5. Harta benda hasil riba dicabut keberkahannya
Allah ta’ala berfirman:
يَمْحَقُ ٱللَّهُ ٱلرِّبَوٰا۟ وَيُرْبِى ٱلصَّدَقَٰتِ ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ
“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan shadaqah” (QS. Al-Baqarah: 276)
Syaikh As-Sa’di di dalam tafsirnya mengatakan: Allah akan memusnahkan keberkahan hasil usaha praktik riba, Hasil riba akan menjadi penyebab datangnya penyakit dan marabahaya lainnya. Berinfak dengan hasil riba tidaklah mendapatkan pahala, tetapi akan menjadi bekal ke neraka…”
6. Minimal dosa riba adalah seperti berzina dengan ibu kandung
Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda:
عن عبد الله ابْنُ مَسْعُودٍ، عَنِ النَّبي صَلَّى الله عليه وسلم قال: الريا ثلاثة وَسَبْعُونَ بابًا أَيْسَرُهَا أَن يَنكِحَ الرَّجُلُ أُمَّهُ (رَوَاهُ الحاكم في مستدركه )
“Dari Abdullah ibn Mas’ud dari Nabhi beliau bersabda: Ribu itu ada 73 pintu (dosa), yang paling ringan adalah seperti menzinai ibu kandungnya sendiri” (HR. al-Hakim dalam Mustadrak)
Jelaslah, harta riba tidak membawa kebaikan. Seandainya Anda melihat orang yang melakukan praktek riba hidupnya damai, tentram, sentosa, nyaman, dan di liputi kesenangan-kesenangan, maka sesungguhnya itu adalah istidraj (adzab atau hukuman yang ditunda), dan akan ditimpakan secara sempurna pada hari kiamat nanti.
E. Menjamurnya Sistem Perekonomian yang Ribawi Menuntut Kita Mempertebal Kesabaran
Bentuk sistem perekonomian yang ribawi dan dosa tentu sangatlah banyak, disini penulis sebutkan beberapa diantaranya:
1. Bunga Bank
Ada orang yang menabung atau mendepositokan uangnya di bank. Dalam pemikiran mereka, tidak usah capek-capek tapi bisa panen dalam waktu-waktu tertentu, 3 bulan atau 6 bulan dan seterusnya….padahal akadnya tidak syar’i.
Perlu diketahui bahwa ketika bank memberikan pinjaman kepada pengusaha dalam bentuk modal, pinjaman tersebut harus dikembalikan dalam jumlah yang sama ditambah bunga yang dinyatakan dalam persen, atau denda yang ditarik bank dari pihak peminjam yang terlambat membayar pada tempo vang telah ditentukan. Ini jelas-jelas riba.
Semestinya yang syar’i adalah jika untung atau rugi ditanggung bersama antara bank dan peminjam modal. Dan jika si peminjam bukanlah pelaku bisnis yang membutuhkan uang untuk modal, dimana ia meminjam uang sebatas untuk membeli kebutuhan hidupnya, maka yang syar’i adalah ia mengembalikan uang persis sejumlah yang ia pinjam, tidak dikenakan tambahan sepeserpun. Adakah bank yang mempraktekkan demikian? Kalau tidak, maka telah terjadi praktek ribawi, maka bunganya jelas-jelas haram.
Terkadang ada orang yang menyatakan bunga bank itu halal dengan menukil ayat al-Qur’an:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَأْكُلُوا۟ ٱلرِّبَوٰٓا۟ أَضْعَٰفًا مُّضَٰعَفَةً
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda” (QS. Ali Imran: 130)
Ini tentunya pemahaman yang salah. Ayat ini justru menjelaskan larangan riba yang diantara bentuknya adalah sebagaimana yang dilakukan orang jahiliyah yaitu apabila pelunasan hutang 100 dinar, misalnya, telah jatuh tempo dan peminjam belum bisa melunasi, maka hutang dijadwal baru dan dibayar pada waktu yang disepakati sebanyak 200 dinar dan begitu seterusnya hingga peminjam melunasinya. Dalam ayat ini tidak ada penjelasan bahwa riba hanyalah yang berlipat ganda, bahkan justru sebaliknya orang bertaubat dari riba dia harus menarik uang sejumlah yang dipinjamkan saja. Tidak boleh lebih. Allah ta’ala berfirman,
وإن كنتم منكم رُءُوسُ أَمْوَلِكُمْ لَا م تظلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ
“Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maku bagimu pokok hartamu, kamu tidak menganiaya dan tidak pula dianiaya” (QS .Al-Baqarah: 279)
2. Asuransi
Diantara mereka ada yang menjadi anggota asuransi. Apakah asuransi sebagaimana yang berkembang sekarang ini dibenarkan syariat? Mari kita tinjau.
Pertama: akad yang terjadi dalam asuransi adalah akad untuk mencari keuntungan. Berarti ini kan perserikatan bisnis yang untung atau rugi harus ditanggung bersama. Tapi kenyataannya tidak demikian.
Kedua: akad asuransi sendiri mengandung ghoror (unsur ketidakjelasan). Kapankah nasabah akan menerima timbal balik berupa klaim? Tidak setiap orang yang menjadi nasabah bisa mendapatkan klaim. Ketika ia mendapatkan accident atau resiko, baru ia bisa meminta klaim. Padahal accident di sini bersifat tak tentu, tidak ada yang bisa mengetahuinya. Boleh jadi seseorang mendapatkan accident setiap tahunnya, boleh jadi selama bertahun-tahun ia tidak mendapatkan accident. Ini sisi ghoror pada waktu. Sisi ghoror lainnya adalah dari sisi besaran klaim sebagai timbal balik yang akan diperoleh. Tidak diketahui pula besaran klaim tersebut. Padahal Rasul telah melarang jual beli yang mengandung ghoror sebagaimana dalam hadits dari Abu Hurairah radiallahu anhu ia berkata,
نهى رسول الله عن بيع الحصاة وعن بيع العزيز
“Rasulullah shalallahu alaihi wasallam melarang dari jual beli hashoh (hasil lemparan kerikil, itulah yang dibeli) dan melarang dari jual beli ghoror (mengandung unsur ketidak jelasan)” (HR. Muslim no. 1513).
Ketiga: asuransi mengandung qimar atau unsur judi. Bisa saja nasabah tidak mendapatkan accident atau bisa pula terjadi sekali, dan seterusnya. Di sini berarti ada spekulasi yang besar. Pihak pemberi asuransi bisa jadi untung karena tidak mengeluarkan ganti rugi apa-apa. Suatu waktu pihak asuransi bisa rugi besar karena banyak vang mendapatkan musibah atau accident. Dari sisi nasabah sendiri, ia bisa jadi tidak mendapatkan klaim apa-apa karena tidak pernah sekali pun mengalami accident atau mendapatkan resiko. Bahkan ada nasabah yang baru membayar premi beberapa kali, namun ia berhak mendapatkan klaimnya secara utuh, atau sebaliknya. Inilah judi yang mengandung spekulasi tinggi. Padahal Allah ta’ala jelas-jelas telah melarang judi berdasarkan keumuman ayat,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَان فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, maysir (berjudi), (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan” (QS. Al Maidah: 90).
Keempat: Asuransi mengandung unsur riba fadhel (riba perniagaan karena adanya sesuatu yang berlebih) dan riba nasi’ah (riba karena penundaan) secara bersamaan. Bila perusahaan asuransi membayar ke nasabahnya atau ke ahli warisnya uang klaim yang disepakati, dalam jumlah lebih besar dari nominal premi yang ia terima, maka itu adalah riba fadhel. Adapun bila perusahaan membayar klaim sebesar premi yang ia terima namun ada penundaan, maka itu adalah riba nasi’ah (penundaan). Dalam hal ini nasabah seolah-olah memberi pinjaman pada pihak asuransi. Tidak diragukan kedua riba tersebut haram menurut dalil dan ijma’ (kesepakatan ulama).
3. Sistem Kredit
Orang baik yang selalu mengharuskan penghasilan yang halal bisa juga terjerumus ke dalam perkara yang haram. Akhirnya penghasilan halal yang didapatkannya menjadi bercampur dengan perkara haram. Sering sekali untuk mendapatkan barang-barang kebutuhan hidup, banyak kaum muslimin tidak mampu membayar dengan cash atau kontan. Seandainya mampu membayar cash atau kontan, biasanya ada perusahaan tertentu yang tidak melayani sistem cash. Ia hanya memberlakukan sistem kredit. Akhirnya, mereka pun ramai-ramai mengambil barang-barang yang diperlukan dengan sistem kredit. Permasalahannya adalah apakah ada sistem kredit yang diberlakukan oleh suatu perusahaan di zaman sekarang ini yang tidak ribawi? Tidak ada. Seandainya ada sangatlah sedikit. Kredit dikatakan syar’i (sesuai syariat) jika DP (kalan pakai DP) jumlah cicilan sama dengan nilai harga barang yang ditetapkan dalam akad. Sementara yang terjadi tidaklah demikian. DP jumlah cicilan pasti tidak sama dengan harga yang ditetapkan dalam akad. Bahkan diperparah lagi harga suatu barang dengan sistem kredit tersebut tidak disebutkan di awal akad.
4. Berkebun Emas di Pegadaian
Harga emas yang naik melaju pertahun menggiring sebagian orang untuk investasi penggadaian emas di bank-bank. Mekanismenya sebagai berikut: sebagai contoh seseorang membawa emas 50 gram ke bank untuk digadaikan. Bank menaksir harga emas tersebut lalu memberikan pinjaman uang tunai 80% dari harga taksir emas. Akad ini disebut qard (pinjam meminjam). Kemudian bank membebankan biaya penyimpanan emas kepada nasabah tersebut. Akad ini disebut ijarah (sewa). Jadi, ada 2 akad; qard dan ijarah.
Ada juga yang menggadaikan emas dengan tujuan untuk mendapatkan laba. Setelah melakukan penggadaian pertama kali, ia membeli emas lagi dengan uang sejumlah 80% dari harga emas yang di dapatkan dari bank ditambah dengan uang pribadinya untuk menutupi kekurangannya yang 20%. Kemudian ia ke bank untuk menggadaikan emas tersebut. la pun mendapat kan uang 80% sebagaimana sebelumnya. Lalu menambahnya 20% dari uang pribadinya kemudian membeli emas lagi dan digadaikan lagi, ia terus melakukan demikian hingga datang saat panen, yaitu saat harga emas tinggi. Pertanyaannya apakah berkebun emas seperti ini halal?
Perlu diketahui bahwa penggabungan akad antara qard dan ijarah dilarang syariat Islam. Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda:
لَا يَحِلُّ سَلَفٌ وَبَيْعٌ
“Tidak halal menggabungkan antara akad pinjaman dan jual beli” (HR. Abu Daud).
Akad ijarah termasuk bagian dari akad jual beli, karena hakikat ijarah adalah jual beli jasa. Jelaslah, bisnis ini diharamkan dalam Islam.
Judul buku : Awas Riba Mengepung Anda
Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)
