Solusi Investasi Akhirat Anda

Dan Datanglah Kemudahan

Selama dua tahun sejak kedatangan di pesantren, saya selalu disibukkan dengan urusan mencari pinjaman sepeda motor. Setelah itu tidak lagi. Alhamdulillah doa saya terkabul. Bapak-Bapak jamaah ngaji merasakan kesulitan yang sama alami. Lalu mereka pun bertujuh orang berkenan meminjami saya uang. Dari mereka uang terkumpul dan cukup untuk membeli cash motor bebek second tahun 2006. Selanjutnya saya harus memikirkan pengembalian hutang mereka. Kebutuhan harus di-“empet-empet”. Belanja diirit-irit.  Jangankan yang sifatnya sekunder, yang primer saja harus rela dengan ala kadarnya. Yang penting bisa hidup wajar dan sehat. Setiap hari makan lauknya ikan pindang yang digoreng untuk sarapan, makan siang dan makan malam.  Masak lauk sehari-hari dengan tungku dari batu bata yang ditumpuk di halaman dalam pesanten.  Untuk kayu bakarnya, istri sangat militan mencari di tambak-tambak dari pohon bakau yang sudah kering atau dikeringkan terlebih dahulu. Untuk kebutuhan minum dan memasak, air PDAM diendapkan dulu selama tiga hari. Anggaran untuk membeli air isi ulang dialihkan ke pempers si kecil Roobith Muhammad. Itu pun hanya dikenakan ketika mau pergi-pergi. Selebihnya dengan popok kain yang dibungkus lembaran plastiik. Alhamdulillah, dengan qona’ah yang sedemikian rupa hutang sepeda motor bisa diangksur dan terbayarkan kepada semuanya tanpa ada riba.

Bagi saya, sepeda motor adalah istri kedua. Dia sangat memudahkan urusan-urusan dakwah. “Kalau ada sepeda motor masuk Surga, insyaAllah sepeda motor saya termasuk yang masuk Surga. Ia hanya pergi dari masjid ke masjid, dari majlis taklim ke majlis taklim… tidak pernah ke bioskop atau tempat-tempat maksiat… heheheehe”, canda saya kepada teman-teman mensyukuri nikmat sepeda motor.

Perkembangan dakwah seringkali menuntut penyampaian kajian dengna LCD.  Maka, sepeda motor saya sangat berperan. Meskipun agak repot, dia bisa dipaksakan membawa LCD, laptop dan layar sekaligus. Seringkali teman-teman mengomentari, “Gak pake mobil aja, kan praktis?” “Belum ada mobilnya, Mas. Kita nikmati saja yang ada”, jawabku.

Saya lupa tepatnya tahun ke berapa sejak didirikan, kondisi pesantren dan masjidnya dirasakan  mulai nyaman dengan lampu penerangan dan air. Karena listrik dan PDAM  telah pasang sendiri, tidak lagi nyambung dari warga dan tidak lagi ngangsu. Kayaknya pada tahun ketiga. Thaybah telah berubah menjadi pesantren yang kondusif untuk tholabul ilmi. Santri mahasiswa tidak lagi mengeluhkan lampu penerangan yang byar pet. Mereka bisa sesuka hati mengoperasikan komputer, kipas angin, menanak nasi dengan rice cooker dan lain-lain. Air begitu berlimpah. Untuk mandi tidak lagi mengungsi ke kampus atau rumah warga. Berwudhu tidak lagi menggunakan air asin.  Beberapa tahun berikutnya lagi masjid benar-benar  berhamparan karpet yang bagus, tidak lagi berhamparan nyamuk yang menyerupai karpet. Nampaknya nyamuk mulai berhijrah ke rumah-rumah warga sekitar persantren. Yang dulunya hamparan tambak dan pohon bakau perlahan menjelma menjadi perumahan dan apartemen. Tidak ada lagi kekhawatiran terjerembab ke dalam lumpur. Kendaraan bisa keluar masuk kapan saja karena jalan telah diaspal dan dipaving. Bersambung…

Judul buku : BABAT ALAS DI DAERAH PINGGIRAN

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc.Hafizhahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)