d. Saling menasehati
Allah ta’ala berfirman,
وَتَوَاصَوۡا بِالۡحَقِّ (العصر: 3)
“Saling berwasiatlah di dalam kebenaran” (QS. Al-Ashr:3)
“Saling” itu pengertiannya ada dua pihak; yang menasehati dan yang dinasehati. Setiap muslim ada pada posisi keduanya. Adakalanya pada posisi yang menasehati dan adakalanya pada posisi yang dinasehati. Ini pancaran ukhuwwah islamiyyah yang luar biasa. Karena dengan hal ini berarti setiap muslim menginginkan kebaikan bagi suadaranya. Banyak sekali keteladanan yang bisa kita ambil, di antaranya:
آخَى النَّبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ بيْنَ سَلْمَانَ وأَبِي الدَّرْدَاءِ، فَزَارَ سَلْمَانُ أبَا الدَّرْدَاءِ، فَرَأَى أُمَّ الدَّرْدَاءِ مُتَبَذِّلَةً، فَقَالَ لَهَا: ما شَأْنُكِ؟ قَالَتْ: أخُوكَ أبو الدَّرْدَاءِ ليسَ له حَاجَةٌ في الدُّنْيَا. فَجَاءَ أبو الدَّرْدَاءِ فَصَنَعَ له طَعَامًا، فَقَالَ: كُلْ، قَالَ: فإنِّي صَائِمٌ، قَالَ: ما أنَا بآكِلٍ حتَّى تَأْكُلَ، قَالَ: فأكَلَ، فَلَمَّا كانَ اللَّيْلُ ذَهَبَ أبو الدَّرْدَاءِ يَقُومُ، قَالَ: نَمْ، فَنَامَ، ثُمَّ ذَهَبَ يَقُومُ، فَقَالَ: نَمْ، فَلَمَّا كانَ مِن آخِرِ اللَّيْلِ قَالَ سَلْمَانُ: قُمِ الآنَ. فَصَلَّيَا فَقَالَ له سَلْمَانُ: إنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، ولِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، ولِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، فأعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ. فأتَى النبيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، فَذَكَرَ ذلكَ له، فَقَالَ النَّبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: صَدَقَ سَلْمَانُ (رواه البخارى عن أبى جحيفة)
“Nabi shallahu’alaihi wasallam pernah mempersaudarakan antara Salman dan Abu Darda’. Tatkala Salman berkunjung ke rumah Abu Darda’, ia melihat Ummu Darda’ (istri Abu Darda’) dalam keadaan mengenakan pakaian yang serba kusut. Salman pun bertanya padanya, “Mengapa keadaan kamu seperti itu?” Wanita itu menjawab, “Saudaramu Abu Darda’ sudah tidak mempunyai hajat lagi pada keduniaan.”
Abu Darda’ datang lalu membuatkan makanan untuk Salman. Setelah selesai Abu Darda’ berkata kepada Salman, “Makanlah, adapun saya sedang berpuasa.” Salman menjawab, “Saya tidak akan makan kecuali kalau kamu juga makan.” Maka Abu Darda’ pun makan. Pada malam harinya, Abu Darda’ bangun untuk mengerjakan shalat malam. Salman berkata padanya, “Tidurlah.” Abu Darda’ pun tidur kembali.
Ketika Abu Darda’ bangun hendak mengerjakan shalat malam, Salman berkata lagi padanya, “Tidurlah!” Hingga pada akhir malam, Salman berkata, “Bangunlah.” Lalu mereka shalat bersama-sama. Setelah itu, Salman berkata kepadanya, “Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut.”
Kemudian Abu Darda’ mendatangi Nabi shallahu’alaihi wasallam dan menceritakan apa yang baru saja terjadi. Beliau lantas bersabda, “Salman itu benar.” (HR. Bukhari no. 1968)
| Perhatikanlah! Salman melihat suatu kondisi yang mengharuskannya memberi nasehat, dan Abu Darda’ pada pihak yang dinasehati menerimanya dengan baik. Keduanya memahami bahwa saling menasehati itu untuk kebaikan setiap insan muslim. |
Kisah nasehat ketika Umar radhiallahu’anhu sakit dan dikunjungi oleh kaum muslimin.
وَجَاءَ النَّاسُ فَجَعَلُوا يُثْنُونَ عَلَيْهِ وَجَاءَ رَجُلٌ شَابٌّ فَقَالَ أَبْشِرْ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ بِبُشْرَى اللَّهِ لَكَ مِنْ صُحْبَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدَمٍ فِي الْإِسْلَامِ مَا قَدْ عَلِمْتَ ثُمَّ وَلِيتَ فَعَدَلْتَ ثُمَّ شَهَادَةٌ قَالَ وَدِدْتُ أَنَّ ذَلِكَ كَفَافٌ لَا عَلَيَّ وَلَا لِي فَلَمَّا أَدْبَرَ إِذَا إِزَارُهُ يَمَسُّ الْأَرْضَ قَالَ رُدُّوا عَلَيَّ الْغُلَامَ قَالَ يَا ابْنَ أَخِي ارْفَعْ ثَوْبَكَ فَإِنَّهُ أَبْقَى لِثَوْبِكَ وَأَتْقَى لِرَبِّكَ (رواه البخارى)
“, Datanglah orang-orang lalu memberikan pujian untuk beliau. Datang juga seorang pemuda seraya mengatakan, ‘Berbahagialah Anda, wahai Amirul Mu’minin dengan kabar gembira dari Allah untuk Anda, karena Anda telah hidup mendampingi (menjadi sahabat) Rasulullah shallahu’alaihi wasallam dan berbagai jasa dalam Islam yang telah Anda ketahui. Lalu Anda diberi kepercayaan menjadi pemimpin dan Anda telah menjalankannya dengan adil lalu Anda mati syahid.’
Umar berkata, ‘Aku berharap itu semua impas, aku tidak terkena dosa dan juga tidak mendapat pahala.’
Ketika pemuda itu pergi, tampak pakaiannya menyeret tanah, maka beliau berkata, ‘Bawa kembali pemuda itu kepadaku.’
Beliau berkata kepadanya, ‘Wahai anak saudaraku, angkatlah pakaianmu! Karena yang demikian itu lebih membuat awet pakaianmu dan lebih membuatmu bertakwa kepada Rabb-mu..’” (HR. al-Bukhari )
| Umar bin Khottob radhiallahu’anhu mendengarkan pujian lalu berharap suatu kebaikan berupa ampunan. Tidak berhenti di situ, ketika di antara pengunjungnya yang berpakaian isbal beliau dalam keadaan sakit memberinya nasehat. Allahu Akbar. |
Berikut ini majlis Abdullah Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu yang penuh nasehat,
وعن عَلقَمةَ قال: (كنَّا جُلوسًا معَ ابنِ مسعودٍ، فجاء خبَّابٌ فقال: يا أبا عبدِ الرَّحمنِ، أيستطيعُ هؤلاء الشَّبابُ أن يقرؤوا كما تقرأُ؟ قال: أمَا إنَّك لو شئْتَ أمَرْتَ بعضَهم يقرأُ عليك، قال: أجَلْ، قال: اقرَأْ يا عَلقَمةُ، فقال زيدُ بنُ حُدَيرٍ أخو زيادِ بنِ حُدَيرٍ: أتأمُرُ عَلقَمةَ أن يقرَأَ، وليس بأقرَئِنا؟! قال: أمَا إنَّك إن شئْتَ أخبرْتُك بما قال النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم في قَومِك وقَومِه، فقرأْتُ خمسينَ آيةً مِن سورةِ مَريَمَ، فقال عبدُ اللهِ: كيف ترى؟ قال قد أحسَن، قال عبدُ اللهِ: ما أقرَأُ شيئًا إلَّا وهو يقرَؤُه، ثُمَّ التفَت إلى خبَّابٍ وعليه خاتَمٌ مِن ذَهبٍ، فقال: ألم يَأنِ لهذا الخاتَمِ أن يُلقى؟ قال: أمَا إنَّك لن تراه عليَّ بَعدَ اليومِ، فألقاه
(رواه البخارى)
“Dari Alqamah, dia berkata: (Kami sedang duduk bersama Ibnu Mas`ud , ketika itu datanglah Khabbab seraya berkata: Wahai Abu Abdirrahman, apakah para pemuda ini dapat membaca seperti engkau? Dia berkata: Jika kamu mau, kamu bisa meminta salah satu dari mereka untuk membaca untukmu. Dia berkata: Baik, lalu lanjut mengatakan: Bacalah, wahai Alqamah.
Zayd bin Hudayr, saudara Ziyad bin Hudayr, berkata: Apakah kamu memerintahkan Alqamah untuk membaca, padahal dia bukan qari terbaik di antara kita?! Dia berkata: Jika kamu mau, aku akan memberitahumu apa yang dikatakan Nabi shallahu’alaihi wasallam tentang kaummu dan kaumnya. Lalu saya membacakan lima puluh ayat dari Surah Maryam. Abdullah berkata: Bagaimana menurutmu? Dia berkata: Sangat bagus.
Abdullah berkata: Aku tidak membaca sesuatu pun kecuali dia membacanya.
Lalu Abdullah menoleh ke Khabbab, yang mengenakan cincin emas, dan berkata: Bukankah sudah saatnya cincin ini dibuang? Ia berkata: Engkau tidak akan pernah melihatnya lagi padaku setelah hari ini. Dia pun membuangnya” (HR. al-Bukhari).
Ibnu Umar langsung menegur orang yang keliru yang berada di dekatnya sebagaimana disebutkan di dalam riwayat At-Tirmidzi,
وعن نافِعٍ: أنَّ رجُلًا عطَس إلى جَنبِ ابنِ عُمرَ، فقال: الحَمدُ للهِ، والسَّلامُ على رسولِ اللهِ، قال ابنُ عُمرَ: وأنا أقولُ: الحَمدُ للهِ، والسَّلامُ على رسولِ اللهِ، وليس هكذا علَّمَنا رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم، علَّمَنا أن نقولَ: الحَمدُ للهِ على كُلِّ حال
“Dari Nafi’: Ada seorang laki-laki bersin di samping Ibnu Umar seraya membaca:
الحَمدُ للهِ، والسَّلامُ على رسولِ اللهِ
Ibnu Umar berkata : Aku juga mengucapkan lafazh ini:
الحَمدُ للهِ، والسَّلامُ على رسولِ اللهِ
Tapi bukan seperti itu yang Rasulullah shallahu’alaihi wasallam ajarkan kepada kami (ketika bersin), ucapkan saja:
الحَمدُ للهِ على كُلِّ حال
E. HAL-HAL YANG BISA MENGOKOHKAN UKHUWWAH ISLAMIYYAH
a. Menyampaikan ungkapan cinta
Ketika Anda melihat saudara Anda yang berhias dengan banyak kebaikan; ahli shalat, ahli puasa, ahli shodaqoh, ahli silaturrahim, ahli al-Qur’an, ahli majlis ta’lim, peduli sekitar, penyayang dhu’afa, tidak sombong, ringan tangan dan lain-lain, maka janganlah Anda sekedar terkesan di dalam hati saja. Tetapi, lebih dari itu ungkapkanlah secara lisan
“ إنِّي أُحِبُّك في اللهِ “ (Sungguh saya mencintai Anda karena Allah). Diseburkan di dalam Hadits,
مَرَّ رجُلٌ بالنَّبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم وعِندَ النَّبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم رجُلٌ جالِسٌ، فقال الرَّجُلُ: واللهِ يا رسولَ اللهِ، إنِّي لَأُحِبُّ هذا في اللهِ، فقال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: أخبَرْتَه بذلك؟ قال: لا، قال: قُمْ فأَخبِرْهُ؛ تَثْبُتِ المَودَّةُ بيْنكما. فقام إليه فأخبَرَه، فقال: إنِّي أُحِبُّك في اللهِ، أو قال: أُحِبُّك للهِ، فقال الرَّجُلُ: أَحَبَّك الذي أحبَبْتَني فيه (رواه أبو داود والنسائى عن أنس بن مالك)
“Ada seseorang lewat di depan Nabi shallahu’alaihi wasallam, di samping beliau ada seseorang yang sedang duduk. Dia berkata: Demi Allah, Ya Rasulullah sungguh saya mencintai orang ini karena Allah. Rasulullah bertanya: Apakah kamu sudah memberitahukan kepadanya yang demikian? Dia menjawab: Belum. Beliau bersabda: Ayo berdiri dan sampaikanlah kepadanya niscaya akan memperkokoh cinta kalian berdua. Dia pun berdiri lalu mengatakan kepadanya: Inni uhibbuka fillah atau dia mengatakan: uhibbuka fillah. Orang itu menjawab: Ahhabaka alladzi- ahbabtani fihi (Semoga mencintai Anda Dzat yang telah menjadikan Anda mencintaiku karenanya)” (HR. Abu Daud dan An-Nasa’I dari Anas bin Malik)
b. Mendoakan tanpa sepengetahuannya
Ini hal yang luar biasa. Namun, belum banyak kaum muslimin yang melakukannya. Bagaimana tidak, ketika kita mendoakan saudara kita tanpa dia mengetahuinya maka doa ini mustajab. Apakah kita rugi? Tidak, kita justru didoakan oleh Malaikat dengan doa sama seperti yang kita panjatkan. Disebutkan di dalam Hadits,
دَعْوَةُ المَرْءِ المُسْلِمِ لأَخِيهِ بظَهْرِ الغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّما دَعَا لأَخِيهِ بخَيْرٍ، قالَ المَلَكُ المُوَكَّلُ بهِ: آمِينَ وَلَكَ بمِثْلٍ (رواه مسلم عن أم الدرداء)
“Doa seorang muslim untuk saudaranya tanpa dia mengetahuinya adalah mustajab. Di sisi kepalanya ada Malaikat yang diserahi urusan. Setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan kebaikan, maka Malaikat yang diserahi urusan tersebut itu mengatakan: Amin… dan untukmu sama seperti itu juga” (HR. Muslim dari Ummu Darda’)
Judul buku : UKHUWWAH ISLAMIYYAH
Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

