Solusi Investasi Akhirat Anda

Mahabbah, Khouf, dan Roja’ Bagian 6

  • Maiz bin Malik dan Seorang Wanita Ghomidiyah radiallahu anhuma

Meskipun yang terbaik bagi orang yang melakukan maksiat adalah menutupi dirinya sendiri dan bertaubat kepada Allah dari dosa-dosanya tanpa memberitahukannya kepada siapa pun, tetapi rasa takut kepada Allah ta’ala telah mencapai tingkat yang sangat tinggi di hati mereka radiallahu anhuma. Hal ini mendorong mereka untuk meminta kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam agar membersihkan mereka dari dosa-dosa yang telah dilakukan, meskipun konsekuensinya adalah kematian. Disebutkan di dalam sebuah riwayat,

جَاءَ مَاعِزُ بنُ مَالِكٍ إلى النَّبيِّ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ، فَقالَ: يا رَسولَ اللهِ، طَهِّرْنِي، فَقالَ: وَيْحَكَ! ارْجِعْ فَاسْتَغْفِرِ اللَّهَ وَتُبْ إلَيْهِ، قالَ: فَرَجَعَ غيرَ بَعِيدٍ، ثُمَّ جَاءَ، فَقالَ: يا رَسولَ اللهِ، طَهِّرْنِي، فَقالَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ: وَيْحَكَ! ارْجِعْ فَاسْتَغْفِرِ اللَّهَ وَتُبْ إلَيْهِ، قالَ: فَرَجَعَ غيرَ بَعِيدٍ، ثُمَّ جَاءَ، فَقالَ: يا رَسولَ اللهِ، طَهِّرْنِي، فَقالَ النَّبيُّ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ مِثْلَ ذلكَ، حتَّى إذَا كَانَتِ الرَّابِعَةُ قالَ له رَسولُ اللهِ: فِيمَ أُطَهِّرُكَ؟ فَقالَ: مِنَ الزِّنَى، فَسَأَلَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ: أَبِهِ جُنُونٌ؟ فَأُخْبِرَ أنَّهُ ليسَ بمَجْنُونٍ، فَقالَ: أَشَرِبَ خَمْرًا؟ فَقَامَ رَجُلٌ فَاسْتَنْكَهَهُ، فَلَمْ يَجِدْ منه رِيحَ خَمْرٍ، قالَ: فَقالَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ: أَزَنَيْتَ؟ فَقالَ: نَعَمْ، فأمَرَ به فَرُجِمَ، فَكانَ النَّاسُ فيه فِرْقَتَيْنِ؛ قَائِلٌ يقولُ: لقَدْ هَلَكَ؛ لقَدْ أَحَاطَتْ به خَطِيئَتُهُ، وَقَائِلٌ يقولُ: ما تَوْبَةٌ أَفْضَلَ مِن تَوْبَةِ مَاعِزٍ؛ أنَّهُ جَاءَ إلى النَّبيِّ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ فَوَضَعَ يَدَهُ في يَدِهِ، ثُمَّ قالَ: اقْتُلْنِي بالحِجَارَةِ، قالَ: فَلَبِثُوا بذلكَ يَومَيْنِ، أَوْ ثَلَاثَةً، ثُمَّ جَاءَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ وَهُمْ جُلُوسٌ، فَسَلَّمَ ثُمَّ جَلَسَ، فَقالَ: اسْتَغْفِرُوا لِمَاعِزِ بنِ مَالِكٍ، قالَ: فَقالوا: غَفَرَ اللَّهُ لِمَاعِزِ بنِ مَالِكٍ، قالَ: فَقالَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ: لقَدْ تَابَ تَوْبَةً لو قُسِمَتْ بيْنَ أُمَّةٍ لَوَسِعَتْهُمْ.

Ma’iz bin Malik radiallahu anhu datang kepada Nabi shalallahu alaihi wasallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, sucikanlah aku “ Nabi shalallahu alaihi wasallam menjawab, “Celaka kamu! Kembalilah, beristighfarlah kepada Allah dan bertaubatlah kepada-Nya.”

Dia radiallahu anhu kembali dan belum jauh lalu datang lagi. Dia berkata, “Wahai Rasulullah, sucikanlah aku”. Beliau shallahu alaihi wasallam menjawab, “Celaka kamu! Kembalilah, beristighfarlah kepada Allah dan bertaubatlah kepada-Nya.”

Dia radiallahu anhu kembali dan belum jauh lalu datang lagi. Dia berkata, “Wahai Rasulullah, sucikanlah aku”.  Beliau shallahu alaihi wasallam menjawab sebagaimana sebelumnya.

Pada permintaan keempat, Nabi shalallahu alaihi wasallam bertanya, “Dari apa kamu ingin aku sucikan?” Dia menjawab, “Dari zina.”

Nabi shalallahu alaihi wasallam kemudian memastikan apakah dia gila?

Beliau diberitahu bahwa dia tidak gila. Apakah dia sedang dalam pengaruh khamr atau tidak? Setelah dicium nafasnya dia tidak mabuk.

Beliau shalallahu alaihi wasallam bertanya kepadanya, “kamu berzina?” Dia menjawab, ‘Iya”. Lalu beliau shalallahu alaihi wasallam memerintahkan agar di-rajam.

Orang-orang terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama mengatakan bahwa dia telah binasa karena dosanya, sementara kelompok kedua mengatakan bahwa tidak ada taubat yang lebih utama melebihi taubatnya di mana dia datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dan menyerahkan dirinya untuk dijatuhi hukuman dengan mengatakan, bunuhlah aku dengan batu.

Dua atau tiga hari kemudian, Nabi shalallahu alaihi wasallam datang sementara orang-orang sedang duduk. Beliau berkata, “Mintalah ampunan untuk Maiz bin Malik.” Orang-orang menjawab, “Semoga Allah mengampuni Maiz bin Malik.” Nabi shalallahu alaihi wasallam kemudian bersabda, “Sungguh, Dia telah bertaubat dengan taubat yang jika dibagi-bagi di antara umat, niscaya akan mencukupi mereka.”

قالَ: ثُمَّ جَاءَتْهُ امْرَأَةٌ مِن غَامِدٍ مِنَ الأزْدِ، فَقالَتْ: يا رَسولَ اللهِ، طَهِّرْنِي، فَقالَ: وَيْحَكِ! ارْجِعِي فَاسْتَغْفِرِي اللَّهَ وَتُوبِي إلَيْهِ، فَقالَتْ: أَرَاكَ تُرِيدُ أَنْ تُرَدِّدَنِي كما رَدَّدْتَ مَاعِزَ بنَ مَالِكٍ، قالَ: وَما ذَاكِ؟ قالَتْ: إنَّهَا حُبْلَى مِنَ الزِّنَى، فَقالَ: آنْتِ؟ قالَتْ: نَعَمْ، فَقالَ لَهَا: حتَّى تَضَعِي ما في بَطْنِكِ، قالَ: فَكَفَلَهَا رَجُلٌ مِنَ الأنْصَارِ حتَّى وَضَعَتْ، قالَ: فأتَى النَّبيَّ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ، فَقالَ: قدْ وَضَعَتِ الغَامِدِيَّةُ، فَقالَ: إذنْ لا نَرْجُمُهَا وَنَدَعُ وَلَدَهَا صَغِيرًا ليسَ له مَن يُرْضِعُهُ، فَقَامَ رَجُلٌ مِنَ الأنْصَارِ، فَقالَ: إلَيَّ رَضَاعُهُ يا نَبِيَّ اللهِ، قالَ: فَرَجَمَهَا (رواه مسلم عن بريدة بن الحصيب الأسلمي)

Kemudian, datang seorang wanita dari Bani Ghâmid dari kabilah Azd dan berkata, “Wahai Rasulullah, sucikanlah aku.” Nabi shalallahu alaihi wasallam menjawab, “Celaka kamu! Kembalilah, beristighfarlah kepada Allah dan bertaubatlah kepada-Nya.” Wanita itu menjawab, “Aku lihat engkau ingin mengembalikan aku seperti engkau mengembalikan Maiz bin Malik.” Nabi shalallahu alaihi wasallam bertanya, “Apa itu?” Wanita itu menjawab, “Aku hamil karena zina.”

Nabi shalallahu alaihi wasallam bertanya, “Kamu?” Dia menjawab, “Iya”.  Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Tunggu sampai kamu melahirkan.” Seorang laki-laki Anshar menawarkan untuk menanggungnya hingga melahirkan.

Seseorang mendatangi Nabi shalallahu alaihi wasallam memberitahukan bahwa wanita Ghamidiyah itu sudah melahirkan.  

Beliau shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Kita tidak akan merajamnya dengan membiarkan anaknya yang masih kecil tidak ada yang menyusuinya”.

Berdirilah seorang laki-laki Anshar dan berkata, “Kami yang menanggung susuannya, Ya Nabiyallah.”

Lalu, beliau shalallahu alaihi wasallam merajam-nya” (HR. Muslim dari Buraidah bin Hushoib al-Aslamy)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan: Di dalam Hadits ini terdapat jejak agung pada sosok seseorang yang bernama Maiz bin Malik. Bagaimana tidak, dia terus menuntut ditegakkan hadd bagi dirinya, sekalipun tidak mencabutnya. Padahal tabiat manusia itu tidak terus-menerus menuntut sesuatu yang berakibat terenggutnya nyawa. Dia bersungguh-sungguh agar hadd ditegakkan padahal tidak terdesak untuk melakukan pengakuan, terlebih ini perkara yang terang-benderang bahwa hal tersebut bisa dicukupi dengan taubat tanpa resiko hilangnya nyawa. Disebutkan di dalam riwayat Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda,

 لقد رأيتُه بين أنهار الجنة ينغمس

“Saya melihatnya larut (dalam kenikmatan) di antara sungai-sungai Surga”. Dalam riwayat lain,

قد غُفِر له وأُدخِل الجنة

“Dia telah diampuni dan dimasukkan ke dalam Surga” [selesai]

Demikian juga wanita Ghamidiyah, dia mengakui perbuatan zina dan menuntut dibersihkan dosanya dengan rajam. Berlalunya hari-hari tidak menyurutkan keinginannya untuk di-rajam. Ini tidak lain karena khouf-nya sangatlah tinggi.

Jangankan dosa besar, sekedar terjerumus ke dalam kelalaian saja yang bisa jadi bukan merupakan dosa, mereka radiallahu anhum sangat gelisah. Ini tidak lain karena khouf-nya sangatlah tinggi. Disebutkan di dalam riwayat tentang Shahabat Handhalah radiallahu anhu,

 أنَّهُ مرَّ بأبي بَكْرٍ وَهوَ يَبكي ، فقالَ : ما لَكَ يا حَنظلةُ ؟ قالَ : نافَقَ حنظلةُ يا أبا بَكْرٍ ، نَكونُ عندَ رسولِ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ يذَكِّرُنا بالنَّارِ والجنَّةِ كأنَّا رأيَ عينٍ ، فإذا رجَعنا إلى الأزواجِ والضَّيعةُ نسينا كثيرًا قال فواللَّهِ إنَّا لكذلِكَ انطلِقْ بنا إلى رسولِ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليه و سلَّمَ فانطلقْنا فلما رآهُ فقالَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ قالَ : ما لَكَ يا حنظلةُ ؟ قالَ : نافقَ حنظلةُ يا رسولَ اللَّهِ ، نَكونُ عندَكَ تُذَكِّرُنا بالنَّارِ والجنَّةِ كأنَّا رأيَ عينٍ ، رجَعنا عافَسنا الأزواجَ والضَّيعةَ ونسينا كثيرًا ، قالَ : فقالَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ : لَو تدومونَ على الحالِ الَّتي تقومونَ بِها من عندي لصافحَتكمُ الملائِكَةُ في مجالسِكُم ، وفي طرقِكُم ، وعلى فُرُشِكُم ، ولَكِن يا حنظلةُ ساعةً وساعةً ساعةً وساعةً (رواه مسلم)

“Ia (Handhalah radiallahu anhu) melewati Abu Bakar dalam keadaan menangis,  ia bertanya: Ada apa denganmu, wahai Handhalah? Ia menjawab: Wahai Abu Bakar! Handhalah ini seorang munafik. Ketika kami berada di sisi Rasulullah shalallahu alaihi wasallam ia (keadaan tersebut) mengingatkan kami tentang Neraka dan Surga seolah-olah kami melihatnya dengan mata kepala kami sendiri, tetapi ketika kami kembali kepada istri-istri kami dan harta benda kami, kami lupa banyak hal. Ia (Abu Bakar) merespon: Demi Allah, kami juga seperti itu. Mari kita datangi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dan kami pun berangkat.

Ketika Rasulullah shalallahu alaihi wasallam melihatnya, beliau bersabda: Ada apa denganmu, wahai Handhalah? Ia berkata: Wahai Rasulullah! Handhalah ini seorang munafiq. Ketika kami bersama engkau kami diingatkan tentang Neraka dan Surga seolah-olah kami melihatnya dengan mata kepala kami sendiri. Tetapi, ketika kami kembali dan berurusan dengan istri-istri kami dan harta benda kami, maka kami lupa banyak hal. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: Jika engkau tetap dalam keadaan seperti saat bersamaku, niscaya para Malaikat akan berjabat tangan denganmu di majelis-majelismu, di jalan-jalanmu, dan di tempat tidurmu. Akan tetapi, wahai Handhalah! Memang suatu saat begini dan suatu saat begitu dan seterusnya” (HR. Muslim)

Perhatikanlah! Apakah Handhalah berbuat maksiat? TIDAK. Dia radiallahu anhu hanya mengalami perubahan suasana kejiwaan. Di hadapan Nabi shalallahu alaihi wasallam keimanan terasa sangat tinggi hingga Surga dan Neraka seakan-akan di hadapannya. Berbeda, jika telah berpisah dari beliau shalallahu alaihi wasallam. Namun, khouf-nya yang sangat tinggi menjadikan dirinya merasa sebagai orang munafiq.

j. Bani Salamah radiallahu anhum

Para Shahabat dari Bani Salamah tinggal di perkampungan yang jauh dari Masjid. Mereka ingin pindah untuk tinggal di sekitar masjid agar jaraknya dekat dengan masjid. Namun, mereka mengurungkan keinginannya ketika diberitahu oleh Nabi tentang besarnya pahala. Mereka pun tetap tinggal di perkampungan yang jauh karena termotivasi oleh fadhilah yang tinggi tersebut. Sungguh, roja’ yang tinggi menjadikan mereka tetap bersemangat shalat jama’ah meskipun jaraknya jauh. Disebutkan di dalam sebuah riwayat,

أَرَادَ بَنُو سَلِمَةَ أنْ يَتَحَوَّلُوا إلى قُرْبِ المَسْجِدِ، فَكَرِهَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ أنْ تُعْرَى المَدِينَةُ وقالَ: يا بَنِي سَلِمَةَ، ألَا تَحْتَسِبُونَ آثَارَكُمْ؟ فأقَامُوا (رواه البخارى ومسلم عن أنس بن مالك)

“Bani Salamah ingin mendekat ke masjid, namun Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tidak suka (dengan gagasan tersebut) karena akan menjadikan kota Madinah rusak ( pemukimannya tidak rata, Pent.) dan bersabda, “Wahai Bani Salamah, apakah kalian tidak menghitung jejak kaki kalian?” Maka mereka pun tetap tinggal (di perkampungan mereka)” (HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik)

Judul Buku: Mahabbah, Khouf, dan Roja’

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)