C. Makna Al-Qobidh (الْقَابِضُ) dan Al-Basith (الْبَاسِطُ) sebagai Nama Allah
4. Allah menahan dan membentangkan awan sebagaimana firman-Nya,
ٱللَّهُ ٱلَّذِى يُرْسِلُ ٱلرِّيَٰحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِى ٱلسَّمَآءِ كَيْفَ يَشَآءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى ٱلْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَٰلِهِ فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ (الروم:48)
Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, tiba-tiba mereka menjadi gembira (QS. Ar-Rum: 48)
Awan ini tersebar di langit sesuai dengan apa yang Allah azza wa jalla kehendaki. Allah menahannya dari suatu kaum dan membentangkannya pada kaum yang lain sehingga dijumpai di suatu daerah tertentu curah hujannya tinggi sementara di daerah lainnya curah hujannya rendah bahkan sangat rendah.
5. Allah azza wa jalla menahan dan membentangkan bayang-bayang sebagaimana firman-Nya,
أَلَمْ تَرَ إِلَىٰ رَبِّكَ كَيْفَ مَدَّ ٱلظِّلَّ وَلَوْ شَآءَ لَجَعَلَهُ سَاكِنًا ثُمَّ جَعَلْنَا ٱلشَّمْسَ عَلَيْهِ دَلِيلً (الفرقان:45)
Apakah kamu tidak memperhatikan (penciptaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan (dan memendekkan) bayang-bayang dan kalau Dia menghendaki niscaya Dia menjadikan tetap bayang-bayang itu, kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk atas bayang-bayang itu (QS. Al-Furqon: 45)
ثُمَّ قَبَضْنَٰهُ إِلَيْنَا قَبْضًا يَسِيرًا (الفرقان:46)
Kemudian Kami menarik bayang-bayang itu kepada kami dengan tarikan yang perlahan-lahan (QS. Al-Furqon: 46)
Disebutkan dalam tafsir “As-Sa’di” maksudnya: tidaklah kamu menyaksikan dengan pandangan mata dan pandangan mata hatimu kesempurnaan kekuasaan Rabbmu dan keluasan rahmatNya, yaitu bahwasannya Dia telah memanjangkan bayang-bayang mengikuti manusia. Yaitu sebelum matahari terbit, “kemudian kami jadikan matahari atasnya,” maksudnya, atas bayang-bayang itu, ”sebagai petunjuk,” kalau saja bukan karena adanya matahari, tentu bayang-bayang tidak diketahui. Sebab lawan itu hanya dapat diketahui dengan lawannya pula. “kemudian kami menarik bayang-bayang itu kepada Kami dengan tarikan yang perlahan-lahan,” semakin tinggi matahari, semakin hilangnya bayang-bayang itu sedikit demi sedikit hingga akhirnya habis secara total. Sehingga bayang-bayang dan matahari saling bergantian menerpa manusia, yang mereka saksikan dengan mata kepala mereka. Perbedaan siang dan malam yang menjadi akibatnya, lalu silih bergantinya siang dan malam, perubahan musim, serta terjadinya berbagai kemaslahatan yang disebabkannya adalah merupakan dalil yang kuat yang membuktikan kekuasaan Allah dan keagunganNya, kesempurnaan rahmatNya, perhatianNya terhadap hamba-hambaNya, dan bahwa hanya Dia semata sembahan yang dipuji, dicintai, diagungkan, pemilik keagungan dan kemuliaan.
6. Allah azza wa jalla menahan sebagian ruh dan melepaskan sebagian yang lainnya. Sebagaimana firman-Nya,
اللَّهُ يَتَوَفَّى ٱلْأَنفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَٱلَّتِى لَمْ تَمُتْ فِى مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ ٱلَّتِى قَضَىٰ عَلَيْهَا ٱلْمَوْتَ وَيُرْسِلُ ٱلْأُخْرَىٰ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (الزمر:42)
Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia menahan jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa lainnya sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir (QS. Az-Zumar: 42)
Ayat ini menjelaskan bahwa ruh-ruh orang yang hidup (ketika tidur) dan yang sudah mati dalam genggaman Allah. Lalu Allah mengirimkan ruh-ruh orang yang tidur sehingga hidup kembali (baca: bangun lagi) dan Dia azza wa jalla tetap menggenggam ruh-ruh orang mati hingga hari Kiamat nanti. Jadi, ruh orang hidup ketika tidur berada dalam genggaman-Nya bersama ruh orang mati. Dan Allahu Akbar, tidak ada kekeliruan ketika ruh-ruh tersebut dikembalikan. Tidak terjadi kesalahan orang mati jadi hidup kembali atau ruh si Fulan A tapi terkirim ke jasad si Fulan B. Pada yang demikian itu merupakan tanda kebesaran dan kekuasaan Allah azza wa jalla.
7. Pada hari Kiamat nanti Allah azza wa jalla akan menggenggam bumi. Selama ini Allah azza wa jalla membentangkannya sehingga manusia bisa melakukan aktifitas kehidupan. Disebutkan di dalam Al-Qur’an,
وَمَا قَدَرُوا ٱللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَٱلْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ وَٱلسَّمَٰوَٰتُ مَطْوِيَّٰتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَٰنَهُ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ (الزمر:67)
Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat dan langit digulung dengan Tangan Kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan (QS. Az-Zumar: 67)
Disebutkan di dalam Tafsir “ As-Sa’di”, Rabb Yang Mahaagung, yang di antara tanda keagungan-Nya yang luar biasa dan kuasa-Nya yang mengalahkan adalah bahwa semua bumi ini di Hari Kiamat kelak ada dalam genggaman Allah yang MaHa Pengasih, dan bahwa langit dengan keluasan dan kebesarannya dilipat dengan Tangan KananNya. Maka orang yang menyamakan-Nya dengan yang lain itu tidak mengagungkan-Nya dengan sebenar-benar pengagungan, dan tidak ada orang yang lebih zhalim daripadanya. “Mahasuci dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” Maksudnya, DIa Mahasuci lagi Mahatinggi dari perbuatan syirik mereka.
8. Allah azza wa jalla mengambil shodaqoh seorang muslim. Artinya Dia azza wa jalla menahannya. Sebagaimana disebutkan di dalam Hadits,
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا تَصَدَّقَ مِنْ طَيِّبٍ تَقَبَّلَهَا اللَّهُ مِنْهُ وَأَخَذَهَا بِيَمِينِهِ وَرَبَّاهَا كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ مُهْرَهُ أَوْ فَصِيلَهُ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَصَدَّقُ بِاللُّقْمَةِ فَتَرْبُو فِي يَدِ اللَّهِ أَوْ قَالَ فِي كَفِّ اللَّهِ حَتَّى تَكُونَ مِثْلَ الْجَبَلِ فَتَصَدَّقُوا (رواه أحمد)
“Sesungguhnya jika seorang hamba mensedekahkan hartanya dari hasil yang baik maka Allah akan menerimanya dan mengambilnya dengan Tangan kanan-Nya serta mengembangkannya sebagaimana salah satu dari kalian mengembangkan anak kuda atau untanya, dan sesungguhnya ada seorang laki laki yang bersedekah dengan satu suapan makanan maka ia berkembang dalam Tangan Allah, ” atau beliau shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Dalam Telapak Tangan Allah hingga sedekah tersebut menjadi seperti gunung maka bersedekahlah kalian.” (HR. Ahmad)
