- Saling menolong
Cukuplah kisah tentang saling menolong antara Muhajirin dan Anshor sebagai teladan bagi kita semua. Betapa tidak, para Sahabat Muhajirin yang datang dari Makkah dalam keadaan tidak membawa harta benda karena terpaksa harus ditinggalkan demi menyelamatkan agama, mereka bisa hidup secara wajar di daerah barunya yaitu Madinah. Ini tidak lain karena pertolongan yang diberikan oleh Shahabat Anshor yang tidak mengenal perhitungan. Kalau kita memperhatikan bagaimana mereka menolong saudaranya, maka kita akan banyak berdecak kagum. Salah satu kisahnya,
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّهُ قَالَ: “قَدِمَ عَلَيْنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ، وَآخَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ سَعْدِ بْنِ الرَّبِيعِ، وَكَانَ كَثِيرَ المَالِ، فَقَالَ سَعْدٌ: قَدْ عَلِمَتِ الأَنْصَارُ أَنِّي مِنْ أَكْثَرِهَا مَالًا، سَأَقْسِمُ مَالِي بَيْنِي وَبَيْنَكَ شَطْرَيْنِ، وَلِي امْرَأَتَانِ فَانْظُرْ أَعْجَبَهُمَا إِلَيْكَ فَأُطَلِّقُهَا، حَتَّى إِذَا حَلَّتْ تَزَوَّجْتَهَا، فَقَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ: بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِي أَهْلِكَ، فَلَمْ يَرْجِعْ يَوْمَئِذٍ حَتَّى أَفْضَلَ شَيْئًا مِنْ سَمْنٍ وَأَقِطٍ، فَلَمْ يَلْبَثْ إِلَّا يَسِيرًا حَتَّى جَاءَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهِ، وَضَرٌ مِنْ صُفْرَةٍ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (مَهْيَمْ) قَالَ: تَزَوَّجْتُ امْرَأَةً مِنَ الأَنْصَارِ، فَقَالَ (مَا سُقْتَ إِلَيْهَا؟). قَالَ: وَزْنَ نَوَاةٍ مِنْ ذَهَبٍ، أَوْ نَوَاةً مِنْ ذَهَبٍ، فَقَالَ: (أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ) (رواه البخاري)
“Dari Anas radhiallahu’anhu, dia berkata: Abdurrahman datang kepada kami. Rasulullah shallahu’alaihi wasallam mempersaudarakan antara dia dengan Sa’ad bin Ar-Robi’ yang sangat kaya. Sa’ad berkata: Orang-orang Anshar tahu bahwa aku salah satu yang terkaya di antara mereka. Saya akan membagi kekayaanku antara saya dan kamu menjadi dua. Dan saya memiliki dua istri, jadi lihatlah siapa yang paling kamu sukai, saya akan menceraikannya. Ketika dia sudah halal, maka nikahilah dia. Abdur-Rahman berkata: Semoga Allah memberkahi kamu dalam keluargamu. Ia tidak kembali hari itu hingga ia memiliki beberapa mentega dan daging. Ia tidak tinggal lama hingga Rasulullah shallahu’alaihi wasallam datang kepadanya, dan ia terlihat agak kekuningan. Rasulullah shallahu’alaihi wasallam berkata kepadanya: “Mahayyam.” Dia berkata: Aku menikahi seorang wanita dari kaum Anshar. Dia bertanya: Apa yang kamu bawa untuknya? Beliau menjawab: seberat biji emas, atau sebiji emas. Beliau menjawab: Buatlah pesta pernikahan, meskipun dengan seekor kambing (HR. Bukhari)
| Allahu Akbar… menolong tanpa pamrih. Sedikit merenung yuk! Adakah di zaman sekarang orang yang kaya raya memberikan kepada kawannya yang fakir sebagaimana yang diberikan oleh Sa’ad bin Ar-Robi’ kepada Abdurrahman bin Auf |
- Menutup aibnya
Satu hal yang harus kita hadirkan dalam jiwa sehingga kita terhindar dari perbuatan membeberkan aib orang lain adalah “bukankah saya tidak mau kalau aib saya dibeberkan?”
Sufyan bin Husain menuturkan, “Saya menceritakan tentang keburukan seseorang di hadapan Iyas bin Mu’awiyah (seorang qodhi di zaman khalifah Umar bin Abdul Aziz). Dia memandangi wajahku dan bertanya: Kamu terlibat dalam perang melawan Rum? Saya jawab: Tidak. Dia lanjut bertanya: Kalau perang Sindi, Hindi dan Turki? Saya jawab: Tidak. Dia memberikan tawjihat: Kok bisa Rum, Sindi, Hindi, Turki selamat dari kamu tetapi saudaramu seorang muslim tidak selamat dari kamu?”
Yahya bin Ma’in (Syaikh al-Muhadditsin lahir tahun 158 H) berkata:
ما رأيتُ على رجلٍ قطُّ خطأً إلا سترْتُه، وأحببْتُ أنْ أُزَيِّنَ أمرَه، وما استقبلْت رجلًا في وجهِه بأمرٍ يكرهُه، ولكنْ أبيِّنُ له خطأَه فيما بيني وبينَه، فإنْ قبِل ذلك وإلَّا تركتُ
“ Tidaklah saya melihat orang berbuat salah, melainkan saya pasti menutupinya. Dan, saya suka memperbagus urusannya. Dan, tidaklah saya menghadapi seseorang yang raut wajahnya menyimpan sesuatu yang dibenci melainkan saya jelaskan kesalahannya secara empat mata. Kalau dia terima, alhamdulillah. Kalau tidak, maka saya tinggalkan”.
b. Saling menghormati dan menyayangi
Dalam kehidupan kaum muslimn, mereka dikelompokkan menjadi dua; senior dan yunior. Adakalanya dari usia dan adakalanya dari sisi kedudukan. Ukhuwwah islamiyyah mengharuskan adanya perangai ini di dalam muamalah mereka. Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda,
ليس منا من لم يرحمْ صغيرَنا ، ويُوَقِّرْ كبيرَنا (صحيح الجامع عن أنس بن مالك وعبدالله بن عمرو بن العاص وابن عباس )
“Tidaklah termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yunior kami, dan tidak menghormati senior kami” (Shahih al-Jami’ dari Anas bin Malik, Abdullah bin Amr bin al-Ash dan Ibnu Abbas)
Bentuk menghormati dan menyayangi bisa saja berbeda-beda antara satu bangsa dari bangsa lainnya. Kalau tradisi di suatu daerah bentuk penghormatan ketika melewati orang-orang tua dengan sedikit membungkukan badan, maka lakukanlah asalkan tidak ghuluw seperti menyerupai posisi ruku’, atau sujud, atau “ngesot-ngesot”. Demikian juga cium tangan, lakukanlah. Asalkan tidak ada ghuluw seperti berebutan karena memandang suatu keberkahan pada jasadnya.
Suatu ketika Nabi shallahu’alaihi wasallam menegur seseorang yang mendahului seniornya di dalam pembicaraan. Disebutkan dalam sebuah riwayat,
فانطلق عبدُالرحمنِ بنُ سَهلٍ، وحُوَيِّصَةُ ، ومُحَيِّصَةُ ابنا مسعودٍ إلى رسولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم ، فذهب عبدُالرحمنِ يتكلمُ ، فقال له رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: كبِّر الكُبْرَ (رواه البخارى ومسلم عن سهل بن أبي حثمة)
“Abdurrahman bin Sahl, Huwayyishoh dan Muhayyishoh keduanya putra Mas’ud radhiallahu’anhum. Mereka bertolak menuju Rasulullah shallahu’alaihi wasallam. Ketika itu Abdurrahman memulai pembicaraan. Maka Rasulullah shallahu’alaihi wasallam bersabda: Utamakan yang senior.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Sahl bin Abi Hatsmah)
Demikian juga di dalam bab menyayangi. Janganlah yang senior baik secara usia atau kedudukan menyepelekan yunior, dengan perkataan ataupun perbuatan. Janganlah mengabaikan mereka yang menjadikan hak-haknya tidak dipenuhi. Bersikap hangatlah kepada mereka sehingga tidak merasa keberadaannya terpinggirkan. Ingatlah reward yang besar sebagaimana disebutkan di dalam sebuah riwayat,
الرَّاحِمونَ يرحَمُهم الرَّحمنُ تبارَك وتعالى؛ ارحَموا مَن في الأرضِ يرحَمْكم مَن في السَّماءِ (رواه أبو داود والترمذى وأحمد)
“Para penyayang mereka disayangi Allah Ar-Rahman, sayangilah oleh kalian orang siapa yang ada di bumi maka akan menyayangi kalian siapa yang ada di langit” (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ahmad)
c. Bekerja sama
Allah ta’ala berfirman,
وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ (المائدة:2)
“Saling bekerjasamalah kalian di atas kebaikan dan takwa, dan janganlah kalian bekerjasama di atas dosa dan permusuhan” (QS. Al-Maidah)
Banyak sekali fenomena-fenomena dalam kehidupan bahwa kesuksesan Allah ta’ala berikan kepada pihak-pihak yang bekerjasama dan bersinergi secara kuat. Berikut ini beberapa contohnya:
a]. Para Shahabat berhasil menghalau pasukan sekutu kafir untuk “meringsek” ke dalam kota Madinah karena mereka bekerjasama bahu-membahu membikin parit di sekeliling arah masuk ke Madinah
b]. Abu Bakar bersama keluarganya bekerjasama untuk memuluskan hijrahnya Nabi shallahu’alaihi wasallam. Dia telah menyiapkan dua tunggangan. Ketika keduanya sampai di gua Tsur, dia yang masuk terlebih dulu untuk memastikan bahwa di dalamnya tidak ada sesuatu yang dikhawatikan. Sementara Asma binti Abu Bakar setiap hari mengirim makanan untuk keduanya selama berada di gua.
c]. Ta’awun-nya para Shahabat sesampainya di Madinah di dalam membangun masjid Nabawi. Nabi turut serta di dalamnya.
d]. Setiap dua orang dari Shahabat, satu orang berangkat jihad sementara satunya lagi meng-handle kemaslahatan seluruh keluarga kawannya yang berjihad tersebut. Disebutkan di dalam sebuah riwayat,
أنَّ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليْهِ وسلَّمَ بعثَ إلى بني لَحيانَ وقال: لِيخرُجْ من كلِّ رجُلَينِ رجلٌ، ثمَّ قالَ للقاعد: أيُّكم خلَفَ الخارجَ في أَهلِهِ ومالِهِ بخيرٍ، كانَ لَهُ مثلُ نصفِ أجرِ الخارجِ (رواه مسلم عن أبى سعيد الخدرى)
“Rasulullah shallahu’alaihi wasallam mengutus seseorang ke Bani Lahyan agar satu orang berangkat jihad. Lalu dikatakan kepada yang tidak berangkat: Siapa saja di antara kalian yang mengurus keluarga dan hartanya dengan baik maka baginya setengah dari pahala yang didapatkan oleh orang yang berangkat (jihad)” (HR. Muslim dan Abu Sa’id al-Khudri)
Sungguh mengagumkan ta’awun yang diteladankan oleh Nabi shallahu’alaihi wasallam dan para Shahabat. Tidak saja berhenti pada Shahabat tetapi harus terus berlangsung di tengah-tengah kaum muslimin hingga hari Kiamat. Karena ummat Islam diciptakan dengan ajaran untuk saling menguatkan sesama mereka. Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda,
المُؤْمِنَ للمؤمنِ كالبُنْيانِ يشدُّ بَعضُهُ بعضًا (رواه البخارى ومسلم عن أبى موسى الأشعرى)
“Mukmin yang satu bagi mukmin lainnya seperti bangunan yang sebagiannya menguatkan sebagian lainnya” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Musa al-Asy’ari)
Judul buku : UKHUWWAH ISLAMIYYAH
Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

