Skip to main content

Solusi Investasi Akhirat Anda

Malu bagian 2

Mari kita coba melihat ketergelinciran mereka, apakah benar sebagai suatu kesalahan secara mutlak?

a. Nabi Adam alaihissalam

Kesalahan Nabi Adam alaihissalam bukanlah kesalahan mutlak karena tidak menyengaja melakukan pembangkangan. Melainkan itu adalah “kesalahan ijtihad” atau “kelupaan”, yang terjadi karena beliau tertipu oleh tipu daya dan sumpah palsu Iblis, atau karena dikalahkan oleh lupa yang melingkupi dirinya. Dosa Adam alaihissalam tidak berasal dari kesombongan atau kekufuran sebagaimana dosa Iblis yang nyata-nyata membangkang tidak mengindahkan perintah Allah ta’ala. Lagi pula Adam dan Hawa begitu kesalahan terjadi, mereka langsung mengakui dosa, menyesal, dan memohon ampun dengan kalimat-kalimat yang Allah ajarkan kepada mereka. Ini menunjukkan kejujuran ubudiyah mereka. Meski demikian, Adam alaihissalam merasa sangat malu hingga tidak sanggup merespon manusia yang membutuhkan syafa’at, dan mengarahkannya agar datang kepada Nabi Nuh alaihissalam.

b. Nabi Nuh alaihissalam

Kesalahan Nabi Nuh alaihissalam bukanlah kesalahan mutlak dalam pengertian yang mencederai ke-ma’sum-an yang wajib bagi para Nabi. Melainkan itu adalah ijtihad dan pentakwilan terhadap rahmat yang dijanjikan.

Nuh alaihissalam memohon kepada Rabb-nya agar anaknya diselamatkan, karena beliau menyangka bahwa kata “keluarga” mencakup anaknya. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,

حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَ أَمْرُنَا وَفَارَ ٱلتَّنُّورُ قُلْنَا ٱحْمِلْ فِيهَا مِن كُلٍّ زَوْجَيْنِ ٱثْنَيْنِ وَأَهْلَكَ إِلَّا مَن سَبَقَ عَلَيْهِ ٱلْقَوْلُ وَمَنْ ءَامَنَ ۚ وَمَآ ءَامَنَ مَعَهُۥٓ إِلَّا قَلِيلٌ (هود:40)

“Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman: “Bawalah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman”. Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.” (QS. Hud: 40)

Allah ta’ala berfirman “keluargamu”, Nabi Nuh alaihissalam memahaminya siapapun yang merupakan keluarga, maka beliau alaihissalam memohonkan keselamatan bagi anaknya yang tidak beriman. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,

وَنَادَىٰ نُوحٌ رَّبَّهُۥ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ٱبْنِى مِنْ أَهْلِى وَإِنَّ وَعْدَكَ ٱلْحَقُّ وَأَنتَ أَحْكَمُ ٱلْحَٰكِمِينَ (هود: 45)

“Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itu benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.” (QS. Hud: 45)

Ternyata hal itu terlarang, beliau pun ditegur. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya,

قَالَ يَٰنُوحُ إِنَّهُۥ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ ۖ إِنَّهُۥ عَمَلٌ غَيْرُ صَٰلِحٍ ۖ فَلَا تَسْـَٔلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۖ إِنِّىٓ أَعِظُكَ أَن تَكُونَ مِنَ ٱلْجَٰهِلِينَ (هود:46)

“Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan” (QS. Hud: 46)

Allah ta’ala menegur dan menjelaskan, anaknya bukanlah termasuk keluarganya karena perbuatannya yang tidak saleh. Dan permintaan keselamatan untuk orang kafir termasuk dalam perkara yang tidak diketahui ilmunya oleh seorang hamba.

Nabi Nuh alaihissalam pun langsung men-taubati- ketergelincirannya. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,

قَالَ رَبِّ إِنِّىٓ أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْـَٔلَكَ مَا لَيْسَ لِى بِهِۦ عِلْمٌ ۖ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِى وَتَرْحَمْنِىٓ أَكُن مِّنَ ٱلْخَٰسِرِينَ (هود:47)

“Nuh berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi” (QS. Hud: 47)

Nyatalah kesalahan Nuh alaihissalam bukanlah kesalahan mutlak melainkan kesalahan ijtihadi. Meski demikian, beliau j merasa sangat malu. Subhanallah

c. Ibrahim alaihissalam

Nabi Ibrahim alaihissalam merasa dirinya melakukan tiga kali kebohongan. Tetapi sebenarnya bukan kebohongan melainkan tawriyah. Yaitu menyampaikan ungkapan yang makna zhahirnya  bukan yang dikehendakinya. Ini perkara yang diperbolehkan di dalam syareat. Namun demikian, beliau alaihissalam merasa berdosa.

Dalam Hadits Syafa’at, Nabi Ibrahim alaihissalam meminta maaf dan berkata: “Aku tidak pantas untuk itu.” Beliau menyebut “tiga kedustaan”. Maksud dari ucapan ini dalam syariat bukanlah dusta yang diharamkan. Itu termasuk “al-ma’aridh wat-tawriyah” – ungkapan yang makna zhahirnya bertentangan dengan kenyataan, namun dibolehkan untuk menolak kezhaliman atau menegakkan hujjah. Syaikh Ibnu Baz rahimahullah menjelaskan tiga peristiwa tersebut:

1. Ucapan beliau: “Sesungguhnya aku sedang sakit” [As-Saffat: 89]. Beliau mengatakannya kepada kaumnya ketika mereka mengajaknya keluar bersama mereka ke hari raya kaum musyrikin. Beliau beralasan sakit agar bisa tinggal sendirian dan berkesempatan menghancurkan berhala-berhala mereka. Yang beliau maksud adalah bukan sakit secara fisik tetapi secara batin; kok bisa berhala disembah, di mana nalarnya?

2. Ucapan beliau: “Bahkan yang melakukannya adalah berhala yang besar ini” [Al-Anbiya: 63]

Ketika beliau menghancurkan berhala-berhala dan menyisakan berhala yang paling besar, lalu menggantungkan kapak di lehernya. Ketika mereka bertanya, “Siapa yang melakukan ini?” Beliau menjawab bahwa yang besar itulah yang melakukannya, agar mereka berpikir dengan akal mereka dan mengetahui bahwa berhala itu benda mati yang tidak bisa memberi manfaat dan mudharat. Ini termasuk ta’ridh untuk sampai kepada kebenaran. Ta’ridh artinya sindiran atau menyampaikan sesuatu secara tidak langsung. Yang dimaksud oleh beliau alaihissalam: betapa kalian mengebiri akal kalian kok bisa patung yang tidak bisa berbuat apa-apa kalian menyembahnya.

3. Ucapan beliau tentang istrinya Sarah: “Sesungguhnya dia adalah saudariku”. Ketika beliau melewati seorang raja dari kalangan penguasa yang zhalim, lalu raja itu bertanya tentang Sarah. Ibrahim khawatir akan dibunuh jika raja itu tahu bahwa Sarah adalah istrinya. Maka beliau berkata, “Dia saudariku,” yakni saudara seagama Islam. Mengapa beliau merasa tidak pantas untuk memberikan syafaat? Perkara-perkara yang beliau lakukan itu dalam rangka membela tauhid dan menyeru kepada kebenaran. Namun beliau takut mendapat teguran dari Allah subhanahu wata’ala, dan merasa malu untuk memberi syafaat bagi manusia di tempat yang agung itu karena telah mengucapkan kata-kata yang bertentangan dengan zhahirnya kenyataan.

d. Nabi Musa alaihissalam

Beliau alaihissalam telah membunuh orang Qibti. Beliau alaihissalam sangat menyesali perbuatannya. Padahal beliau tidak bermaksud membunuhnya. Jadi, itu semata-mata pembunuhan yang tidak disengaja. An-Naqqasy (seorang mufassir dan Syaikhu-l-Qurro’,  wafat tahun 980 H di Baghdad)  berkata: Dia tidak membunuhnya dengan sengaja. Dia hanya memukulnya sekali, maksudnya untuk mencegah kezhaliman orang tersebut. Meski demikian beliau sangat menyesalinya. Beliau alaihissalam pun terus menyebut-nyebut kesalahan itu pada dirinya, padahal beliau mengetahui Allah ta’ala telah mengampuninya. Pada hari Kiamat nanti beliau berkata: “Aku pernah membunuh satu jiwa yang aku tidak diperintah membunuhnya”. Beliau menganggapnya sebagai dosa, karena memang para Nabi itu lebih takut dari apa yang ditakuti selain mereka.

e. Nabi Isa alaihissalam

Beliau alaihissalam tidak menyebutkan suatu kesalahan yang diperbuatanya, Lalu, kenapa tidak menyanggupi syafa’at yang diminta oleh manusia? Jawabannya, Isa alaihissalam mengarahkan mereka agar mendatangi Muhammad shalallahu alaihi wasallam sebagai bentuk penghormatan dan pemuliaan kepada beliau shalallahu alaihi wasallam.

Adapun selain Isa alaihissalam menyebutkan suatu kesalahan yang diperbuatnya sebagai alasan ketidaksanggupannya memberikan syafa’at. Para Nabi bersikap tawadhu kepada Allah ta’ala dan mengingat apa yang mereka anggap sebagai kekurangan, sehingga mereka merasa malu untuk meminta syafaat agung itu. Sebagaimana Nabi shalallahu alaihi wasallam malu kepada Allah ta’ala untuk meminta keringanan shalat terus-menerus ketika mi’raj.

Awalnya disyariatkan shalat sebanyak 50 waktu. Ketika turun di langit keenam berjumpa dengan Nabi Musa alaihissalam dan menyarankannya agar menghadap Allah ta’ala kembali untuk meminta keringanan. Beliau shalallahu alaihi wasallam pun menghadap beberapa kali hingga diringankan menjadi 5 waktu. Nabi Musa alaihissalam terus saja memotivasinya untuk meminta keringanan lagi. Maka beliau shalallahu alaihi wasallam menjawab,

يا موسى، قد واللهِ استَحيَيتُ مِن رَبِّي ممَّا اختَلَفتُ إليه (رواه البخارى ومسلم عن أبى ذر الغفارى)

“Wahai Musa, demi Allah sungguh aku malu kepada Rabb-ku dari bolak-balik menghadap-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Dzar Al-Ghifari)

Ini menunjukkan adabnya beliau shalallahu alaihi wasallam kepada Allah ta’ala. Beliau malu untuk meminta keringanan lagi. Sebagaimana Anda yang bolak-balik dan terus-menerus diberi pemberian oleh Ayah/Ibu, lalu Anda malu untuk memintanya lagi. Maka, Anda menunjukkan adab kepada Ayah/Ibu Anda.

Judul buku : Malu

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)