e. Posisi orang yang berakhlak mulia paling dicintai dan paling dekat dengan Nabi shalallahu alaihi wasallam di Hari Kiamat
Disebutkan di dalam Hadits,
عَنْ جَابِرٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَىَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّى مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلاَقًا وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَىَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّى مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الثَّرْثَارُ ونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ وَالْمُتَفَيْهِقُونَ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ عَلِمْنَا الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ فَمَا الْمُتَفَيْهِقُونَ قَالَ « الْمُتَكَبِّرُ ونَ » (سنن الترمذى )
Dari Jabir bin Abdillah radiallahu anhu secara marfū’, (Nabi bersabda), “Sesungguhnya di antara orang yang paling aku cintai dan paling dekat duduknya denganku pada hari Kiamat adalah orang yang paling baik budi pekertinya di antara kalian. Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh tempat duduknya dariku pada hari Kiamat adalah orang yang banyak bicara dan bergaya dalam bicara. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kami sudah tahu orang yang banyak bicara dan bergaya dalam bicara, lantas apakah yang dimaksud dengan bermulut besar?” Beliau menjawab, “Yaitu orang-orang yang sombong. (Sunan At-Tirmidzi)
Adakah yang tidak mau menjadi orang yang paling dicintai dan paling dekat posisinya dengan Nabi shalallahu alaihi wasallam pada hari Kiamat. Ayo! Senantiasa memperbaiki akhlak kita.
C. Sekilas tentang Akhlak Nabi shalallahu alaihi wasallam
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam adalah manusia yang paling baik akhlaknya. Disebutkan di dalam Hadits Anas radiallahu anhu,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا (صحيح مسلم )
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam adalah manusia yang paling baik akhlaknya (Shahih Muslim).
Anas radiallahu anhu menuturkan demikian karena saking terkesan dengan akhlak beliau. Di antaranya dia menyaksikan sendiri: Ketika sedang berada di rumah Anas, beliau shalallahu alahi wasallam menghendaki shalat. Beliau shalallahu alahi wasallam pun meminta hamparan yang terbuat dari pelepah kurma yang berada di bawah beliau disapu dan diciprati dengan air. Lalu beliau mengimami Anas dan keluarganya.
Anas radiallahu anhu juga menuturkan,
مَا مَسِسْتُ دِيبَاجاً وَلاَ حَرِيراً ألْيَنَ مِنْ كَفِّ رسولِ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – ، وَلاَ شَمَمْتُ رَائِحَةً قَطُّ أطْيَبَ مِنْ رَائِحَةِ رسولِ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – ، وَلَقَدْ خدمتُ رسول اللهِ – صلى الله عليه وسلم – عَشْرَ سنين ، فما قَالَ لي قَطُّ : أُ فٍّ، وَلاَ قَالَ لِشَيءٍ فَعَلْتُهُ : لِمَ فَعَلْتَه ؟ وَلاَ لشَيءٍ لَمْ أفعله : ألاَ فَعَلْتَ كَذا ؟ (رواه البخارى)
Aku tidak pernah menyentuh segala jenis sutera yang lebih lembut dari telapak tangan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dan aku sama sekali tidak pernah mencium aroma yang lebih harum dari aroma Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Sungguh aku telah membantu Rasulullah shalallahu alaihi wasallam selama sepuluh tahun. Beliau tidak pernah mengatakan kepadaku sama sekali “Ah”. Tidak pula mengatakan terhadap sesuatu yang telah aku kerjakan, “Seperti apa kamu mengerjakannya?” Tidak pula mengatakan terhadap sesuatu yang aku belum mengerjakannya, “Kenapa belum kamu kerjakan?” (HR. Bukhari dan Muslim)
Allah azza wa jalla berfirman,
وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ [القلم: 4]
Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar di atas akhlak yang agung (QS. Al-Qolam)
Disebutkan di dalam Tafsir As-Sa’di, saya terjemahkan secara bebas kurang lebihnya bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam menjadi tinggi derajatnya karena akhlak mulia yang Allah anugerahkan kepadanya. Akhlak yang agung “ خُلُقٍ عَظِيمٍ “ ditafsirkan ‘Aisyah: “Akhlak beliau adalah al-Qur’an”. Yang demikian itu sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur’an,
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ (الأعراف:199)
Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. (QS. Al-A’rof: 199)
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ (أل عمران :159)
Maka berkat rahmat dari Allah, engkau (Muhammad) berlaku lemah-lembut terhadap mereka (QS. Ali Imron: 159)
لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَءُ وفٌ رَّحِيمٌ (التوبة:128)
Telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat rasa olehnya penderitaan yang kamu alami, dia sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagimu, penyantun dan penyayang kepada orang-orang yang beriman. (QS. At-Taubah)
Dan ayat-ayat lainnya yang menjelaskan tentang akhlak mulia beliau.
Tentang ayat-ayat yang mengarahkan kepada akhlak mulia, maka beliau shalallahu alahi wasallam memiliki akhlak-akhlak tersebut dengan kadar tertinggi dan sempurna. Beliau orangnya lembut. Dekat dengan siapapun. Senantiasa menghadiri undangan orang yang mengundangnya. Memenuhi hajat orang yang membutuhkannya. Meringankan beban hati orang yang bertanya; beliau tidak membatasi diri dan tidak menolak dengan mengecewakan. Jika para Sahabat menginginkan sesuatu dari beliau maka beliau bersikap “klop” dengan mereka. Bahkan selama tidak ada udzur beliau berpartisipasi aktif terhadap progress suatu urusan yang beliau diminta untuk terlibat di dalamnya. Kalau ada urusan bersama, beliau senang bermusyawarah dan menerima ide yang terbaik, tidak memutuskan dari dirinya sendiri. Beliau mudah memaafkan orang yang berbuat salah. Tidaklah bermajlis (duduk-duduk) kecuali beliau bergaul dengan sikap yang terbaik. Beliau tidak bermuka masam. Tidak “mbulet” pembicaraannya. Tidak memotong pembicaraan orang yang keliru-keliru. Beliau benar-benar bergaul dengan manusia dengan sebaik-baiknya pergaulan. Beliau pun sangat bersabar di dalam bergaul dengan siapa pun. Sehingga siapapun yang bergaul dengan beliau pasti akan betah dan senantiasa merindukan kehadirannya [selesai]
Beliau shalallahu alahi wasallam sangat menjaga perasaan orang lain. Disebutkan di dalam riwayat,
عَنِ الصَّعْبِ بْنِ جَثَّامَةَ قَالَ : أَهْدَيْتُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِمَارًا عَقِيرًا وَحْشِيًّا بِوَدَّانَ ، أَوْ قَالَ : بِالأَبْوَاءِ ، قَالَ : فَرَدَّهُ عَلَيَّ ، فَلَمَّا رَأَى شِدَّةَ ذَلِكَ فِي وَجْهِي قَالَ : إِنَّا إِنَّمَا رَدَدْنَاهُ عَلَيْكَ لأَنَّا حُرُمٌ (مسند أحمد)
Dari Sho’b bin Jatsamah, dia berkata: Aku memberi Nabi hadiah keledai liar di Waddan. Atau periwayat mengatakan di Abwa’. Lalu Nabi mengembalikannya kepadaku. Ketika beliau melihat perubahan pada wajahku karena yang demikian itu maka beliau menjelaskan: “Sesungguhnya aku mengembalikannya kepadamu karena aku sedang ihram” (Musnad Ahmad)
Di dalam Hadits ini Nabi shalallahu alahi wasallam langsung menjelaskan alasan mengembalikan hadiah. Setelah dijelaskan, Sho’b pun mengerti dan tidak kecewa. Syaikh Utsaimin menjelaskan, orang yang sedang ihram tidak diperbolehkan makan binatang yang sengaja diburu untuknya.
Mungkin Anda pernah merasa tidak suka kalau disuruh menemui si Fulan. Karena Anda merasakan si Fulan tersebut “alot”, sulit, kaku, tidak mudah. Beliau shalallahu alahi wasallam tidaklah demikian. Disebutkan di dalam sebuah riwayat,
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو – رضى الله عنهما – قَالَ لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – فَاحِشًا وَلاَ مُتَفَحِّشًا (رواه البخارى و مسلم)
Dari Abdullah bin Amr radiallahu anhuma berkata: Nabi shalallahu alaihi wasallam tidaklah kasar dan tidak bertabiat kasar (HR. Bukhari dan Muslim)
Tentang Hadits ini Syaikh Utsaimin mengatakan, Nabi itu orangnya lembut dan mudah. Tidak kasar dan jauh dari perangai kasar.
Semoga Allah azza wa jalla memberikan kita taufiq sehingga berkemampuan untuk terus memperbaiki akhlak kita hingga kita menjadi orang yang paling dicintai Nabi dan paling dekat posisinya dengan beliau pada Hari Kiamat dengan Surga yang paling tinggi. Aamiin.
D. Akhlak Para Sahabat Nabi shalallahu alaihi wasallam Secara Umum
Saya nukilkan akhlak para Sahabat radiallahu anhum secara umum dari kitab AKHLAQU –S-SALAFISH –SH-SHOLIH MIN KITAB TANBIHI-L- MUGHTARRIN karya Muhammad bin ‘Ulwi Al-Idrus cetakan tahun 1431 H/2010 M. Akhlak yang dimaksud di sini adalah akhlak keduanya; muamalah dengan Allah dan muamalah sesama manusia.
1. Istiqomah di dalam bersandar kepada Al-Qur’an dan Hadits sebagai butuhnya orang yang terkena sengatan terik matahari kepada tempat yang teduh
2. Menyelaraskan setiap ucapan dan perbuatannya kepada Al-Qur’an dan Hadits dan ‘urf yang baik (yang tidak bertentangan dengan syariat)
3. Senantiasa menyerahkan seluruh urusan dirinya, keluarganya, dan orang-orang di sekitarnya kepada Allah azza wa jalla
4. Senantiasa mengupayakan keikhlasan dalam berilmu dan beramal, karena khawatir untuk terjerumus ke dalam riya
5. Meng-hajr (memboikot) seseorang yang bolak-balik mendekati penguasa tanpa suatu keperluan yang mendesak atau suatu kemaslahatan ummat. (Hal ini bisa berpotensi menjadikannya sebagai penjilat, Pent.)
6. Senantiasa mengantisipasi sifat nifak yang bisa terjadi pada setiap perbuatan baik yang tampak ataupun tersembunyi
7. Bersabar atas kezhaliman penguasa
8. Senantiasa menolong agama Allah dan murka jika syariat-Nya dilanggar
9. Sedikit tertawa dan tidak berbangga-banggaan dengan dunia
10. Memandang kematian lebih baik daripada hidup tapi terus-menerus berkubang dengan dosa
11. Terus-menerus mengingkatkan rasa khouf hingga akhir hayat
12. Sangat takut terhadap adzab Allah atau suatu dosa yang seseorang terjerumus di dalamnya
13. Sangat menjaga kemuliaan kaum muslimin dan senantiasa berharap untuk kebaikan mereka
14. Sabar atas perbuatan tidak menyenangkan yang dilakukan oleh para istri terhadap diri mereka
15. Tidak meminta suatu jabatan kepemimpinan
16. Semangat untuk saling menasehati sesama kaum muslimin
17. Berperilaku dengan adab yang baik kepada junior apalagi kepada senior. Juga kepada budak (siapapun yang dipandang sebagai orang rendahan, Pent.)
18. Istiqomah dalam menunaikan qiyamullail baik di musim dingin ataupun musim panas
19. Tetap bergaul dengan orang-orang yang memusuhinya selama di tengah-tengah manusia secara umum dikenal sebagai orang baik
20. Banyak bersyukur kepada Allah
21. Komitmen dengan sunnah hingga ketika melamar wanita pun hanya melhat wajah dan kedua tangannya
22. Berperilaku dengan sebaik-baiknya adab kepada siapapun yang pernah mengajari mereka ayat atau surat Al-Qur’an ketika mereka masih kecil
23. Di dalam peribadahan, senantiasa merasakan baru sedikit apa yang telah dilakukan dan masih banyak kekurangan-kekurangannya
24. Tidak mengunggul-unggulkan dirinya sebagai penyebab hidayah bagi orang lain
25. Menjamu tamu dengan sebaik-baiknya
26. Bersikap wara’ dalam hal makanan dan minuman
27. Senantiasa mengontrol dirinya agar terlepas dari setiap sifat munafiq
28. Tidak suka menahan harta, sebaliknya justru senang berinfaq
29. Suka mendahulukan khidmah untuk Allah ta’ala daripada untuk dirinya sendiri
30. Setiap kali teringat keadaan Hari Kiamat, setiap itu pula rasa takutnya meningkat
31. Banyak mengambil pelajaran, menangis, dan lebih memperhatikan terhadap urusan kematian setiap kali melihat jenazah
32. Banyak bersedih setiap kali mengingat kematian dan sakaratul maut
33. Memandang dunia sebagai ujian, bukan pandangan cinta dan syahwat
34. Mengingatkan manusia agar jangan mengikuti keburukan-keburukan yang dijumpai pada dirinya
35. Memandang dirinya sendiri sebagai orang yang masih jauh tingkat peribadahannya secara kuantitas dan kualitas
Judul buku: Akhlak Anda Sudah Mulia?
Penulis: Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)
