Solusi Investasi Akhirat Anda

Nama Allah “ As-Sayyid” (السَيِّدُ) 

A. Penyebutan Nama “As-Sayyid” (السَيِّدُ) dalam Nash

Ia tidak dijumpai di dalam Al-Qur’an, melainkan di dalam Hadits, 

انطَلَقتُ في وَفدِ بني عامرٍ إلى النبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ فقُلْنا: أنتَ سيِّدُنا. قال: السيِّدُ اللهُ تبارَكَ وتعالى. قُلْنا: وأفضَلُنا وأعظَمُنا طَوْلًا. قال: قولوا بقَولِكم، أو بعضِ قَولِكم، ولا يَسْتَجرِيَنَّكم الشَّيطانُ -وفي روايةٍ: لا يَسْتهوِينَّكم الشَّيطانُ- أنا محمَّدُ بنُ عبدِ اللهِ، عبدُ اللهِ ورسولُه، ما أُحِبُّ أنْ تَرفَعوني فوقَ منزِلَتي التي أنزَلَني اللهُ عزَّ وجلَّ. (رواه حمد وأبو داود والنسائى)

B. Makna “As-Sayyid” (السَيِّدُ)  Secara Bahasa

Disebutkan di dalam “Al-Lisan”, masdar-nya adalah السؤدد  bermakna kemuliaan. Ia berarti mengungguli lainnya dari sisi akal, harta, kemanfaatan dan penolakan mudhorot. Ia juga berarti pemberi sesuatu yang merupakan haknya. Ikrimah mengatakan: Ia bermakna, yang tidak dikuasai dan dikalahkan oleh murkanya sendiri. 

Abu Khibroh berkata: Seseorang disebut “As-Sayyid” (السَيِّدُ) karena mengungguli banyak manusia.

Al-Faro’ berkata: Sayyid itu raja, pemimpin, pembesar, tuannya budak, tuannya perempuan (suami).

Ar-Roghib berkata: Sayyid itu orang yang berkuasa atas orang banyak.

Ibnu Atsir berkata: Sayyid itu berarti tuan, raja, pemilik kemuliaan, pemilik keutamaan, yang bersabar.

C. Makna “ As-Sayyid” (السَيِّدُ)  Sebagai Nama Allah

Al-Khuthobi berkata: Sabda Nabi shalallahu alaihi wasallam “السيِّدُ اللهُ” yang dimaksud adalah bahwa per-tuan-an yang sebenarnya itu ada pada Allah, sementara seluruh makhluk adalah hamba-Nya.

Ibnul Qoyyim berkata: 

وهو الإله السيد الصمد الذى صمد إليه الخلق بالإذعان

الكامل الأوصاف من كل الوجوه كماله ما فيه من نقصان

Dia lah al-Ilaah as-Sayyid ash-Shomad yang seluruh makhluk menuju kepada-Nya dengan ketundukan.

Dzat bersifat sempurna dari berbagai aspek, kesempurnaan yang tiada kekurangan.

Ibnul Qoyyim juga berkata: Hal ini tidak bertentangan dengan sabda Nabi shalallahu alaihi wasallam “أنا سيدُ ولدِ آدمَ”  (Saya tuan seluruh anak Adam). Statemen ini, tidak lain menginformasikan bahwa beliau shalallahu alaihi wasallam adalah tuan atau penghulu jenis kemanusiaan dimana Allah ta’ala mengutamakan dan memuliakan beliau atas manusia lainnya. Adapun “As-Sayyid” (السَيِّدُ) yang Dia sifatkan pada diri-Nya itu bersifat mutlak, bahwa Dia lah Sayyid atas seluruh makhluk; Dzat yang menguasai atas urusan mereka yang hanya kepada-Nya kembalinya seluruh urusan, dengan ketetapan-Nya seluruh makhluk tunduk dan tentang firman-Nya seluruh makhluk merujuk. Malaikat, manusia dan jin itu diciptakan oleh Allah, maka mereka selalu membutuhkan-Nya setiap waktu. Tidak bisa berlepas dari-Nya meskipun hanya sekejap mata. Seluruh keinginan dan kebutuhan mereka ditujukan kepada-Nya. Dia lah “As-Sayyid” (السَيِّدُ)  yang sebenarnya secara mutlak.

D. TADABBUR

1. Setelah mengetahui makna dari “As-Sayyid” (السَيِّدُ) bahwa per-tuan-an ada pada-Nya. Dia lah Dzat yang Menciptakan, Memiliki, Menguasai dan yang Berbuat sekehendaknya terhadap seluruh makhluk maka sudah seharusnya rasa cinta kita kepada-Nya semakin meningkat.

2. Ketika manusia merasakan betapa “per-tuan-an nya di dunia itu penuh kekurangan dan tidak langgeng, maka hal ini akan menumbuhkan sifat tawadhu’ pada dirinya.  Dia tidak akan menggunakan per-tuan-an yang dimikinya untuk menzhalimi manusia dan tidak akan menyombongkan diri terhadap mereka.

3. Dari pemahaman  Allah “As-Sayyid” (السَيِّدُ) , di mana per-tuan-an ada pada-Nya bahwa Dia lah Dzat yang Menciptakan, Memiliki, Menguasai dan yang Berbuat sekehendak-Nya terhadap seluruh makhluk maka akan meningkatakan rasa khouf (takut) dan raja’ (harap) kepada-Nya. Pada saat yang sama hilanglah rasa takut dan harap kepada tuan-tuan di dunia di mana per-tuan-annya hanya sementara. Allah lah Dzat yang mendatangkan manfaat dan menghilagkan madhorot.

4. Boleh menyematkan “As-Sayyid” pada makhluk sebagaimana Allah berfirman tentang nabi Yahya, 

فَنَادَتْهُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ وَهُوَ قَآئِمٌ يُصَلِّى فِى ٱلْمِحْرَابِ أَنَّ ٱللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَىٰ مُصَدِّقًۢا بِكَلِمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ (أل عمران:39)

Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi panutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh”. (QS. Ali Imran: 39)

Ibnul Anbari berkata: Jika ada orang yang mengatakan bagaimana Allah ta’ala menamai Nabi Yahya sebagai “sayyidan wa hashuro”. Padahal As-Sayyid itu Allah di mana Dia lah Penguasa seluruh makhluk semuanya, tidak ada penguasa lain selain-Nya. Maka jawabannya adalah As-Sayyid di sini tidak dimaksudkan sebagai “Penguasa” melainkan sekdar pemimpin atau imam dalam kebaikan. Sebagaimana orang Arab mengatakan: 

فلان سيدنا

Maksudnya, Fulan itu tuan kita yang kita memuliakannya.

5. Dalil lain yang menunjukkan bolehnya menyematkan “ As-Sayyid” pada makhluk, 

إن العبدَ إذا نَصَحَ لسيدِه وأحسنَ عبادةَ اللهِ فله أجرُه مرتين (رواه البخارى مسلم عن عبد الله عمر)

“Sesungguhnya seorang hamba jika berbuat nasehat untuk tuannya dan memperbagus peribadahan kepada Allah maka baginya pahala dua kali lipat” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah Umar)

Judul Buku: Memahami Al-Asma’ul Husna Jilid 10

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)