MUQADDIMAH
Beberapa tahun yang lalu ketika masih nyantri di pondok pesantren, datanglah seorang mahasiswa UGM ke pesantren dengan tujuan mendalami Islam memanfaatkan liburan kampusnya. Ketika itu bulan Ramadhan yang memang pesantren tempat saya belajar ini mengadakan “Pondok Ramadhan” terbuka bagi umum. Seorang mahasiswa ini nampak sekali ingin tahu wawasan keislaman secara mendalam. Kebetulan saya diantara yang ditunjuk untuk membina program ini. Betapa saya sering dibikin pusing dengan pertanyaan-pertanyaannya. Sejak saat itu sadarlah saya bahwa kualitas keislaman saya adalah “islam keturunan” jauh dari koridor keilmiahan. Hal itu melecut saya untuk terus belajar. Pengembaraan nyantri pun terus berlangsung hingga suatu waktu yang dikehendaki Allah ‘azza wa jalla saya bisa merasakan indahnya Islam. Alhamdulillah.
Saya tidak sendirian, ternyata masih banyak kaum muslimin yang berislam bukan karena pemahaman, tetapi karena doktrin secara turun-temurun. Bagi mereka Islam adalah sebatas apa yang mereka dapati dari nenek moyangnya. Mereka tidak mau mengkaji dari sumbernya; al-Qur’an dan Hadits. Oleh karena itu mereka tidak bisa menjelaskan hakekat Islam secara ilmiah. Akibatnya mereka mudah diombang-ambingkan oleh syubuhat-syubuhat yang sengaja dihembuskan oleh musuh-musuh Islam dan kelompok-kelompok sesat.
Buku sederhana ini ditulis dengan tujuan agar kaum muslimin mau mengkaji agamanya sendiri, tidak sekedar ikut-ikutan. Tentunya di dalamnya terdapat kekurangan-kekurangan yang sangat banyak. Tetapi inilah persembahan penulis yang masih “sangat cetek ilmunya” sekedar ingin berbagi apa yang dirasakan dan diketahuinya tentang Islam. Oleh karena itu masukan dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan.
MENGAPA SAYA BERAGAMA ISLAM?
Sebuah tulisan sederhana tentang indahnya Islam yang bisa memperkuat keislaman seorang muslim dan memikat non-muslim untuk memeluk agama Islam. Insya Allah.
INDAHNYA ISLAM
1. Islam itu Agama yang Benar
Allah azza wa jalla berfirman:
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ [آل عمران: 19]
“Sesungguhnya agama (yang benar) di sisi Allah adalah Islam” (QS. Ali Imran: 19)
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ [آل عمران: 85]
“Barangsiapa mencari agama selain Islam, sekali-kali tidak akan diterima darinya dan pada hari Kiamat dia termasuk orang-orang yang rugi” (QS. Ali-Imran: 85)
Jangan sampai kita digelincirkan oleh orang-orang liberal yang mengatakan bahwa semua agama itu benar. Mereka semata-mata memakai dalil logika. Menurut mereka, banyak jalan menuju Jakarta; bisa melalui jalur pantura, jalur selatan, jalur laut, jalur udara/pesawat. Semua menuju pada tujuan yang sama, yaitu Jakarta. Apa lah artinya logika (baca: akal-akalan) dibandingkan dengan firman Allah?! Seandainya mereka menukil dalil dari al-Qur’an maka ketahuilah bahwa mereka hanya mencari-cari ayat yang dipandangnya bisa mendukung paham/pemikiran mereka lalu ditafsirkannya bukan dengan penafsiran yang sebenarnya. Contoh ayat yang dinukil oleh mereka:
مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا [سورة آل عمران: 67]
“Ibrahim bukanlah seorang Yahudi bukan (pula) seorang Nashrani, tetapi dia adalah seorang yang lurus, muslim” (QS. Ali Imran: 67)
Komentar mereka: Tuh lihat, Allah sendiri tidak mempermasalahkan agama nabi Ibrahim, Yahudi kah? Nashrani kah? Itu tidak penting, karena semua agama sama. Yang penting kan lurus dan tunduk pasrah kepada ajaran agamanya. Jadi, semua orang dengan agama apapun selama dia tunduk pasrah kepada ajaran agamanya maka dia disebut muslim.
Disini, mereka mentafsirkan “muslim” dengan tunduk dan pasrah. Dengan ini mereka hendak menegaskan bahwa semua agama adalah sama benarnya. Mari kita lihat ayat ini secara lengkap, jangan dipotong untuk mengelabuhi orang awam.
مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ [آل عمران: 67]
“Ibrahim bukanlah seorang Yahudi bukan (pula) seorang Nashrani, tetapi dia adalah seorang yang lurus, muslim dan dia tidaklah termasuk orang-orang musyrik” (QS. Ali Imran: 67)
Pertanyaan: adakah agama yang tidak syirik (menyekutukan Allah)? Semua agama ajarannya adalah syirik, kecuali Islam.
2. Islam adalah Agama Seluruh Nabi
Islam bukanlah agama baru. Ia telah ada sejak manusia ada. Adamlah manusia pertama yang diciptakan Allah dan dia seorang Nabi. Dan semua Nabi beragama Islam, sebagaimana firmannya:
هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَذَا [ الحج : 78]
“Dia menamai kalian “muslim” (orang Islam) sejak dulu dan sampai sekarang ini” (QS. Al-Hajj: 78)
Apa agama nabi Musa yang ummatnya dikenal dengan sebutan Yahudi? Apa agama nabi Isa yang ummatnya dikenal dengan sebutan Nasrani? Agama keduanya adalah Islam. Lihatlah apa yang Musa ‘alaihissalam dakwahkan:
قَالَ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا أَنْزَلَ هَؤُلَاءِ إِلَّا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ بَصَائِرَ وَإِنِّي لَأَظُنُّكَ يَا فِرْعَوْنُ مَثْبُورًا (الإسراء:102)
“Musa berkata: Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mu’jizat-mu’jizat itu kecuali Tuhan Yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir’aun, seorang yang akan binasa” (QS. Al-Isra: 102)
وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ أَنْفُسَكُمْ بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ فَتُوبُوا إِلَى بَارِئِكُمْ (البقرة:54)
“Dan (ingatlah) tatkala Musa berkata kepada kaumnya, hai kaumku sesungguhnya kalian telah menganiaya kepada diri kalian dengan menjadikan anak lembu (sebagai sesembahan), maka bertobatlah kepada Tuhan kalian yang telah menjadikan kalian” (QS. Al-Baqarah: 54)
Lihatlah apa yang didakwahkan oleh Nabi Isa alaihissalam,
إِنَّ اللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ (أل عمران: 51)
“(Isa berkata kepada kaumnya) sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhan kalian, maka sembahlah Dia, inilah jalan yang lurus” (QS. Ali Imran: 51)
Jelaslah dari ayat-ayat di atas bahwa Nabi Musa menyeru Fir’aun agar menyembah Allah saja, demikian pula Nabi Isa. Jadi, keduanya beragama Islam. Bukankah Islam hanya mentauhidkan Allah. Maka, seluruh kaum Yahudi dan Nashrani yang mengimani dan mentaati Nabinya disebut “muslim”. Tetapi, dalam perjalanannya Yahudi dan Nasrani tidak lagi sebagai muslim. Karena mereka tidak lagi mentahuhidkan Allah azza wa jalla. Sebagaimana yang Allah informasikan kepada kita;
وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ (التوبة:30)
“Orang Yahudi berkata: Uzair adalah anak Allah, orang Nashrani berkata: al-Masih Isa adalah anak Allah” (QS. At-Taubah: 30)
Jadi, salah kaprah orang yang mengatakan agama Kristen/Nashrani ada lebih dulu daripada Islam, karena Nabi Isa lebih dulu diutus daripada Nabi Muhammad. Komentara kita; betul zaman hidupnya Isa mendahului Muhammad shalallahu alaihi wasallam, tetapi bukan sebagai tuhan melainkan sebagai nabi.
3. Beragama Islam Dijamin Masuk Surga
Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda:
مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ (رواه الترمذى)
“Barangsiapa mengucapkan ‘laa ilaaha illa Allah’ maka niscaya dia masuk Surga” (HR. At-Tirmidzi)
Kita tidak boleh ragu-ragu bahwa hanya orang Islam saja yang masuk Surga. Semua non muslim pasti masuk Neraka. Allah azza wa jalla berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ [الأعراف: 40]
“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidakk (pula) mereka masuk Surga, hingga unta masuk ke lobang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan” (QS. Al-A’raf: 40)
Mungkinkah onta yang sedemikian besarnya masuk ke dalam lobang jarum? Ini sesuatu yang mustahil. Ini menunjukkan betapa tidak mungkin alias sangat mustahil non muslim akan masuk Surga. Mereka akan berada dalam Neraka selama-lamanya sebagaimana orang-orang muslim akan berada dalam Surga selama-lamanya.
4. Islam Hanya Menyembah Satu Tuhan
Tiada agama apapun di muka bumi ini yang hanya menyembah satu tuhan kecuali Islam. Sebut saja, Kristen. Agama ini menyembah trinitas (tiga tuhan). Hindu, menyembah trimurti; Bhrahma, Siwa, dan Wisnu. Budha, meyakini banyak dewa. Yahudi, meyakini ada tuhan anak, yaitu ‘Uzair. Apabila dikatakan ada selain Islam yang menyembah satu tuhan; Sinto dan Majusi. Kita menerimanya dan membenarkannya. Tetapi, apakah yang mereka sembah? Sinto menyembah matahari dan Majusi meyembah api. Maka, ini menunjukkan kejahilannya. Bagaimana mungkin makhluk disembah?! Ratu Bilqis yang hidup sezaman dengan Nabi Sulaiman telah bertobat dari menyembah matahari dan masuk Islam menyembah Allah ‘azza wa jalla. Salman al-Farisi telah bertobat dari menyembah api dan mengucapkan syahadat di depan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk Islam, menyembah Allah saja. Mari kita renungkan, akal yang sehat dan fithrah yang selamat pasti hanya menerima bahwa Tuhan haruslah satu. Karena yang namanya Tuhan harus berkuasa mutlak. Kalau lebih dari satu, secara logika pasti akan terjadi perebutan kekuasaan di antara mereka. Dan perebutan kekuasaan diantara tuhan menunjukkan bahwa mereka tidak berkuasa mutlak, maka tidak bisa disebut Tuhan. Seandainya dikatakan diantara tuhan-tuhan itu tidak terjadi perebutan kekuasaan tetapi bagi-bagi kekuasaan sesuai dengan wewenangnya. Berbagi kekuasaan juga menunjukkan tidak adanya kekuasaan mutlak, maka tidak bisa disebut Tuhan. Hal ini sebagaimana Allah azza wa jalla berfirman:
لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا (الأنبياء: 22)
“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya telah rusak binasa” (QS. al-Anbiaya: 22)
Sebagai bentuk kesempurnaan di dalam meyakini bahwa Tuhan itu hanya satu, maka Islam menjadikan kesyirikan sebagai dosa yang terbesar, tidak ada yang lebih besar lagi.
5. Kedudukan Seluruh Manusia di Hadapan Allah Azza wa Jalla Sama Saja
Islam tidak membeda-bedakan manusia yang satu dengan manusia yang lainnya. Pejabat atau rakyat, kaya atau miskin, kulit putih atau kulit hitam, orang merdeka atau budak, cantik atau tidak cantik semuanya di hadapan Allah sama saja. Yang membedakan hanyalah takwanya. Allah azza wa jalla berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ (الحجرات: 13)
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah siapa yang paling bertakwa di antara kalian” (QS. al-Hujurat: 13)
وَلَا تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِمْ مِنْ شَيْءٍ وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِمْ مِنْ شَيْءٍ فَتَطْرُدَهُمْ فَتَكُونَ مِنَ الظَّالِمِينَ (الأنعام: 52)
“Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaanNya. Kamu tidak memikul tanggungjawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka dan merekapun tidak memikul tanggungjawab sediktpun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu hendak mengusir mereka, sehingga kamu termasuk orang-orang yang zhalim” (QS. al-An’am: 52)
Judul buku: Mengapa Saya Beragama Islam?
Penulis: Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)
