Solusi Investasi Akhirat Anda

Nama Tuhan kita Allah (اللَّهُ) bagian 2

a. Ketika mendengar seorang Sahabat dengan doa ini,

اللهمَّ إنِّي أسألُك بأني أشهدُ أنك أنت اللهُ لا إلهَ إلا أنتَ الأحدُ الصمدُ الذي لم يلدْ ولم يولدْ ولم يكنْ له كفُوًا أحدٌ (رواه أبو داود والترمذى وأحمد وابن ماجه عن بريدة بن الحصيب الأسلامى)

Ya Allah aku memohon kepada-Mu dengan wasilah bahwa aku bersaksi bahwa Engkaulah Allah yang tiada Tuhan selain Engkau yang Mahaesa , Tempat bergantung segala sesuatu, Yang tidak melahirkan dan tidak pula dilahirkan dan tiada seorang pun yang menyamai-Nya

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

والَّذي نَفسي بيدِهِ لقد سألَ اللَّهَ باسمِهِ الأعظمِ الَّذي إذا دُعِيَ بِهِ أجابَ، وإذا سُئِلَ بِهِ أعطى (رواه سنن أبى داود)

“Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya. Sungguh dia telah memohon dengan nama-Nya yang Agung, yang jika diseru dengannya (nama tersebut) Dia akan meng-ijabah-I, jika diminta dengannya Dia akan memberi” (Sunan Abu Daud)

b. Penyebutannya di dalam Al-Qur’an sangatlah banyak mencapai 2724 kali

c. Penempatan Nama-Nama lainnya disebutkan setelah nama ini [“Allah” (اللَّهُ)] sebagai sifat disamping sebagai nama. Contoh: 

ٱللَّهُ أَحَدٌ، ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ،  ٱللَّهُ ٱلرَّحْمَٰنُ، ٱللَّهُ ٱلرَّحِيمُ

Tidak disebutkan dengan,

أَحَدٌ ٱللَّهُ  ، ٱلصَّمَدُ ٱللَّهُ ،  ٱلرَّحْمَٰنُ ٱللَّهُ ، ٱلرَّحِيمُ ٱللَّهُ

d. Nama [“Allah” (اللَّهُ) mengharuskan seluruh makna pada asmau-l-husna. Maksudnya, ia mengandung seluruh makna tersebut secara global yang seluruh Nama dan Sifat-Nya merupakan rincian dan penjelasan bagi sifat Tuhan [“Ilaah” (إِلَه)] di mana dari lafazh inilah terbentuknya Nama [“Allah” (اللَّهُ) yang menunjukkan sebagai Dzat yang disembah, diibadahi, diagungkan, disandari dan ditunduki oleh seluruh siapapun selain-Nya karena butuhnya mereka kepada-Nya.

e. Dia ta’ala memperkenalkan diri kepada Nabi Musa alaihissalam dengan nama “Allah” (اللَّهُ).

– Ketika mengutusnya ke kaumnya, Dia berfirman dengan menyebut diri-Nya “Allah” (اللَّهُ),

وَأَنَا ٱخْتَرْتُكَ فَٱسْتَمِعْ لِمَا يُوحَىٰٓ () إِنَّنِىٓ أَنَا ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعْبُدْنِى وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكْرِىٓ (طه: 14-13)

Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku(QS. Thoha: 13-14)

– Ketika menyerunya di gunung Tursina sepulang dari Madyan bersama keluarganya, 

فَلَمَّآ أَتَىٰهَا نُودِىَ مِن شَٰطِئِ ٱلْوَادِ ٱلْأَيْمَنِ فِى ٱلْبُقْعَةِ ٱلْمُبَٰرَكَةِ مِنَ ٱلشَّجَرَةِ أَن يَٰمُوسَىٰٓ إِنِّىٓ أَنَا ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَٰلَمِينَ (القصص:30)

“Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang sebelah kanan(nya) pada tempat yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu, yaitu: “Ya Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah, Tuhan semesta alam“ (QS. Al-Qoshosh: 30).

f. Dipanjatkannya doa kepada-Nya kebanyakan dengan lafazh  “Allahumma”  (ٱللَّهُمَّ) yang maknanya “Ya Allah” (يَا اللّه). Coba perhatikan seluruh kalimat setelah lafazh  “Allahumma”  (ٱللَّهُمَّ) adalah bentuk kalimat permintaan. Contoh:

ٱللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي bukan—> ٱللَّهُمَّ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

اللهم ارزقنا رزقًا واسعًا حلالًا طيبًا bukan —> ٱللَّهُمَّ رَّزَّاقُ

D. Tadabbur

Jika seorang mukmin telah memahami makna nama ini, “Allah” (اللَّهُ) di mana ia melazimi seluruh al-Asmau-l-Husna dan sifat-sifat-Nya maka akan terpatri di dalam hatinya perkara-perkara yang agung dan pengaruh yang besar. Di antaranya:

1. Cinta kepada-Nya dengan kadar yang sangat tinggi sehingga mengalahkan cinta kepada apapun dan siapapun bahkan kepada dirinya. Dan, ini makna Hadits,

حديث أنس بن مالك – ثلاثٌ مَنْ كُنَّ فيه وجَدَ حلاوَةَ الإيمانِ : أنْ يكونَ اللهُ و رسولُهُ أحبُّ إليه مِمَّا سِواهُما ، و أنْ يُحِبَّ المرْءَ لا يُحبُّهُ إلَّا للهِ ، و أنْ يَكْرَهَ أنْ يَعودَ في الكُفرِ بعدَ إذْ أنقذَهُ اللهُ مِنْهُ ؛ كَما يَكرَهُ أنْ يُلْقى في النارِ (رواه البخارى ومسلم)

“Dari Anas bin Malik dari Nabi shalallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang, ia akan mendapatkan manisnya iman: Dijadikannya Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya. Jika ia mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena Allah. Dan dia benci untuk kembali kepada kekufuran seperti dia benci bila dilempar ke Neraka” (HR. Bukhari dan Muslim)

Coba kita renungkan! Kalau ada orang yang sangat baik kepada orang lain. Kekayaan, harta dan kekuasan yang dimilikinya digunakan sebesar-besarnya bagi kemaslahatan orang-orang sekitarnya dan siapapun yang terjangkau olehnya. Ia selalau membagi-bagi sembako untuk orang yang membutuhkannya, selalu andil dalam kegiatan sosial apapun, kendaraannya dipersilahkan untuk digunakan secara free bagi yang membutuhkannya seperti mengantar orang sakit dan semacamnya, dan kekuasaannya dimanfaatkan sebagai power untuk menolong siapapun yang perlu ditolong. Kira-kira terhadap orang yang ihwalnya sangat baik seperti ini orang-orang sangat mencintainya ataukah tidak? Jawabannya jelas, pasti sangat mencintainya. Sadarilah itu baru kebaikan manusia yang sangat terbatas dalam segala aspeknya. Terbatas secara keadaan, waktu dan tempat. Tetapi manusia begitu mencintainya. Maka, bagaimanakah dengan Allah azza wa jalla, Tuhan yang segalanya Maha Sempurna. Dengan kesadaran ini, akan melecutkan kita untuk meningkatkan kecintaan kepada-Nya. Karena itulah, seorang hamba yang menyeru-Nya, “Allahumma” (ٱللَّهُمَّ) yang maknanya “Ya Allah” (يَا اللّه) akan merasakan ketenangan dan kedamaian.

2. Syaikh As-Sa’di berkata yang kurang lebihnya berikut ini: Seorang hamba khusus (‘Ibadur-r-Rahman) dalam menghambakan diri, menyembah, merendahkan diri, dan menundukkan diri kepada-Nya dilakukannya dengan hati, ruh, ucapan dan perbuatannya sesuai dengan tingginya kadar keimanan. Ia pun mengenali-Nya seluas pengetahuan tentang-Nya yang menjadikannya sangat mencitai-Nya mengalahkan cinta kepada siapapun dan apapun. Tetapi, bukannya bertentangan antara cinta kepada-Nya dengan cinta kepada anak, orangtua, harta dan bentuk-bentuk kesenangan. Melainkan semuanya itu ditempatkan dalam koredor cinta kepada-Nya. Jadi, cintanya kepada siapapun dan apapun mengikuti cintanya kepada-Nya. Pada tahapan selanjutnya, ia akan lebih mengejar untuk mencintai orang, waktu, tempat, keadaan dan apapun yang secara khusus dicintai oleh Allah ta’ala seperti Nabi, Shahabat, orang-orang yang shalih, masidil Haram, sepertiga malam terakhir, shalat tepat waktu, sujud dan lain-lain.

3. Pengagungan kepada-Nya di dalam mengikhlaskan ibadah semakin meningkat.

4. Kuatnya penyandaran kepada-Nya semakin meningkat sehingga seorang hamba hanya bergantung dan terikat kepada-Nya yang menjadikannya hanya takut dan bersandar kepada-Nya, tidak ada siapapun dan apapun yang ditakuti dan “digandoli”. Harta dan kedudukan yang dimilikinya tidak menjadikannya merasa mulia dengannya.

Betapa banyak orang yang merasa mulia dengan harta dan kedudukannya tetapi apa yang dibanggakannya itu tidak bisa berbuat apa-apa.

   مَآ أَغْنَىٰ عَنِّى مَالِيَهْ ۜ () هَلَكَ عَنِّى سُلْطَٰنِيَهْ (الحاقة: 28-29)

Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah lenyap (pula) kekuasaan dariku

5. Di antara pengaruh dari pemahaman yang mendalam terhadap nama “Allah” (اللَّهُ) adalah tenang, bahagia dan perasaan lezat di hati terhadap-Nya. Tentang ini Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah rahima hullah mengatakan: Perasaan lapang, gembira, bagusnya waktu dan bagusnya kenikmatan apapun yang tidak mungkin diungkapkan dengan kata-kata tidak lain karena seseorang  mengenal Allah, beriman kepada-Nya dan mentauhidkan-Nya serta tersingkapnya hakikat-hakikat keimanan, dan wawasan-wawasan Qur’aniyyah. Sebagaimana sebagian ulama berkata: Aku pernah menyampaikan bahwa penduduk Surga dalam kondisi kenikmatan hidup yang luar biasa sedemikian rupa. Sungguh tidak ada kesenangan dan kelezatan sempurna di dalam hati kecuali karena kecintaan kepada Allah ta’ala dan bertaqorrub (pendekatan) kepada-Nya dengan perkara-perkara yang dicintainya dan memalingkan diri dari kecintaan terhadap apapun selain-Nya. Inilah hakikat makna “لآ اِلَهَ اِلّا اللّهُ” [selesai].

Hal-hal yang menguatkan bahwa “Allah” (اللَّهُ) adalah Nama yang paling agung:

a. Ketika mendengar seorang Sahabat dengan doa ini,

اللهمَّ إنِّي أسألُك بأني أشهدُ أنك أنت اللهُ لا إلهَ إلا أنتَ الأحدُ الصمدُ الذي لم يلدْ ولم يولدْ ولم يكنْ له كفُوًا أحدٌ (رواه أبو داود والترمذى وأحمد وابن ماجه عن بريدة بن الحصيب الأسلامى)

Ya Allah aku memohon kepada-Mu dengan wasilah bahwa aku bersaksi bahwa Engkaulah Allah yang tiada Tuhan selain Engkau yang Mahaesa , Tempat bergantung segala sesuatu, Yang tidak melahirkan dan tidak pula dilahirkan dan tiada seorang pun yang menyamai-Nya

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

والَّذي نَفسي بيدِهِ لقد سألَ اللَّهَ باسمِهِ الأعظمِ الَّذي إذا دُعِيَ بِهِ أجابَ، وإذا سُئِلَ بِهِ أعطى (رواه سنن أبى داود)

“Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya. Sungguh dia telah memohon dengan nama-Nya yang Agung, yang jika diseru dengannya (nama tersebut) Dia akan meng-ijabah-I, jika diminta dengannya Dia akan memberi” (Sunan Abu Daud)

b. Penyebutannya di dalam Al-Qur’an sangatlah banyak mencapai 2724 kali

c. Penempatan Nama-Nama lainnya disebutkan setelah nama ini [“Allah” (اللَّهُ)] sebagai sifat disamping sebagai nama. Contoh: 

ٱللَّهُ أَحَدٌ، ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ،  ٱللَّهُ ٱلرَّحْمَٰنُ، ٱللَّهُ ٱلرَّحِيمُ

Tidak disebutkan dengan,

أَحَدٌ ٱللَّهُ  ، ٱلصَّمَدُ ٱللَّهُ ،  ٱلرَّحْمَٰنُ ٱللَّهُ ، ٱلرَّحِيمُ ٱللَّهُ

d. Nama [“Allah” (اللَّهُ) mengharuskan seluruh makna pada asmau-l-husna. Maksudnya, ia mengandung seluruh makna tersebut secara global yang seluruh Nama dan Sifat-Nya merupakan rincian dan penjelasan bagi sifat Tuhan [“Ilaah” (إِلَه)] di mana dari lafazh inilah terbentuknya Nama [“Allah” (اللَّهُ) yang menunjukkan sebagai Dzat yang disembah, diibadahi, diagungkan, disandari dan ditunduki oleh seluruh siapapun selain-Nya karena butuhnya mereka kepada-Nya.

e. Dia ta’ala memperkenalkan diri kepada Nabi Musa alaihissalam dengan nama “Allah” (اللَّهُ).

– Ketika mengutusnya ke kaumnya, Dia berfirman dengan menyebut diri-Nya “Allah” (اللَّهُ),

وَأَنَا ٱخْتَرْتُكَ فَٱسْتَمِعْ لِمَا يُوحَىٰٓ () إِنَّنِىٓ أَنَا ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعْبُدْنِى وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكْرِىٓ (طه: 14-13)

Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku(QS. Thoha: 13-14)

– Ketika menyerunya di gunung Tursina sepulang dari Madyan bersama keluarganya, 

فَلَمَّآ أَتَىٰهَا نُودِىَ مِن شَٰطِئِ ٱلْوَادِ ٱلْأَيْمَنِ فِى ٱلْبُقْعَةِ ٱلْمُبَٰرَكَةِ مِنَ ٱلشَّجَرَةِ أَن يَٰمُوسَىٰٓ إِنِّىٓ أَنَا ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَٰلَمِينَ (القصص:30)

“Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang sebelah kanan(nya) pada tempat yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu, yaitu: “Ya Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah, Tuhan semesta alam“ (QS. Al-Qoshosh: 30).

f. Dipanjatkannya doa kepada-Nya kebanyakan dengan lafazh  “Allahumma”  (ٱللَّهُمَّ) yang maknanya “Ya Allah” (يَا اللّه). Coba perhatikan seluruh kalimat setelah lafazh  “Allahumma”  (ٱللَّهُمَّ) adalah bentuk kalimat permintaan. Contoh:

ٱللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي bukan—> ٱللَّهُمَّ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

اللهم ارزقنا رزقًا واسعًا حلالًا طيبًا bukan —> ٱللَّهُمَّ رَّزَّاقُ

D. Tadabbur

Jika seorang mukmin telah memahami makna nama ini, “Allah” (اللَّهُ) di mana ia melazimi seluruh al-Asmau-l-Husna dan sifat-sifat-Nya maka akan terpatri di dalam hatinya perkara-perkara yang agung dan pengaruh yang besar. Di antaranya:

1. Cinta kepada-Nya dengan kadar yang sangat tinggi sehingga mengalahkan cinta kepada apapun dan siapapun bahkan kepada dirinya. Dan, ini makna Hadits,

حديث أنس بن مالك – ثلاثٌ مَنْ كُنَّ فيه وجَدَ حلاوَةَ الإيمانِ : أنْ يكونَ اللهُ و رسولُهُ أحبُّ إليه مِمَّا سِواهُما ، و أنْ يُحِبَّ المرْءَ لا يُحبُّهُ إلَّا للهِ ، و أنْ يَكْرَهَ أنْ يَعودَ في الكُفرِ بعدَ إذْ أنقذَهُ اللهُ مِنْهُ ؛ كَما يَكرَهُ أنْ يُلْقى في النارِ (رواه البخارى ومسلم)

“Dari Anas bin Malik dari Nabi shalallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang, ia akan mendapatkan manisnya iman: Dijadikannya Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya. Jika ia mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena Allah. Dan dia benci untuk kembali kepada kekufuran seperti dia benci bila dilempar ke Neraka” (HR. Bukhari dan Muslim)

Coba kita renungkan! Kalau ada orang yang sangat baik kepada orang lain. Kekayaan, harta dan kekuasan yang dimilikinya digunakan sebesar-besarnya bagi kemaslahatan orang-orang sekitarnya dan siapapun yang terjangkau olehnya. Ia selalau membagi-bagi sembako untuk orang yang membutuhkannya, selalu andil dalam kegiatan sosial apapun, kendaraannya dipersilahkan untuk digunakan secara free bagi yang membutuhkannya seperti mengantar orang sakit dan semacamnya, dan kekuasaannya dimanfaatkan sebagai power untuk menolong siapapun yang perlu ditolong. Kira-kira terhadap orang yang ihwalnya sangat baik seperti ini orang-orang sangat mencintainya ataukah tidak? Jawabannya jelas, pasti sangat mencintainya. Sadarilah itu baru kebaikan manusia yang sangat terbatas dalam segala aspeknya. Terbatas secara keadaan, waktu dan tempat. Tetapi manusia begitu mencintainya. Maka, bagaimanakah dengan Allah azza wa jalla, Tuhan yang segalanya Maha Sempurna. Dengan kesadaran ini, akan melecutkan kita untuk meningkatkan kecintaan kepada-Nya. Karena itulah, seorang hamba yang menyeru-Nya, “Allahumma” (ٱللَّهُمَّ) yang maknanya “Ya Allah” (يَا اللّه) akan merasakan ketenangan dan kedamaian.

2. Syaikh As-Sa’di berkata yang kurang lebihnya berikut ini: Seorang hamba khusus (‘Ibadur-r-Rahman) dalam menghambakan diri, menyembah, merendahkan diri, dan menundukkan diri kepada-Nya dilakukannya dengan hati, ruh, ucapan dan perbuatannya sesuai dengan tingginya kadar keimanan. Ia pun mengenali-Nya seluas pengetahuan tentang-Nya yang menjadikannya sangat mencitai-Nya mengalahkan cinta kepada siapapun dan apapun. Tetapi, bukannya bertentangan antara cinta kepada-Nya dengan cinta kepada anak, orangtua, harta dan bentuk-bentuk kesenangan. Melainkan semuanya itu ditempatkan dalam koredor cinta kepada-Nya. Jadi, cintanya kepada siapapun dan apapun mengikuti cintanya kepada-Nya. Pada tahapan selanjutnya, ia akan lebih mengejar untuk mencintai orang, waktu, tempat, keadaan dan apapun yang secara khusus dicintai oleh Allah ta’ala seperti Nabi, Shahabat, orang-orang yang shalih, masidil Haram, sepertiga malam terakhir, shalat tepat waktu, sujud dan lain-lain.

3. Pengagungan kepada-Nya di dalam mengikhlaskan ibadah semakin meningkat.

4. Kuatnya penyandaran kepada-Nya semakin meningkat sehingga seorang hamba hanya bergantung dan terikat kepada-Nya yang menjadikannya hanya takut dan bersandar kepada-Nya, tidak ada siapapun dan apapun yang ditakuti dan “digandoli”. Harta dan kedudukan yang dimilikinya tidak menjadikannya merasa mulia dengannya.

Betapa banyak orang yang merasa mulia dengan harta dan kedudukannya tetapi apa yang dibanggakannya itu tidak bisa berbuat apa-apa.

   مَآ أَغْنَىٰ عَنِّى مَالِيَهْ ۜ () هَلَكَ عَنِّى سُلْطَٰنِيَهْ (الحاقة: 28-29)

Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah lenyap (pula) kekuasaan dariku

5. Di antara pengaruh dari pemahaman yang mendalam terhadap nama “Allah” (اللَّهُ) adalah tenang, bahagia dan perasaan lezat di hati terhadap-Nya. Tentang ini Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah rahima hullah mengatakan: Perasaan lapang, gembira, bagusnya waktu dan bagusnya kenikmatan apapun yang tidak mungkin diungkapkan dengan kata-kata tidak lain karena seseorang  mengenal Allah, beriman kepada-Nya dan mentauhidkan-Nya serta tersingkapnya hakikat-hakikat keimanan, dan wawasan-wawasan Qur’aniyyah. Sebagaimana sebagian ulama berkata: Aku pernah menyampaikan bahwa penduduk Surga dalam kondisi kenikmatan hidup yang luar biasa sedemikian rupa. Sungguh tidak ada kesenangan dan kelezatan sempurna di dalam hati kecuali karena kecintaan kepada Allah ta’ala dan bertaqorrub (pendekatan) kepada-Nya dengan perkara-perkara yang dicintainya dan memalingkan diri dari kecintaan terhadap apapun selain-Nya. Inilah hakikat makna “لآ اِلَهَ اِلّا اللّهُ” [selesai].

Judul Buku: Memahami Al-Asma’ul Husna Jilid 10

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)