A. Muqoddimah
Malu adalah salah satu sifat yang merupakan bagian dari iman. Disebutkan di dalam Hadits,
عن أبي هريرة رضي الله عنه، عن النبي صلى الله عليه وآله وسلم، قال: الإيمان بضع وستون شعبة، والحياء شعبة من الإيمان (أخرجه البخاري ومسلم)
“Dari Abu Hurairah radiallahu anhu dari Nabi shalallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: Iman itu ada enam puluh sekian cabang, dan malu itu bagian dari iman” (HR. Bukhari dan Muslim)
Tentu malu yang dimaksud adalah malu yang terpuji (mamduh). Karena malu ada juga yang tercela (madzmum). Yang mamduh adalah malu yang menjadikan seseorang semakin mendekat kepada kebaikan dan pahala. Ia akhlak seorang muslim. Anda muslim? Maka sudah barang tentu akhlak ini harus melekat pada diri Anda. Seberapa tinggi kadar sifat malu yang dimiliki seseorang, setinggi itu pula kadar keislaman dan keimanannya. Ibnu Umar radiallahu anhu mengatakan,
الحياء والإيمان قُرنا جميعًا، فإذا رُفع أحدهما رُفع الآخر (أخرجه الحاكم)
“Malu dan iman senantiasa berdampingan. Jika dihilangkan salah satunya maka akan hilang yang lainnya” (Dikeluarkan oleh Al-Hakim)
Sifat malu akan menghindarkan seseorang dari berbuat maksiat dan kemungkaran. Bagaimana tidak, ia itu aplikasi dari keimanan yang mengkondisikan seseorang untuk menjaga dirinya agar jangan sampai berbuat perkara yang dimurkai Allah ta’ala. Ia akan senantiasa hadir sebagai alat kontrol ketika seseorang melakukan mu’amalah. Bukan saja mu’amalah ma’allah (hubungan dengan Allah) tetapi juga mu’amalah ma’annas (hubungan sesama manusia). Di dalam mu’amalah ma’allah (hubungan dengan Allah) sifat malu benar-benar akan menghiasinya. Ia selalu hadir dan membisikinya,
“Pantaskah dirinya meninggalkan peribadahan padahal Dia Ta’ala telah memberikan segala apapun demi kemaslahatan hidupnya terlebih dirinya diciptakan tidak lain untuk tujuan beribadah kepadanya?”
Disebutkan di dalam Al-Qur’an,
وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (الذاريات: 56)
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Ia juga hadir untuk mengarahkannya, “Pantaskah anggota badannya berbuat maksiat perkara yang Allah murkai padahal Allah lah yang menciptakan dan menjaganya?”
Disebutkan di dalam Hadits Abdullah Ibnu Mas’ud,
: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:“اسْتَحْيُوا مِنَ اللهِ حَقَّ الْحَيَاءِ”، قَالُوا: إِنَّا نَسْتَحِي مِنَ اللهِ يَا رَسُولَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، قَالَ: “لَيْسَ ذَاكَ، وَلَكِنْ مَنِ اسْتَحْيَا مِنَ اللهِ حَقَّ الْحَيَاءِ: فَلْيَحْفَظِ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى، وَلْيَحْفَظِ الْبَطْنَ وَمَا حَوَى، وَلْيَذْكُرِ الْمَوْتَ وَالْبِلَى، وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدِ اسْتَحَى مِنَ اللهِ حَقَّ الْحَيَاءِ”. (رواه البيهقي)
“Rasulullah shalallahu alaihi wasallam: Malulah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu.” Para sahabat berkata: “Sesungguhnya kami alhamdulillah malu kepada Allah, wahai Rasulullah.
Beliau bersabda: “Bukan itu yang dimaksud. Akan tetapi barangsiapa yang malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu, maka hendaklah ia menjaga kepala dan apa yang dikandungnya. Hendaklah ia menjaga perut dan apa yang dimasukkannya, Hendaklah ia mengingat kematian dan kehancuran jasad, Dan barangsiapa menginginkan Akhirat, ia akan meninggalkan perhiasan dunia. Barangsiapa melakukan itu, sungguh ia telah malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu.” (HR. Baihaqi)
Di dalam mu’amalah ma’annas (hubungan sesama manusia), ia tidak luput untuk menasehatinya,
“Pantaskah dirinya menyakiti orang lain, padahal dirinya tidak mau disakiti”. “Pantaskah dirinya menipu orang lain, padahal dirinya tidak rela ditipu”.
“Pantaskah dirinya berbuat kesombongan, padahal ia membenci orang yang sombong”.
لا يُؤمِنُ أحَدُكُم حتَّى يُحِبَّ لأخيه ما يُحِبّ لنَفسِه (رواه مسلم عن أنس بن مالك)
“Tidak beriman seseorang di antara kalian hingga dia mencintai untuk saudaranya apa yang dicintai oleh dirinya” (HR. Muslim dari Anas bin Malik)
B. Hakekat Malu
Agar kita semua termotivasi untuk meningkatkan rasa malu yang ada pada diri kita, maka mari memperhatikan beberapa perkara yang terkait dengannya:
1. Malu itu sebuah kata yang telah dikenal dari ucapan kenabian sejak awal
عن أبي مسعود رضي الله عنه، قال: قال النبي صلى الله عليه وسلم: إن مما أدرك الناس من كلام النبوة الأولى إذا لم تستحِ فاصنع ما شئت (أخرجه البخاري)
“Dari Abu Mas’ud radiallahu anhu, dia berkata: Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya di antara yang didapati manusia dari perkataan kenabian yang pertama adalah: Jika kamu tidak malu, maka berbuatlah sesukamu.” (HR. Bukhari)
Kalam nubuwwah (كلام النبوة) adalah hikmah para Nabi dan syariat mereka yang tidak dihapus. Risalah samawi yang sama tidak ada perbedaaan yang diturunkan kepada semua Nabi. Di antaranya adalah syareat yang berupa rasa malu.
Perintah untuk bersifat malu itu perkara yang tetap, dan mengamalkannya wajib sejak zaman kenabian yang pertama. Tidak ada seorang Nabi pun kecuali pasti menganjurkan malu dan diutus untuk mendakwahkannya. Ia tidak dihapus di antara syariat mereka yang dihapus, dan tidak diganti di antara syareat yang diganti. Hal ini disebabkan bahwa malu itu perkara yang sudah populer kebenarannya, jelas keutamaannya, dan semua akal sepakat akan baiknya. Sesuatu yang sifatnya demikian ini tidak terkena nasakh dan penggantian. Karena eksistensi malu demikian adanya, maka di antara hikmah para Nabi yang tetap adalah sebagaimana apa yang dikabarkan Nabi shalallahu alahi wasallam dalam hadits ini:
“Sesungguhnya di antara yang didapati manusia dari perkataan kenabian yang pertama adalah: Jika kamu tidak malu, maka berbuatlah sesukamu.”
Malu termasuk akhlak yang paling mulia dan tinggi. Malu bermakna perubahan dan rasa tidak nyaman di hati yang menimpa manusia karena khawatir dirinya tercela. Juga bermakna penahanan diri oleh jiwa dari suatu perbuatan buruk lalu meninggalkannya.
Maksud Hadits ini adalah kalau Anda sudah tidak punya rasa malu yang mencegahmu dari berbuat buruk, maka silahkan saja berbuat sesukamu dan sekehendakmu tanpa batas. Karena semua perbuatan jelek akan dianggap sebagai perkara yang boleh-boleh saja bagi Anda.
Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan: Ini (jika kamu tidak malu, maka berbuatlah sesukamu) adalah ucapan kenabian yang sampai kepada manusia dari zaman ke zaman dan yang tersebar di tengah-tengah mereka dimana seluruh Nabi sama tidak ada perbedaan di antara mereka serta tidak pernah di-naskh (dihapus). Jelaslah, kalimat ini sangat terkenal sejak zaman Nabi-Nabi terdahulu hingga awal ummat terakhir ini.
Abu Daud dan Imam Ahmad juga yang lainnya menjelaskan yang dimaksud an-nubuwwah al-ula (النبوة الأولى) adalah zaman sebelum Nabi Muhammad shalallahu alahi wasallam.
Para ahli ilmu menjelaskan kalimat ini “Jika kamu tidak malu, maka berbuatlah sesukamu.” mengandung dua makna yaitu kecaman dan hukuman. Artinya jika seseorang tidak malu maka silahkan berbuat sesukanya niscaya Allah ta’ala akan membalasnya atas perbuatan tersebut. Ada juga yang menjelaskan kalimat ini redaksinya perintah tetapi bermakna pengkabaran. Maksudnya, barangsiapa yang tidak memiliki rasa malu dia akan berbuat sesukanya. Karena sesungguhnya penghalang dari perbuatan-perbuatan buruk adalah rasa malu. Jadi, siapa saja yang tidak memiliki rasa malu niscaya akan larut di dalam kekejian dan kemungkaran.
2. Para Nabi merasa malu terhadap suatu tindakan yang dipandangnya keliru
Para Nabi merasa malu kepada Allah ta’ala atas suatu kesalahan yang diperbuatnya. Saking malunya mereka tidak sanggup untuk memberikan syafaat kepada manusia yang berdatangan kepada mereka. Masing-masing mereka mengarahkan kepada Nabi lain yang dipandangnya lebih berhak. Padahal di antara kesalahan-kesalahan tersebut kalau kita perhatikan tidak sepenuhnya sebagai suatu kesalahan. Disebutkan di dalam Hadits,
عن أنس رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: يَجتَمِعُ المُؤمِنونَ يَومَ القيامةِ، فيَقولونَ: لَوِ استَشفَعنا إلى رَبِّنا، فيَأتونَ آدَمَ فيَقولونَ: أنتَ أبو النَّاسِ، خَلَقَك اللهُ بيَدِه، وأسجَدَ لك مَلائِكَتَه، وعَلَّمَك أسماءَ كُلِّ شيءٍ، فاشفَعْ لنا عِندَ رَبِّك حتَّى يُريحَنا مِن مَكانِنا هذا، فيَقولُ: لَستُ هُناكُم، ويَذكُرُ ذَنبَه فيَستَحي، ائتوا نوحًا؛ فإنَّه أوَّلُ رَسولٍ بَعَثَه اللهُ إلى أهلِ الأرضِ، فيَأتونَه فيَقولُ: لَستُ هُناكُم، ويَذكُرُ سُؤالَه رَبَّه ما ليس له به عِلمٌ فيَستَحي، فيَقولُ: ائتوا خَليلَ الرَّحمَنِ، فيَأتونَه فيَقولُ: لَستُ هُناكُم، ائتوا موسى؛ عَبدًا كَلَّمَه اللهُ وأعطاه التَّوراةَ، فيَأتونَه فيَقولُ: لَستُ هُناكُم، ويَذكُرُ قَتلَ النَّفسِ بغيرِ نَفسٍ، فيَستَحي مِن رَبِّه، فيَقولُ: ائتوا عيسى عَبدَ اللهِ ورَسولَه، وكَلِمةَ اللهِ ورُوحَه، فيَقولُ: لَستُ هُناكُم، ائتوا مُحَمَّدًا صلَّى اللهُ عليه وسلَّم؛ عَبدًا غَفَرَ اللهُ له ما تَقدَّمَ مِن ذَنبِه وما تَأخَّرَ، فيَأتوني، فأنطَلِقُ حتَّى أستَأذِنَ على رَبِّي، فيُؤذَنَ لي، فإذا رَأيتُ رَبِّي وقَعتُ ساجِدًا، فيَدَعُني ما شاءَ اللهُ، ثُمَّ يُقالُ: ارفَع رَأسَك وسَلْ تُعطَه، وقُلْ يُسمَعْ، واشفَعْ تُشَفَّعْ، فأرفَعُ رَأسي، فأحمَدُه بتَحميدٍ يُعَلِّمُنيه، ثُمَّ أشفَعُ فيَحُدُّ لي حَدًّا، فأُدخِلُهمُ الجَنَّةَ، ثُمَّ أعودُ إليه فإذا رَأيتُ رَبِّي مِثلَه، ثُمَّ أشفَعُ فيَحُدُّ لي حَدًّا، فأُدخِلُهمُ الجَنَّةَ، ثُمَّ أعودُ الرَّابِعةَ، فأقولُ: ما بَقيَ في النَّارِ إلَّا مَن حَبَسَه القُرآنُ، ووجَبَ عليه الخُلودُ. قال أبو عبدِ اللهِ: إلَّا مَن حَبَسَه القُرآنُ، يَعني قَولَ اللهِ تَعالى: {خالِدينَ فيها} (أخرجه البخاري و مسلم).
“Dari Anas radiallahu anhu, dari Nabi shalallahu alahi wasallam, beliau bersabda: Orang-orang beriman akan berkumpul pada hari Kiamat. Mereka berkata: Seandainya kita meminta syafaat kepada Rabb kita. Lalu mereka mendatangi Adam alaihissalam dan berkata: Engkau adalah bapak manusia. Allah ta’ala menciptakanmu dengan Tangan-Nya, memerintahkan para Malaikat sujud kepadamu, dan mengajarkan kepadamu nama-nama segala sesuatu. Maka mohonkanlah syafaat untuk kami kepada Rabb-mu agar Dia Ta’ala mengistirahatkan kami dari tempat kami yang sulit ini. Adam alaihissalam berkata: Aku tidak pantas untuk itu. Lalu beliau mengingat dosanya dan merasa malu. Pergilah kalian kepada Nuh alaihissalam, karena dialah Rasul pertama yang Allah utus ke penduduk bumi. Mereka pun mendatangi Nuh alaihissalam. Dia alaihissalam berkata: Aku tidak pantas untuk itu. Lalu beliau mengingat permohonannya kepada Rabb-nya tentang sesuatu yang tidak dia ketahui ilmunya, lalu merasa malu. Dia alaihissalam berkata: ‘Pergilah kalian kepada Khalilurrahman – kekasih Allah, Ibrahim. Lalu mereka mendatangi Ibrahim alaihissalam. Dia berkata: Aku tidak pantas untuk itu. Pergilah kalian kepada Musa alaihissalam, seorang hamba yang Allah ta’ala ajak bicara langsung dan Allah ta’ala beri Taurat. Mereka mendatangi Musa alaihissalam. Dia berkata: Aku tidak pantas untuk itu.’ Lalu beliau mengingat bahwa beliau pernah membunuh jiwa tanpa alasan yang membenarkan pembunuhan itu, dia merasa malu kepada Rabb-nya. Dia berkata: Pergilah kalian kepada Isa, hamba Allah dan rasul-Nya, kalimat-Nya. Isa alaihissalam berkata: Aku tidak pantas untuk itu. Pergilah kalian kepada Muhammad shalallahu alaihi wasallam, seorang hamba yang Allah telah ampuni dosanya yang telah lalu dan yang akan datang. Lalu mereka mendatangiku. Saya berangkat hingga aku meminta izin kepada Rabb-ku, maka diizinkanlah bagiku. Ketika saya melihat Rabb-ku, saya langsung tersungkur sujud. Allah ta’ala membiarkanku sujud selama yang Dia kehendaki. Kemudian dikatakan: ‘Angkatlah kepalamu, mintalah niscaya akan diberi, katakanlah niscaya akan didengar, berilah syafaat niscaya akan diterima syafaatmu. Lalu saya mengangkat kepalaku dan memuji-Nya dengan pujian yang Allah ajarkan kepadaku. Kemudian saya memberi syafaat. Allah menentukan batasan untukku. Maka saya memasukkan mereka ke Surga. Kemudian saya kembali kepada-Nya. Lalu aku melihat Rabb-ku, keadaannya seperti itu lagi, maka saya pun memberi syafaat lagi. Allah ta’ala tentukan batasan untukku, lalu saya memasukkan mereka ke Surga hingga saya kembali untuk keempat kalinya, lalu aku berkata: ‘Tidak tersisa di Neraka kecuali orang yang ditahan oleh Al-Qur’an, dan wajib baginya kekal di dalamnya. Abu Abdillah Imam Bukhari berkata : Kecuali orang yang ditahan oleh Al-Qur’an’, maksudnya adalah firman Allah ta’ala: (خَالِدِينَ فِيهَا)- ‘mereka kekal di dalamnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Judul buku : Malu
Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

