8. Malu tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan
Suatu ketika ada seseorang menasehati saudaranya yang sangat pemalu. Dia mengkhawatirkan karakternya yang demikian akan menjadikannya lemah di dalam banyak hal termasuk di dalam menuntut haknya sendiri. Nabi shalallahu alaihi wasallam yang sedang melewati mereka menegurnya memberi arahan kepadanya agar membiarkannya sebagai pemalu. Ini menunjukkan keutamaan orang yang pemalu. Kejadian ini disebutkan di dalam riwayat berikut ini,
عن عبدالله بن عمر رضي الله عنهما مرَّ النبي صلى الله عليه وسلم على رجل، وهو يعاتب أخاه في الحياء، يقول: إنك لتستحيي حتى كأنه يقول قد أضر بك، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: دعه؛ فإن الحياء من الإيمان (أخرجه البخاري)
“Dari Abdullah bin Umar radiallahu anhu: Nabi shalallahu alaihi wasallam melewati seorang laki-laki yang sedang mencela saudaranya karena terlalu pemalu. Orang itu berkata: Sungguh engkau terlalu malu, seakan-akan dia berkata: “Sifat malumu itu sudah merugikanmu. Maka Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: Biarkanlah dia; sesungguhnya malu itu bagian dari iman.” (HR. Bukhari)
Tegasnya, malu tidak identik dengan lemah. Sangat tidak mungkin, karena justru Nabi shalallahu alaihi wasallam menyatakannya sebagai bagian dari iman. Dan, iman itu sumber segala kebaikan secara mutlak. Disebutkan di dalam Hadits,
عن عمران بن حصين رضي الله عنه، قال: قال النبي صلى الله عليه وسلم: الحياء لا يأتي إلا بخير، فقال بشير بن كعب: مكتوب في الحكمة إن من الحياء وقارًا، وإن من الحياء سكينة، فقال له عمران: أحدثك عن رسول الله صلى الله عليه وسلم وتحدثني عن صحيفتك (أخرجه البخاري ومسلم)
“Dari Imran bin Hushain radiallahu anhu, dia berkata: Nabi shalallahu alahi wasallam bersabda: Malu itu tidak datang kecuali dengan kebaikan. Lalu Basyir bin Ka’ab berkata: Tertulis dalam kitab hikmah: Sesungguhnya di antara sifat malu itu kewibawaan, dan di antara sifat malu itu ketenangan. Maka Imran berkata kepadanya: Aku menyampaikan kepadamu dari Rasulullah shalallahu alaihi wasallam lalu kamu malah menceritakan kepadaku dari lembaran catatanmu?” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan malu itu melahirkan kebaikan-kebaikan. Sama sekali tidak mendatangkan keburukan. Tetapi bukankah dalam realita kehidupan tidak semua malu mendatangkan kebaikan, ada juga malu yang mendatangkan keburukan. Pelakunya malu untuk menyampaikan ucapan-ucapan haq, malu untuk ber-amar ma’ruf dan ber-nahi munkar. Bagaimana menjelaskan hal semacam ini?
Jawabannya, itu bukanlah malu melainkan grogi, lemah, atau minder. Tetapi telah menjadi kebiasaan di tengah-tengah manusia disebutkan dengan MALU karena adanya penyerupaan dimana ia memiliki kesamaan makna dengan malu yang syar’i, yaitu sama-sama adanya rasa tidak nyaman di dalam hati dan menahan diri. Namun, hakikatnya bukanlah MALU meskipun dinamakan malu. Karena telah jelas sabda Nabi “Malu tidaklah datang melainkan dengan kebaikan”, jika tetap dinamakan dengan MALU, maka ia adalah malu yang tercela (madzmum).
Di antara kebaikan yang dilahirkan oleh sifat malu adalah waqor dan sakinah sebagaimana disebutkan di dalam Hadits di atas. Waqor maksudnya menjaga kehormatan diri dan orang lain. Sakinah maksudnya ketenangan yaitu tidak larut dan terpengaruh oleh kondisi sekitar yang bisa merusak reputasi diri.
Kenapa, di dalam Hadits di atas, Imron bin Hushain marah kepada Basyir bin Ka’ab yang mengatakan dari catatannya bahwa di antara sifat malu adalah waqor dan sakinah?
Imran bin Hushoin radiallahu anhu marah semata-mata karena mengkhawatirkan Sunnah akan bercampur dengan selainnya. Maka dia mengantisipasi jalan yang mengarah ke demikian dengan cara mengingkarinya. Kalau dibiarkan, bisa berpotensi menjadikan seseorang terbiasa mencampurkan antara Hadits dengan perkataan manusia biasa. Pada tahapan selanjutnya tidak lagi bisa dibedakan antara wahyu dan kata bijak.
9. Malu itu menghiasi, “srugal-srugul” itu menciderai
Coba bandingkanlah antara dua fenomena ini,
Pertama:
Seorang pelajar sebut saja namanya Badrun, dia tidak bisa ikut serta dalam kegiatan study tour ke beberapa kota. Sebenarnya teman-temannya sudah mendorong agar menghadap wali kelas atau kepala sekolah untuk digratiskan.
Dengan perasaan berat dia menyampaikan permintaan maaf kepada teman-teman sekelasnya dan wali kelasnya atas ketidakikutsertaannya. Bergelayut pada dirinya perasaan serba salah; di satu sisi takut mengecewakan teman-temannya, pada sisi yang lain tidak mungkin meminta uang kepada orang tuanya yang sangat miskin.
Sifat MALU yang ada pada dirinya sangat mencegahnya untuk melakukan saran teman-temannya. Hatinya sangat merasa tidak nyaman untuk meminta-minta kepada orang lain. Dia memilih diam, bersabar, dan menerima kenyataan ini.
Kedua:
Sementara teman sekelasnya sebut saja namanya Bodong, dia juga anak orang miskin. Orang tuanya tidak punya uang untuk membayar study tour tersebut. Tetapi dia merasa dirinya harus ikut. Maka, hampir kepada setiap teman dan gurunya dia mengiba untuk mendapatkan belas kasihan.
“Hai Ali, Ente kan anak orang kaya, tolonglah bilang ke Ayah Ente biar mbayarin saya”, pintanya kepada temannya.
“Hai Ahmad, Ente kan duitnya banyak. Buat jajan aja lhooo… banyak banget. Masak buat mbayarin saya satu orang saja nggak mau. Pelit ente….. dasar ente pelit….”, ucap dia memaksa kawannya.
“Pak guru, tolonglah saya Pak…. Saya digratiskan saja ya Pak….. Saya orang miskin Pak…. Kata Antum menolong sesama kan baik, ayo Pak saatnya mengamalkan ilmu yang Antum ajarkan…. !!!,” ucap dia mengiba kepada wali kelasnya.
Dari dua fenomena di atas, perangai siapakah yang Anda kagumi Badrun ataukah Bodong? Badrun bukan? Lihatlah betapa sifat malu telah menghiasi dirinya sehingga menjadikan teman-temannya respect kepadanya. Sementara Bodong yang “srugal-srugul” alias “muka tembok” reputasinya tercoreng oleh sikap dan prilakunya sendiri itu. Sehingga teman-temannya tidak rescpect kepadanya. Disebutkan di dalam Hadits,
عن أنس رضي الله عنه، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ما كان الفحش في شيء إلا شانه، وما كان الحياء في شيء إلا زانه (أخرجه الترمذي)
“Tidaklah “muka tembok” berada pada sesuatu kecuali ia akan memperburuknya. Dan tidaklah rasa malu berada pada sesuatu kecuali ia akan memperindahnya.” (HR. At-Tirmidzi)
10. Jika orang kafir memiliki sifat malu, sudah barang tentu orang mu’min lebih utama untuk memilikinya
Sudah seharusnya seorang muslim di dalam bertindak-tanduk dan bertutur kata terkondisikan untuk berhati-hati. Bagaimana tidak, keimanan dan ketaqwaan yang dimilikinya akan senantiasa membimbingnya setiap saat. Jika dijumpai orang kafir yang notabene tidak beriman tetapi memiliki rasa malu ketika melakukan pelanggaran, maka seorang muslim harus memiliki sifat malu dengan kadar yang lebih tinggi. Jika tidak, maka banyak-banyaklah berinstropeksi. Ingatkah Anda sosok Abu Sufyan yang menjawab apa adanya ketika diwawancarai oleh raja Heraklius? Dia malu dan risih kepada orang-orang yang di sekitarnya jika melakukan kebohongan. Dalam perjalanannya, dia pun kemudian masuk Islam. Disebutkan di dalam sebuah riwayat,
أنَّ رَسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم كَتَبَ إلى قَيصَرَ يَدعوه إلى الإسلامِ، وبَعَثَ بكِتابِه إليه مع دِحيةَ الكَلبيِّ، وأمَرَه رَسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم أن يَدفَعَه إلى عَظيمِ بُصرى ليَدفَعَه إلى قَيصَرَ، وكان قَيصَرُ لَمَّا كَشَفَ اللهُ عنه جُنودَ فارِسَ، مَشى مِن حِمصَ إلى إيلياءَ شُكرًا لما أبلاه اللهُ، فلَمَّا جاءَ قَيصَرَ كِتابُ رَسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم، قال حينَ قَرَأهُ: التَمِسوا لي هاهُنا أحَدًا مِن قَومِه؛ لأسألَهم عن رَسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم، قال ابنُ عَبَّاسٍ: فأخبَرَني أبو سُفيانَ بنُ حَربٍ أنَّه كان بالشَّأمِ في رِجالٍ مِن قُرَيشٍ قدِموا تِجارًا في المُدَّةِ التي كانَت بينَ رَسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم وبينَ كُفَّارِ قُرَيشٍ، قال أبو سُفيانَ: فوجَدَنا رَسولُ قَيصَرَ ببَعضِ الشَّأمِ، فانطُلِقَ بي وبأصحابي، حتَّى قدِمنا إيلياءَ، فأُدخِلنا عليه، فإذا هو جالِسٌ في مَجلِسِ مُلكِه، وعليه التَّاجُ، وإذا حَولَه عُظَماءُ الرُّومِ، فقال لتَرجُمانِه: سَلهُم أيُّهم أقرَبُ نَسَبًا إلى هذا الرَّجُلِ الذي يَزعُمُ أنَّه نَبيٌّ، قال أبو سُفيانَ: فقُلتُ: أنا أقرَبُهم إليه نَسَبًا، قال: ما قَرابةُ ما بينَكَ وبينَه؟ فقُلتُ: هو ابنُ عَمِّي، وليسَ في الرَّكبِ يَومَئذٍ أحَدٌ مِن بَني عبدِ مَنافٍ غيري، فقال قَيصَرُ: أدنوه، وأمَرَ بأصحابي، فجُعِلوا خَلفَ ظَهري عِندَ كَتِفي، ثُمَّ قال لتَرجُمانِه: قُل لأصحابِه: إنِّي سائِلٌ هذا الرَّجُلَ عَنِ الذي يَزعُمُ أنَّه نَبيٌّ، فإن كَذَبَ فكَذِّبوه، قال أبو سُفيانَ: واللهِ لَولا الحَياءُ يَومَئذٍ مِن أن يَأثُرَ أصحابي عَنِّي الكَذِبَ لَكَذَبتُه حينَ سَألَني عنه، ولَكِنِّي استَحيَيتُ أن يَأثُروا الكَذِبَ عَنِّي، فصَدَقتُه، ثُمَّ قال لتَرجُمانِه: قُلْ له كيفَ نَسَبُ هذا الرَّجُلِ فيكُم؟ قُلتُ: هو فينا ذو نَسَبٍ، قال: فهل قال هذا القَولَ أحَدٌ مِنكُم قَبلَه؟ قُلتُ: لا، فقال: كُنتُم تَتَّهِمونَه على الكَذِبِ قَبلَ أن يَقولَ ما قال؟ قُلتُ: لا، قال: فهل كان مِن آبائِه مِن مَلِكٍ؟ قُلتُ: لا، قال: فأشرافُ النَّاسِ يَتَّبِعونَه أم ضُعَفاؤُهم؟ قُلتُ: بَل ضُعَفاؤُهم، قال: فيَزيدونَ أو يَنقُصونَ؟ قُلتُ: بَل يَزيدونَ، قال: فهل يَرتَدُّ أحَدٌ سَخطةً لدينِه بَعدَ أن يَدخُلَ فيه؟ قُلتُ: لا، قال: فهل يَغدِرُ؟ قُلتُ: لا، ونَحنُ الآنَ منه في مُدَّةٍ، نَحنُ نَخافُ أن يَغدِرَ -قال أبو سُفيانَ: ولَم يُمكِنِّي كَلِمةٌ أُدخِلُ فيها شيئًا أنتَقِصُه به، لا أخافُ أن تُؤثَرَ عَنِّي غَيرُها-، قال: فهل قاتَلتُموه أو قاتَلَكم؟ قُلتُ: نَعَم، قال: فكيفَ كانَت حَربُه وحَربُكُم؟ قُلتُ: كانَت دُوَلًا وسِجالًا، يُدالُ علينا المَرَّةَ، ونُدالُ عليه الأُخرى، قال: فماذا يَأمُرُكُم بهِ؟ قال: يَأمُرُنا أن نَعبُدَ اللهَ وحدَه لا نُشرِكُ به شيئًا، ويَنهانا عَمَّا كان يَعبُدُ آباؤُنا، ويَأمُرُنا بالصَّلاةِ، والصَّدَقةِ، والعَفافِ، والوفاءِ بالعَهدِ، وأداءِ الأمانةِ، فقال لتَرجُمانِه حينَ قُلتُ ذلك له: قُلْ له: إنِّي سَألتُكَ عن نَسَبِه فيكُم، فزَعَمتَ أنَّه ذو نَسَبٍ، وكَذلك الرُّسُلُ تُبعَثُ في نَسَبِ قَومِها، وسَألتُكَ: هل قال أحَدٌ مِنكُم هذا القَولَ قَبلَه، فزَعَمتَ أن لا، فقُلتُ: لو كان أحَدٌ مِنكُم قال هذا القَولَ قَبلَه، قُلتُ: رَجُلٌ يَأتَمُّ بقَولٍ قد قيلَ قَبلَه، وسَألتُكَ: هل كُنتُم تَتَّهِمونَه بالكَذِبِ قَبلَ أن يَقولَ ما قال، فزَعَمتَ أن لا، فعَرَفتُ أنَّه لَم يَكُنْ ليَدَعَ الكَذِبَ على النَّاسِ ويَكذِبَ على اللهِ، وسَألتُكَ: هل كان مِن آبائِه مِن مَلِكٍ، فزَعَمتَ أن لا، فقُلتُ: لو كان مِن آبائِه مَلِكٌ، قُلتُ: يَطلُبُ مُلكَ آبائِه، وسَألتُكَ: أشرافُ النَّاسِ يَتَّبِعونَه أم ضُعَفاؤُهم، فزَعَمتَ أنَّ ضُعَفاءَهمُ اتَّبَعوه، وهم أتباعُ الرُّسُلِ، وسَألتُكَ: هل يَزيدونَ أو يَنقُصونَ، فزَعَمتَ أنَّهم يَزيدونَ، وكَذلك الإيمانُ حتَّى يَتِمَّ، وسَألتُكَ هل يَرتَدُّ أحَدٌ سَخطةً لدينِه بَعدَ أن يَدخُلَ فيه، فزَعَمتَ أنْ لا، فكَذلك الإيمانُ حينَ تَخلِطُ بَشاشَتُه القُلوبَ، لا يَسخَطُه أحَدٌ، وسَألتُكَ هل يَغدِرُ، فزَعَمتَ أن لا، وكَذلك الرُّسُلُ لا يَغدِرونَ، وسَألتُكَ: هل قاتَلتُموه وقاتلكم، فزَعَمتَ أن قد فعَلَ، وأنَّ حَربَكُم وحَربَه تَكونُ دُوَلًا، ويُدالُ عليكمُ المَرَّةَ وتُدالونَ عليه الأُخرى، وكَذلك الرُّسُلُ تُبتَلى وتَكونُ لَها العاقِبةُ، وسَألتُكَ: بماذا يَأمُرُكُم، فزَعَمتَ أنَّه يَأمُرُكُم أن تَعبُدوا اللهَ ولا تُشرِكوا به شيئًا، ويَنهاكُم عَمَّا كان يَعبُدُ آباؤُكُم، ويَأمُرُكُم بالصَّلاةِ، والصَّدَقةِ، والعَفافِ، والوفاءِ بالعَهدِ، وأداءِ الأمانةِ، قال: وهذه صِفةُ النَّبيِّ، قد كُنتُ أعلَمُ أنَّه خارِجٌ، ولَكِن لَم أظُنَّ أنَّه مِنكُم، وإن يَكُ ما قُلتَ حَقًّا فيوشِكُ أن يَملِكَ مَوضِعَ قدَمَيَّ هاتَينِ، ولو أرجو أن أخلُصَ إليه لَتَجَشَّمتُ لُقيَّه، ولو كُنتُ عِندَه لَغَسَلتُ قدَمَيه، قال أبو سُفيانَ: ثُمَّ دَعا بكِتابِ رَسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم، فقُرِئَ، فإذا فيه: بسمِ اللهِ الرَّحمَنِ الرَّحيمِ، مِن مُحَمَّدٍ عبدِ اللهِ ورَسولِه، إلى هِرَقلَ عَظيمِ الرُّومِ، سَلامٌ على مَنِ اتَّبَعَ الهُدى، أمَّا بَعدُ: فإنِّي أدعوكَ بدِعايةِ الإسلامِ، أسلِمْ تَسلَمْ، وأسلِمْ يُؤتِكَ اللهُ أجرَكَ مَرَّتَينِ، فإن تَولَّيتَ فعليك إثمُ الأريسيِّينَ، و: {يا أهلَ الكِتابِ تَعالَوا إلى كَلِمةٍ سَواءٍ بينَنا وبينَكُم ألَّا نَعبُدَ إلَّا اللهَ ولا نُشرِكَ به شيئًا ولا يَتَّخِذَ بَعضُنا بَعضًا أربابًا مِن دونِ اللهِ فإن تَولَّوا فقولوا اشهَدوا بأنَّا مُسلِمونَ} [آل عمران: 64]، قال أبو سُفيانَ: فلَمَّا أن قَضى مَقالتَه عَلَت أصواتُ الذينَ حَولَه مِن عُظَماءِ الرُّومِ، وكَثُرَ لَغَطُهم، فلا أدري ماذا قالوا، وأُمِرَ بنا فأُخرِجنا، فلَمَّا أن خَرَجتُ مع أصحابي وخَلَوتُ بهِم قُلتُ لهم: لقد أَمِرَ أمرُ ابنِ أبي كَبشةَ! هذا مَلِكُ بَني الأصفَرِ يَخافُه، قال أبو سُفيانَ: واللهِ ما زِلتُ ذَليلًا مُستَيقِنًا بأنَّ أمرَه سَيَظهَرُ، حتَّى أدخَلَ اللهُ قَلبي الإسلامَ وأنا كارِهٌ (رواه البخارى)
“Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menulis surat kepada Kaisar Heraklius mengajaknya masuk Islam. Surat itu dikirim bersama Dihyah Al-Kalbi radiallahu anhu, dan beliau memerintahkan untuk menyerahkannya kepada penguasa Bushra agar diteruskan kepada Kaisar. Ketika itu Allah ta’ala telah mengalahkan pasukan Persia dengan memenangkan Kaisar, maka Kaisar berjalan dari Hims ke Iliya’ -Baitul Maqdis- sebagai bentuk syukur atas kemenangan yang Allah berikan. Setelah surat Rasulullah shalallahu alaihi wasallam sampai kepada Kaisar, beliau berkata ketika membacanya: Carikan untukku di sini seseorang dari kaumnya untuk aku tanyai tentang Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.
Ibnu Abbas radiallahu anhu berkata: Abu Sufyan bin Harb mengabarkan kepadaku bahwa ketika itu ia sedang berada di Syam bersama beberapa orang Quraisy yang datang berdagang, pada masa perjanjian antara Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dan orang-orang kafir Quraisy.
Abu Sufyan berkata: Utusan Kaisar menemui kami di sebagian wilayah Syam, lalu kami dibawa sampai ke Iliya’. Kami dipersilakan masuk ke hadapannya. Dia sedang duduk di singgasana kerajaannya, mengenakan mahkota, dan di sekelilingnya para pembesar Romawi.
Lalu ia berkata kepada penerjemahnya: Tanyakan kepada mereka, siapa di antara kalian yang paling dekat nasabnya dengan orang yang mengaku Nabi itu?
Abu Sufyan berkata: Aku menjawab, saya yang paling dekat nasabnya dengannya.
Kaisar bertanya: Apa hubungan kekerabatanmu dengannya?
Aku menjawab: Ia anak pamanku.
Dan saat itu tidak ada seorang pun dari Bani Abdul Manaf di rombongan itu selain aku.
Kaisar berkata: Dekatkan dia.
Lalu ia memerintahkan agar teman-temanku ditaruh di belakangku, di samping pundakku.
Kemudian ia berkata kepada penerjemahnya: Katakan kepada teman-temannya, aku akan bertanya kepada orang ini tentang orang yang mengaku Nabi itu. Jika ia berbohong, maka dustakanlah ia.
Abu Sufyan berkata: Demi Allah, seandainya bukan karena malu pada hari itu jika teman-temanku menyatakan bahwa aku berbohong, pasti aku akan berbohong ketika ditanya tentang beliau. Tetapi aku malu jika mereka meriwayatkan kebohonganku, maka aku pun jujur kepadanya.
Lalu Kaisar berkata kepada penerjemahnya: Katakan padanya: Bagaimana nasab orang itu di tengah kalian?
Aku menjawab: Ia orang terpandang nasabnya di antara kami.
Kaisar bertanya: Apakah ada orang di antara kalian yang mendakwahkan hal ini sebelumnya?
Aku menjawab: Tidak.
Kaisar bertanya: Apakah kalian menuduhnya sebagai pembohong sebelum ia mendakwahkan apa yang ia dakwahkan?
Aku menjawab: Tidak.
Kaisar bertanya: Apakah ada di antara nenek moyangnya seorang raja?
Aku menjawab: Tidak.
Kaisar bertanya: Apakah para pembesar atau orang-orang lemah yang mengikutinya?
Aku menjawab: Orang-orang lemahlah yang mengikutinya.
Kaisar bertanya: Apakah pengikutnya bertambah atau berkurang?
Aku menjawab: Bertambah.
Kaisar bertanya: Apakah ada orang yang murtad karena benci agamanya setelah masuk ke dalamnya?
Aku menjawab: Tidak.
Kaisar bertanya: Apakah ia berkhianat?
Aku menjawab: Tidak. Dan kami sekarang sedang dalam masa perjanjian dengannya, kami takut ia berkhianat.
Abu Sufyan berkata: Aku tidak bisa menyelipkan kalimat apa pun untuk mencela beliau selain kalimat itu, dan aku tidak takut kalimat selain itu akan dinukil dariku.
Kaisar bertanya: Apakah kalian pernah berperang melawannya atau ia memerangi kalian?
Aku menjawab: Ya.
Kaisar bertanya: Bagaimana peperangan kalian dengannya?
Aku menjawab: Silih berganti. Kadang ia menang atas kami, kadang kami menang atasnya.
Kaisar bertanya: Lalu apa yang ia perintahkan kepada kalian?
Aku menjawab: Ia memerintahkan kami untuk menyembah Allah saja, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Ia melarang kami menyembah apa yang disembah nenek moyang kami. Ia memerintahkan kami untuk shalat, sedekah, menjaga kehormatan, menepati janji, dan menunaikan amanah.
Kaisar berkata kepada penerjemahnya setelah aku mengatakan semua itu: Katakan kepadanya:
Aku telah bertanya kepadamu tentang nasabnya, lalu engkau meyakini ia orang terpandang nasabnya. Dan demikianlah para Rasul, diutus di tengah nasab kaumnya.
Aku bertanya: Apakah ada orang di antara kalian yang mendakwahkan ini sebelumnya? Engkau meyakini tidak. Maka aku katakan seandainya ada orang di antara kalian yang mendakwahkan sebelumnya, maka berarti dia itu orang yang meniru dakwah yang pernah didakwahkan sebelumnya.
Aku bertanya: Apakah kalian menuduhnya pembohong sebelum ia mendakwahkan apa yang ia dakwahkan? Engkau meyakini tidak. Maka aku tahu ia tidak akan meninggalkan dusta kepada manusia lalu berdusta atas nama Allah.
Aku bertanya: Apakah ada di antara nenek moyangnya seorang raja? Engkau meyakini tidak. Aku katakan seandainya ada raja dari nenek moyangnya maka aku katakan bahwa Ia menuntut kerajaan nenek moyangnya.
Aku bertanya: Apakah para pembesar atau orang-orang lemah yang mengikutinya? Engkau memastikan orang-orang lemahlah yang mengikutinya. Dan mereka itulah pengikut para Rasul.
Aku bertanya: Apakah pengikutnya bertambah atau berkurang? Engkau meyakini mereka bertambah. Dan demikianlah iman hingga menjadi sempurna.
Aku bertanya: Apakah ada orang yang murtad karena benci agamanya setelah masuk ke dalamnya? Engkau meyakini tidak. Memang demikianlah iman, ketika rasa manisnya mengkristal ke dalam hati, tidak ada seorang pun yang membencinya.
Aku bertanya: Apakah ia berkhianat? Engkau meyakini tidak. Dan demikianlah para Rasul, mereka tidak berkhianat.
Aku bertanya: Apakah kalian pernah memeranginya dan ia memerangi kalian? Engkau memastikan ia telah melakukannya, dan peperangan kalian dengannya silih berganti. Kadang ia menang atas kalian, kadang kalian menang atasnya. Dan demikianlah para Rasul, mereka diuji dan kesudahan yang baik untuk mereka.
Aku bertanya: Apakah kalian pernah memeranginya dan ia memerangi kalian? Engkau memastikan ia telah melakukannya, dan peperangan kalian dengannya silih berganti. Kadang ia menang atas kalian, kadang kalian menang atasnya. Dan demikianlah para Rasul, mereka diuji dan kesudahan yang baik untuk mereka.
Aku bertanya: Apa yang ia perintahkan kalian? Engkau memastikan ia memerintahkan kalian agar menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, melarang kalian menyembah apa yang disembah nenek moyang kalian, dan memerintahkan kalian shalat, sedekah, menjaga kehormatan, menepati janji, dan menunaikan amanah. Ini adalah sifat seorang Nabi. Aku memang sudah tahu bahwa ia akan diutus, tapi aku tidak menyangka ia dari kalangan kalian. Jika benar apa yang engkau katakan, maka hampir saja ia akan menguasai tempat kedua kakiku ini. Seandainya aku bisa sampai kepadanya, pasti aku akan bersusah payah untuk menemuinya. Dan seandainya aku di dekatnya, pasti aku akan membasuh kedua kakinya.”
Abu Sufyan berkata: Kemudian Kaisar meminta didatangkan surat Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, lalu dibacakan:
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Dari Muhammad hamba Allah dan Rasul-Nya, kepada Heraklius penguasa Romawi.
Keselamatan bagi orang yang mengikuti petunjuk.
Amma ba’du: Sesungguhnya aku mengajakmu dengan seruan Islam. Masuk Islamlah, niscaya engkau selamat. Masuk Islamlah, niscaya Allah ta’ala akan memberimu pahala dua kali lipat. Jika engkau berpaling, maka engkau menanggung dosa rakyat Arisiyin.
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ ۚ فَإِن تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ (النساء: 46)
‘Katakanlah: Wahai Ahli Kitab, marilah menuju kepada satu kalimat yang sama antara kami dan kalian, bahwa kita tidak menyembah selain Allah, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan sebagian kita tidak menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling, maka katakanlah: Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang Muslim.’ (QS. Ali Imran: 64)
Abu Sufyan berkata: Setelah Kaisar selesai berkata, meninggilah suara para pembesar Romawi di sekelilingnya dan gaduhlah mereka, aku tidak tahu apa yang mereka katakan. Lalu kami diperintahkan keluar. Ketika aku keluar bersama teman-temanku dan kami menyendiri, aku berkata kepada mereka:
Sungguh urusan Ibnu Abi Kabsyah -maksudnya Nabi shalallahu alaihi wasallam telah menjadi besar! Raja Bani Al-Ashfar -Romawi- saja takut kepadanya.
Abu Sufyan berkata: Demi Allah, aku terus merasa hina dan yakin bahwa urusannya pasti akan menang, sampai Allah memasukkan Islam ke dalam hatiku padahal aku membencinya.” (HR. Bukhari)
Dalam perjalanan waktu tepatnya ketika Fathu Makkah Abu Sufyan beriman kepada Nabi shalallahu alaihi wasallam.
Abu Sufyan berkata: Demi Allah, pada hari itu seandainya bukan karena malu jika teman-temanku menyatakan bahwa aku berbohong, pasti aku akan berbohong ketika ditanya tentang beliau. Tetapi aku malu jika mereka meriwayatkan kebohonganku, maka aku pun jujur kepadanya.
Judul buku : Malu
Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

