Skip to main content

Solusi Investasi Akhirat Anda

Malu bagian 7

“Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menulis surat kepada Kaisar Heraklius mengajaknya masuk Islam. Surat itu dikirim bersama Dihyah Al-Kalbi radiallahu anhu, dan beliau memerintahkan untuk menyerahkannya kepada penguasa Bushra agar diteruskan kepada Kaisar. Ketika itu Allah ta’ala telah mengalahkan pasukan Persia dengan memenangkan Kaisar, maka Kaisar berjalan dari Hims ke Iliya’ -Baitul Maqdis- sebagai bentuk syukur atas kemenangan yang Allah berikan. Setelah surat Rasulullah shalallahu alaihi wasallam sampai kepada Kaisar, beliau berkata ketika membacanya: Carikan untukku di sini seseorang dari kaumnya untuk aku tanyai tentang Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

Ibnu Abbas radiallahu anhu berkata: Abu Sufyan bin Harb mengabarkan kepadaku bahwa ketika itu ia sedang berada di Syam bersama beberapa orang Quraisy yang datang berdagang, pada masa perjanjian antara Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dan orang-orang kafir Quraisy.

Abu Sufyan berkata: Utusan Kaisar menemui kami di sebagian wilayah Syam, lalu kami dibawa sampai ke Iliya’. Kami dipersilakan masuk ke hadapannya. Dia sedang duduk di singgasana kerajaannya, mengenakan mahkota, dan di sekelilingnya para pembesar Romawi.

Lalu ia berkata kepada penerjemahnya: Tanyakan kepada mereka, siapa di antara kalian yang paling dekat nasabnya dengan orang yang mengaku Nabi itu?

Abu Sufyan berkata: Aku menjawab, saya yang paling dekat nasabnya dengannya.

Kaisar bertanya: Apa hubungan kekerabatanmu dengannya?

Aku menjawab: Ia anak pamanku.

Dan saat itu tidak ada seorang pun dari Bani Abdul Manaf di rombongan itu selain aku.

Kaisar berkata: Dekatkan dia.

Lalu ia memerintahkan agar teman-temanku ditaruh di belakangku, di samping pundakku.

Kemudian ia berkata kepada penerjemahnya: Katakan kepada teman-temannya, aku akan bertanya kepada orang ini tentang orang yang mengaku Nabi itu. Jika ia berbohong, maka dustakanlah ia.

Abu Sufyan berkata: Demi Allah, seandainya bukan karena malu pada hari itu jika teman-temanku menyatakan bahwa aku berbohong, pasti aku akan berbohong ketika ditanya tentang beliau. Tetapi aku malu jika mereka meriwayatkan kebohonganku, maka aku pun jujur kepadanya.

Lalu Kaisar berkata kepada penerjemahnya: Katakan padanya: Bagaimana nasab orang itu di tengah kalian?

Aku menjawab: Ia orang terpandang nasabnya di antara kami.

Kaisar bertanya: Apakah ada orang di antara kalian yang mendakwahkan hal ini sebelumnya?

Aku menjawab: Tidak.

Kaisar bertanya: Apakah kalian menuduhnya sebagai pembohong sebelum ia mendakwahkan apa yang ia dakwahkan?

Aku menjawab: Tidak.

Kaisar bertanya: Apakah ada di antara nenek moyangnya seorang raja?

Aku menjawab: Tidak.

Kaisar bertanya: Apakah para pembesar atau orang-orang lemah yang mengikutinya?

Aku menjawab: Orang-orang lemahlah yang mengikutinya.

Kaisar bertanya: Apakah pengikutnya bertambah atau berkurang?

Aku menjawab: Bertambah.

Kaisar bertanya: Apakah ada orang yang murtad karena benci agamanya setelah masuk ke dalamnya?

Aku menjawab: Tidak.

Kaisar bertanya: Apakah ia berkhianat?

Aku menjawab: Tidak. Dan kami sekarang sedang dalam masa perjanjian dengannya, kami takut ia berkhianat.

Abu Sufyan berkata: Aku tidak bisa menyelipkan kalimat apa pun untuk mencela beliau selain kalimat itu, dan aku tidak takut kalimat selain itu akan dinukil dariku.

Kaisar bertanya: Apakah kalian pernah berperang melawannya atau ia memerangi kalian?

Aku menjawab: Ya.

Kaisar bertanya: Bagaimana peperangan kalian dengannya?

Aku menjawab: Silih berganti. Kadang ia menang atas kami, kadang kami menang atasnya.

Kaisar bertanya: Lalu apa yang ia perintahkan kepada kalian?

Aku menjawab: Ia memerintahkan kami untuk menyembah Allah saja, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Ia melarang kami menyembah apa yang disembah nenek moyang kami. Ia memerintahkan kami untuk shalat, sedekah, menjaga kehormatan, menepati janji, dan menunaikan amanah.

Kaisar berkata kepada penerjemahnya setelah aku mengatakan semua itu: Katakan kepadanya:

Aku telah bertanya kepadamu tentang nasabnya, lalu engkau meyakini ia orang terpandang nasabnya. Dan demikianlah para Rasul, diutus di tengah nasab kaumnya.

Aku bertanya: Apakah ada orang di antara kalian yang mendakwahkan ini sebelumnya? Engkau meyakini tidak. Maka aku katakan  seandainya ada orang di antara kalian yang mendakwahkan sebelumnya, maka berarti dia itu orang yang meniru dakwah yang pernah didakwahkan sebelumnya.

Aku bertanya: Apakah kalian menuduhnya pembohong sebelum ia mendakwahkan apa yang ia dakwahkan? Engkau meyakini tidak. Maka aku tahu ia tidak akan meninggalkan dusta kepada manusia lalu berdusta atas nama Allah.

Aku bertanya: Apakah ada di antara nenek moyangnya seorang raja? Engkau meyakini tidak.  Aku katakan seandainya ada raja dari nenek moyangnya maka aku katakan bahwa Ia menuntut kerajaan nenek moyangnya.

Aku bertanya: Apakah para pembesar atau orang-orang lemah yang mengikutinya? Engkau memastikan orang-orang lemahlah yang mengikutinya. Dan mereka itulah pengikut para Rasul.

Aku bertanya: Apakah pengikutnya bertambah atau berkurang? Engkau meyakini mereka bertambah. Dan demikianlah iman hingga menjadi sempurna.

Aku bertanya: Apakah ada orang yang murtad karena benci agamanya setelah masuk ke dalamnya? Engkau meyakini tidak. Memang demikianlah iman, ketika rasa manisnya mengkristal ke dalam hati, tidak ada seorang pun yang membencinya.

Aku bertanya: Apakah ia berkhianat? Engkau meyakini tidak. Dan demikianlah para Rasul, mereka tidak berkhianat.

Aku bertanya: Apakah kalian pernah memeranginya dan ia memerangi kalian? Engkau memastikan ia telah melakukannya, dan peperangan kalian dengannya silih berganti. Kadang ia menang atas kalian, kadang kalian menang atasnya. Dan demikianlah para Rasul, mereka diuji dan kesudahan yang baik untuk mereka.

Aku bertanya: Apakah kalian pernah memeranginya dan ia memerangi kalian? Engkau memastikan ia telah melakukannya, dan peperangan kalian dengannya silih berganti. Kadang ia menang atas kalian, kadang kalian menang atasnya. Dan demikianlah para Rasul, mereka diuji dan kesudahan yang baik untuk mereka.

Aku bertanya: Apa yang ia perintahkan kalian? Engkau memastikan ia memerintahkan kalian agar menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, melarang kalian menyembah apa yang disembah nenek moyang kalian, dan memerintahkan kalian shalat, sedekah, menjaga kehormatan, menepati janji, dan menunaikan amanah. Ini adalah sifat seorang Nabi. Aku memang sudah tahu bahwa ia akan diutus, tapi aku tidak menyangka ia dari kalangan kalian. Jika benar apa yang engkau katakan, maka hampir saja ia akan menguasai tempat kedua kakiku ini. Seandainya aku bisa sampai kepadanya, pasti aku akan bersusah payah untuk menemuinya. Dan seandainya aku di dekatnya, pasti aku akan membasuh kedua kakinya.”

Abu Sufyan berkata: Kemudian Kaisar meminta didatangkan surat Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, lalu dibacakan:

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Dari Muhammad hamba Allah dan Rasul-Nya, kepada Heraklius penguasa Romawi.

Keselamatan bagi orang yang mengikuti petunjuk.

Amma ba’du: Sesungguhnya aku mengajakmu dengan seruan Islam. Masuk Islamlah, niscaya engkau selamat. Masuk Islamlah, niscaya Allah ta’ala akan memberimu pahala dua kali lipat. Jika engkau berpaling, maka engkau menanggung dosa rakyat Arisiyin.

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ ۚ فَإِن تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ (النساء: 46)

‘Katakanlah: Wahai Ahli Kitab, marilah menuju kepada satu kalimat yang sama antara kami dan kalian, bahwa kita tidak menyembah selain Allah, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan sebagian kita tidak menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling, maka katakanlah: Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang Muslim.’ (QS. Ali Imran: 64)

Abu Sufyan berkata: Setelah Kaisar selesai berkata, meninggilah suara para pembesar Romawi di sekelilingnya dan gaduhlah mereka, aku tidak tahu apa yang mereka katakan. Lalu kami diperintahkan keluar. Ketika aku keluar bersama teman-temanku dan kami menyendiri, aku berkata kepada mereka:

Sungguh urusan Ibnu Abi Kabsyah -maksudnya Nabi shalallahu alaihi wasallam telah menjadi besar! Raja Bani Al-Ashfar -Romawi- saja takut kepadanya.

Abu Sufyan berkata: Demi Allah, aku terus merasa hina dan yakin bahwa urusannya pasti akan menang, sampai Allah memasukkan Islam ke dalam hatiku padahal aku membencinya.” (HR. Bukhari)

Dalam perjalanan waktu tepatnya ketika Fathu Makkah Abu Sufyan beriman kepada Nabi shalallahu alaihi wasallam.

Abu Sufyan berkata: Demi Allah, pada hari itu seandainya bukan karena malu jika teman-temanku menyatakan bahwa aku berbohong, pasti aku akan berbohong ketika ditanya tentang beliau. Tetapi aku malu jika mereka meriwayatkan kebohonganku, maka aku pun jujur kepadanya.

11. Tidak saja ketika bersama orang, tetapi malu juga dalam kesendirian Anda

Muslim yang taat pasti malu untuk berbuat apapun yang merupakan pelanggaran syariat di tengah-tengah manusia. Malu ketika orang lain melihatnya. Ini tabi’at yang baik dan bukti atas keimanannya. Tingkatkanlah, bukan saja ketika di tengah-tengah manusia melainkan juga dalam kesendirian kita. Secara khusus, media yang mudah sekali mendatangkan maksiat, yaitu HP. Mungkinkah seorang muslim yang taat melihat-lihat konten tak senonoh di tengah-tengah manusia? Tidak mungkin ia melakukannya. Untuk itu, pastikan juga dalam kesendirian kita. Ketika itu Anda hanya berduaan dengan Allah ta’ala. Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda,

عن بهز بن حكيم، عن أبيه، عن جده، قال: قلت يا رسول الله، عوراتنا، ما نأتي منها وما نذر؟ قال: احفظ عورتك، إلا من زوجتك أو ما ملكت يمينك، قلت: يا رسول الله، أرأيت إن كان القوم بعضهم في بعض؟ قال: إن استطعت ألَّا تريها أحدًا فلا ترينَّها، قلت: يا رسول الله، فإن كان أحدنا خاليًا؟ قال: فالله أحق أن يُستحيا منه من الناس (أخرجه ابن ماجه وأحمد)

“Dari Bahz bin Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata: Aku bertanya, Wahai Rasulullah, tentang aurat kami, mana yang boleh kami buka dan mana yang harus kami tutup? Beliau menjawab: Jagalah auratmu, kecuali dari istrimu atau budak yang kamu miliki. Aku bertanya lagi: Wahai Rasulullah, bagaimana jika kaum itu bercampur baur satu sama lain?

Beliau menjawab: Jika engkau mampu agar auratmu tidak dilihat seorang pun, maka janganlah engkau menampakkannya.”Aku bertanya lagi: Wahai Rasulullah, bagaimana jika salah seorang dari kami sendirian?

Beliau menjawab: Allah lebih berhak untuk Anda malu kepada-Nya daripada manusia.” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad)

Disebutkan di dalam riwayat lain,

عن سعيد بن يزيد الأنصاري رضي الله عنه، قال: إن رجلًا قال: يا رسول الله، أوصِني، قال صلى الله عليه وسلم: أوصيك أن تستحي من الله عز وجل، كما تستحي رجلًا من صالحي قومك (أخرجه أحمد)

“Dari Sa’id bin Yazid al-Anshari radiallahu anhu, ia berkata: Ada seorang laki-laki berkata, Wahai Rasulullah, berilah aku wasiat.  Maka Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: Aku wasiatkan kepadamu agar engkau malu kepada Allah azza wajalla, sebagaimana engkau malu kepada seorang laki-laki yang shalih dari kaummu.” (HR. Ahmad)

Semoga Allah ta’ala memberikan kita taufiq sehingga kita bisa meningkatkan tabi’at malu yang telah ada pada kita. Aamiin.

Judul buku : Malu

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)