Solusi Investasi Akhirat Anda

Akhlak Anda Sudah Mulia? bagian 2

c. طلاقة الوجه (berwajah murah senyum)

Suatu ketika seorang ayah bersama anaknya yang baru saja menerima rapot di sekolahnya berpapasan dengan seseorang yang terpandang di daerahnya. Sang ayah memanfaatkan pertemuan itu dengan menceritakan prestasi-prestasi yang telah dicapai oleh putranya kepada sesepuh tersebut. Harapan sang ayah, Sesepuh akan mengomentarinya dengan pujian-pujian kepada putranya yang bisa berdampak untuk terus berpacu dalam prestasi. Namun alih-alih mendapatkan pujian sebagaimana yang diharapkan, senyum saja tidak. Sesepuh hanya berkomentar “O, iya” sambil menggeloyor pergi. Allahul Musta’an! Ini contoh akhlak yang tidak baik. Ingatlah! Murah senyum itu bagian dari akhlak yang mulia.

Akhlak mulia itu adakalanya sudah merupakan anugrah dari Allah ta’ala (طبع), di mana seseorang diberi anugerah oleh Allah ta’ala potensi suatu akhlak tertentu sehingga orang tersebut tinggal meningkatkan dan menguatkannya. Adakalanya tidak merupakan anugerah (تطبع), di mana seseorang tidak mendapatkan potensi suatu akhlak tertentu sehingga dia harus menumbuhkannya sendiri. Setiap orang berbeda-beda. Ada orang yang dianugerahi akhlak berupa A, B, C, D tetapi tidak dianugerahkan E. Sementara orang lainnya dianugerahi akhlak berupa B, C, D, E tetapi tidak dianugerahi A. Maka akhlak yang belum Allah azza wa jalla anugerahkan pada seseorang, dia harus mengupayakan dari dirinya sendiri agar akhlak tersebut muncul lalu dia terus menguatkannya hingga dia benar-benar memiliki akhlak tersebut. 

Seandainya Surga dan Neraka terlihat niscaya tidak ada orang kafir di muka bumi. Semuanya beriman. Tidak ada pelaku maksiat. Semuanya berbuat ketaatan. Jadi, hikmah tidak ditampakan keduanya untuk suatu ujian. Sadarilah dunia adalah kampung ujian. AKHIRAT lah kampung tempat kita kembali dengan nilai ujian masing-masing. (Muhammad Nur Yasin Zain, Pengasuh Pesantren Mahasiswa THAYBAH Surabaya)

Contoh:

  Perkoso Sugiyo Wedoro Ronggo
Jujur ×
Peduli Sekitar ×
Murah Senyum × ×
Menghormati senior
Sabar ×
Tidak Sombong

Keterangan:

1. Perkoso belum memiliki akhlak sabar, maka dia harus mengupayakannya sendiri.

2. Sugiyo belum dianugerahi sifat jujur, maka dia harus mengupayakannya sendiri.

3. Wedoro belum bisa murah senyum, maka dia harus mengupayakannya sendiri.

4. Ronggo belum berkarakter peduli sekitar sekaligus belum murah senyum, maka dia harus berupaya keras untuk mewujudkannya.

Disebutkan di dalam Hadits,

قَالَ نَبِىُّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِنَّ فِيكَ خَلَّتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ الْحِلْمُ وَالأَنَاةُ ». قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَا أَتَخَلَّقُ بِهِمَا أَ مِ اللَّهُ جَبَلَنِى عَلَيْهِمَا قَالَ « بَلِ اللَّهُ جَبَلَكَ عَلَيْهِمَا ». قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى جَبَلَنِى عَلَى خَلَّتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ (سنن أبى داود)

Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda kepada Asyaj Abdul Qoys: Sesungguhnya pada dirimu benar-benar terdapat dua perangai yang Allah ta’ala mencintai keduanya, yaitu sabar dan tidak tergesa-gesa. Dia bertanya: Ya Rasulullah apakah saya yang mengupayakan untuk berakhlak dengan keduanya ataukah keduanya telah Allah ta’ala anugerahkan pada saya. Beliau menjawab: Allah ta’ala telah menganugerahkan keduanya pada dirimu. Lalu dia berucap: Segala puji bagi Allah ta’ala yang telah menganugerahkan pada diriku dua perangai yang Allah ta’ala dan Rasul-Nya mencintai keduanya (Sunan Abu Daud).

Manakah yang lebih utama?

Kalau ada pertanyaan manakah yang lebih utama akhlak yang merupakan anugrah dari Allah (طبع) ataukah akhlak yang diupayakan dari dirinya sendiri (تطبع)?

Syaikh Utsaimin rahima hullah menjelaskan bahwa akhlak yang merupakan anugrah dari Allah ta’ala (طبع) lebih utama karena ia telah menjadi tabiatnya dari awal sehingga ketika dia berada di manapun dan dalam kondisi bagaimanapun niscaya akhlak tersebut akan muncul tanpa seseorang bersusah payah. Kalau ditanya manakah yang lebih banyak pahala dari antara keduanya? Tentu yang kedua lebih banyak pahalanya karena ia tidak akan muncul dengan mudah, tetapi seseorang perlu berupaya keras mewujudkannya.

Husnul khuluq sesama manusia inilah yang dimaksud dengan akhlak ketika disebutkan secara mutlak

B. Keutamaan Akhlak yang Mulia

Disebutkan di dalam riwayat,

عَنِ النَّوَّاسِ بْنِ سَمْعَانَ الأَنْصَارِىِّ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنِ الْبِرِّ وَالإِثْمِ فَقَالَ « الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَالإِثْمُ مَا حَاكَ فِى صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ » (صحيح مسلم)

Dari Nawas bin Sam’an Al-Anshory. Dia berkata:  Saya bertanya kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tentang kebaikan dan dosa. Beliau menjawab: “Kebaikan adalah baiknya akhlak, dan dosa adalah sesuatu yang bergejolak di dalam dada kamu, dan kamu tidak menginginkan ada orang yang mengetahuinya” (Shahih Muslim)

Apakah demikian pengertian kebaikan dan dosa? Tentu bukan. Di sini Nabi tidak menjawab dengan definisi melainkan dengan contoh. Kebaikan sangatlah banyak jenis macam dan rupanya. Di antara kebaikan yang sangat banyak itu Nabi menyebut baiknya akhlak. Ini menunjukkan akhlak yang baik posisinya sangatlah diperhatikan di dalam Islam.

Disebutkan di dalam riwayat Abdullah Ibnu Amr, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

  إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنَكُمْ أَخْلاَقًا (رواه البخارى و مسلم)

Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya (HR. Bukhari dan Muslim)

Saya mencoba memahami Hadits ini dengan tadabbur saya pribadi. Kalau salah saya memohon ampun kepada Allah azza wa jalla. Kenapa orang yang terbaik bukan orang yang paling baik aqidahnya? Bukankah aqidah itu landasan semua amalan untuk diterima atau tidaknya? Kenapa orang yang terbaik bukan orang yang paling baik peribadahannya? Bukankah tujuan manusia diciptakan itu untuk ibadah? Kenapa malah yang disebutkan oleh beliau orang yang terbaik adalah orang yang paling baik akhlaknya?

Di dalam menjalani kehidupan beragama, manusia tidak lepas dari tiga perkara; aqidah, ibadah dan akhlak. Saya menggambarkan tiga perkara tersebut bagaikan rumah kita yang terdiri dari:

a. Pondasi

b. Dinding, pintu, jendela, atap, dan apapun yang dibangun di atas pondasi

c. Tata ruang, taman, aquarium, pemilihan warna, penempatan perabot dan semacamnya yang merupakan faktor keindahan

Nah, pondasi itu gambaran dari aqidah. Dinding, pintu, jendela, dan atap adalah ibadah. Tata ruang, taman, aquarium, pemilihan warna, penempatan perabot adalah akhlak. Perhatikanlah! Tata ruang, taman, pemilihan warna dan semacamnya menjadi tidak berarti jika pondasi, dinding, pintu, atap dan semacamnya bermasalah. Jika semuanya tidak ada masalah maka tata ruang, taman, pemilihan warna benar-benar merupakan penyempurna rumah kediaman yang penghuninya akan sangat betah di dalamnya. 

Penghuni rumah tidak akan betah jika kondisi rumah berantakan tidak indah meskipun pondasi, dinding, pintu, jendela dan lainnya kokoh.

Demikianlah di dalam kehidupan beragama. Setelah aqidah dan ibadah kokoh dan baik, maka seorang muslim dituntut untuk berhias dengan akhlak. Jadi, maksud sabda Nabi bahwa sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya adalah secara otomatis setelah aqidah dan ibadahnya tidak bermasalah. Allahu A’lam.

Oleh karena itu Nabi shalallahu alahi wasallam bersabda,

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- : إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ  فَزَ وِّجُوهُ إِلاَّ تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِى الأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيضٌ (رواه الترمذى)

Dari Abu Hurairah radiallahu anhu, dia berkata: Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Jika melamar kepada kalian orang yang kalian ridhoi agama dan akhlaknya maka nikahkanlah dia. Jika tidak kalian lakukan, niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang nyata” (HR. At-Tirmidzi)

Ini menunjukkan setelah aqidah dan ibadah, maka akhlak tidak boleh terlewatkan. Seseorang tidak diperbolehkan hanya baik aqidah dan ibadahnya.

a. Akhlak adalah penyebab terbanyak yang memasukkan seseorang ke dalam Surga

Disebutkan di dalam riwayat,

عن أبي هريرة قال : سئل رسول الله صلى الله عليه و سلم : ما أكثر ما يلج به الناس الجنة قال : تقوى الله و حسن الخلق (رواه الترمذى)

Dari Abu Hurairah radiallahu anhu, dia berkata: Rasulullah shalallahu alahi wasallam ditanya apakah yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam Surga? Beliau menjawab: “Takwa kepada Allah dan Akhlak yang mulia” (HR. At-Tirmidzi)

Mari kita perhatikan informasi-informasi dari Nabi! 

Bukankah orang terhambat masuk Surga karena memutuskan silaturrahim.

Bukankah orang mati syahid terkendala untuk masuk Surga karena hutang yang belum dibayar

Bukankah Surga anak di bawah kaki Ibu? Dia akan terkendala hingga memperbaiki birrul walidain

Bukankah Ahli shalat dan puasa terkendala masuk Surga karena buruk kepada tetangga

Bukankah istri yang taat kepada suami yang dipersilahkan memasuki Surga melalui pintu yang dikehendakinya?

Bukankah seseorang diampuni Allah ta’ala dan dimasukkan ke dalam Surga karena menyingkirkan ranting pohon yang mengganggu di jalan?

b. Mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya

Disebutkan di dalam riwayat,

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- : أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا (رواه أبو داود و الترمذى)

Dari Abu Hurairah radiallahu anhu, dia berkata: Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya”  (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi)

Saya memahami Hadits ini sebagaimana saya terangkan di atas bahwa hal ini sudah barang tentu tidak melewatkan sisi aqidah dan ibadah.

c. Orang yang berakhlak mulia bisa menyamai derajat ahli shalat dan puasa

Disebutkan di dalam Hadits,

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ :إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ (سنن أبى داود)

Dari Aisyah radiallahu anha, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya seorang mukmin dengan akhlanya yang baik menyamai derajat ahli puasa dan ahli shalat.” (Sunan Abu Daud)

Disebutkan di dalam kitab Aunul Ma’bud (Maktabah Syamilah), orang ahli puasa dan shalat malam adalah dua macam orang yang senantiasa berupaya keras melawan kenyamanan kondisi. Nah, orang yang berakhlak mulia disamakan dengan keduanya karena adanya kesamaan dari sisi upaya kerasnya di mana dia senantiasa berupaya keras dengan sebaik-baiknya sikap dan perilaku setiap kali bergaul dengan manusia.

d. Orang yang berakhlak mulia dijamin dengan Surga paling tinggi

Disebutkan di dalam Hadits,

عَنْ أَبِى أُمَامَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِى رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِى وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِى أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ (سنن أبى داود)

“Saya memberikan jaminan rumah di pinggiran Surga bagi orang yang meningalkan perdebatan walaupun dia orang yang benar. Saya memberikan jaminan rumah di tengah Surga bagi orang yang meningalkan kedustaan walaupun dia bercanda. Saya memberikan jaminan rumah di Surga yang tinggi bagi orang yang membaguskan akhlaknya.” (HR. Abu Dawud)

Allahu Akbar, orang yang membaguskan akhlak dijamin Nabi shalallahu alahi wasallam dengan rumah di Surga tertinggi. Ini menunjukkan betapa akhlak yang mulia memiliki kedudukan tinggi di dalam Islam.

Judul buku: Akhlak Anda Sudah Mulia?

Penulis: Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)