A. KISAH
Asal Nabi Yusuf dan keluarganya
Nabi Yusuf alaihissalam, putra Nabi Ya’qub alaihissalam, lahir di Kan’an wilayah Syam yang sekarang meliputi Palestina, Libanon, Suriyah dan Yordania. Dia dua belas bersaudara. Saudara kandungnya bernama Bunyamin. Adapun yang lainnya saudara seayah. Yusuf sangatlah tampan. Itulah karunia Allah ta’ala yang diberikan kepadanya. Nabi Ya’qub mencintai mereka semuanya.
Mimpi isyarat kemuliaan
Nabi Yusuf alaihissalam, ketika umurnya belum genap 12 tahun, bermimpi melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan semuanya sujud kepada dirinya. Takwil matahari dan bulan adalah ayah dan ibunya. Sedangkan sebelas bintang adalah saudara-saudaranya. Ayahnya berpesan kepadanya agar mimpi tersebut yang merupakan isyarat kemuliaan Yusuf, jangan sekali-kali diceritakan kepada saudara-saudaranya, dikhawatirkan mereka akan cemburu kepada dirinya. Ini menunjukkan sang ayah menginginkan mereka tetap hidup rukun damai tanpa hasad dan perpecahan.
Saudara-saudaranya cemburu kepadanya
Saudara-saudara Yusuf mendapatkan kesan ayah mereka lebih menyayangi Yusuf dan Bunyamin. ”Sungguh Ayah kita lebih mencintai Yusuf dan Bunyamin padahal kita satu keluarga. Sungguh ayah sangat tidak adil”, ujar mereka. Mereka merasakan perhatian ayah kepada keduanya lebih besar, padahal mereka lebih besar dan lebih kuat untuk membantu pekerjaan orangtua daripada Yusuf dan Bunyamin yang masih kecil-kecil.
Sang Ayah, Nabi Ya’kub alaihissalam senantiasa berbuat adil kepada anak-anaknya. Adapun dia lebih perhatian kepada Yusuf dan Bunyamin disebabkan keduanya masih kecil-kecil dan ibu keduanya telah meninggal dunia. Perhatian kepada Yusuf semakin bertambah setalah Yusuf bermimpi yang mengisyaratkan kemuliaan dirinya.
Saudara-saudaranya merencanakan makar
“Bunuh saja Yusuf! Atau kita singkirkan dia, kita buang ke tempat yang jauh agar kita terbebas dari dia. Urusan dosa, gampang saja tinggal kita bertaubat kepada Allah ta’ala”, rembug sesama mereka.
Seseorang dari mereka mengatakan, “Jangan dibunuh, tapi kita singkirkan saja ke tempat yang jauh, kita lemparkan ke sumur biar ditemukan oleh musafir yang lewat lalu dibawanya pergi. Yang terpenting kan kita terbebas dari dia”
Merealisasikan makar
Mereka membujuk sang Ayah agar merelakan Yusuf untuk bermain bersama mereka, “Ayah biarkanlah dia bermain bersama kami. Kami akan menjaganya”.
Ayah tidak mengizinkannya karena khawatir mereka teledor yang berakibat Yusuf dimakan serigala.
Mereka terus membujuk, “Mengapa engkau tidak percaya kepada kami, wahai Ayah?!! Sungguh benar-benar kami akan menjaganya. Bagaimana mungkin kami teledor darinya akhirnya dimakan srigala, bukankah kami bersaudara?!”
Ketika mereka berhasil membawa Yusuf, mereka bersepakat untuk melemparkannya ke dalam sumur. Yusuf berontak untuk bisa terlepas dari cengkraman mereka. Tapi, apalah artinya energi Yusuf yang hanya bocah kecil di hadapan saudara-saudaranya yang besar.
Yusuf ditinggal sendirian di dalam sumur. Saudara-saudaranya pulang di waktu Isya. Berpura-pura menangis dan bersedih bersedih, “Ayah…. Ayah… Ayah…. (sambil terus terisak tangis), maafkan kami Ayah… Sungguh kami benar-benar menjaga Yusuf, tapi pas kami bermain Yusuf kami tempatkan bersama barangbarang kami, ternyata ada serigala dan memangsanya”
Tersentak kaget bercampur marah dan sedih, Ayah hanya bisa mengatakan, “Shobrun jamiil….. Sabar…sabar… sabar. Sabar…. Ya Allah, Kuatkan kesabaranku!”
Ayah…. Ayah… (sambil terus terisak tangis) kami sudah menduga engkau tidak akan percaya kepada kami. Percayalah Ayah! Kami tidak bohong. Ini buktinya,” Mereka menyodorkan baju Yusuf yang telah dilumuri darah palsu, bukan darah sungguhan dari jasad Yusuf.
“Sabar…. Sabar….. sabar….. sabar…. Shobrul jamiiil… Allah lah tempat memohon pertolongan”, ujar Ayah menguatkan penyandaran kepada Allah ta’ala.
Sementara itu, Yusuf yang ditinggal sendirian di dalam sumur terhibur dengan turunnya wahyu dari Allah ta’ala, “Sungguh kamu akan menceritakan kepada mereka perbuatan mereka ini, sedangkan mereka tidak menyadari”
Ditemukan oleh rombongan musafir
Rombongan musafir yang hendak ke Mesir memerlukan air. Seseorang dari mereka mendatangi sebuah sumur. Ketika timba diulurkan ke dalam sumur untuk mendapatkan air, betapa kagetnya dia, ada seorang bocah yang memegang erat timba tersebut. Diangkatlah timba, “Sungguh menggembirakan…. seorang bocah ganteng” Mereka hendak merahasiakannya dan membawanya pergi bersama barang-barang mereka.
Saudara-saudara Yusuf yang tidak jauh dari situ dan dari awal mengamatinya segera mendatanginya, “Maaf… maaf… maaf, dia itu budak kami yang melarikan diri. Tidak mengapa kalian memilikinya, kami jual dengan harga murah”.
Yusuf dijual sebagai budak dengan harga yang sangat murah. Karena keinginan mereka bukan uang, tetapi semata-mata agar terbebas darinya. Mereka pun memastikan agar Yusuf benar-benar dibawa bersama rombongan musafir itu.
Dibeli oleh seorang pembesar kerajaan Mesir
Rombongan musafir menjual Yusuf. Seorang pembesar istana melihatnya dan sangat terkagum-kagum dengannya. Dia membelinya, “Perlakukanlah dia sebaik-baiknya. Kita bisa memanfaatkannya untuk membantu pekerjaanpekerjaan atau kita angkat sebagai anak kita”, kata dia berembug dengan istrinya.
Tumbuh sebagai pemuda sholeh di dalam lingkungan istana
Yusuf tumbuh besar di dalam lingkungan istana. Ketika menginjak usia yang kuat dan siap untuk menghadapi beban kehidupan secara fisik dan psikis, Allah ta’ala memberinya ilmu dan hikmah. Dia diangkat menjadi Nabi. Dengan ilmu Yusuf mengetahui banyak hal, dan dengan hikmah dia berbuat dan memutuskan sesuai petunjuk ilmu.
Fitnah mulai menerpa
Yusuf, pemuda tampan tinggal satu rumah dengan wanita yang mengasuhnya, Zulaikha. Istri pembesar istana. Suatu hari Zulaikha tidak kuasa untuk menguasai dirinya. Ketampanan Yusuf yang selalu menggoda menjadikannya mabuk kepayang. Dia mengunci seluruh pintu, tidak ada siapapun di dalam rumah kecuali hanya mereka berdua, lalu mendekati Yusuf dan merayu-rayunya agar mau berbuat untuk memenuhi hasratnya. Yusuf menolak, “Saya berlindung kepada Allah ta’ala dari perbuatan maksiat. Saya berlindung kepada Allah ta’ala dari mengkhianati orang yang selama ini berbuat baik kepadaku”.
Keadaan ini sulit bagi Yusuf. Dia seorang bujangan, hidup di pengasingan jauh dari keluarga, hanya berduaan tidak ada yang melihat, dan yang terus menggodanya adalah wanita cantik jelita dari kalangan pembesar istana. Ketika itu wajah ayahnya, Nabi Ya’kub hadir di hadapannya dengan mengatakan, Hai Yusuf, akankah kamu berbuat kebodohan ini, padahal kamu telah tertulis di sisi Allah ta’ala sebagai Nabi?! Bukti kebenaran dari Tuhannya ini telah melindunginya. Akhirnya ia selamat dari ajakan keji. Di sisi Allah ta’ala dia termasuk hamba yang mukhlis.
Lari dari jeratan fitnah
Yusuf berlari kencang kabur dari Zulaikha, tetapi dia tetap mengejarnya dan berhasil meraih bajunya. Baju Yusuf pun robek bagian belakangnya. Namun, Yusuf berhasil meraih pintu dan membukanya tepat ketika sang suami berada di hadapannya. Zulaikha membuat makar, “Wahai suamiku, apa balasan bagi orang yang hendak berbuat jahat terhadap istrimu. Bukankah hukuman yang setimpal adalah penjara atau disiksa?!”
“Oh tidak, justru dia yang merayu-rayu dan menggodaku”, tangkis Yusuf membantah fitnah.
Sang suami tidak bisa menyimpulkan siapakah yang jujur dan siapakah yang berbohong? Di situ ada seseorang yang masih satu keluarga dengan Zulaikha. Dia membantu mencarikan jawaban,
“Begini saja, ini kan permasalahan yang mudah in syaa-Allah. Coba perhatikan robeknya baju bagian depan ataukah belakang? Kalau robeknya bagian depan, maka Zulaikha yang benar. Tetapi, kalau robeknya bagian belakang, maka Yusuf yang benar”
Sang suami yang tidak lain adalah pembesar istana benar-benar memperhatikannya, jelaslah baginya bahwa yang jujur adalah Yusuf. Karena robeknya baju bagian belakang. Dia pun murka kepada istrinya, “Sungguh keterlaluan…. keterlaluan…. Kamu telah berbuat makar. Beristighfar lah kamu… Taubatlah kamu !!!”
“Wahai Yusuf, sudahlah lupakan saja semua ini!!”, ujarnya mengakhiri permasalahan.
Berita ini tersebar viral ke lapisan masyarakat. Khususnya kaum wanita, mereka mencibir perbuatan Zulaikha, “Oh sesat itu…. Sungguh dia terbuai oleh budaknya sendiri, mabuk cinta kepadanya, Sayang dia tidak bisa menahan diri, sungguh keterlaluan…..”
Respon Zulaikha
Zulaikha tidak tahan dengan cibiran kaum hawa. Dia hendak membuktikan betapa mereka pasti juga terpesona dan tergila-gila dengan kegantengan Yusuf alaihissalam. Dia ingin ketergelincirannya itu dimaklumi bukan dicibir. Pembuktian pun dimulai. Dia menyiapkan hamparan permadani dan bantal-bantal untuk bersandar lengkap dengan berbagai macam makanan dan buah-buahan yang membutuhkan pisau untuk mengupasnya. Ketika mereka sudah datang dan dipersilahkan menikmati jamuan, Yusuf disuruh keluar dan berjalan di depan mereka. sontak mereka beucap, “Maa syaa-a Allah…. Maa syaa-a Allah…. Maa syaa-a Allah…. Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar…. Ini bukan manusia, ini Malaikat…. Maa syaa-a Allah…. Allahu Akbar…???!!!”
Saking terpesona dengan kegantengan Yusuf, mereka tidak menyadari tangan-tangan mereka bersimbah darah. Rupanya bukan makanan dan buah-buahan yang dikupas-kupas melainkan tangan yang diiris-iris. Fenomena itu langsung dijadikan Zulaikha untuk membungkam mereka,
“Tuh kan… Masih terus mencibir saya?!
“Kalian lihat sendiri kan ?!”
Setelah para wanita memaklumi ketergelinciran Zulaikha dalam kemungkaran, Dia memberitahukan ihwal Yusuf, betapa dia bukan saja sempurna secara fisik melainkan juga kepribadiannya,
“Sungguh saya telah menggoda dan merayu-rayunya tapi dia tetap tidak bergeming.”
Kobaran cinta dan hasrat mendapatkan kehangatan dari Yusuf tidaklah padam, maka di hadapan para wanita Zulaikha yang merasa dirinya sebagai majikannya menunjukkan kekuasaannya,
“Bukankah aku majikannya, kalau dia tidak menuruti apa yang saya inginkan pasti akan saya penjara hingga ditimpa kehinaan”
Para wanita itu pun akhirnya memotivasi Yusuf untuk mentaati majikannya daripada beresiko dipenjara atau dihinakan. Apa yang dilakukan Nabi Yusuf alaihissalam? Beliau langsung memohon pertolongan kepada Allah ta’ala,
“Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika Engkau tidak hindarkan dariku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.”
Allah ta’ala langsung meng-ijabah-i doanya. Nabi Yusuf alaihissalam pun terhindar dari makar mereka untuk berbuat mesum.
Judul Buku: Nabi Yusuf alaihissalam (Kisah dan ‘Ibrah)
Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

