat). Kemudian aku mendengar engkau bersabda: Barangsiapa yang memberi tempo kepada orang yang dalam kesulitan, maka ia mendapatkan (pahala) shadaqoh dua kali lipatnya. Beliau bersabda: Dia mendapatkan (pahala) shadaqoh sepertinya (satu kali lipat) sebelum hutang itu jatuh tempo. Jika telah jatuh tempo lalu dia memberikan kelonggaran, maka dia mendapatkan (pahala) dua kali lipatnya” (HR. Imam Ahmad)
10. Saya pensiunan pegawai negeri. Saya mendepositokan pensiunan saya untuk persiapan kelangsungan pendidikan anak-anak saya dan masa depan mereka. Sebenarnya saya sudah tahu kalau hal itu diharamkan oleh syariat karena di dalamnya sangat erat dengan praktek ribawi. Pertanyaan saya apakah itu tetap diharamkan atau tidak ada keringanan mengingat saya sudah sepuh dan juga saya lakukan untuk kebaikan masa depan anak-anak saya? Jawab: jawabannya sama dengan pertanyaan no.9. Bertakwalah kepada Allah. Ini bukanlah hal yang darurat yang bisa menghalalkan sesuatu yang haram. Mengupayakan untuk masa depan anak adalah perbuatan mulia. Perlu diketahui sesuatu yang mulia jalannya juga harus mulia, tidak boleh jalan kejelekan. Sekarang mari renungkan, apakah kita membenarkan tindakan pencuri yang tujuannya mulia, untuk menafkahi anak, istri dan keluarga. Apakah kita membenarkan tindak pelacuran yang dia melakukan hal tersebut untuk sesuatu yang mulia, yaitu menafkahi keluarga? Tentu kita tidak membenarkan. Jadi, jelaslah sesuatu yang mulia jalannya juga harus mulia.
الحمد لله رب العالمين
Judul buku : Awas Riba Mengepung Anda
Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)
