Solusi Investasi Akhirat Anda

Nama Tuhan kita Allah (اللَّهُ) 

A. Penyebutan Nama “Allah” (اللَّهُ) di dalam Nash

Di dalam Al-Qur’an nama “Allah” (اللَّهُ)  disebutkan sebanyak 2724 kali. Nama ini khusus bagi-Nya saja. Tidak boleh siapapun selain-Nya yang menggunakan nama “Allah” (اللَّهُ).

B. Penjelasan lafazh “Allah” (اللَّهُ) Secara Bahasa

Sebagian besar ahli ilmu berpandangan, Lafazh “Allah” (اللَّهُ) itu “musytaq” (bentukan). Namun, mereka berbeda pendapat mengenai asal bentukannya. Sebagian mereka ada yang berpendapat; asal bentukannya dari kata “ilaah” (إِلَه) seperti fi’aal (فِعَال) lalu dimasukkan padanya alif dan laam sebagai ganti hamzah. Sebagaimana kata “An-Naas” (النَّاس) berasal dari “Unaas” (أُنَاس).

Sebagian ahli ilmu lainnya berpandangan, lafazh “Allah” (اللَّهُ) itu bukan “musytaq” (bentukan). Ia adalah isim jamid (sudah aslinya memang demikian, Pent.). Ia bermakna Dzat Yang Disucikan. Huruf alif dan laam-nya (ال) bagian dari kata ini, bukan alif laam ta’rif yang masuk padanya. Hal ini dengan bukti, lafazh “Allah” (اللَّهُ)  itu bisa dimasuki  huruf nida’. Anda akan melafazhkannya dengan “Ya Allah” (يَا أَللَّهُ) bukan  “Ya-llah” (يَا اللَّهُ). Tegasnya alif laam ta’rif itu tidak bisa dimasuki huruf nida’. Seperti lafazh “Ar-Rahman” (أَلرَّحۡمَٰنُ ) ketika dimasuki huruf nida’, maka Anda akan mengucapkanya “Ya-r-Rahman” (يَا الرَّحۡمَٰنُ) bukan Ya Ar-Rahman” 

Ada ulama yang me-rajih-kan, ia itu “musytaq” (bentukan) berasal dari kata “ilaah” (إِلَه) yang berarti “ma’luh”  (مألوه)  artinya Dzat Yang diibadahi.

Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah rahima hullah menjelaskan kurang lebihnya berikut ini: Makna kata “ilaah” (إِلَه) berpola “ فعال“   berrmakna “مفعول “artinya “ma’luuh” ( مألوه)  yang berarti Dzat yang diibadahi, tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Dia. Seluruh yang diibadahi yang berada di bawah ‘arsy hingga  dasar bumi semuanya batil. Ini sebagaimana lafazh “rikaab” ( ركاب)  yang bermakna “markuub” (مركوب) dan “himaal” (حمال) bermakna “mahmuul” (محمول). Jika seorang telah menghambakan diri kepada-Nya dan mengesakan-Nya maka janganlah ia menjadikan bersama-Nya tuhan lain. Allah azza wa jalla berfirman,

فَلَا تَدْعُ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ فَتَكُونَ مِنَ ٱلْمُعَذَّبِينَ (الشعراء:213)

Maka janganlah kamu menyeru tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang diadzab (QS. Asy-Syu’ara: 213)

لَّا تَجْعَلْ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ فَتَقْعُدَ مَذْمُومًا مَّخْذُولًا (الإسراء:22)

Janganlah kamu menjadikan tuhan lain di samping Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah) (QS. Al-Isra: 22)

وَإِذْ قَالَ إِبْرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ ءَازَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا ءَالِهَةً ۖ إِنِّىٓ أَرَىٰكَ وَقَوْمَكَ فِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ (الأنعام:74)

Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata” (QS. Al-An’am: 74)

Makhluk bukanlah ilaah. Tetapi dijadikan oleh manusia sebagai ilaah lalu disebut dengan ilaah. Semuanya itu batil. Selain Allah ta’ala tidak berhak disebut sebagai tuhan yang disembah dan diseru karena tidak menciptakan dan memberi rizki. Sementara Allah ta’ala Dia lah Yang menciptakan dan memberi rizki yang tidak ada siapapun yang bisa menghalangi ketika Dia memberi, tidak ada yang bisa memberi ketika Dia menghalangi, dan tidaklah bermanfaat kekayaan dan harta benda bagi pemiliknya karena dari-Nya lah berasalnya. Selain Allah tidaklah memiliki apapun dan tidak pula andil apapun di dalam penciptaan dan pengaturan alam semesta ini. Bahkan para Malaikat, Nabi dan orang shaleh yang diperkenankan memberi syafaat tidak akan pernah bisa melakukannya kecuali setelah diizinkan Allah ta’ala dan hanya kepada siapa yang diridhoi-Nya saja. Jelaslah, selain Allah tidak berhak disebut ilaah yang diibadahi sebagaimana mereka tidak pernah bisa disebut Pencipta alam semesta dan Pemberi rizki. Allah lah satu-satunya ilaah [selesai].

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: “ilaah” (إِلَه) Dzat Yang diibadahi dan disembah dengan cinta, pengagungan, pemuliaan, kerendahan, penuh harap, dan rasa takut. 

Beliau juga mengatakan: “Ilaah” (إِلَه) mencakup seluruh sifat kesempurnaan maka masuk ke dalamnya seluruh al-Asma’ul Husna. Beliau juga mengatakan: “Ilaah” (إِلَه) maknanya Dzat Pemilik seluruh sifat kesempurnaan yang disifati dengan sifat keagungan. Dia lah Dzat yang hati hamba terikat kuat penghambaan kepada-Nya. Hati hamba selalu mengembara kepada-Nya dengan rasa cinta, inabah, harap dan takut.

C. Penjelasan Nama Tuhan kita “Allah” (اللَّهُ)

Syaikh As-Sa’di rahima hullah berkata yang kurang lebihnya berikut ini: Lafazh “Allah” maknanya Tuhan yang diibadahi, yang disembah. Dia Dzat Pemilik hak atas peribadahan dan persembahan dari seluruh makhluk-Nya. Lafazh “Allah” artinya adalah ketuhanan dengan keseluruhan maknanya. Maka yang memiliki nama ini tidak lain sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak diibadahi, dipuji, disyukuri, diagungkan, dan disucikan. Lafazh “Allah” mencakup seluruh makna Al-Asmau-l-Husana dan Ash-Shifatu-l-‘ula [selesai].

“Allah” Dzat yang seorang hamba tidaklah nyaman kecuali menuju kepada-Nya, hati tidaklah tenang kecuali dengan mengingatkan-Nya. Akal tidaklah jernih kecuali dengan mengenali-Nya.

“Allah” Dzat Yang Maha Sempurna secara mutlak tidak ada selain-Nya. Dia Dzat yang seorang hamba tidaklah terbersit dan bergetar hati kecuali bersegera kepada-Nya, Dzat yang seorag hamba tidak merasa tentram kecuali dengan-Nya, Dzat yang seorang hamba tidaklah bosan untuk menghambakan diri kepada-Nya dan tidaklah jenuh untuk mengingat-Nya.

“Allah” Dzat yang hati seorang mukmin bergelora karena saking bergantung dan mencintai-Nya. Dzat yang seorang hamba tunduk  menghinakan dan merendahkan diri kepada-Nya. Dzat yang seorang hamba mengedepankan keridhoan dan  cinta-Nya daripada keridhoan dan cinta dirinya.

Imam Al-Qurthubi rahima hullah berkata: Nama ini “Allah” (اللَّهُ) adalah Nama yang paling agung dan paling menghimpun/mencakup. Bahkan sebagian ulama mengatakan; Ia Nama Allah yang paling agung yang tidak ada siapapun bernama dengannya. Untuk itu ia tidak ada isim tatsniyah-nya (bentuk kata bermakna ganda) dan tidak pula isim jama’nya (bentuk kata bermakna jamak). Dan, inilah diantaranya dalam surat Maryam ayat 65,

هَلْ تَعْلَمُ لَهُۥ سَمِيًّا

“Apakah kamu mengetahui nama (yang sama) pada makhluk-Nya?”

Maksudnya, apakah kamu mengetahui ada makhluk yang bernama sama dengan nama-Nya yaitu “Allah” (اللَّهُ)? Ia adalah nama untuk Dzat berwujud nan esa yang haq yang menghimpun seluruh sifat-sifat uluhiyyah (peribadahan) yang disifati dengan sifat rububiyyah (penciptaan, pengaturan, pemusnahan) yang berkonsekwensi pada keharusan hanya Dia saja yang diibadahi tanpa selain-Nya”

Judul Buku: Memahami Al-Asma’ul Husna Jilid 10

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)