Solusi Investasi Akhirat Anda

Akhlak Anda Sudah Mulia? bagian 4

Lanjutan dari Akhlak Para Sahabat Nabi shalallahu alaihi wasallam Secara Umum

36. Mudah memaafkan dan berlapang dada atas kesalahan yang diperbuat orang lain terhadap dirinya

37. Tidak mencemaskan masa depan keturunannya yang terkait dengan kehidupan duniawi

38. Tidak malas berziarah kubur

39. Tidak lalai dari mengingat Allah ta’ala dan bershalawat untuk Nabi shalallahu alahi wasallam

40. Lembut hatinya dan banyak menangis

41. Memandang hina dunia

42. Malu untuk bolak-balik buang hajat

43. Tidak mencemaskan urusan rizki

44. Tetap berlapang dada ketika materi duniawi tidak didapatkannya

45. Tidak disibukkan dengan urusan membangun rumah

46. Menyayangi semua muslim baik yang taat ataupun yang tidak taat

47. Menyayangi binatang

48. Terus melatih diri dan memperbanyak amalan secara tersembunyi

49. Menyayangi pelaku maksiat dengan tidak menghinakan mereka

50. Sangat besar “nrimo”nya (qona’ah) tidak mengejar-ngejar urusan duniawi

51. Bersegera mendatangi jamaah untuk mendapati takbirotul ihram-nya imam

52. Senantiasa mengkhawatirkan masuknya penyakit ke dalam ilmu dan amalannya

53. Membatasi diri terhadap orang-orang yang merapat ke penguasa

54. Suka menanyakan kabar kawan-kawannya

55. Tidak berlebih-lebihan di dalam perkara yang mubah

56. Saling menasehati dan senang menerima nasehat serta berterimakasih kepada pemberi nasehat

57. Mereka tidak memberi nasehat dan wasiat kecuali kepada orang yang diketahui berdasarkan indikasi bisa menerima nasehat

58. Senantiasa memandang bahwa amalan yang telah dilakukan sangatlah sedikit

59. Mencela seseorang yang memutus kebiasaan saling mengunjungi

60. Bersahaja, tenang, wibawa, dan sedikit berbicara

61. Menghindari bisnis perdagangan kecuali setelah mengetahui persis tentang hukum perdagangan tersebut

62. Memperbesar kesabaran terhadap orang yang berbuat zhalim kepada dirinya

63. Meningkatnya rasa takut dan semakin mendekat kepada Allah ta’ala setiap kali merasakan adanya kebaikan-kebaikan dari-Nya

64. Banyak diam, berbicara hanyalah ketika ada hikmah

65. Tidak pernah dengki kepada sesama muslim

66. Sering lapar dan menghindari kenyang

67. Di dalam bermajlis menutup rapat-rapat untuk terjadinya ghibah

68. Tidak membeberkan kepada seorang pun sesuatu yang didengarnya yang dipandang sebagai perkara rahasia

69. Sangat bersedih setiap kali terlewatkan dari suatu amaliah peribadahan

70. Banyak bersabar ketika ditimpa musibah sehingga tidak berucap dan bertindak kebodohan.

71. Senantiasa menyerahkan segala urusan kepada Allah, dan ridho dengan segala keputusan-Nya

72. Mempersaksikan pada dirinya sendiri bahwa ia belum berbuat apa-apa sebagai bentuk kesyukuran kepada Tuhannya

73. Sangat teliti di dalam masalah ketakwaan

74. Senantiasa menutupi aib sesama saudara muslim

75. Menghormati tamu dengan turun tangan sendiri langsung kecuali kalau ada udzur

76. Tidak menghadiri jamuan makanan dari harta syubhat

77. Mengupayakan senantiasa bersedekah dari setiap kelebihan kebutuhannya

78. Bersikap ramah setiap kali ada orang yang bertanya

79. Tidak menjadikan teman kecuali orang-orang yang diketahui senantiasa menunaikan kewajibannya.

80. Tidak suka bermusuhan dengan siapapun

81. Sibuk dengan aibnya sendiri daripada aib orang lain

82. Tetap menunjukkan sikap yang baik kepada orang-orang yang berperangai kasar

83. Menjaga muru’ah (harga diri)

84. Senang berbuat kebaikan untuk orang lain

85. Menghindarkan diri dari ‘ujub atas kebaikan-kebaikan yang telah diperbuatnya

86. Selalu memperhatikan orang-orang yang kelaparan

87. Banyak memotivasi diri untuk beribadah dan meningalkan syahwat

88. Banyak ber-istighfar dan takut akan murka Allah setiap kali membaca Al-Qur’an

89. Senantiasa menyiapkan diri untuk menunggu awal waktu sholat

90. Tetap nyaman dengan kondisi kefakiran dan kesulitan hidup, sebaliknya justru gelisah ketika berlimpah kekayaan

91. Malu dari pandangan makhluk terlebih dari pandangan Allah ta’ala

92. Zuhud dari dunia dan mencela orang yang mengejar-ngejarnya

93. Memilih bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya tidak sampai meminta-minta kepada orang lain untuk tetap beribadah dengan semestinya

94. Mencintai orang-orang miskin dan tawadhu’ di hadapan mereka

95. Mencintai harta demi untuk diinfaqkan bukan untuk disimpan

E. Keteladanan Para Salaf

Berikut ini saya nukilkan beberapa contoh keteladanan dari para Salaf dari kitab Aina Nahnu Min Akhlaqi-s-Salaf yang ditulis oleh Syaikh Abdul Aziz bin Nash al-Jalil dan Syaikh Bahaudin bin Fatih ‘Uqoil yang dicetak Darut-Thaybah lin-Nasyr wat-Tawzi’.

1. Tidak menyukai popularitas

Dari Habib bin Abu Tsabit, dia berkata: Suatu hari Ibnu Mas’ud keluar. Manusia mengikutinya. Beliau bertanya kepada mereka: Apakah kalian ada keperluan? Mereka menjawab: Oh, tidak. Kami hanya ingin berjalan bersama Anda. Beliau berkata: Pulanglah kalian! Sungguh hal ini adalah kehinaan bagi yang mengikuti dan fitnah bagi yang diikuti.

Dari Harits bin Suwaid, dia berkata: Abdullah bin Mas’ud berkata: Kalau kalian mengetahui sebagaimana yang aku ketahui tentang diriku niscaya kalian akan menaburkan tanah di kepalaku.

Dari Busthom bin Muslim, dia berkata: Muhammad bin Sirin jika berjalan lalu ada orang yang mendampinginya, maka beliau bertanya: Apakah kamu ada keperluan? Kalau ada keperluan, beliau memenuhinya. Jika kembali mendampingi berjalan, beliau bertanya lagi: Apakah masih ada keperluan?

Hasan ( Mungkin Hasan bin Ar-Robi’, atau mungkin Hasan bin Arofah, atau mungkin Hasan bin Isa Masarji) berkata: Suatu hari saya bersama Ibnu Mubarok mendatangi tandon air. Manusia meminum air darinya. Ketika beliau mendekatinya untuk minum, dan manusia tidak mengenalinya beliaupun berdesak-desakan untuk mendapatkannya. Ketika keluar, beliau berkata: Beginilah seharusnya hidup! Kita tidak dikenal dan tidak dimuliakan….

Hasan juga mengkisahkan: Ketika beliau berada di Kufah, dibacakanlah kitab kepada beliau tentang manasik…. dan seterusnya hingga terjadi perbincangan, beliau berkata: Demikianlah seharusnya kita menunaikan manasik. Lalu beliau bertanya: Siapa yang menulis dari perkataanku ini? Saya katakan kepadanya: seorang penulis telah menulisnya. Beliau masih saja terus menggaruk-garuknya dengan tangannya hingga terhapus. Kemudian beliau berkata lagi: Siapakah saya ini hingga perkataanku ditulis?

2. Takut ‘ujub

Tsabit al-Bunani berkata: Abu Ubaidah berkata: Wahai manusia! Sesungguhnya saya ini orang Quraisy, siapapun kalian dari bangsa kulit merah atau kulit hitam yang melampauiku dengan ketakwaan melainkan aku ingin menjadi kulitnya.

Maksud ucapan ini, beliau ingin menempuh jalan sebagaimana mereka.

Dari Ma’mar dari Ayyub dari Nafi’ atau yang lainnya bahwa ada seseorang berkata kepada Ibnu Umar: Wahai sebaik-baiknya manusia! Putra dari sebaik-baiknya manusia! Beliau merespon dengan mengatakan: Saya ini bukan sebaik-baiknya manusia dan juga bukan putra dari sebaik-baiknya manusia tetapi saya ini seorang hamba Allah ta’ala sebagaimana hamba Allah ta’ala lainnya. Saya senantiasa berharap kepada Allah ta’ala dan takut kepada-Nya. Demi Allah! Kalian akan terus bersama seseorang hingga kalian membinasakannya.

Abu-l-Usyhub meriwayatkan dari seseorang bahwa Muthorrif bin Abdullah berkata: Jika Anda tertidur (tidak melakukan qiyamullail, Pent) kemudian di pagi harinya Anda menyesali maka yang demikian itu lebih saya sukai daripada di malam hari Anda menunaikan qiyamullail lalu di pagi harinya merasa ‘ujub. Adz-Dzahabi mengatakan: Sungguh tidak beruntung orang yang ‘ujub, orang yang memandang dirinya suci.

Wahb bin Munabbih berkata: Hafalkanlah dari tiga perkara: Jauhilah oleh kalian hawa nafsu yang diikuti, teman yang buruk, dan membanggakan diri sendiri.

3. Sabar terhadap musibah

Dari Al-Mubarrid, dikatakan kepada Hasan bin Ali bahwa Abu Dzar mengatakan: Kemiskinan lebih aku sukai daripada kekayaan, sakit lebih aku sukai daripada sehat. Beliau merespon dengan mengatakan: Semoga Allah merahmati Abu Dzar, adapun saya mengatakan: Barangsiapa menyandarkan dirinya kepada baiknya pilihan Allah untuknya, maka dia tidak akan pernah menginginkan sesuatu. Inilah makna ridho terhadap apa yang telah ditetapkan.

Dari Wahb bin Munabbih bahwa Isa alaihissalam berkata kepada Hawariyyin: Orang yang paling gelisah terhadap musibah adalah orang yang paling cinta kepada dunia.

Dari Asy-Sya’bi, Syuraih berkata: Sesungguhnya saya ditimpa musibah, maka saya memuji Allah empat kali:

a. Saya memuji Allah ta’ala karena musibahnya tidak lebih besar dari yang ditimpakan sekarang ini

b. Saya memuji Allah ta’ala karena diberi rizki berupa sabar untuk menghadapinya

c. Saya memuji Allah ta’ala karena telah memberi saya taufiq untuk beristirja’ (mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi roji’un) demi mendapatkan pahala karenanya

d. Saya memuji Allah ta’ala karena Dia tidak menimpakan musibah pada agama saya

Ghossan bin al-Mifdhol Al-Gholaby berkata: Saya diberitahu oleh sebagian teman-teman bahwa ada seseorang datang menemui Yunus bin Ubaid mengeluhkan tentang keadaannya dan sempitnya kehidupan. 

Beliau bertanya: “Apakah kamu mau bola matamu dijual 100.000 dinar?

Dia menjawab: “Tidak”.

Beliau bertanya lagi: “Bagaimana dengan telingamu, mau dijual 100.000 dinar?

Dia menjawab: “Tidak mau”.

Beliau bertanya lagi: “Bagaimana dengan lidahmu, mau dijual 100.000 dinar?

Dia menjawab: “Sama sekali tidak mau”.

Lalu beliau mengingatkannya tentang nikmat-nikmat Allah ta’ala dan berkata: “Saya melihat pada dirimu ada rizki ratusan ribu dinar tapi kamu masih mengeluhkan rizki?

4. Hati-hati di dalam bergaul 

Dari Humaid Ath-Thowil, dari Abu Qilabah, dia berkata: Jika Anda mendengar informasi buruk tentang temanmu, maka carilah alasan-alasan untuk memakluminya (sehingga Anda tidak memandangnya sebagai orang yang bersalah). Jika Anda tidak mendapatkannya, maka katakanlah pada diri Anda: Mungkin dia memiliki alasan yang saya tidak mengetahuinya.

Dari Maimun bin Mahron, dia berkata: Saya mendengar Ibnu Abbas berkata: Tidaklah saya mendengar keburukan tentang seseorang melainkan aku mensikapinya dengan tiga sikap;

a. Jika dia lebih senior, maka saya harus tahu diri untuk tetap memuliakannya

b. Jika dia sebaya, maka aku memandangnya lebih utama dari diriku

c. Jika dia lebih junior, maka saya tidak mau bermajlis atau berkumpul dengannya. 

Demikianlah aku, kalau ada yang tidak suka dengan sikapku ini, maka silahkan saja bumi Allah ta’ala itu luas.

Diriwayatkan dari Roja’ bin Haywah, dia berkata: Barangsiapa tidak mau berteman kecuali dengan orang yang tidak ada aibnya niscaya sedikit temannya. Barangsiapa tidak ridho kecuali terhadap teman yang benar-benar bersih dari aib maka selama-lamanya dalam kesalahan. Barangsiapa mencela temannya atas setiap aibnya niscaya banyak musuhnya.

Judul buku: Akhlak Anda Sudah Mulia?

Penulis: Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)