A. Penyebutan di dalam Nash
Disebutkan di dalam Al-Qur’an sebanyak tujuh kali. Kebanyakan penyebutannya dibarengkan dengan nama Allah Al-Khobir (الْخَبِيرُ) dan selebihnya disebutkan secara sendirian. Di antaranya;
لا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ [الأنعام: 103]
أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ (الملك: 14)
إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِمَا يَشَاءُ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ [يوسف: 100]
اللَّهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ (الشورى: 19)
B. Makna Al-Lathiif (اللَّطِيفُ) Secara Bahasa
”اللَّطِيفُ” adalah isim fa’il dari ”لطف”. Ia berkisar antara dua makna:
a. Huruf tho’ di-fathah (لطَف) artinya: kebaikan, kehangatan, memuliakan, penuh kelembutan untuk meraih sesuatu yang diharapkan. Ia fi’il muta’addi (kata kerja transitif) sebagaimana firman Allah ta’ala,
اللَّهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ (الشورى: 19).
b. Huruf tho’ di-dhommah (لطُف) artinya tersembunyi. Dia bukan muta’addi. Ia tidak di-idhofah-kan kepada Allah ta’ala kecuali dengan lafazh yang dikaitkan. Disini Al-Lathiif (اللَّطِيفُ) bermakna pengetahuan-Nya lembut yang mencakup segala hal yang lembut dan samar. Sebagaimana disebutkan di dalam al-Qur’an,
يَٰبُنَىَّ إِنَّهَآ إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِى صَخْرَةٍ أَوْ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ أَوْ فِى ٱلْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا ٱللَّهُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ (لقمان: 16)
“(Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui” (QS. Luqman: 16).
C. Makna Al-Lathiif (اللَّطِيفُ) Sebagai Nama Allah ta’ala
Al-Khuthobi berkata: Al-Lathiif (اللَّطِيفُ) Dzat Yang Berbuat baik kepada hamba-Nya di mana mereka tidak menyadarinya, Dia membuat sebab untuk kemaslahatan-kemaslahatan mereka di mana mereka tidak menyadarinya. Allah ta’ala berfriman,
اللَّهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ (الشورى: 19).
“Allah Maha lembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezeki kepada siapa yang di kehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa” (QS. Asy-Syuro: 19)
Asy-Syaukani berkata tentang firman Allah ta’ala,
إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ (يوسف: 100)
“Sesungguhnya Tuhanku itu Lathiif” (QS. Yusuf: 100)
Maksudnya Allah itu Maha lembut, maka tidak tersembunyi bagi-Nya apapun yang samar. Bahkan ilmu-Nya meliputi semua perkara yang samar.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menggabungkan antara dua pengertian, dia mengatakan;
a. Al-Lathiif (اللَّطِيفُ), Dzat Yang lembut ilmu-Nya sehingga Dia mengetahui semua rahasia, perkara yang tersembunyi dan yang ghoib. Disebutkan di dalam al-Qur’an,
فَإِنَّهُ يَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَى (طه: 7)
“Maka sesungguhnya Dia mengetahui yang rahasia dan tersembunyi” (QS. Thoha: 7)
b. Al-Lathiif (اللَّطِيفُ), Dia Maha lembut kepada hamba dan wali-Nya, maka Dia menggiring kebaikan dan kebajikan kepadanya tanpa dia menyadarinya. Dia ta’ala menjaganya dari keburukan tanpa dia memperkirakannya. Dia ta’ala menaikannya ke derajat yang lebih tinggi dengan sebab-sebab yang tidak terpikirkan oleh hamba bahkan dia merasakannya sebagai hal yang tidak disukainya padahal dengannya dia sedang berproses untuk meraih perkara tinggi yang diidam-idamkan dan kedudukan yang mulia [selesai].
D. Tadabbur
1. Tidak ada apapun yang terlewatkan, tidak ada apapun yang tidak diketahuinya meskipun sangat lembut, sangat kecil, sangat tersembunyi atau di tempat yang sangat dalam. Dia ta’ala berfirman,
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ (الأنعام: 59)
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidaklah sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” (QS. Al-An’am: 59)
Disebutkan juga di dalam Al-Qur’an,
يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ (لقمان: 16)
“(Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui” (QS. Luqman: 16).
“ خَرْدَلٍ” artinya biji berukuran sangat kecil yang tidak bisa ditimbang. Jika ia berada di tengah padang pasir di dalam bumi atau di langit, niscaya Allah ta’ala mengetahuinya. Dia lah Al-Lathiif (اللَّطِيفُ). Ini terkait dengan benda-benda pergerakan dan diamnya. Adapun terkait dengan burung, hewan-hewan dan seluruh makhluk, disebutkan di dalam Al-Qur’an,
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ (الأنعام: 38)
“Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami lewatkan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dikumpulkan” (QS. Al-An’am: 38)
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ (هود: 6)
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat tinggal binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh)” (QS. Hud: 6)
Jika demikian ilmu-Nya terhadap benda-benda dan burung lalu bagaimana terhadap makhluk yang mukallaf (mendapatkan tugas syariat) yaitu jin dan manusia di mana tidaklah mereka diciptakan melainkan untuk ibadah. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,
يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ (غافر: 19)
“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati” (QS. Ghofir: 19)
وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِنْ قُرْآنٍ وَلَا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ وَمَا يَعْزُبُ عَنْ رَبِّكَ مِنْ مِثْقَالِ ذَرَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَلَا أَصْغَرَ مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْبَرَ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ (يونس: 61)
“Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)” (QS. Yunus: 61)
وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ () الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ () وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ () إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (الشعراء: 217 – 220)
“Dan bertawakkallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang). Dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. Sesungguhnya Dia adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Asy-Syu’ara: 217-220)
Disebutkan di dalam Hadits Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya dari Hadits Abu Hurairah bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda di dalam Hadits Jibril,
أن تعبد الله كأنك تراه، فإنك إن لم تكن تراه، فإنه يراك
“Anda menyembah Allah seakan-akan Anda melihat-Nya, jika Anda tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihat Anda”
2. Ketika seorang hamba mengetahui Allah ta’ala bersifat dengan ilmu-Nya yang lembut dan peliputan-Nya terhadap segala apapun baik yang kecil ataupun besar, niscaya dia akan me-muhasabah dirinya; perkataan, perbuatan, pergerakan dan diamnya. Dia menyadari sepenuhnya bahwa Allah ta’ala akan membalas keseluruhannya, di mana orang baik tidak akan disia-siakan kebaikannya meskipun sebesar biji sawi. Demikian juga orang buruk tidak akan disia-siakan keburukannya meskipun sebesar biji sawi. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ () وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (الزلزلة: 7-8)
“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula” (QS-Az-Zalzalah: 7 – 8)
وَوُضِعَ ٱلْكِتَٰبُ فَتَرَى ٱلْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَٰوَيْلَتَنَا مَالِ هَٰذَا ٱلْكِتَٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّآ أَحْصَىٰهَا ۚ وَوَجَدُوا۟ مَا عَمِلُوا۟ حَاضِرًا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا[الكهف: 49]،
Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat para pendosa ketakutan terhadap apa yang (tercatat) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tercatat). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorangpun” (QS. Al-Kahfi: 49).
وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا يَخَافُ ظُلْمًا وَلَا هَضْمًا [طه: 112]
“Dan barangsiapa mengerjakan amal-amal saleh dan ia dalam keadaan beriman, maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya” (QS. Thoha: 112)
وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ (الأنبياء: 47)
“Dan barangsiapa mengerjakan amal-amal yang sholeh dan ia dalam keadaan beriman, maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya” (QS. Al-Anbiya’: 47)
Judul Buku: Memahami Al-Asma’ul Husna Jilid 12
Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

