Solusi Investasi Akhirat Anda

Nama Allah Al-Lathiif (اللَّطِيفُ) Bagian 3

11. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Anak sholeh dan hebat juga lahir dari orangtua yang sholeh dan hebat. Umar bin Abdul Aziz yang dikenal sebagai khulafau-r-Rasyidin kelima lahir dari bibit yang berbobot. Tidak ada yang mengetahui digiringnya Umar bin Khothob oleh Allah ta’ala untuk inspeksi di malam hari terhadap rakyatnya yang ketika itu mendapati gadis putri penjual susu sholihah yang kemudian dijadikan menantu, dinikahkan dengan putranya Ashim LALU LAHIRLAH Laila yang menikah dengan Abdul Aziz bin Marwan lalu lahirlah MANUSIA HEBAT,  UMAR BIN ABDUL AZIZ. 

12. Di antara bentuk “Lathiif” nya Allah ta’ala Dia memberikan hamba-Nya rizki yang halal yang dirasakannya cukup karena qona’ah yang ditanamkan di dalam hatinya sehingga dia nyaman menjalani hidup dengan tetap melakukan peribadahan-peribadahan dengan semestinya. Sedikitpun tidak digelincirkan oleh iming-iming glamournya dunia yang menjerumuskan. Padahal duniawi itu sangat memikat, manis rasanya dan enak dipandang. Disebutkan di dalam Hadits, 

إنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وإنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا، فَيَنْظُرُ كيفَ تَعْمَلُونَ (رواه مسلم علن أبى سعيد الخدرى)

“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau. Dan Allah ta’ala menempatkan kalian di dalamnya. Lalu Dia ta’ala melihat apa yang kalian perbuat” (HR. Muslim dari Abu Said Al-Khudri)

13. Di antara bentuk “Lathiif” nya Allah ta’ala adalah ketika Dia menetapkan pada hamba  bentuk ketaatan tinggi yang tidak bisa dilakukan kecuali dengan faktor-faktor pendukungnya, maka niscaya Dia ta’ala akan men-taqdir-kan faktor-faktor pendukung tersebut. Contoh: untuk mendakwahi raja zhalim dengan segala puncak kezhalimannya, Musa alaihissalam membutuhkan pendamping yang meguatkan. Maka, Allah ta’ala tetapkan Harun alaihissalam sebagai pendamping yang menguatkan. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,

وَٱجْعَل لِّى وَزِيرًۭا مِّنْ أَهْلِى () هَـٰرُونَ أَخِى () ٱشْدُدْ بِهِۦٓ أَزْرِى () وَأَشْرِكْهُ فِىٓ أَمْرِى () كَىْ نُسَبِّحَكَ كَثِيرًۭا () وَنَذْكُرَكَ كَثِيرًا (طه:29-34)

“Jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku. Harun, saudaraku. Teguhkanlah kekuatanku dengan (adanya) dia. Dan libatkanlah dia dalam urusanku. Agar kami banyak bertasbih kepada-Mu. Dan, banyak mengingat-Mu” (QS. Thoha: 29-34)

Allah ta’ala mengabulkannya di dalam firman-Nya,

قَالَ قَدْ أُوتِيتَ سُؤْلَكَ يَٰمُوسَىٰ (طه:36)

“Sesungguhnya telah diperkenankan permintaanmu, hai Musa” (QS. Thoha: 36)

Sebagaimana Allah ta’ala mejadikan Hawariyyun membantu dakwah Nabi Isa alaihissalam,

وَإِذْ أَوْحَيْتُ إِلَى ٱلْحَوَارِيِّۦنَ أَنْ ءَامِنُوا۟ بِى وَبِرَسُولِى قَالُوٓا۟ ءَامَنَّا وَٱشْهَدْ بِأَنَّنَا مُسْلِمُونَ (المائدة: 111)

“Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia: “Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada Rasul-Ku”. Mereka menjawab: Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai Rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu)”(QS. Al-Maidah: 111)

Menggerakkan hati manusia dan menjadikan hati mencintai adalah perkara di luar kemampuan manusia. Allah ta’ala berfirman, 

وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ ۚ لَوْ أَنفَقْتَ مَا فِى ٱلْأَرْضِ جَمِيعًا مَّآ أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّهُۥ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (الإنفال:63)

“Dan Dia ta’ala lah yang menyatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat menyatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah menyatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Al-Anfal: 63)

Jadi, semua itu tidak lain karena luthfu (kelembutan) Allah kepada hamba-Nya yang diberi tugas berat. Demikian juga sebagaimana Allah ta’ala berbuat dengan luthfu (kelembutan) -Nya kepada Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,

هُوَ ٱلَّذِىٓ أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِۦ وَبِٱلْمُؤْمِنِينَ (المائدة:62) 

“Dan jika mereka bermaksud menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi Pelindungmu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para kaum mukminin” (QS. Al-Maidah: 62)

Maa syaa-a Allah, mari kita lihat para Shahabat radiallahu anhu, melalui mereka Allah ta’ala kuatkan dakwah beliau shalallahu alaihi wasallam. Di antaranya, mereka yang sejak awal mendampingi beliau, dijadikan sebagai keluarga dekat sehingga circle-nya lebih kuat. 

a. Abu Bakar putrinya dinikahi Nabi shalallahu alaihi wasallam

b. Umar bin Khoththob putrinya dinikahi Nabi shalallahu alaihi wasallam

c. Utsaman bin ‘Affan dijadikan sebagai menantu beliau shalallahu alaihi wasallam

d. Ali bin abu Tholib dijadikan sebagai menantu beliau shalallahu alaihi wasallam.

Bagi bangsa Arab, ketika itu pernikahan adalah sarana yang sangat kuat di dalam menjalin hubungan. Maka, selain keempat orang di atas, Nabi menikahi para wanita yang melalui mereka dakwah semangat kuat. Misalnya:

e. Juwairiyah, putri pimpinan kaum Bani Mustholiq. Sejak dinikahi, kaumnya tidak lagi memusuhi kaum muslimin bahkan banyak dari mereka yang masuk Islam dan menjadi tentara di dalam banyak peperangan. 

f. Ramlah Ummu Habibah, putri Abu Sufyan sang dedengkot Quraisy yang sangat memusuhi Nabi shalallahu alaihi wasallam. Sejak putrinya dinikahi ia tidak lagi menunjukkan permusuhan bahkan akhirnya masuk Islam.

g. Shofiyah, wanita Yahudi putri Huyay pemimpin Yahudi Bani Nadhir. Sejak dinikahi oleh Nabi shalallahu alaihi wasallam, pahamlah manusia bahwa Islam datang bukan untuk mengangkat derajat kaum tertentu dengan merendahkan kaum lainnya. 

14. Di antara bentuk “Lathiif” nya Allah ta’ala adalah Dia ta’ala memberikan kepada hamba-Nya pasangan (suami/istri), anak, dan harta yang sangat mereka senangi dan cintai. Lalu, Allah ta’ala uji mereka dengan kematian, kekurangan, dan kebangkrutan yang menjadikan mereka sedih. Tetapi, Allah ganti semuanya dengan pahala yang besar dan derajat yang tinggi. Untuk itu, Nabi shalallahu alaihi wasallam mengajari kita doa, 

اللَّهُمَّ أْجُرْنِي في مُصِيبَتِي، وأَخْلِفْ لي خَيْرًا مِنْها

“Ya Allah! Berilah saya pahala atas musibah ini, dan gantilah untukku yang lebih baik darinya”

Sebagaimana disebutkan di dalam Hadits, Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda,

ما مِن مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ، فيَقولُ ما أمَرَهُ اللَّهُ: {إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ} [البقرة: 651]، اللَّهُمَّ أْجُرْنِي في مُصِيبَتِي، وأَخْلِفْ لي خَيْرًا مِنْها، إلَّا أخْلَفَ اللَّهُ له خَيْرًا مِنْها  (رواه مسلم عن أم سلمة)

“Tidaklah seorang muslim ditimpa musibah lalu mengucapkan apa yang Allah ta’ala perintahkan yaitu: “Inna lillahi wa inna ilaihi wa ilaihi roji’un” (QS. Al-Baqoroh: 56) dan “Allumma’jurni fi mushibati wa akhlif lii khoiron minha” melainkan Allah ta’ala akan menggantinya dengan yang lebih baik darinya” (HR. Muslim dari Ummu Salamah)

15. Di antara bentuk “Lathiif”-nya Allah ta’ala adalah ketika menguji hamba-Nya dengan musibah-musibah, Dia ta’ala memberinya taufiq untuk bersikap sabar dimana balasannya yang berupa pahala besar dan derajat tinggi jauh melampaui kadar ujiannya. Contoh Nabi Ayyub alaihissalam. Ujian musibahnya sangat besar, tetapi dengan luthfu (kelembutan) -Nya beliau merasakan di dalam hatinya manisnya ruh roja’ (harapan), kuatnya harapan rahmat, dan gigihnya permohonan kesembuhan dan besarnya pahala maka beban berat sakitnya dirasakannya ringan dan jiwanya tetap semangat.

16. Di antara bentuk “Lathiif”-nya Allah ta’ala, Dia ta’ala memberikan ujian kepada hamba-Nya sesuai dengan kadar iman-nya. Jika imannya kuat maka ujiannya besar, sebaliknya jika imannya tipis maka ujiannya pun tidak besar. Disebutkan di dalam Hadits, 

سُئِلَ رسولُ اللهِ أيُّ الناسِ أشدُّ بلاءً قال الأنبياءُ ثم الأمثلُ فالأمثلُ يُبتَلى الناسُ على قدرِ دِينِهم فمن ثَخنَ دِينُه اشتدَّ بلاؤه ومن ضعُف دِينُه ضعُفَ بلاؤه وإنَّ الرجلَ لَيصيبُه البلاءُ حتى يمشيَ في الناسِ ما عليه خطيئةٌ (رواه الترمذى عن سعد بن أبى وقاص)

“Rasulullah shalallahu alaihi wasallam ditanya, siapakah manusia yang berat ujiannya? Beliau menjawab: Para Nabi kemudian yang semisal dan yang semisalnya. Manusia diuji sesuai kadar agamanya. Barangsiapa yang agamanya kuat maka ujiannya berat, dan barangsiapa yang agamanya lemah maka lemah pula ujiannya. Dan, seseorang senantiasa akan diberi ujian hingga dia berjalan di tengah-tengah manusia tanpa adanya dosa” (HR. At-Tirmidzi dari Sa’ad bin Abi Waqosh)

17. Di antara bentuk “Lathiif”-nya Allah ta’ala dijadikannya manusia menemukan cara atau strategi atau rumusan yang lebih mudah dan lebih sederhana di dalam meraih kemaslahatannya. Contoh: Dahulu, anak-anak baru bisa baca Al-Qur’an ketika duduk di kelas lima SD. Sekarang dengan ditemukannya metode tertentu anak-anak TK banyak yang sudah bisa membaca Al-Qur’an.

Contoh lain, Alhamdulillah dengan taufiq-Nya saya menulis buku “Belajar Ilmu Waris Praktis”. Bermula dari perbincangan dengan beberapa orang. Mereka mengeluhkan susahnya belajar ilmu faroidh, sulit, mbulet, rumit, dan…. dan… dan…. Ada yang mengatakan bahwa dirinya aktif mengikuti kajian faraidh sepekan sekali, tetapi tidak paham sama sekali. Dia menuturkan dirinya tetap hadir hanya semata-mata untuk  mendapatkan fadhilah dari bermajlis ilmu saja.  Akhirnya saya mencoba mengingat-ingat pelajaran dengan metode bagan yang pernah diajarkan oleh guru saya. Kemudian saya mulai menulis. Dan, alhamdulillah metode bagan ini cukup bisa membantu ummat dalam mempelajari ilmu faroidh.

18. Ketika kita memahami nama Allah Al-Lathiif (اللَّطِيفُ) yang makna-maknanya menunjukkan betapa Dia sangat memperhatikan kemaslahatan hamba-hamba-Nya, bahkan demi kemaslahatan ini mereka dikondisikan dari satu tahapan ke tahapan berikutnya tanpa mereka menyadarinya. Hal ini harus meningkatkan pada diri hamba rasa cinta kepada-Nya setinggi-tingginya.

19. Ketika makna Al-Lathiif (اللَّطِيفُ) yang diantaranya adalah Allah ta’ala menggiring hamba kepada kemaslahatan yang diinginkannya tanpa hamba menyadarinya akan menjadikan hati semakin tenang sehingga kegundahan hati mudah sekali disingkirkan. Untuk itu, jika Anda menghadapi kondisi banyak kebuntuan dan peralihan dari satu benturan ke benturan yang lainnya segera sadarilah bahwa siapa tahu ini bagian dari skenario Allah ta’ala di dalam menghantarkan Anda kepada suatu solusi yang lebih kuat dan kokoh. 

20. Ketika makna Al-Lathiif (اللَّطِيفُ) sering dihadirkan di dalam hati, akan menguat pada diri seorang hamba kadar tawakkal kepada Allah ta’ala. 

21. Ketika makna Al-Lathiif (اللَّطِيفُ) yang diantaranya betapa Ilmu Allah meliput segala sesuatu sampai pada hal yang sangat lembut, sangat samar, dan sangat tersembunyi akan menjadikan hamba menjalani hidup semakin lebih hati-hati baik terkait perkataan ataupun tindak-tanduk. Seorang hamba betul-betul akan terpatri pada dirinya konsekwensi makna ayat 16 surat Lukman, 

يَٰبُنَىَّ إِنَّهَآ إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِى صَخْرَةٍ أَوْ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ أَوْ فِى ٱلْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا ٱللَّهُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ (لقمان: 16)

“(Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui” (QS. Lukman: 16)

Sungguh hamba menyadari betapa tidak ada apapun yang terluput dari-Nya, biji sawi saja sesuatu yang sangat kecil di dalam batu lagi tidak luput dari-Nya apa lagi perkara lain yang lebih besar. Hal ini menjadikan hamba banyak me-muhasabah diri dan semakin lebih berhati-hati. Allah ta’ala berfirman, 

أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلْخَبِيرُ (الملك:14)

“Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan); dan Dia Maha Lembut lagi Maha Mengetahui?” (QS. Al-Mulk: 14)

Judul Buku: Memahami Al-Asma’ul Husna Jilid 12

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)