Solusi Investasi Akhirat Anda

Nabi Yusuf alaihissalam (Kisah dan ‘Ibrah) bagian 2

Keputusan tetap dipenjara

Sebenarnya sangat terang bagi raja dan para pembesarnya bahwa Yusuf adalah orang baik. Bukti-bukti dan perilakunya menunjukkan dia terbebas dari tuduhan buruk, Seperti: tuduhan perselingkuhan, padahal Zulaikha yang berbuat makar. Teriris-irisnya tangan para wanita yang diundang ke istana juga makar Zulaikha. Namun demikian, kerajaan tetap memutuskan agar Yusuf dijebloskan ke dalam penjara. Kenapa? Karena raja menginginkan case closed. Jika tidak dipenjara, maka siapa saja yang melihat Yusuf akan teringat kasus Zulaikha. Sehingga cerita akan terus bergulir di tengah-tengah masyarakat menjadi bola liar.

Berdakwah di penjara

Nabi Yusuf alaihissalam masuk penjara bersama dua orang pemuda. Salah satu dari keduanya mengatakan, “Saya bermimpi memeras khamr.” Yang satunya lagi mengatakan, “Saya bermimpi membawa roti di atas kepalaku lalu burung -burung memakannya.”

“Wahai Yusuf, takwilkanlah mimpi kami. Sungguh kami memandangmu sebagai orang yang baik!”, pinta mereka kepada Nabi Yusuf alaihissalam.

Nabi Yusuf alaihissalam menjawab, “Kalian berdua tenang saja, saya akan segera menerangkan mimpi kalian. Sebelum sarapan atau makan siang kalian datang, saya sudah jelaskan arti mimpi kalian berdua.”

Nabi Yusuf alaihissalam memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mendakwahi keduanya. “Tidaklah saya bisa mentakwilkannya melainkan karena saya diberitahu oleh Allah ta’ala. Dia lah Tuhan kita semua. Kaumku banyak yang berbuat kesyirikan, sementara saya tidak. Saya hanya menyembah Allah ta’ala saja. Saya hanya mengikuti agama Bapak-Bapakku; Nabi Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub. Tidak patut bagi manusia untuk mempersekutukan Allah ta’ala dengan sesuatu apapun. Tidak takutkah mereka yang berbuat kesyirikan? Dia akan meng-hisab kita semua di Akhirat nanti.”

Lebih lanjut Nabi Yusuf alaihissalam mendakwahi mereka, “Hai Sobat, coba ya kalian berdua pikirkan, apakah benar tuhan itu banyak? Tentu tidak, kalau tuhan banyak maka akan terjadi perebutan kekuasaan di antara mereka. Padahal yang namanya tuhan harus berkuasa mutlak.

Atau tidak dikatakan terjadi perebutan kekuasaan di antara mereka, melainkah berbagi kekuasaan. Maka, sama saja. Ini juga menunjukkan tidak ada kekuasaan mutlak. Padahal yang namanya tuhan harus berkuasa mutlak. Untuk itu Tuhan pasti harus satu. Dia Maha Esa. Dia Maha Kuasa.”

“Wahai Sobat, tidaklah kalian menyembah selain Allah ta’ala melainkan sekedar nama-nama yang kalian menamainya semau kalian. Semuanya itu tidak pernah ada dasar yang membenarkannya. Allah ta’ala tidak pernah menetapkan ketetapan yang demikian. Allah ta’ala lah Dzat yang berhak menetapkan semua ketetapan. Dia memerintahkan kalian dan seluruh manusia untuk hanya menyembah kepada-Nya saja. Tetapi kebanyakan manusia melalaikannya.”

Setelah mendakwahi dua kawannya dengan ketauhidan, Nabi Yusuf alaihissalam baru kemudian mentakwilkan mimpi keduanya,

“Wahai Sobat, salah seorang di antara kalian nanti akan menjadi pelayan raja dengan menyediakan hidangan, makanan, minuman dan lainnya. Sementara satunya lagi akan disalib. Dia dibiarkan tidak dikubur sehingga burung-burung berdatangan untuk memakan bangkainya hingga otaknya. Demikianlah takwil mimpi yang kalian tanyakan. Dan pastilah terjadi takwil ini atas mimpi yang kalian berdua tanyakan.”

Bagaimana tidak benar takwilnya, tidaklah ia mentakwilkan melainkan berdasarkan ilmu yang diajarkan Allah ta’ala.

Lalu Nabi Yusuf alaihissalam berpesan kepada salah satu dari keduanya yang diperkirakan selamat yaitu yang menjadi pelayan raja, “Nanti ketika kamu sedang melayani raja ingatkan dia tentang aku, jangan sampai lupa ya!”.

Ketika sudah datang waktunya, seseorang dari keduanya telah menjadi pelayan raja dan satunya lagi disalib lalu dibiarkan tidak dikubur sehingga bangkainya dimakan oleh burung-burung sebagaimana telah ditakwilkan oleh Yusuf, sang pelayan dijadikan lupa oleh syetan sehingga tidak pernah menceritakan tentang Yusuf kepada raja. Akhirnya Yusuf pun berkepanjangan di penjara hingga tujuh tahun lamanya.

Mentakwil mimpi raja

Di hadapan para pemuka dan tokoh kerajaan sang raja menyampaikan mimpi yang dilihat di dalam tidurnya,

“Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh tangkai gandum yang hijau tertutupi oleh tujuh tangkai gandum lainnya yang kering”.

“Saya heran kok bisa sapi yang gemuk-gemuk dan kuat dimakan sapi-sapi yang kurus yang lemah. Demikan juga tangkai-tangkai gandum kering kok malah menutupi tangkai-tangkai gandum yang hijau-hijau nan segar?!”.

“Wahai, para pemuka dan tokoh, tolong jelaskan kepadaku takwilannya!!”

Mereka menjawab, “Kami memandang itu sekedar bunga tidur atau mimpi dari syetan, maka kami tidak bisa mentakwilkan. Adapun kalau mimpi yang bermakna dan berkualitas, maka pasti kami akan takwilkan”.

Subhanallah, sebenarnya mereka tidak bisa mentakwilkan mimpi. Tetapi mereka malah menyombongkan diri. Kemudian…..

Pemuda teman sepenjara Yusuf menghadap raja. Dia baru ingat tentang Yusuf setelah tujuh tahun berlalu, “Wahai Baginda Raja, utuslah saya kepada seseorang. Saya akan bertanya kepadanya tentang takwil mimpimu!”.

Pemuda itu bergegas menemui Yusuf di penjara, “Wahai Yusuf orang yang terpercaya, beritahukanlah saya tentang mimpi raja. Dia bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh tangkai gandum yang hijau tertutupi oleh tujuh tangkai gandum lainnya yang kering”.

“Takwilkanlah wahai Yusuf. Nanti saya akan kembali kepada raja dan para pembesarnya untuk menyampaikan takwilnya. Semoga mereka paham dan bisa mengambil manfaat. Juga, nanti namamu akan terangkat, wahai Yusuf”.

Yusuf pun mentakwilkan. “Dengar baik-baik ya… begini takwilnya,

“Kalian harus terus-menerus menanam gandum selama tujuh tahun sebagaimana kalian biasa menanam. Nanti kalau sudah panen biarkan gandum itu di dalam bulirnya. Simpanlah baikbaik. Jangan dikonsumsi kecuali sedikit saja. Kalian harus pandai berhemat”.

“Kemudian sesudah itu akan datang tahun – tahun yang amat sulit, yaitu paceklik selama tujuh tahun. Ia akan menghabiskan gandum yang telah kalian simpan selama tujuh tahun. Sehingga kalian hanya bisa menyisakan sedikit saja”

Kemudian setelah melewati tujuh tahun masa paceklik kalian akan diberi hujan dan air akan berlimpah. Tanaman – tanaman akan tumbuh subur di mana- mana. Rezeki kalian bertambah-tambah bahkan kalian akan memeras anggur dan sejenisnya sebagai tambahan makanan untuk kalian.

Ketika pemuda itu kembali kepada raja dan para pembesarnya dan memberitahukan takwil mimpi oleh Yusuf, mereka kagum karenanya dan sangat bersukacita.

Nabi Yusuf alaihissalam diminta menghadap raja

Raja memerintahkan kepada para pegawai yang ada di sekitarnya untuk mengeluarkan Yusuf dari penjara lalu dibawa untuk menghadapnya. “Wahai Yusuf, silahkan keluar dan mari bersama saya menghadap raja. Beliau memanggilmu”, perintah seorang pegawai kerajaan.

“Oh tidak, kembalilah kamu dan sampaikan kepadanya saya tidak mau keluar dari penjara hingga nama baikku dikembalikan. Tanyakan kepada raja mengenai kejadian para wanita yang mengiris-ngiris tangannya. Apa kaitannya denganku? Apa salahku? Kenapa saya dihukum penjara? Sungguh Allah ta’ala Tuhanku Maha Mengetahui apa yang sebenarnya terjadi”, respon Yusuf menolak intruksi pegawai kerajaan.

Yusuf menolak untuk keluar dari penjara meskipun telah diputuskan bebas. Ini menunjukkan kesabarannya. Dia rela tinggal lebih lama lagi di dalam penjara hingga nama baiknya dipulihkan terlebih dahulu. Dia tidak mau dikesankan oleh manusia sebagai orang buruk karena telah dihukum penjara. Dan, hal yang luar biasa dia sama sekali tidak menyebut Zulaikha sebagai bentuk penghormatan kepadanya.

Kemudian, raja meminta para wanita dihadirkan, “Ketika kalian merayu-rayu Yusuf, apakah kalian mendapatinya ada keinginan juga untuk berbuat terhadap kalian”.

“Oh, subhanallah…. subhanallah…. Sungguh kami tidak berbuat demikan”, ucap mereka membantah tuduhan.

Mereka pun secara reflek menoleh ke Zulaikha, ”Dia lah yang merayu-rayu, dan kami diperintahkan untuk memotivasi Yusuf agar memenuhi keinginannya. Sedikitpun kami tidak melihat keburukan pada diri Yusuf,”

Khawatir para wanita melakukan sumpah atas dirinya, Zulaikha pun langsung mengakuinya, “Iya benar, sekarang perkaranya telah terangbenderang, saya lah yang merayu-rayu Yusuf. Sungguh dia orang yang baik, jujur dan menjaga diri”.

“Pengakuanku ini tidak lain agar lebih terang bagi suamiku bahwa belum terjadi apa-apa antara saya dan Yusuf kecuali sebatas merayunya saja. Saya tidak mengkhianatinya. Saya tidak merusak kehormatannya. Sungguh Allah ta’ala tidak memberi hidayah pada makar dan pengkhianatan”,

Dari ucapannya ini, Zulaikha membela dan memuji diri seakan – akan tidak berbuat kemungkaran dalam kejadian ini. Padahal tindakannya itu merupakan kemungkaran dan dosa, Setelah menyadari dirinya telah berbuat tazkiyatun nafs yaitu memandang dirinya suci, maka dia langsung mentaubatinya dengan mengatakan,

“Saya tidak mungkin membebaskan diriku dari keburukan. keserakahan, dan makar jahat. Karena nafsu ammarah bis suu-i (senantiasa berbisik kejahatan). Tidak ada yang bisa terhindar darinya kecuali orang yang telah dilimpahkan rahmat oleh Allah ta’ala. Ya Allah, saya bertaubat kepada-Mu. Engkaulah Dzat Yang Maha Pengampun lagi Penyayang”.

Judul Buku: Nabi Yusuf alaihissalam (Kisah dan ‘Ibrah)

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)