A. Penyebutan Nama Allah Al-Mujiib (المُجِيْب) di dalam Nash
Nama Allah Al-Mujiib (المُجِيْب) di dalam Al-Qur’an disebutkan hanya sekali,
فَٱسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوٓا۟ إِلَيْهِ ۚ إِنَّ رَبِّى قَرِيبٌ مُّجِيبٌ (هود:16)
Ada satu ayat yang menyebutkannya dalam bentuk jama’ atau plural,
وَلَقَدْ نَادَىٰنَا نُوحٌ فَلَنِعْمَ ٱلْمُجِيبُونَ (الصفات:75)
Disebutkan di dalam “Al-Lisan”: Al-Mujiib (المُجِيْب) itu isim fa’il dari ajaaba – yujiibu (أجاب – يجيب) artinya memberikan jawaban atau merespon atau memenuhi. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ (البقرة: 186)
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS. Al-Baqarah: 186)
B. Makna Al-Mujiib (المُجِيْب) Sebagai Nama Allah
Disebutkan di dalam “Al-Lisan”: Berkaitan dengan Asmau -l- Husna, maka Makna Al-Mujiib (المُجِيْب) adalah Dzat Yang mengabulkan, merespon, atau memenuhi doa dan permintaan dengan pemberian.
Az-Zajaji rahima hullah mengatakan: Al-Mujiib (المُجِيْب) maksudnya Allah ta’ala menjawab atau merespon atau mengabulkan atau memenuhi doa para hamba-Nya ketika mereka berdoa. Allah ta’ala berfirman,
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ (البقرة: 186)
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS. Al-Baqarah: 186)
Abu Sulaiman al-Khithobi mengatakan: Dia ta’ala mengabulkan atau memenuhi atau meng-ijabah-i mudhthor (orang yang kepepet) ketika berdoa dan malhuf (orang yang gundah) ketika menyeru.
Ibnul Qoyyim rahima hullah menuturkan di dalam bait-bait syairnya,
وهو المجيب يقول من يدعو أجيبه
أنا المجيب لكل من ناداني
وهو المجيب لدعوة الممضطر إذ
يدعوه فى سر وإعلانه
Dia Al-Mujiibu berfirman siapa yang berdoa Aku memenuhinya
Aku Al-Mujiib bagi setiap yang menyeru-Ku
Dia lah Al-Mujiib terhadap doa orang yang kepepet
Ketika berdoa kepada-Nya secara rahasia ataupun terang-terangan
Syaikh As-Sa’di mengatakan: Termasuk nama Allah ta’ala Al-Mujiib (المُجِيْب). Dia mengabulkan doa orang yang berdoa dan permintaan orang yang meminta dan hamba-hamba yang taat. Ijabah (dikabulnya) doa di sisi Allah ta’ala ada dua macam:
a. Ijabah ‘ammah (terkabulnya doa yang bersifat umum). Ini bagi siapapun yang berdoa, baik doa ibadah ataupuan doa mas-alah. Contoh doa mas-alah: ‘Ya Allah! Jauhkanlah kami dari ini dan ini….. Ini berlaku untuk orang baik dan orang buruk. Allah ta’ala mengabulkan doa semua mereka sesuai dengan keadaan yang melaziminya dan sesuai dengan hikmah-Nya. Ini menunjukkan Maha Pemurah-Nya dan mencakupnya kebaikan-Nya kepada siapapun secara umum. Kepada orang baik ataupun orang jahat. Ketika orang jahat di-ijabah-i bukan berarti menunjukkan ihwalnya itu baik dan benar sebagaimana para Nabi dan para wali ketika berdoa. Di-ijabah-i nya mereka (para Nabi dan Wali) sudah barang tentu menunjukkan ihwalnya yang baik dan benar. Jadi tegasnya di-ijabah-i nya orang buruk tidak lain sesuai dengan keadaan yang melaziminya dan Hikmah-Nya. Dia lah Dzat yang Al-Hakiim (Dzat Yang Maha Hikmah).
b. Ijabah khusus. Di sini ada sebab-sebab khusus. Diantaranya:
a. doa mudhthor (orang yang “kepepet”) di mana dia dalam keadaan yang sulit dan terdesak. Allah ta’ala mengabulkan doanya. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,
أَمَّن يُجِيبُ ٱلْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ ٱلسُّوٓءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَآءَ ٱلْأَرْضِ ۗ أَءِلَٰهٌ مَّعَ ٱللَّهِ ۚ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ (النمل: 62)
“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya)” (QS.An-Naml:62).
Di-ijabah-i nya doa mudhthor disebabkan saking butuh dan konsentrasinya seseorang kepada Allah ta’ala, kuatnya kerendahan hati dan terputusnya ketergantungan kepada siapapun selain Allah ta’ala. Juga karena luasnya rahmat-Nya. Kepada hamba yang tidak mudhthor saja di-ijabah-i lalu bagaimana terhadap yang mudhthor.
b. Jauhnya safar seseorang. Disebutkan di dalam Hadits,
عن أبي هريرة قال: قال: رسول الله ﷺ: ثلاث دعوات مستجابات، لا شك فيهن: دعوة المظلوم، ودعوة المسافر، ودعوة الوالد على ولده (رواه أبو داود والترمذي)
“Dari Abu Hurairah radiallahu anhu, dia berkata, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: Ada tiga doa mustajab, tidak diragukan lagi padanya. Yaitu: doanya orang yang dizhalimi, doanya musafir, dan doa orang tua untuk anaknya” (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi)
c. Doa orang yang bertawassul dengan perkara-perkara yang Allah mencintainya. Seperti bertawassul dengan asma wa shifat, amal shaleh, dan doa orang shaleh yang masih hidup.
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ (الأعراف 180)
“Dan bagi Allah al-Asmaul Husna, maka serulah Dia dengannya” (QS. Al-A’rof: 180)
وعن عبدِ اللهِ بنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عنهما قال: سَمِعْتُ رَسولَ اللَّهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يقولُ: انْطَلَقَ ثَلَاثَةُ رَهْطٍ مِمَّنْ كانَ قَبْلَكُمْ حتَّى أوَوْا المَبِيتَ إلى غَارٍ، فَدَخَلُوهُ فَانْحَدَرَتْ صَخْرَةٌ مِنَ الجَبَلِ، فَسَدَّتْ عليهمُ الغَارَ، فَقالوا: إنَّه لا يُنْجِيكُمْ مِن هذِه الصَّخْرَةِ إلَّا أنْ تَدْعُوا اللَّهَ بصَالِحِ أعْمَالِكُمْ، فَقالَ رَجُلٌ منهمْ: اللَّهُمَّ كانَ لي أبَوَانِ شيخَانِ كَبِيرَانِ، وكُنْتُ لا أغْبِقُ قَبْلَهُما أهْلًا ولَا مَالًا، فَنَأَى بي في طَلَبِ شيءٍ يَوْمًا، فَلَمْ أُرِحْ عليهما حتَّى نَامَا، فَحَلَبْتُ لهما غَبُوقَهُمَا، فَوَجَدْتُهُما نَائِمَيْنِ وكَرِهْتُ أنْ أغْبِقَ قَبْلَهُما أهْلًا أوْ مَالًا، فَلَبِثْتُ والقَدَحُ علَى يَدَيَّ، أنْتَظِرُ اسْتِيقَاظَهُما حتَّى بَرَقَ الفَجْرُ، فَاسْتَيْقَظَا، فَشَرِبَا غَبُوقَهُمَا، اللَّهُمَّ إنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذلكَ ابْتِغَاءَ وجْهِكَ، فَفَرِّجْ عَنَّا ما نَحْنُ فيه مِن هذِه الصَّخْرَةِ، فَانْفَرَجَتْ شيئًا لا يَسْتَطِيعُونَ الخُرُوجَ، قالَ النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: وقالَ الآخَرُ: اللَّهُمَّ كَانَتْ لي بنْتُ عَمٍّ، كَانَتْ أحَبَّ النَّاسِ إلَيَّ، فأرَدْتُهَا عن نَفْسِهَا، فَامْتَنَعَتْ مِنِّي حتَّى ألَمَّتْ بهَا سَنَةٌ مِنَ السِّنِينَ، فَجَاءَتْنِي، فأعْطَيْتُهَا عِشْرِينَ ومِئَةَ دِينَارٍ علَى أنْ تُخَلِّيَ بَيْنِي وبيْنَ نَفْسِهَا، فَفَعَلَتْ حتَّى إذَا قَدَرْتُ عَلَيْهَا، قالَتْ: لا أُحِلُّ لكَ أنْ تَفُضَّ الخَاتَمَ إلَّا بحَقِّهِ، فَتَحَرَّجْتُ مِنَ الوُقُوعِ عَلَيْهَا، فَانْصَرَفْتُ عَنْهَا وهي أحَبُّ النَّاسِ إلَيَّ، وتَرَكْتُ الذَّهَبَ الذي أعْطَيْتُهَا، اللَّهُمَّ إنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ابْتِغَاءَ وجْهِكَ، فَافْرُجْ عَنَّا ما نَحْنُ فِيهِ، فَانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ غيرَ أنَّهُمْ لا يَسْتَطِيعُونَ الخُرُوجَ منها، قالَ النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: وقالَ الثَّالِثُ: اللَّهُمَّ إنِّي اسْتَأْجَرْتُ أُجَرَاءَ، فأعْطَيْتُهُمْ أجْرَهُمْ غيرَ رَجُلٍ واحِدٍ تَرَكَ الذي له وذَهَبَ، فَثَمَّرْتُ أجْرَهُ حتَّى كَثُرَتْ منه الأمْوَالُ، فَجَاءَنِي بَعْدَ حِينٍ فَقالَ: يا عَبْدَ اللَّهِ أدِّ إلَيَّ أجْرِي، فَقُلتُ له: كُلُّ ما تَرَى مِن أجْرِكَ مِنَ الإبِلِ والبَقَرِ والغَنَمِ والرَّقِيقِ، فَقالَ: يا عَبْدَ اللَّهِ لا تَسْتَهْزِئُ بي، فَقُلتُ: إنِّي لا أسْتَهْزِئُ بكَ، فأخَذَهُ كُلَّهُ، فَاسْتَاقَهُ، فَلَمْ يَتْرُكْ منه شيئًا، اللَّهُمَّ فإنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذلكَ ابْتِغَاءَ وجْهِكَ، فَافْرُجْ عَنَّا ما نَحْنُ فِيهِ، فَانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ، فَخَرَجُوا يَمْشُونَ
Dari Abdullah bin Umar radiallahu anhu, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Ada tiga orang dari antara orang-orang sebelum kalian bepergian lalu mereka mencari tempat berlindung di sebuah gua untuk bermalam. Mereka masuk ke dalam gua itu, lalu sebuah batu menggelinding dari gunung, sehingga gua itu tertutup bagi mereka. Mereka berkata: “Tidak ada yang dapat menyelamatkan kalian dari batu ini, kecuali kalian berdoa kepada Allah dengan amal saleh kalian.” Salah seorang dari mereka berkata: “Ya Allah, aku memiliki dua orang tua yang sudah sepuh. Aku tidak akan memberi makan keluarga dan hartaku (budak dan lainnya) sebelum mereka. Suatu hari, aku pergi jauh untuk mencari sesuatu, dan aku tidak beristirahat sampai mereka tertidur. Aku memerah susu untuk minum sore mereka, tetapi aku mendapati mereka sudah tidur, dan aku tidak ingin memberi makan keluarga dan hartaku sebelum mereka. Maka aku tetap memegang bejana di tanganku, menunggu mereka bangun hingga fajar menyingsing. Kemudian mereka bangun dan meminum minuman (susu) tersebut. Ya Allah, jika aku melakukan itu karena mengharap keridhaan-Mu, maka bebaskanlah kami dari keadaan yang kami alami dari batu ini.” Maka batu itu terbuka sedikit, mereka belum bisa keluar.
Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda: Dan yang satunya berkata: Ya Allah, sesungguhnya aku memiliki sepupu dan dia itu orang yang paling aku cintai, aku sangat menginginkan dirinya , tetapi dia menolakku hingga ia menderita selama setahun. Kemudian dia datang kepadaku, dan aku memberinya seratus dua puluh dinar dengan syarat dia mau ber-khalwat denganku. Dia menyetujuinya. Ketika aku sudah menguasai dirinya, dia berkata, “Aku tidak mengizinkanmu untuk memutuskan cincin kecuali dengan cara yang benar.” Aku merasa takut untuk berbuat terhadapnya, maka aku pun berpaling darinya, meskipun dia adalah orang yang paling aku cintai, dan aku membiarkan emas yang telah kuberikan kepadanya. “Ya Allah, jika aku melakukannya karena mengharap keridhaan-Mu, maka bebaskanlah kami dari keadaan yang kami alami dari batu ini.”.” Maka batu itu terbuka, tetapi mereka belum dapat keluar darinya.
Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Dan yang ketiga berkata, ‘Ya Allah, aku mempekerjakan para pekerja, aku sudah berikan upah mereka, kecuali seorang laki-laki yang meninggalkan apa yang menjadi haknya, dia pergi. Aku kembangkan upahnya hingga hartanya berkembang. Beberapa waktu kemudian, dia datang kepadaku dan berkata: Wahai hamba Allah, berikanlah upahku. Aku berkata kepadanya: Semua yang kau lihat adalah upahmu berupa unta, sapi, domba, dan budak. Dia berkata: Wahai hamba Allah, jangan mengejekku. Aku berkata: Aku tidak mengejekmu. Lalu, dia mengambil semuanya dan membawanya pergi, dan tidak menyisakan sedikit pun. Ya Allah, jika aku melakukan itu karena mengharapkan keridhaan-Mu, maka bebaskanlah kami dari apa yang kami alami. Maka terbukalah batu itu, mereka pun keluar dan melanjutkan berjalan kaki (HR Bukhari dan Muslim dari Umar bin al-Khoththob)
أنَّ عُمَرَ بنَ الخَطَّابِ، كانَ إذَا قَحَطُوا اسْتَسْقَى بالعَبَّاسِ بنِ عبدِ المُطَّلِبِ فَقَالَ: اللَّهُمَّ إنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إلَيْكَ بنَبِيِّنَا صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ فَتَسْقِينَا، وإنَّا نَتَوَسَّلُ إلَيْكَ بعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا قَالَ: فيُسْقَوْنَ(رواه البخارى عن أنس بن مالك)
“Bahwasanya Umar bin al-Khoththob radiallahu anhu jika manusia mengalami paceklik meminta kepada Abbas untuk didoakan turunnya hujan. Dia radiallahu anhu mengucapkan: Ya Allah, kami ber-tawassul dengan Nabi kami shalallahu alaihi wasallam kepada-Mu dan Engkau turunkan hujan untuk kami. Sekarang kami ber-tawassul dengan paman Nabi kami kepada-Mu maka turunkanlah hujan untuk kami. Periwayat mengatakan: Mereka pun mendapatkan hujan” (HR. Bukhari dari Anas bin Malik)
d. Doa orang sakit
Disebutkan di dalam Hadits,
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: يَا ابْنَ آدَمَ! مَرِضْتُ فَلَمْ تَعُدْنِي .قَالَ: يَا رَبِّ! كَيْفَ أَعُودُكَ؟ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ.قَالَ: أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ عَبْدِي فُلَانًا مَرِضَ فَلَمْ تَعُدْهُ، أَمَا عَلِمْتَ أَنَّكَ لَوْ عُدْتَهُ لَوَجَدْتَنِي عِنْدَهُ؟ (رواه مسلم)
“Dari Abu Hurairah radiallahu anhu, dia mengatakan, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: Allah Azza wa Jalla berfirman pada hari Kiamat: Wahai Anak Adam! Aku sakit tetapi kamu tidak menjenguk-Ku? Anak Adam menjawab: Ya Robbi! Bagaimana saya menjenguk-Mu sementara Engkau adalah Tuhan semesta alam? Allah berfirman: Tidakkah kamu tahu bahwa hamba-Ku si Fulan sakit, kenapa kamu tidak menjenguknya? Tidakkah kamu tahu jika kamu menjenguknya niscaya kamu mendapati-Ku di sisinya”. (HR. Muslim)
Hadits ini menunjukkan orang yang sakit diharapkan doanya mustajab jika dia mendoakan seseorang. Ini sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Utsaimin.
e. Doa orang yang dizhalimi
Disebutkan di dalam Hadits,
ان رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ بعَثَ معاذَ بنَ جَبلٍ إلى اليمَنِ، فقالَ اتَّقِ دَعوةَ المظلومِ؛ فإنَّهُ ليسَ بينَها وبينَ اللَّهِ حجابٌ (رواه لبخارى ومسلم عن ابن عباس)
“Bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman. Beliau bersabda: Takutlah kamu terhadap doa orang yang dizhalimi. Karena tidak ada penghalang antara dia dengan Allah ta’ala” (HR.Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas)
f. Doa orang yang sedang berpuasa
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ثلاث دعوات لا ترد: دعوة الوالد لولده، ودعوة الصائم، ودعوة المسافر (رواه البهقى عن أنس بن مالك)
“Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: Tiga doa yang tidak tertolak; doa orang tua untuk anaknya, doa orang yang puasa dan doa musafir” (HR. Baihaqi dari Anas bin Malik)
g. Doa orang tua untuk anaknya
Dalilnya sudah disebutkan di atas.
h. Doa di waktu dan keadaan yang utama
Seperti ketika sujud dan sebelum salam dalam shalat, ketika hujan, di sepertiga malam terakhir.
وعن ابن عباس رضي الله عنهما قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: أما الركوع فعظموا فيه الرب، وأما السجود فاجتهدوا في الدعاء فقَمِنٌ أن يستجاب لكم (رواه مسلم)
“Adapun ketika ruku, maka agungkanlah Allah. Sedangkan ketika sujud, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa, niscaya doa tersebut pasti dikabulkan untuk kalian.” (HR. Muslim dari Ibnu Abbas)
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : أَقْرَبُ مَا يَكُونُ العَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)
Dari Abu Hurairah radiallahu anhu, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Keadaan seorang hamba paling dekat dengan Rabbnya adalah ketika ia sedang bersujud, maka perbanyaklah berdoa saat itu.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)
[selesai nukilan dari Syaikh As-Sa’di dengan tambahan dalil dan keterangan dari penulis]
C. Tadabbur
Pengaruh dari nama-Nya Al-Mujiib (المُجِيْب) bisa dilihat dari dikabulkannya doa para Nabi dan orang shalih sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur’an dan Hadits,
a. Nabi Nuh alaihissalam
وَنُوحًا إِذْ نَادَىٰ مِن قَبْلُ فَٱسْتَجَبْنَا لَهُۥ فَنَجَّيْنَٰهُ وَأَهْلَهُۥ مِنَ ٱلْكَرْبِ ٱلْعَظِيمِ (الأنبياء:76)
“Dan (ingatlah kisah) Nuh, sebelum itu ketika dia berdoa, dan Kami memperkenankan doanya, lalu Kami selamatkan dia beserta keluarganya dari bencana yang besar” (QS. Al-Anbiya’: 76)
وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥٓ أَنِّى مَسَّنِىَ ٱلضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ () فَٱسْتَجَبْنَا لَهُۥ فَكَشَفْنَا مَا بِهِۦ مِن ضُرٍّ ۖ وَءَاتَيْنَٰهُ أَهْلَهُۥ وَمِثْلَهُم مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا وَذِكْرَىٰ لِلْعَٰبِدِينَ (الأنبياء:83-84)
Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”. Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipatgandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah” (QS. Al-Anbiya’: 83-84)
b. Nabi Yunus alaihissalam
وَذَا ٱلنُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَٰضِبًا فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِى ٱلظُّلُمَٰتِ أَن لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبْحَٰنَكَ إِنِّى كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ () فَٱسْتَجَبْنَا لَهُۥ وَنَجَّيْنَٰهُ مِنَ ٱلْغَمِّ ۚ وَكَذَٰلِكَ نُۨجِى ٱلْمُؤْمِنِينَ (الأنبياء:87-88)
“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim. Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kesusahan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman”. (QS-Al-Anbiya: 87-88)
c. Nabi Zakariya alaihissalam
وَزَكَرِيَّآ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥ رَبِّ لَا تَذَرْنِى فَرْدًا وَأَنتَ خَيْرُ ٱلْوَٰرِثِينَ () فَٱسْتَجَبْنَا لَهُۥ وَوَهَبْنَا لَهُۥ يَحْيَىٰ وَأَصْلَحْنَا لَهُۥ زَوْجَهُۥٓ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا۟ يُسَٰرِعُونَ فِى ٱلْخَيْرَٰتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا۟ لَنَا خَٰشِعِينَ (الأنبياء:89-90)
“Dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: “Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik. Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami” (QS. Al-Anbiya: 89-90)
d. Anas bin An-Nadhor
أنَّ الرُّبَيِّعَ عَمَّتَهُ كَسَرَتْ ثَنِيَّةَ جَارِيَةٍ، فَطَلَبُوا إلَيْهَا العَفْوَ فأبَوْا، فَعَرَضُوا الأرْشَ فأبَوْا، فأتَوْا رَسولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ وأَبَوْا، إلَّا القِصَاصَ فأمَرَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ بالقِصَاصِ، فَقالَ أنَسُ بنُ النَّضْرِ: يا رَسولَ اللَّهِ أتُكْسَرُ ثَنِيَّةُ الرُّبَيِّعِ؟ لا والذي بَعَثَكَ بالحَقِّ لا تُكْسَرُ ثَنِيَّتُهَا، فَقالَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: يا أنَسُ، كِتَابُ اللَّهِ القِصَاصُ. فَرَضِيَ القَوْمُ فَعَفَوْا، فَقالَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: إنَّ مِن عِبَادِ اللَّهِ مَن لو أقْسَمَ علَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ (رواه البخارى و مسلم)
“Bahwa bibi Ar-Rubai mematahkan gigi seorang budak. Mereka meminta maaf padanya, tapi mereka (keluarga budak) menolak. Mereka menawarkan kompensasi, tetapi mereka juga menolak. Mereka mendatangi Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dan mereka tetap menolaknya, kecuali harus dengan qishash. Maka Rasulullah shalallahu alaihi wasallam memerintahkan (ditegakkannya) qishash. Anas bin An-Nadr berkata: Wahai Rasulullah, apakah gigi Ar-Rubai akan dipatahkan? Tidak, demi Dzat Yang mengutus engkau dengan haq, giginya tidak akan pernah dipatahkan. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Hai Anas, sesungguhnya ketentuan Allah adalah qishash.” Kemudian mereka (keuarga budak) meridhoi dan memaafkannya. Setelah itu Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Di antara hamba-hamba Allah ada seseorang yang jika dia bersumpah dengan nama Allah, niscaya Dia akan memenuhinya.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik)
Allahu Akbar! Ketika negosiasi dan jalan damai buntu sehingga hukuman qishash harus tetap diberlangsungkan, Anas bin An-Nadhor (saudaranya Rubayyi binti An-Nadhor) ber-munajat kepada Allah ta’ala agar jangan sampai gigi saudarinya di-qishosh (dipatahkan), Allah pun mengabulkannya. Akhirnya keluarga korban tergerakkan hatinya untuk memaafkannya. Setelah itu Nabi bersabda bahwa ada diantara hamba-hamba Allah ta’ala kalau bersumpah, Allah ta’ala langsung mengabulkannya. Dalam hal ini adalah Anas bin An-Nadhor.
2. Allah ta’ala meng-ijabah-i permohonan orang yang dalam kondisi terdesak atau “kepepet” dimana hatinya sangat bergantung kuat kepada Allah ta’ala. Sebagaimana disebutkan di dalam surat An-Naml: 62
أَمَّن يُجِيبُ ٱلْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ ٱلسُّوٓءَ (النمل: 62)
“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya” (QS.An-Naml: 62).
Jika Allah ta’ala belum mengabulkannya maka tentu ada suatu hikmah. Ibnu Jauzi rahima hullah berkata: “Saya melihat suatu musibah yang luar bisa, seorang mukmin yang tertimpa musibah tersebut berdoa tetapi belum di-ijabah-i. Dia terus berdoa tetapi belum juga di-ijabah-i. Waktu pun berlalu tetapi tidak ada juga tanda-tanda di-ijabah-i. Aku katakan hendaknya dia mengetahui bahwa musibah ini adalah musibah yang membutuhkan multi kesabaran”
الحمد لله رب العامين
ULUL ALBAB
Ulul Albab itu orang yang melihat sesuatu dengan objektif. Dengan akal sehat dan hati jernih, tanpa dipengaruhi hawa, kepentingan, ataupun kedengkian.
Karakter yang demikian ini melahirkan perilaku yang berupa:
a. Hablun min Allah bagus
b. Hablun mina-n-nas bagus
c. Suka silaturrahim
d. Berdzikir dan berfikir
e. Takut terhadap hisab di Akherat
Semoga kita semua Ulul Albab
Judul Buku: Memahami Al-Asma’ul Husna Jilid 11
Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

