h. Nabi shalallahu alaihi wasallam banyak berdoa dengan “ Ar-Robb” (الرَّبّ)
– Dalam sayyidul istighfar
ألا أدلُّكَ على سيِّدِ الاستِغفارِ : اللَّهمَّ أنتَ ربِّي ، لا إلَهَ إلَّا أنتَ ، خَلقتَني وأَنا عبدُكَ ، وأَنا على عَهْدِكَ ووعدِكَ ما استطعتُ ، أعوذُ بِكَ من شرِّ ما صنعتُ ، وأبوءُ لَكَ بنعمتِكَ عليَّ ، وأعترفُ بِذنوبي ، فاغفِر لي ذنوبي إنَّهُ لا يَغفرُ الذُّنوبَ إلَّا أنتَ ، لا يقولُها أحدُكُم حينَ يُمسي فيأتي علَيهِ قَدرٌ قبلَ أن يُصْبِحَ إلَّا وجبَت لَهُ الجنَّةُ ، ولا سيقولُها حينَ يصبحُ فيأتي علَيهِ قَدرٌ قبلَ أن يُمْسيَ إلَّا وجبت لَهُ الجنَّةُ (رواه الترمذى عن شداد بن أوس)
“Maukah kalian aku tunjukkan sayyidul istighfar? Ya Allah Tuhanku…..
– Ketika merebahkan badan di pembaringan.
اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ وَرَبَّ الْأَرْضِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وَأَغْنِنَا مِنْ الْفَقْرِ(رواه مسلم عن أبى هريرة)
Ya Allah, Tuhan langit dan bumi, Tuhan yang menguasai arasy yang agung, Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu, Tuhan yang membelah dan menumbuhkan biji-bijian, Tuhan yang menurunkan kitab Taurat, Injil, dan Al Qur’an. Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan segala sesuatu, karena segala sesuatu itu berada dalam genggaman-Mu. Ya Allah, Engkaulah Tuhan Yang Awal, maka tidak ada sesuatu pun yang mendahului-Mu. Ya Allah, Engkaulah Tuhan Yang Akhir, maka tidak ada sesuatu setelah-Mu. Ya Allah, Engkaulah Yang Zhahir, maka tidak ada yang menutupi-Mu. Ya Allah, Engkaulah Tuhan Yang Bathin, maka tidak ada yang samar dari-Mu. Ya Allah, lunaskanlah hutang-hutang kami dan bebaskanlah kami dari kefakiran (HR. Muslim dari Abu Hurairah)
– Ketika membaca doa iftitah dalam qiyamul lail
اللَّهمَّ ربَّ جبريلَ وميكائيلَ وإسرافيلَ فاطرَ السَّمواتِ والأرضِ عالِمَ الغيبِ والشَّهادةِ أنتَ تحكُمُ بينَ عبادِكَ فيما كانوا فيهِ يختلِفونَ اهدِني لما اختُلِفَ فيهِ منَ الحقِّ بإذنِكَ إنَّكَ تهدي من تشاءُ إلى صِراطٍ مستقيمٍ (رواه مسلم عن عائشة)
Ya Allah, Tuhannya Jibril, Mikail, Israfil…… (HR. Muslim dari Aisyah)
– Ketika dalam kesulitan
أنَّ رَسولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ كانَ يقولُ عِنْدَ الكَرْبِ: لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ العَظِيمُ الحَلِيمُ، لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ رَبُّ العَرْشِ العَظِيمِ، لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ ورَبُّ الأرْضِ، ورَبُّ العَرْشِ الكَرِيم(رواه البخارى ومسلم عن ابن عباس)
Rasulullah shalallahu alaihi wassalam ketika dalam kesulitan berdoa: “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Dzat Yang Agung lagi Penyabar. Tida ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Tuhannya ‘arsy yang agung…..
4. Orang-orang Quraisy dan lainnya pada zaman Nabi shalallahu alaihi wasallam mengakui ketuhanan Allah ta’ala. Sedikitpun mereka tidak mengingkarinya. Banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang menginformasikan hal ini. Diantaranya”
قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ أَمَّن يَمْلِكُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَٰرَ وَمَن يُخْرِجُ ٱلْحَىَّ مِنَ ٱلْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ ٱلْمَيِّتَ مِنَ ٱلْحَىِّ وَمَن يُدَبِّرُ ٱلْأَمْرَ ۚ فَسَيَقُولُونَ ٱللَّهُ ۚ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ (يونس:31)
Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya (QS. Yunus: 31)
قُلْ لِمَنِ الأرض وَمَنْ فِيها إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ () سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلا تَذَكَّرُونَ () قُلْ مَنْ رَبُّ السَّماواتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ () سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلا تَتَّقُونَ () قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلا يُجارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ () سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ فَأَنَّى تُسْحَرُونَ (المؤمنون:48-98).
“Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?” “Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertakwa?” “Siapakah yang di Tangan-Nya terdapat kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?”
Merekalah orang-orang yang Allah sebutkan di dalam firman-Nya
إِن كُلُّ مَن فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ إِلَّآ ءَاتِى ٱلرَّحْمَٰنِ عَبْدًا (مريم: 93)
Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba (QS. Maryam: 93)
أَفَغَيْرَ دِينِ ٱللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُۥٓ أَسْلَمَ مَن فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ (آل عمران:83)
Maka apakah mereka mencari agama selain agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan (QS. Ali Imran: 83)
Orang yang meyakini ketuhanan-Nya ini saja (tauhid rububiyyah) tanpa melakukan konsekuensinya yaitu peribadahan yang hanya ditujukan kepada-Nya (tauhid uluhiyyah) merekalah yang tunduk kepada Allah karena terpaksa. Adapun muslim, yaitu yang bertauhid rububiyyah juga bertauhid uluhiyyah merekalah yang tunduk kepada Allah dengan suka atau ketaatan. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,
إِن كُلُّ مَن فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ إِلَّآ ءَاتِى ٱلرَّحْمَٰنِ عَبْدًا (مريم: 93)
Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba (QS. Maryam: 93)
أَفَغَيْرَ دِينِ ٱللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُۥٓ أَسْلَمَ مَن فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ (أل عمران: 83)
Maka apakah mereka mencari agama selain agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan (QS. Ali Imran: 83)
Perbedaan antara “Ar-Robb” (الرَّبّ) dan “Al-Ilaah” (الإله)
Keduanya jika disebutkan berbarengan maka maknanya sendiri-sendiri, jika disebutkan sendiri-sendiri maka maknanya berbarengan. Penjelasannya berikut ini:
a. Jika keduanya berada pada satu tempat atau satu nash maka makna keduanya sendiri-sendiri bahwa “Ar-Robb” (الرَّبّ) bermakna Dzat Yang Menciptakan, Yang Memiliki, Yang Berkuasa, Yang Berbuat sekehendak-Nya, Yang Menghidupkan dan Mematikan dan lain sebagainya yang terkait dengan penciptaan, pemeliharaan dan pemusnahan. Dia satu-satunya dzat sebagai Tuhan. Sementara “Al-Ilaah” (الإله) bermakna Dia adalah satu-satunya Dzat Yang harus disembah dan diibadahi dengan seluruh bentuk persembahan dan peribadahan oleh semua hamba. Contoh Nash yang menyebutkan penyebutan keduanya secara berbarengan;
قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ () مَلِكِ النَّاسِۙ () اِلٰهِ النَّاسِۙ ()
Di dalam nash ini, keduanya berada dalam satu tempat. Maka, bahwa “Ar-Robb” (الرَّبّ) bermakna Dzat Yang Menciptakan, Yang Memiliki, Yang Berbuat sekehendak-Nya dan lain sebagainya yang intinya Dia lah satu-satunya dzat sebagai Tuhan. Adapun “Al-Ilaah” (الإله) bermakna Dia satu-satunya Dzat yang disembah dan diibadahi.
b. Jika keduanya disebutkan secara terpisah atau sendiri-sendiri maka maknanya berbarengan. Contoh dalam al-Qur’an,
وَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ ۖ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلرَّحْمَٰنُ ٱلرَّحِيمُ (البقرة:163)
Di sini, “Al-Ilaah” (الإله) bermakna Dia satu-satunya Dzat yang disembah dan diibadahi. Dan, makna “Ar-Robb” (الرَّبّ) terkandung di dalamnya. Karena bagaimana mungkin Dia sebagai “Al-Ilaah” ((الإله kalau bukan sebagai “Ar-Robb” (الرَّبّ)
رَّبِّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ٱلرَّحْمَٰنِ (النياء: 37)
Di sini “Ar-Robb” (الرَّبّ) bermakna Dzat Yang Menciptakan, Yang Memiliki, Yang Berbuat sekehendak-Nya dan lain sebagainya yang intinya Dia lah satu-satunya dzat sebagai Tuhan. Dan, makna “Al-Ilaah” (الإله) terkandung di dalamnya. Karena bagaimana mungkin Dia sebagai “Ar-Robb” (الرَّبّ) lalu tidak sebagai “Al-Ilaah” (الإله)
– Di antara al-Asma-u-l Husna yang disandingkan dengan nama “Ar-Robb” (الرَّبّ)
Di dalam Al-Qur’an nama “Ar-Robb” (الرَّبّ) disandingkan dengan Ar-Rahman (الرحمن), Ar-Rahim (الرحيم) , Al-Ghofuur (الغفور), Al-Ghoffaar (الغفار), Al-‘Aziiz (العزيز). Berikut ini ayat-ayat yang dimaksud,
• ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ () ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
• رَّبِّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ٱلرَّحْمَٰنِ (النبأ:37)
• سَلَٰمٌ قَوْلًا مِّن رَّبٍّ رَّحِيمٍ
• رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا الْعَزِيْزُ الْغَفَّارُ (ص:66)
• لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِى مَسْكَنِهِمْ ءَايَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا۟ مِن رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَٱشْكُرُوا۟ لَهُۥ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ (سبأ:15)
Perhatikanlah! Dari nama-nama yang disandingkan tersebut bermakna: Maha Rahmat, Maha Perkasa, Maha Pengampun. Yang semuanya itu merupakan keniscayaan pada rububiyyah (ketuhanan)
a. Dia ٱلرَّحْمَٰنِ dan ٱلرَّحِيمِ (Maha Rahmat), baik secara umum kepada seluruh makhluk-Nya ataupun secara khusus kepada wali-wali-Nya
– Rahmat secara umum: Memelihara hamba dengan memberikan apa saja yang merupakan kemaslahatan keidupan merera, mengutus Rasul kepada mereka yang senantiasa membimbing dan mejelaskan, dan mengirimkan kitab suci yang menjadi pedoman bagi kehidupan mereka.
– Rahmat secara khusus: Memberikan bimbingan khusus kepada para wali-Nya dan memberikan penjagaan dan pertolongan secara khusus kepada para wali-Nya.
b. Dia الْعَزِيْزُ ،الْغَفَّار،الغَفُورٌ ُ(Maha Perkasa dan Pengampun), Keperkasaan adalah suatu keniscayaan pada rububiyah (ketuhanan), dimana Tuhan pastilah berkuasa mutlak yang berbuat dan bertindak sekehendak-Nya terhadap seluruh makhluk yang tidak ada siapapun menghalangi-Nya. Pada saat yang sama Dia Maha Pengampun terhadap mereka sehingga tidak semena-mena di dalam memberlakukan mereka yang Dia juga sebagai Dzat Yang Maha Rahmat.
Judul Buku: Memahami Al-Asma’ul Husna Jilid 10
Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

