Skip to main content

Solusi Investasi Akhirat Anda

Mayat Mendengar Orang Hidup? bagian 1

Apakah Nabi mendengar setelah wafat?

Pendapat pertama: Nabi mendengar langsung tanpa perantara apa pun. Sama saja baik dekat dari kuburannya atau jauh. Ini pan- dangan As-Subki, al-Haitami, dan kalangan kuburiyyun (pengagung kuburan).

Pendapat kedua: Nabi mendengar langsung yang dekat dari kuburannya. Adapun salam dan shalawat yang jauh dari kuburannya dis- ampaikan kepada beliau (tidak langsung). Ini pandangan Ibnu Qudamah, As-Sakhowy, Ad-Dahlawy.

Pendapat ketiga: Nabi tidak mendengar langsung tetapi disampaikan kepada beliau melalui Malaikat. Ini pandangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnu Abdul Hadi, Ibnu Sahman, Syaikh Al-Albany, Syaikh Bin Baz. Ibnu Sahman berkata: “Kami meyakini bahwa kehidupan beliau (setelah wafat) adalah kehidupan alam barzah. Salam dan shalawat dari para peziarah dan orang-orang yang jauh dari kuburnya disampaikan kepada beliau melalui para malaikat.

Dalil-Dalil Pendapat Pertama dan Kedua:

عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : من صلى علي عند قبري سمعته ، ومن صلى علي نائيا 9 أبلغته (أخرجه البيهقي)

“Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: Barangsiapa bershalawat ke- padaku di sisi kuburanku, aku mendengarnya. Dan barangsiapa bershalwat kepadaku dari jauh disampaikan kepadaku” (Dikeluarkan oleh al-Baihaqy)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : لا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قُبُورًا وَلَا تَجْعَلُوا قَبْرِي عِيدًا وَصَلُّوا عَلَى فَإِنَّ صَلاتَكُمْ تَبْلُغُن حَيْثُ كُنْتُمْ (رواه أبو داود)

“Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan dan janganlah kalian menjadikan kuburanku sebagai ‘id (tempat perayaan) dan bershalawatlah kepadaku ka- rena sesungguhnya shalawat kalian sampai kepadaku di mana saja kalian berada” (HR. Abu Daud)

3) عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم – قَالَ : مَا مِنْ أَحَدٍ يُسَلِّمُ عَلَيَّ إِلَّا رَدَّ اللَّهُ عَلَى رُوحِي حَتَّى أَرُدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ (رواه أبو داود)

“Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tidaklah seseorang mengucapkan salam kepadaku melainkan Allah mengembalikan ruhku sehingga aku menjawab salamnya” (HR. Abu Daud)

Dalil-Dalil Pendapat Ketiga

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةُ سَيَّاحِينَ فِي الْأَرْضِ يُبَلِّغُونِي مِنْ أُمَّتِي السَّلَامَ (رواه النسائي)

“Dari Abdullah Albnu Mas’ud, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya Allah memiliki Malaikat-Malaikat yang berkeliling di bumi yang akan menyampaikan kepadaku salam dari umatku” (HR. An-Nasa’i)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: لا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قُبُورًا وَلَا تَجْعَلُوا قَبْرِي عِيدًا وَصَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ تَبْلُغُنِي حَيْثُ كُنْتُمْ (رواه أبو داود)

“Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan dan janganlah kalian menjadikan kuburanku sebagai ‘id (tempat perayaan) dan bershalawatlah kepadaku karena sesungguhnya shalawat kalian sampai kepadaku dimana saja kalian berada” (HR. Abu Daud)

Menimbang Hadits-Hadits di atas

a. Hadits pertama yang dibawakan oleh pendapat pertama dan kedua adalah hadits dhoif bahkan maudhu’ sebagaimana dinyatakan oleh para ulama. Karena di dalam sanadnya terdapat periwayat yang bernama Muhammad bin Marwan as-Sudi.
Imam Adz-Dzahabi berkata tentang dia: Orang-orang meninggalkannya dan sebagian mereka menuduhnya berdusta.
Al-Uqaily berkata: Hadits ini tidak ada asal usulnya.
Al-Munawi berkata: Ibnu Dahyah berkata: Hadits ini maudhu’ (palsu).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: Hadits maudhu’ (palsu).
Syaikh Al-Albany berkata: Hadits maudhu’ (palsu).

b. Hadits yang kedua yang dibawakan oleh pendapat pertama dan kedua shahih, tetapi tidak relevan untuk dijadikan dalil atas pendapatnya bahwa nabi mendengar orang yang hidup. Justru, di dalam hadits ini dinyatakan bahwa “shalawat kalian sampai kepadaku”. Yang menyampaikan kepadanya adalah para malaikat sebagaimana ditunjukkan dalam hadits lainnya.

c. Hadits yang ketiga yang dibawakan oleh pendapat pertama dan kedua. Imam An-Nawawi menshahihkannya, Syaikh Al-Albany meng-hasan-kannya dan Ibnu Baz menyatakannya jayyid (bagus). Tetapi Hadits ini tidak menjelaskan bagaimana beliau mendengar salam dari umatnya yang kemudian ruh beliau dikembalikan untuk menjawabnya. Yang terang dan pasti adalah salam sampai kepada beliau dengan cara disampaikan oleh Malaikat sebagaimana dijelaskan pada hadits sebelumnya.

d. Hadits pertama dan kedua yang dibawakan oleh pendapat ketiga adalah shahih. Dan maknanya juga tidak bertentangan bahwa Nabi tidak langsung mendengar tetapi disampaikan kepada beliau melalui Malaikat. Hadits ini diperkuat dengan riwayat yang lain:

أكثروا الصلاة عليَّ فإن الله وَكَّلَ بي ملكا عند قبرى فإذا صلى على رجلٌ من أمتى ذلك الملك يا محمد إن فلان بن قال فلان صلى عليك الساعة (حسنه الألباني في صحيح الجامع)

“Perbanyaklah shalawat untukku, karena sesungguhnya Allah mewakilkan Malaikat di kuburanku. Jika ada seseorang dari ummatku yang membaca shalawat, Malaikat tersebut akan berkata kepadaku: Hai Muhammad, sungguh si Fulan bin Fulan bershalawat ke- padamu sekarang ini” (Dihasankah oleh Al-Albany di dalam Shahihul Jami’)

Setelah diketahui kedudukan hadits-hadits di atas yang rojih/kuat adalah pendapat yang ketiga bahwa Nabi tidak mendengar langsung tetapi disampaikan kepada beliau melalui Malaikat. Terbantah juga orang yang mengatakan bahwa pada hari Jum’at dan malamnya beliau mendengar langsung orang yang bershalawat kepadanya. Mari kita renungkan, ketika beliau masih hidup, di dalam shalat berjamaah para Sahabat membaca salam kepada beliau dalam tasyahud, Apakah beliau mendengarnya? Padahal jaraknya dekat. Lalu bagaimana ketika beliau sudah wafat yang tentunya telah berpindah alam, yaitu alam barzah? Demikian juga orang yang mengatakan bahwa beliau mendengar semua orang dari jauh. Ini merupakan bentuk kesombongan. Karena tidak ada yang bisa melakukan hal ini kecuali Allah azza wa jalla, Tuhan semesta alam.

B. Apakah manusia selain Nabi mendengar orang hidup?

1. Mayit sama sekali tidak bisa mendengar orang hidup

Dalil-dalil mereka:

وَمَا أَنْتَ بِمُسْمِعٍ مَنْ فِي الْقُبُورِ [فاطر: ۲۲]

“Dan kamu (Muhammad) tidak bisa menjadikan orang yang di dalam kubur mendengar” (QS. Fathir: 22)

Yang dimaksud orang yang dalam kubur adalah orang mati. Allah menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bisa menjadikan mereka mendengar. Ini dalil bahwa orang mati tidak bisa mendengar orang hidup. Di dalam ayat ini Allah ‘azza wa jalla menyamakan orang kafir dengan orang mati, di mana mereka tidak akan menden- gar seruan dakwah Nabi. Banyak para ulama yang berbicara tentang hal ini, di antaranya:

a. Ibnul Hammam rahimahullah: Ayat ini menunjukkan tidak mendengarnya mayit dan orang kafir. Allah mengumpamakan orang kafir dengan orang mati karena mereka tidak mendengar. Jelaslah bahwa orang mati tidak mendengar.

b. Ibnu Hazm rahimahullah: Ayat menunjukkan orang yang di dalam kubur (orang mati) tidak mendengar.

c. Asy-Syaukani rahimahullah: Yaitu orang kafir, mereka telah mematikan hati mereka. Sebagaimana orang mati tidak mendengar, maka demikian pula orang yang telah mati hatinya.

d. Ibnu Jarir rahimahullah Ta’ala: Qatadah mengatakan bahwa (sebagaimana orang mati tidak mendengar) demikian pula orang kafir, dia tidak mendengar dan tidak bermanfaat apa yang dia dengar.

e. Al-Qurtubi rahimallahu Ta’ala: Sebagaimana orang mati tidak mendengar, demikian juga orang yang mati hatinya.

f. Al-Baghowi rahimallahu Ta’ala: Allah ‘azza wa jalla mengumpamakan orang-orang kafir dengan orang-orang mati di dalam kubur ketika mereka tidak menjawab (seruan dakwah)

g. Abu Bakar Al-Jazairi: Ayat ini mengandung hiburan bagi Rasulullah. “Kamu tidak bisa menjadikan orang mati mendengar, tetapi yang mendengar adalah orang hidup. Keadaan orang kafir sama dengan orang mati, maka kamu tidak bisa menjadikan mereka mendengar”

إِنَّكَ لَا تُسْمِعُ الْمَوْتَى وَلَا تُسْمِعُ الصُّمَّ الدُّعَاءَ إِذَا وَلَّوْا مُدْبِرِينَ [النمل: ۸۰]

“Sungguh, engkau tidak dapat menjadi- kan orang yang mati dapat mendengar dan (tidak pula) menjadikan orang yang tuli da- pat mendengar seruan, apabila mereka telah berpaling ke belakang” (An-Naml: 80) dan ayat berikut ini:

فَإِنَّكَ لَا تُسْمِعُ الْمَوْتَى وَلَا تُسْمِعُ الصُّمَّ الدُّعَاءَ إِذَا وَلُّوْا مُدْبِرِينَ [الروم: ٥٢]

Maka sungguh, engkau tidak akan sanggup menjadikan orang-orang yang mati itu dapat mendengar, dan menjadikan orang-orang yang tuli dapat mendengar seruan, apa- bila mereka berpaling ke belakang” (QS. Ar- Rum: 52). Berikut ini penjelasan para ulama tentang 2 ayat di atas:

a. Syaikh Al-Albany mengatakan: Sesung- guhnya orang mati tidaklah mendengar. Kondisi orang mati yang demikian ini dijadikan oleh Allah sebagai penyeru- paan bagi orang kafir yang hidup bahwa mereka tidak mendengar (seruan). Hal ini sama saja dengan ungkapan “Zaid seperti macan” yang berarti Zaid diserupakan dengan macan dalam hal keberanian. Kondisi macan memang berani, maka Zaid diserupakan dengannya. Demikian pula orang mati, ia memang tidak mendengar maka orang kafir diserupakan dengannya. Kesimpulannya adalah bahwa orang mati tidak mendengar.

b. Ibnu Jarir Ath-Thobari mengatakan: Kamu (nabi Muhammad) tidak akan mampu memahamkan orang-orang musyrik yang Allah telah kunci pendengaran mereka. Merekapun tertutup dari memahami nasehat-nasehat yang dibacakan kepada mereka. Hal ini sebagaimana kamu (nabi Muhammad) tidak akan mampu menjadikan orang mati yang telah Allah hilangkan pendengaran mereka untuk mendengar.

c. Burhanuddin Al-Baqo’i mengatakan: Tidak ada kemampuan bagi kamu (Nabi Muhammad) untuk menjadikan mendengar orang mati yang tidak punya ruh, penglihatan dan pendengaran. Demikian pula orang yang telah mati hatinya tidak bisa mendengar.

d. Syaikh Muhammad Nasib Ar-Rifa’i mengatakan: Keadaan orang mati tidaklah mendengar karena indra pendengarannya dan indra lainnya telah binasa dan tidak berfungsi, demikian pula keadaan orang kafir yang telah memilih kekufuran daripada keimanan. Maka, pendengaran mereka telah tersumbat dari setiap hujjah. Mereka pun tidak bisa mendengarnya meskipun hujjah-hujjah telah diulang-ulang disampaikan kepada mereka oleh para da’i.

Judul buku : MAYAT MENDENGAR ORANG HIDUP?

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)