3. Setiap agama memiliki tabi’at, dan tabi’at Islam adalah malu
Masing-masing negara memiliki tabi’at tersendiri. Contoh: Tabi’at orang Indonesia itu ramah, orang Jepang disiplin, orang China kerja keras, orang Amerika menghargai waktu, orang Jerman efisiensi, orang Arab blak-blakan dan lain-lain. Demikian juga tentang agama. Tahukah Anda apa tabi’at agama Islam? Tabi’at agama Islam adalah malu. Disebutkan di dalam Hadits,
عن أنس رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إن لكل دين خُلُقًا وخُلُق الإسلام الحياء (أخرجه ابن ماجه)
“Dari Anas radiallahu anhu, dia berkata, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya tiap-tiap agama memiliki tabi’at, dan tabi’at Islam itu adalah malu” (HR. Ibnu Majah)
Maksud Hadits ini, betapa malu adalah watak yang menghiasi orang-orang sholeh dari kalangan pemeluk agama ini atau kebanyakan mereka. Hadits ini juga bermakna bahwa tabiat dan watak yang disyariatkan di dalam Islam adalah malu. Untuk itu pemeluknya dikhususkan dengannya. Ia adalah amalan yang terus dikuatkan pada jiwa muslim dan pelakunya diberi pahala atasnya. Tabi’at ini terus meningkat seiring dengan meningkatnya kesholihan. Sebaliknya, ia semakin berkurang seiring berkurangnya kesholihan. Bertambah dengan bertambahnya keshalihan, dan berkurang dengan berkurangnya keshalihan. Jadi, intinya malu itu kekhususan bagi muslim karena ia penyempurna akhlak-akhlak mulia. Dengan malu, tegak dan indahnya agama menjadi sempurna. Apakah Anda sudah didominasi dengan tabiat malu yang notabene kekhususan bagi muslim?
4. Nabi Musa alaihissalam saking pemalunya menutupkan pakaiannya ke seluruh tubuhnya
Disebutkan di dalam Hadits,
عن أبي هريرة رضي الله عنه، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إن موسى عليه السلام كان رجلًا حَيِيًّا سِتِّيرًا، لا يُرى من جلده شيء استحياء منه، فآذاه من آذاه من بني إسرائيل، فقالوا: ما يستتر هذا التستر إلا من عيب بجلده؛ إما برصٌ، وإما أُدْرَة، وإما آفة، وإن الله أراد أن يبرئه مما قالوا لموسى، فخلا يومًا وحده فوضع ثيابه على الحجر ثم اغتسل، فلما فرغ أقبل إلى ثيابه ليأخذها، وإن الحجر عدا بثوبه فأخذ موسى عصاه وطلب الحجر، فجعل يقول: ثوبي حجر، ثوبي حجر، حتى انتهى إلى ملأ من بني إسرائيل فرأوه عريانًا، أحسن ما خلق الله وأبرأه مما يقولون، وقام الحجر فأخذ ثوبه، فلبسه وطفق بالحجر ضربًا بعصاه، فوالله إن بالحجر لندبًا من أثر ضربه ثلاثًا أو أربعًا أو خمسًا؛ فذلك قوله: ﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ آذَوْا مُوسَى فَبَرَّأَهُ اللَّهُ مِمَّا قَالُوا وَكَانَ عِنْدَ اللَّهِ وَجِيهًا ﴾ [الأحزاب: 96] (أخرجه البخاري)
“Dari Abu Hurairah radiallahu anhu, dia berkata: Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Musa alaihissalam adalah seorang laki-laki yang sangat pemalu dan suka menutupi diri (berpakaian rapat). Tidak ada sedikit pun dari kulitnya yang terlihat karena rasa malunya. Lalu ada sebagian Bani Israil yang menyakitinya. Mereka berkata: Dia tidaklah menutup diri (berpakaian rapat) sedemikian rupa melainkan terdapat aib pada kulitnya; bisa jadi penyakit kusta, atau hernia, atau cacat lainnya. Allah hendak membersihkan Musa dari tuduhan mereka. Pada suatu hari Musa menyendiri, lalu dia meletakkan pakaiannya di atas batu kemudian mandi. Ketika selesai mandi, dia menuju pakaiannya untuk mengambilnya. Tiba-tiba batu itu lari membawa pakaiannya. Musa pun mengambil tongkatnya dan mengejar batu itu sambil berkata: Pakaianku, wahai batu! Pakaianku, wahai batu!’ Dia terus mengejarnya hingga di kerumunan Bani Israil. Mereka pun melihatnya dalam keadaan telanjang, dan dia adalah makhluk Allah yang paling bagus. Dengan ini Allah ta’ala membersihkan Musa dari apa yang mereka tuduhkan. Batu itu lalu berhenti, Musa mengambil pakaiannya dan memakainya. Kemudian dia memukuli batu itu dengan tongkatnya. Demi Allah, sungguh pada batu itu terdapat bekas pukulan Musa, tiga, empat atau lima kali pukulan. Inilah maksud firman Allah: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa, maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan. Dan dia seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah’.” [QS. Al-Ahzab: 69] (HR. Bukhari)
Disebutkan di dalam “Fathul Bari”, zhahirnya Hadits menunjukkan bahwa syareat ketika itu membolehkan kaum lelaki Bani Israil untuk mandi sesama mereka dengan telanjang. Sementara Nabi Musa alaihissalam saking pemalunya tidak pernah mandi bersama mereka. Tetapi beliau selalu mandi sendirian [selesai]
Bani Israil selalu mencari celah aib pada Nabinya. Bukan saja terkait akhlak dan prilakunya melainkan juga yang terkait dengan fisik. Sebagaimana disebutkan pada Hadits di atas mereka menggunjing tubuhnya Nabi Musa dengan berbagai tuduhan karena beliau selalu mandi sendirian tidak mau berbarengan. Lalu Allah ta’ala membersihkan tuduhan-tuduhan tersebut yang akhirnya mereka melihat dengan kepala mereka sendiri betapa Nabi Musa alaihissalam terbebas dari apa yang mereka tuduhkan. Yang menjadi renungan kita adalah bukankah hal itu dibolehkan oleh syareat ketika itu? Iya betul, tetapi rasa malu pada diri Nabi Musa alaihissalam menjadikan beliau tidak pernah bergabung mandi bersama. Jangankan terlihat auratnya, untuk terlihat dari bagian tubuhnya saja beliau tidak memperkenankan. Beliau selalu menutup rapat seluruh bagian tubuhnya dengan kain karena saking malunya sebagaimana diberitakan oleh Nabi kita Muhammad shalallahu alaihi wasallam.
Wahai wanita muslimah zaman now! Anda tentu menyadari betapa aurat wanita berbeda dengan lelaki. Aurat wanita itu seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Bagaimana mungkin Anda memperlihatkan bagian tubuh Anda yang notabene aurat, padahal Nabi Musa alaihissalam sangat malu untuk memperlihatkan bagian tubuhnya yang notabene bukan aurat. Apakah Anda rela untuk dikatakan sebagai muslimah yang kehilangan jati dirinya? JATI DIRI MUSLIMAH ADALAH SIFAT MALU.
Bukan saja kaum wanita. Anda juga wahai saudara muslim. Pantaskah Anda main bola dengan celana pendek? Berenang dengan celana dalam saja meskipun di tengah kaum lelaki? keluar rumah dengan terlihat auratanya? Telah hilangkah rasa malu pada diri Anda? Ingat, di situlah kadar keimanan kita.
5. Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam lebih pemalu daripada gadis dalam pingitannya
Sebagaimana Nabi Musa alaihissalam sosok yang sangat pemalu, maka demikian pula Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam.
Shahabat Anas bin Malik radiallahu anhu menuturkannya,
وكان النبي صلى الله عليه وسلم شديد الحياء… (أخرجه البخاري)
“Nabi shalallahu alaihi wasallalm adalah orang yang sangat pemalu” (HR. Bukhari)
Shahabat Abu Sa’id al-Khudri radiallahu anhu juga menuturkan,
كان النبي صلى الله عليه وسلم أشدَّ حياء من العذراء في خدرها (أخرجه البخاري)
“Nabi shalallahu alaihi wasallam lebih pemalu daripada gadis dalam pingitannya” (HR. Bukhari)
Abu Sa’id Al-Khudri radiallahu anhu mengabarkan bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam lebih pemalu daripada seorang gadis yang belum pernah menikah dan belum bergaul dengan laki-laki, yang tinggal tertutup di rumahnya. Termasuk bentuk sangat pemalunya beliau, apabila beliau tidak menyukai sesuatu maka wajah beliau berubah, namun beliau tidak mengatakannya. Bahkan para Shahabat bisa memahami ketidaksukaan beliau cukup dari raut wajahnya saja. Beberapa contoh malunya Nabi shalallahu alaihi wasallam di dalam sebagian riwayat berikut ini:
a. Malu ketika sudah menjelaskan kepada penanya wanita tentang haidh tetapi belum paham juga.
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ امْرَأَةً مِنَ الأَنْصَارِ قَالَتْ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : كَيْفَ أَغْتَسِلُ مِنَ المَحِيضِ ؟ قَالَ : خُذِي فِرْصَةً مُمَسَّكَةً ، فَتَوَضَّئِي ثَلاَثًا ثُمَّ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَحْيَا ، فَأَعْرَضَ بِوَجْهِهِ ، أَوْ قَالَ : تَوَضَّئِي بِهَا فَأَخَذْتُهَا فَجَذَبْتُهَا ، فَأَخْبَرْتُهَا بِمَا يُرِيدُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (رواه البخارى ومسلم)
“Dari Aisyah radiallahu anha: Ada seorang wanita Anshar bertanya kepada Nabi shalallahu alaihi wasallam: Wahai Rasulullah, bagaimana cara aku mandi dari haid? Beliau menjawab: Ambillah sepotong kapas yang diberi minyak wangi, lalu bersihkanlah dengannya sebanyak tiga kali. Nabi shalallahu alaihi wasallam pun merasa malu lalu memalingkan wajahnya. Atau beliau bersabda: “Bersucilah dengannya.” Lalu aku ambil dan tarik wanita itu ke samping, dan aku jelaskan kepadanya apa yang dimaksud Nabi shalallahu alahi wasallam” (HR. Bukhari dan Muslim)
Nabi shalallahu alaihi wasallam malu dengan keadaan tersebut, akhirnya wanita itu ditarik oleh Aisyah radiallahu anha lalu dijelaskan kepadanya tentang penjelasan beliau shalallahu alahi wasallam.
b. Malu, enggan menyuruh pergi orang-orang yang telah usai makan di rumahnya.
بُنيَ على النَّبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم بزَينَبَ بنتِ جَحشٍ بخُبزٍ ولَحمٍ، فأُرسِلتُ على الطَّعامِ داعيًا فيَجيءُ قَومٌ فيَأكُلونَ ويَخرُجونَ، ثُمَّ يَجيءُ قَومٌ فيَأكُلونَ ويَخرُجونَ، فدَعَوتُ حتَّى ما أجِدُ أحَدًا أدعو، فقُلتُ: يا نَبيَّ اللهِ ما أجِدُ أحَدًا أدعوه، قال: ارفَعوا طَعامَكُم، وبَقيَ ثَلاثةُ رَهطٍ يَتَحَدَّثونَ في البَيتِ، فخَرَجَ النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم فانطَلَقَ إلى حُجرةِ عائِشةَ فقال: السَّلامُ علَيكُم أهلَ البَيتِ ورَحمةُ اللهِ، فقالت: وعليك السَّلامُ ورَحمةُ اللهِ، كيفَ وجَدتَ أهلَكَ؟ بارَكَ اللهُ لَكَ، فتَقَرَّى حُجَرَ نِسائِه كُلِّهنَّ، يقولُ لهنَّ كما يقولُ لعائِشةَ، ويَقُلنَ له كما قالت عائِشةُ، ثُمَّ رَجَعَ النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم فإذا ثَلاثةٌ مِن رَهطٍ في البَيتِ يَتَحَدَّثونَ، وكان النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم شَديدَ الحَياءِ، فخَرَجَ مُنطَلِقًا نَحوَ حُجرةِ عائِشةَ، فما أدري آخبَرتُه أو أُخبِرَ أنَّ القَومَ خَرَجوا، فرَجَعَ حتَّى إذا وضَعَ رِجلَه في أُسكُفَّةِ البابِ داخِلةً، وأُخرى خارِجةً، أرخى السِّترَ بَيني وبينَه، وأُنزِلَت آيةُ الحِجابِ (رواه البخارى ومسلم)
“Ketika Nabi shalallahu alaihi wasallam menikah dengan Zainab binti Jahsy, beliau mengadakan walimah dengan roti dan daging. Aku diutus untuk mengundang orang ke acara makan itu. Datanglah satu rombongan, mereka makan lalu pulang. Lalu datang lagi rombongan lain, makan lalu pulang. Aku terus mengundang sampai akhirnya nggak ada lagi orang yang bisa kuundang. Lalu saya berkata: Wahai Nabi Allah, aku sudah tidak menemukan orang lagi untuk diundang.
Beliau shalallahu alaihi wasallam bersabda: Angkatlah makanan kalian.
Tapi masih ada 3 orang yang tetap ngobrol di rumah. Nabi shalallahu alaihi wasallam keluar menuju kamar Aisyah dan mengucapkan: Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.
Aisyah menjawab: Wa’alaikumussalam warahmatullah. Bagaimana keadaan keluargamu? Semoga Allah memberkahimu.
Lalu beliau mendatangi kamar istri-istrinya satu-satu, mengucapkan salam seperti ke Aisyah, dan mereka menjawab seperti Aisyah.
Kemudian Nabi shalallahu alaihi wasallam kembali, ternyata 3 orang itu masih terus berbincang di rumah beliau. Padahal Nabi itu orangnya sangat pemalu. Beliau keluar lagi menuju kamar Aisyah. Saya tidak tahu apakah saya yang memberitahu beliau, atau beliau diberitahu bahwa mereka sudah pulang. Lalu beliau kembali.
Saat beliau sudah melangkahkan satu kakinya ke ambang pintu ke dalam, dan satu kaki masih di luar, ketika itu tirai pun diturunkan antara aku dan beliau. Dan turunlah ayat hijab.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik)
Ayat yang turun adalah surat Al-Ahzab ayat 53:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu beliau malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu sangat besar (dosanya) di sisi Allah.
Judul buku : Malu
Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

