g. Abdurrahman bin Auf radiallahu anhu
Seorang Shahabat kaya raya yang mengkhawatirkan akan hartanya bahwa ia tidak membawanya kepada keselamatan di Akhirat tetapi kebinasaan. Maka, ia pun bergegas menuju salah seorang istri Nabi untuk sharing meminta “wejangan”.
عن أمِّ سلمةَ قالت دخل عليها عبدُ الرحمنِ بنُ عوفٍ فقال يا أُمَّه قد خفتُ أن يُهلِكني كثرةُ مالِي أنا أكثرُ قريشٍ مالًا قالت يا بُنيَّ فأنفِقْ فإني سمعتُ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ يقول إنّ من أصحابي من لا يرانِي بعد أن أفارقَه فخرج فلقِي عمرَ فأخبرَه فجاء عمرُ فدخل عليها فقال باللهِ منهم أنا فقالتْ لا ولن أُبلِيَ أحدًا بعدَك (رواه أحمد)
“Dari Ummu Salamah, ia berkata bahwa Abdurrahman bin Auf datang menemuinya dan berkata: Wahai ibu, aku khawatir hartaku yang banyak itu akan menghancurkanku, karena aku adalah orang terkaya di antara orang Quraisy. Ia berkata: Wahai anakku, infaq kan lah hartamu, karena aku mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: Ada beberapa Shahabatku yang tidak akan melihatku setelah aku meninggalkannya. Maka ia pun keluar dan menemui Umar lalu menceritakannya. Kemudian Umar datang dan menemuinya serta berkata: Demi Allah, apakah aku termasuk di antara mereka? Ia berkata: Tidak, dan aku tidak akan pernah memberitahukan siapa pun setelahmu” (HR. Ahmad)
Hadits ini menunjukkan kuatnya khouf Abdurrahman bin Auf di mana ia mengkhawatirkan dirinya belum sepenuhnya memenuhi hak-hak atas kekayaan yang dimilikinya. Ketika mendatangi Ummu Salamah untuk konsultasi ia mendapatkan Hadits ini, yaitu tentang adanya ummat Nabi yang terancam tidak akan pernah melihat Nabi dan tidak akan dilihat oleh beliau shalallahu alaihi wasallam sepeninggal beliau. Bisa jadi yang dimaksud adalah bahwa di antara mereka ada yang kondisinya berubah setelah wafatnya Nabi hingga mereka terjerumus dalam keburukan yang menghalangi mereka untuk melihat Nabi. Abdurrahman bin Auf menyampaikan Hadits ini kepada Umar Bin Khoththob. Saking tersentuhnya dengan Hadits tersebut, dia langsung bertanya kepada Ummu Salamah bila dirinya termasuk golongan yang dimaksudkan. Ini menunjukkan kuatnya khouf Umar bin Khoththob.
h. Para Shahabat secara umum
Para Shahabat radiallahu anhum adalah orang yang mendapatkan legitimasi dari Allah ta’ala langsung “RADHIYALLAHU ‘ANHUM”. Mereka adalah teladan dalam menjalankan kehidupan sebagai hamba Allah ta’ala. Ini, tidak lain karena mahabbah, khouf, dan roja’ mereka sangatlah kuat.
عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه، قال: قال النبي صلى الله عليه وسلم: يقول الله عز وجل يوم القيامة: يا آدمُ، يقول: لبيك ربنا وسعديك، فينادي بصوتٍ: إن الله يأمرك أن تخرج من ذريتك بعثًا إلى النار، قال: يا ربِّ وما بعث النار؟ قال: من كلِّ ألفٍ – أراه قال – تسعمائةٍ وتسعةً وتسعين، فحينئذ تضعُ الحامل حملها، ويشيب الوليدُ، وترى الناس سكارى وما هم بسكارى، ولكن عذاب الله شديد، فشقَّ ذلك على الناس حتى تغيَّرت وُجُوهُهم، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: من يأجوج ومأجوج تسعمائة وتسعة وتسعين، ومنكم واحد، ثم أنتم في الناس كالشعرة السوداء في جنب الثور الأبيض، أو كالشعرة البيضاء في جنب الثور الأسود، وإني لأرجو أن تكونوا ربع أهل الجنة، فكبَّرنا، ثم قال: ثُلث أهل الجنة، فكبَّرنا، ثم قال: شطر أهل الجنة، فكبَّرنا؛ (أخرجه البخاري ومسلم)
“Dari Abu Sa’id Al-Khudri radiallahu anhu, dia berkata bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda:
“Allah azza wa jalla berfirman pada hari Kiamat, ‘Wahai Adam!’ Adam menjawab, ‘Aku memenuhi panggilan-Mu, wahai Rabbku.’ Kemudian Dia ta’ala memanggil dengan suara, ‘Allah memerintahkanmu untuk mengeluarkan dari keturunanmu satu kelompok yang akan masuk Neraka.’ Dia alaihissalam bertanya, ‘Wahai Rabbku, berapa jumlah mereka?’ Allah menjawab, ‘Dari setiap seribu orang, terdapat sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang’”
Nabi shalallahu alaihi wasallam melanjutkan, “Pada saat itu, wanita hamil akan keguguran, bayi akan menjadi tua renta, dan manusia terlihat seperti orang mabuk padahal mereka tidak mabuk, karena kerasnya adzab Allah. Hal ini (pemberitaan ini) sangat dirasakan berat bagi manusia (para Shahabat) sehingga wajah mereka pun berubah.”
Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Dari setiap seribu orang yang disebutkan, sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang berasal dari Ya’juj dan Ma’juj, sedangkan dari kalian hanya satu orang. Kalian seperti bulu hitam pada sapi putih atau seperti bulu putih pada sapi hitam.”
Nabi shalallahu alaihi wasallam kemudian bersabda, “Aku berharap kalian menjadi seperempat penghuni Surga.” Kami semua (para Shahabat) bertakbir. Beliau melanjutkan, “Aku berharap kalian menjadi sepertiga penghuni Surga.” Kami bertakbir lagi. Beliau bersabda lagi, “Aku berharap kalian menjadi setengah penghuni Surga.” Kami juga bertakbir lagi” (HR. Bukhari dan Muslim)
Syaikh Utsaimin rahimahullah berkata: Di antara faedah Hadits ini adalah kuatnya khouf para Shahabat radiallahu anhu. Ketika disebutkan kelompok yang akan masuk Neraka yaitu setiap 1000 orang terdapat 999 orang, hanya satu orang yang di Surga. Hal ini dirasakan berat oleh mereka yang menjadikan wajah-wajah mereka langsung berubah.
Di dalam riwayat lain disebutkan,
قالوا: يا رسول الله، أيُّنا ذلك الواحد؟
“Mereka bertanya: Wahai Rasulullah, siapa yang satu itu dari antara kita?”
Karena beliau shalallahu alaihi wasallam hanya menyebutkan dari Ya’juj wa Ma’juj 999 orang dari kita 1 orang [selesai]
i. Para Shahabat di hadapan hudud / kaffarat
Saking kuatnya khouf para Shahabat, mereka segera memenuhi hudud/kaffarat. Sungguh, dahsyatnya adzab di Akherat tidak bisa dibandingkan dengan hukuman di dunia. Hal ini selalu hadir dalam jiwa mereka. Untuk itu, ketika mereka berbuat kemungkaran yang mengharuskan terkena hudud/kaffarat langsung direspon dengan “sami’na wa atho’na”
- Ibnu Umar radiallahu anhu
ابن عمر رضي الله عنه، فقد أعتق مملوكًا، وأخذ من الأرض عودًا، وقال: ما فيه من الأجر ما يساوي هذا، إلا أني سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: من لطم مملوكه أو ضربه، فكفارته أن يعتقه (أخرجه مسلم)
“Ibnu Umar radiallahu anhu memerdekakan seorang budak. Kemudian, dia mengambil sebuah ranting dari tanah dan berkata, “Pahala dari perbuatan ini tidak sebanding dengan ranting ini, akan tetapi aku pernah mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:’Barang siapa yang menampar atau memukul budaknya, maka kafaratnya (tebusan dosanya) adalah memerdekakan budak tersebut.’” (HR. Muslim)
Lihatlah! Ibnu Umar radiallahu anhu segera membayar kaffarat atas perbuatan memukul budak dengan membebaskannya. Jelas, ini berangkat dari kuatnya khouf yang ada pada dirinya.
Syaikh Utsaimin menjelaskan, maksud ucapan Ibnu Umar radiallahu anhu adalah dia lebih mementingkan tazkiyatun nafsi (pembersihan jiwa) atas suatu dosa yang pernah dilakukannya, yaitu memukul budak.
- Abu Mas’ud al-Anshori radiallahu anhu
أبو مسعود الأنصاري رضي الله عنه، قال: كنتُ أضرب غلامًا لي، فسمعتُ من خلفي صوتًا: اعلم أبا مسعود، للهُ أقدرُ عليك منك عليه، فالتفتُّ، فإذا هو رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقلت: يا رسول الله: هو حُرٌّ لوجه الله، فقال: أما لو لم تفعل، للفحتك النار، أو لمستك النار (أخرجه مسلم)
“Abu Mas’ud al-Anshori radiallahu anhu menceritakan bahwa dia suatu ketika memukul seorang budak miliknya. Tiba-tiba dia mendengar suara dari belakangnya yang mengatakan, “Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud, Allah lebih kuasa atas dirimu daripada kamu terhadap budakmu.”
Dia menoleh ke belakang dan ternyata beliau Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Abu Mas’ud kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, budak ini aku merdekakan karena Allah.”
Beliau shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Jika kamu tidak melakukannya (memerdekakan budak), niscaya Neraka akan menyentuhmu atau membakar kamu.” (HR. Muslim)
- Abu Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami radiallahu anhu
Dia radiallahu anhu marah besar dan memukul budaknya. Besarnya penyesalan atas perbuatannya dan rasa takutnya kepada Allah ta’ala menjadikannya segera membebaskan budak tersebut.
أبو معاوية بن الحكم السلمي رضي الله عنه، قال: كانت لي جارية ترعى غنمًا… فاطَّلعت ذات يوم، فإذا الذئب قد ذهب بشاة من غنمها، وأنا رجل من بني آدم آسف كما يأسفون، لكني صكَكتُها صكةً، فأتيتُ رسول الله صلى الله عليه وسلم، فَعَظَّمَ ذلك عليَّ، قلت: يا رسول الله، أفلا أعتقها قال: ائتني بها، فأتيته بها، فقال لها: أين الله؟، قالت: في السماء قال: من أنا، قالت: أنت رسول الله قال: اعتقه فإنها مؤمنة؛ [أخرجه مسلم].
“Abu Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami radiallahu anhu menceritakan: Saya memiliki seorang budak perempuan yang menggembalakan kambing. ….. Suatu hari saya melihat seekor serigala telah membawa satu ekor kambing dari kumpulan kambing (yang digembalakan oleh budaknya) Saya merasa marah seperti layaknya manusia lain, saya menamparnya.
Kemudian saya mendatangi Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, dan beliau melihatku telah berbuat perkara besar. Saya bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah aku harus memerdekakan budakku?”
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Bawa budakmu itu kepadaku.” Saya membawanya ke hadapan Rasulullah. Beliau bertanya kepadanya (budak), “Di manakah Allah?” Budak itu menjawab, “Di atas langit.”
Beliau shalallahu alaihi wasallam bertanya lagi, Siapa saya? Dia menjawab: Engkau Rasulullah.
Beliau bersabda: Bebaskanlah! Dia seorang mu’minah (HR. Muslim)”
Judul Buku: Mahabbah, Khouf, dan Roja’
Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

