Solusi Investasi Akhirat Anda

Nama Allah Al-Lathiif (اللَّطِيفُ) Bagian 2

3. antara bentuk “Lathiif” nya Allah ta’ala adalah Dia menghendaki kemaslahatan makhluk-Nya di dunia, maka Dia pun menetapkan perkara-perkara kebaikan dan kemudahan bagi mereka. Allah ta’ala berfirman:

يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلْعُسْرَ (البقرة: 185)

“Allah menghendaki bagi kalian kemudahan dan tidak menghendaki bagi kalian kesukaran” (QS. Al-Baqoroh: 185)

4. Di antara bentuk “Lathiif” nya Allah ta’ala adalah Dia menggiring untuk mereka rizki dan apa yang merupakan hajat juga kedudukan mereka tanpa mereka menyadarinya. Allah ta’ala berfirman, 

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا() وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ (الطلاق: 2-3)

“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia menjadikan baginya jalan keluar. Dan, memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka” (QS. Ath-Tholaq: 2-3)

a. Nabi Yusuf alaihissalam tidak menyadari dirinya sedang digiring dengan suatu proses tertentu oleh Allah ta’ala untuk mencapai kedudukan tinggi di kerajaan Mesir. Dari awal dia alaihissalam sudah diperlihatkan mimpi yang mengisyaratkan akan kemuliaannya, tetapi proses dan tahapannya dia sama sekali tidak mengetahui kalau dia sedang digiring menuju isyarat tersebut. Setelah dikeluarkan dari penjara, dan bertemu dengan ayah, ibu, dan saudara-saudaranya dia langsung menyebut Allah ta’ala sebagai Al-Lathiif (اللَّطِيفُ), 

وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى ٱلْعَرْشِ وَخَرُّوا۟ لَهُۥ سُجَّدًا ۖ وَقَالَ يَٰٓأَبَتِ هَٰذَا تَأْوِيلُ رُءْيَٰىَ مِن قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّى حَقًّا ۖ وَقَدْ أَحْسَنَ بِىٓ إِذْ أَخْرَجَنِى مِنَ ٱلسِّجْنِ وَجَآءَ بِكُم مِّنَ ٱلْبَدْوِ مِنۢ بَعْدِ أَن نَّزَغَ ٱلشَّيْطَٰنُ بَيْنِى وَبَيْنَ إِخْوَتِىٓ ۚ إِنَّ رَبِّى لَطِيفٌ لِّمَا يَشَآءُ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْعَلِيمُ ٱلْحَكِيمُ (يوسف:100)

Dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Dan berkatalah Yusuf: “Wahai ayahku inilah ta’bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah syaitan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku اللَّطِيفُ (Maha Lembut) terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (QS. Yusuf: 100)

b. Nabi Musa alaihissalam sewaktu masih bayi Allah ta’ala pertintahkan agar ditaruh di peti lalu diarungkan di sungai. Ibunya tidak pernah mengetahui bagaimana Allah ta’ala menggiringnya untuk bisa disusui oleh ibunya kembali. Dan, tidak ada yang memperkirakan bahwa Musa Allah ta’ala giring ke tengah-tengah istana untuk dirawat dan dipelihara dengan sebaik-baiknya oleh Fir’aun padahal dia alaihissalam akan menjadi musuhnya dan menghancurkan kerajaannya, petaka besar yang selama itu dia khawatirkan sehingga membunuhi setiap bayi lelaki yang lahir. Allahu Akbar, betapa Allah Al-Lathiif (اللَّطِيفُ). Disebutkan di dalam Al-Qur’an,

أَنِ ٱقْذِفِيهِ فِى ٱلتَّابُوتِ فَٱقْذِفِيهِ فِى ٱلْيَمِّ فَلْيُلْقِهِ ٱلْيَمُّ بِٱلسَّاحِلِ يَأْخُذْهُ عَدُوٌّ لِّى وَعَدُوٌّ لَّهُۥ ۚ وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِّنِّى وَلِتُصْنَعَ عَلَىٰ عَيْنِىٓ () إِذْ تَمْشِىٓ أُخْتُكَ فَتَقُولُ هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَىٰ مَن يَكْفُلُهُۥ ۖ فَرَجَعْنَٰكَ إِلَىٰٓ أُمِّكَ كَىْ تَقَرَّ عَيْنُهَا وَلَا تَحْزَنَ ۚ وَقَتَلْتَ نَفْسًا فَنَجَّيْنَٰكَ مِنَ ٱلْغَمِّ وَفَتَنَّٰكَ فُتُونًا ۚ فَلَبِثْتَ سِنِينَ فِىٓ أَهْلِ مَدْيَنَ ثُمَّ جِئْتَ عَلَىٰ قَدَرٍ يَٰمُوسَىٰ (طه: 39-40)

“Letakkanlah ia (Musa) didalam peti, kemudian lemparkanlah ia ke sungai (Nil), maka pasti sungai itu membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Fir’aun) musuh-Ku dan musuhnya. Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku; dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku. (yaitu) ketika saudara perempuanmu berjalan, lalu ia berkata kepada (keluarga Fir’aun): “Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan memeliharanya?” Maka Kami mengembalikanmu kepada ibumu, agar senang hatinya dan tidak berduka cita. Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu Kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan; maka kamu tinggal beberapa tahun diantara penduduk Madyan, kemudian kamu datang menurut waktu yang ditetapkan hai Musa” (QS. Thoha: 39-40)

c. Sekitar tahun 2000-2003 saya berada di Jakarta. Saya suka mengunjungi Islamic Book Fair yang biasanya diadakan di JCC Senayan Jakarta. Setiap kali berkunjung, perhatian saya tertuju pada buku-buku saku. Allahu Akbar, semua buku saku di setiap stand bisa dikatakan ludes terjual habis. Saya dengan teman-teman saling berkomentar, “Maa syaa-a Allah, betapa beruntung penulisnya, pahala mengalir….”. Saya sendiri bergumam di dalam hati, “Ya Allah, sekiranya saya berkesempatan banyak menulis buku saku”. 

Tahun 2004, Allah ta’ala mentaqdirkan saya untuk tinggal di Surabaya. Bahkan sekarang sudah ber-KTP Surabaya. Sungguh, tidak pernah terbersit di dalam hati untuk menjadi warga Surabaya. Rupanya inilah jalan yang Allah ta’ala menggiring saya untuk banyak menulis buku saku. Tepatnya mulai tahun 2012 ketika mendapatkan amanah menjadi mudir YNF. 

Juga, dulu saya sering mengikuti kajian tafsir. Bersamaan dengan itu, sering juga terbersit di dalam hati, “Ya Allah, sungguh nikmat sekali hafal al-Qur’an sekaligus mengerti tafsirnya dan mengajarkannya, sekiranya saya bisa seperti itu”. Allahu Akbar! Rupanya Allah ta’ala kabulkan dengan menggiringku di Surabaya ini. Saya berkesempatan mengajarkan tafsir di beberapa majlis taklim. Sungguh, tidak pernah saya perkirakan sebelumnya. Ya Allah Engkau lah Al-Lathiif.

d. Ketika melewati RS. dr. Soetomo, sempat bergumam di dalam hati. Maa syaa-Allah rumah sakit besar sekali sudut-sudutnya melewati empat perempatan. “Ya Allah, mungkinkah dakwah sunnah masuk ke dalam rumah sakit ini”. 

Beberapa lama kemudian, saya mendapatkan undangan untuk mengisi kajian wali murid SD Al-Azhar. Nah, di antara yang hadir ada seorang Bapak yang istrinya seorang dokter dan berpraktek di RS. dr. Soetomo. Suatu ketika Ibu dokter tersebut datang ke Pesma THAYBAH tempat saya tinggal untuk konsultasi banyak hal tentang agama. Kemudian saya diminta untuk mengisi kajian di rumah sakit tersebut,  dan alhamdulillah masih terus berlangsung sampai sekarang. Bahkan melebar ke bidang-bidang lainnya. Selain Ongyn, juga BTKV, anestesi, paru, urologi dan lain-lain. Ya Allah innaka Anta Al-Lathiif.

5. Kalau untuk urusan dunia Allah ta’ala sedemikan rupa memperhatikan hamba-Nya sampai dikondisikannya pada suatu kemaslahatan tanpa dia menyadari, lalu bagaimanakah dengan kemaslahatan di Akherat nanti, tentu Dia akan banyak menghapus dosa-dosa dan melipatgandakan pahala. Disebutkan di dalam Al-Qur’an, 

 مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا (لأنعام: 160)

“Barangsiapa berbuat kebaikan maka baginya (pahala) sepuluh kali lipatnya” (QS. Al-An’am)

Disebutkan di dalam Hadits Ibnu Umar radiallahu anhuma

أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: إن الله يدْني المؤمن، فيضع عليه كنَفَه ويستره، فيقول: أتعرف ذنب كذا؟ أتعرف ذنب كذا؟ فيقول: نعم، أي رب، حتى إذا قرَّره بذنوبه، ورأى في نفسه أنه هلك، قال: سترتُها عليك في الدنيا، وأنا أغفرها لك اليوم، فيُعطى كتابَ حسناته، وأما الكافر والمنافق، فيقول الأشهاد هَؤُلَاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمْ أَلَا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ  (هود: 81).

“Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda; Allah mendekatkan orang mukmin, menutupinya, dan menyembunyikannya, lalu berfirman: Tahukah kamu dosa ini dan itu? Tahukah kamu dosa ini dan itu? Ia akan menjawab: Iya, wahai Tuhanku. Kemudian, ketika Dia telah membuatnya mengakui dosa-dosanya dan ia melihat pada dirinya sebagai orang yang binasa, Dia berfirman: Aku telah menutupinya darimu di dunia ini, dan Aku mengampuni dosa-dosamu hari ini. Kemudian ia akan diberikan kitab amal sholehnya. Adapun orang-orang kafir dan munafik, para saksi akan berkata: “Mereka adalah orang-orang yang berdusta terhadap Tuhan mereka. Sesungguhnya laknat Allah atas orang-orang yang zholim.[Hud: 18].

6. Di antara bentuk “Lathiif”-nya Allah ta’ala adalah Dia menciptakan janin di dalam perut ibunya di dalam tiga kegelapan; kegelapan perut, kegelapan dinding rahim  dan kegelapan selaput ketuban. Dia mengalami beberapa fase; nuthfah kemudian segumpal darah, segumpal daging dan dibungkusnya tulang dengan daging. Dikondisikannya demikian, tidak lain untuk menjaga keberadaannya. Dia berfirman, 

ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ  (المؤمنون: 14)

“Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain, Maha Suci Allah sebaik-baiknya Pencipta” (QS. Al-Mu’minun: 14)

7. Di antara bentuk “Lathiif” nya Allah ta’ala adalah Dia menahan bagi hamba-Nya setiap sebab yang bisa membinasakannya. Dia ta’ala menjadikan sebab yang menghalangi antara hamba dan kemaksiatan. Allah ta’ala mengetahui bahwa duniawi, harta dan kekuasaan adalah hal-hal yang manusia berlomba-lomba untuk meraihnya, maka Allah ta’ala memutuskan keterikatan dengannya yang secara membabi buta, dan mengkondisikan hamba-Nya untuk senantiasa melakukan penghambaan diri kepada-Nya. Untuk itu Dia ta’ala tetapkan kadar rizki bagi mereka secara proporsional, tidak digelontorkan tanpa batasan. Karena hal itu bisa membinasakan. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,

وَلَوْ بَسَطَ ٱللَّهُ ٱلرِّزْقَ لِعِبَادِهِۦ لَبَغَوْا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَٰكِن يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَّا يَشَآءُ ۚ إِنَّهُۥ بِعِبَادِهِۦ خَبِيرٌۢ بَصِيرٌ(الشورى:27)

Dan jikalau Allah melapangkan rizki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat (QS. Asy-Syuro: 27).

8. Di antara bentuk “Lathiif” nya Allah ta’ala adalah Dia memerintahkan ibadah-ibadah sosial (ibadah yang terkait dengan hablun mina-n-nas) kepada para hamba-Nya. Dengan ibadah-ibadah sosial tersebut akan semakin menguatkan eksistensi mereka dan  akan melahirkan sense of competity dalam kebaikan yang biasa disebut dengan fas tabiqul khoirot.

9. Di antara bentuk “Lathiif” nya Allah ta’ala adalah Dia memberikan ujian-ujian kepada para hamba-Nya untuk meninggikan derajat mereka dan menggiringnya kepada kesempurnaan, tetapi bisa jadi hamba tidak menyadarinya. Dia ta’ala berfirman, 

كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia sangat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia sangat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

10. Di antara bentuk “Lathiif” nya Allah ta’ala adalah Dia mengkondisikan hamba- hamba-Nya yang dikehendaki menjadi Nabi dimana tugasnya sangatlah berat, yaitu “ngemong” ummat dengan pembiasaan karakter-karakter kesabaran dan mujahadah. Mareka pun dari awal telah dikondisikan untuk “angon” kambing.

Bermula dari “angon” kambing yang membentuk karakter kesabaran dan mujahadah lalu diangkat menjadi Nabi dengan tugas “ngemong” ummat yang sungguh sangat membutuhkan kesabaran dan mujahadah. Disebutkan di dalam Hadits,

ما بعثَ اللَّهُ نبيًّا إلَّا راعيَ غنَمٍ، قالَ لَهُ أصحابُهُ: وأنتَ يا رسولَ اللَّهِ؟ قالَ: وأَنا كُنتُ أرعاها لأَهْلِ مَكَّةَ بالقَراريط قالَ سُوَيْدٌ: يعني كلَّ شاةٍ بقيراطٍ

(رواه البخارى عن أبى هريرة)

“Allah tidak mengutus seorang Nabi kecuali ia adalah seorang penggembala domba. Para Sahabat bertanya kepadanya, “Dan engkau, wahai Rasulullah?” Ia menjawab, “Aku juga. Dulu aku menggembalakan domba-domba milik penduduk Mekah dengan satu qirat.” Suwayd berkata, “Yang ia maksud setiap domba dengan imbalan satu qirat.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah)

Satu qiroth adalah nominal tertentu dari dinar atau dirham. 

Judul Buku: Memahami Al-Asma’ul Husna Jilid 12

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)