9. Allah azza wa jalla menahan hati manusia dan melapangkannya. Sebagai muslim kita selalu berada di antara khouf (rasa takut) dan roja’ (berharap) kepada Allah r. Lalu, Kita bisa merasakan dalam suatu keadaan roja’ atau khouf kepada-Nya.
Nah, pahamilah bahwa hati kita juga senantiasa berada di antara qobd (ditahan) dan basth (dilapangkan). Ketika Allah azza wa jalla menahan dari diri Anda keadaan-keadaan yang baik, maka Anda akan merasakan galau, sempit, cemas, gundah dan semacamnya. Inilah, Dia azza wa jalla telah menahan Anda dari merasakan kenyamanan. Padahal Anda sedang membaca Al-Qur’an tapi Anda tidak merasakan apa-apa. Padahal sedang menunaikan shalat tetapi Anda merasakan hambar. Padahal sedang berdzikir tapi Anda merasakan hampa. Inilah, Allah azza wa jalla menjadikan Anda dalam kondisi qobd (ditahan) yang selanjutnya Anda akan menyadari betapa Anda itu kecil dan lemah yang akhirnya menguat pada diri Anda bahwa Allah lah Dzat Yang Maha Agung, Dzat Yang Maha Besar dan Dzat tempat bergantung segala makhluk yang kita sangat membutuhkan bimbingan-Nya. Kondisi Qobd (ditahan) menjadikan Anda sadar lalu meningkatkan keimanan.
Pada kesempatan lain Allah azza wa jalla mengkondisikan anda dalam basth (lapang) sehingga Anda merasakan nyaman, damai, tentram dan semangat serta termotivasi kuat dengan peribadahan dan ketaatan, tetapi beberapa waktu kemudian berubah menjadi bermalas-malasan, letih, sempit dan tidak semangat. Selanjutnya Anda pun diliputi rasa takut dan bergumam dalam hati, “Ya Allah! Kenapa saya begini? Ampunilah aku!
Kondisi qobd (ditahan) menjadikan Anda merasa takut kepada Allah, akhirnya meminta ampun.
Alhamdulillah, Si Fulan merasakan kedekatannya kepada Allah, melihat dirinya sedang di puncak peribadahan, dan benar-benar menikmati keberuntungan, keselamatan dan kemenangan. Sementara orang-orang di sekitarnya lemah peribadahannya, tidak semangat, tidak ada motivasi, bahkan berkubang dengan kemaksiatan. Betapa si Fulan dalam dalam kondisi basth (lapang) dengan kelapangan yang Allah bentangkan untuknya!! Kondisi lapang ini bisa saja mengalami ketergelinciran yang menjadikannya ‘ujb, sombong, merasa tinggi dan meremehkan orang lain. Obat untuk kondisi ini agar tidak berlanjut dalam ketergelinciran adalah qobdh (ditahan). Allah Al-Qobidh pun menahan dia dengan suatu teguran berupa kesulitan atau kesempitan yang menyadarkan betapa dirinya telah “keluar jalur”. Dia akhirnya bertaubat dari ketergelincirannya.
Qobdh dari Allah Al-Qobidh menjadikan seseorang menyadari akan ketergelincirannya yang menjadikannya bertaubat.
Pembahasan qobdh (ditahan) dan basth (dilapangkan) di sini hanya untuk orang yang ahli ketaatan. Baginya qobdh merupakan obat untuk memperbaiki diri dan basth baginya adalah nutrisi. Jadi, keduanya mendatangkan kebaikan.
Orang ahli ketaatan ketika tergelincir lalu ditegur oleh Allah azza wa jalla akan mendatangkan kebaikan. Dia akan sangat menyesal sekali dan merasa sesak atas perbuatan buruk yang telah dilakukannya sehingga bumi yang sangat luaspun dirasakannya sangat sempit. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,
وَعَلَى ٱلثَّلَٰثَةِ ٱلَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّىٰ إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ ٱلْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنفُسُهُمْ وَظَنُّوا أَن لَّا مَلْجَأَ مِنَ ٱللَّهِ إِلَّا إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ (التوبة:118)
Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang (QS. At-Taubah: 118)
Ayat ini menjelaskan tentang tiga orang yang tidak turut serta dalam perang Tabuk. Lalu mereka dihukum dengan diboikot selama 50 hari. Mereka sangat menyesali tindakannya tersebut yang berakibat mendapatkan hukuman sehingga bumi yang sangat luas ini dirasakan sangat sempit. Inilah orang ahli ketaatan, qobdh baginya atas suatu kemaksiatan yang dilakukan menghantarkannya menjadi sebaik-baiknya orang dengan taubat yang sangat berkualitas.
Kalau bukan orang ahli ketaatan tidak demikian keadaannya. Dia terus-menerus berbuat kemaksiatan. Ketika ada teguran dari Allah dengan suatu kesempitan ataupun tidak ada maka baginya sama saja. Teguran baginya tidak berdampak kepada penyesalan. Sedikitpun tidak berpengaruh kepada peningkatan keimanan.
Allah azza wa jalla tidak saja memenuhi manusia dengan materi-materi untuk kemaslahatan kebutuhan jasmani, tetapi juga membimbingnya untuk kemaslahatan kebutuhan rohaninya dengan qobdh dan basth.
D. TADABBUR
1. Termasuk adab ketika bermuamalah dengan dua Nama Allah ini adalah menyebutkan keduanya bersamaan. Karena kalau Anda menyebut Al-Qobidh (الْقَابِضُ) saja tanpa menyebutkan yang satunya, maka akan dipahami bahwa Allah itu bersifat mencegah dan menghalangi dengan makna negatif. Untuk itu perlu dibarengkan dengan satunya lagi yaitu Al-Basith (الْبَاسِطُ). Sehingga tidak mendatangkan salah paham. Ia akan mendatangkan makna kesempurnaan makna bahwa Dia azza wa jalla berkuasa atas segala sesuatu dengan penuh hikmah. Jadi, ada makna qudrah dan hikmah.
Al-Khuthobi berkata: Jika Anda menyebutkan Al-Qobidh (الْقَابِضُ) saja maka Anda telah membatasi sifat Allah sebagai Dzat yang mencegah dan menghalangi. Jika Anda sertakan dengan Al-basith (الْبَاسِطُ) maka Anda menggabungkan dua sifat yang menunjukkan bahwa mencegahnya Dia azza wa jalla adalah untuk suatu hikmah. Jadi, ada makna qudrah (Maha Kuasa) dan Hikmah (Pent. tepat secara tempat, faedah, tujuan dan lain-lainnya untuk kemaslahatan hamba).
2. Keharusan meningkatnya rasa cinta kita kepada Allah. Di Tangan-Nya lah dilapangkan dan diluaskannya suatu urusan. Di Tangan-Nya pula ditahan dan disempitkannya urusan. Namun, bukan kelapangan dan keluasan yang maknanya digelontor tanpa batas sehingga berlebih-lebihan. Juga, bukan ditahan dan disempitkan yang maknanya bakhil dan memudhorotkan. Tetapi dilapangkan dan disempitkannya di sini lahir dari Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana-Nya.
3. Ridho terhadap rizki yang telah Allah tetapkan. Sama saja apakah berupa kelapangan atau kesempitan karena sesungguhnya Allah Dzat Yang Maha Bijaksana dan Mengetahui perihal kemaslahatan makhluk-Nya. Dia lah Dzat Yang Maha Terpuji dalam setiap penciptaan, perbuatan dan ketetapan-Nya.
4. Memohon kepada Allah kelapangan yang paling utama dan paling agung yaitu hidayah sehingga hati terterangi dengan cahaya keimanan dan selamat dari dosa-dosa. Sebagaimana firman Allah,
أَفَمَن شَرَحَ ٱللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَٰمِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِّن رَّبِّهِ فَوَيْلٌ لِّلْقَٰسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ ٱللَّهِ أُولَٰئِكَ فِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ (الزمر:22)
Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata (QS. Az-Zumar: 22)
Sebaliknya kita berlindung kepada Allah dari kesempitan yang paling tinggi yaitu disesatkan atau dijauhkan dari hidayah sebagaimana firman Allah,
وَمَن يُرِدْ أَن يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِى ٱلسَّمَآءِ (الإنعام:521)
Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit (QS. Al-An’am: 125)
5. Mengantisipasi jangan sampai menggunakan apa saja yang Allah azza wa jalla lapangkan untuk kita dalam kemungkaran dan kemaksiatan. Tapi, justru kita wajib mensyukurinya dengan hati, lisan dan amalan-amalan yang diridhoi oleh-Nya.
6. Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata: Jika hati Anda dilapangkan dengan wawasan, ilmu syariat, hakikat dan ilmu umum duduklah di tengah-tengah manusia untuk menjadi obor penerang.
Jika Anda diberi kelapangan dengan fisik yang bagus maka maksimalkan dengan peribadahan.
Jika Anda diberi kelapangan dengan harta maksimalkan dalam berinfaq.
