Solusi Investasi Akhirat Anda

Mahabbah, Khouf, dan Roja’ Bagian 4

c. Aisyah radiallahu anha

Aisyah radiallahu anha sosok Shahabiyah yang bersegera bertaubat atas suatu ketergelinciran ke dalam dosa. Ini tidak lain karena kuatnya khouf beliau kepada Allah ta’ala,

عن عائشة رضي الله عنها زوج النبي صلى الله عليه وسلم أنها أخبرته أنها اشترت نمرقة فيها تصاوير فلما رآها رسول الله صلى الله عليه وسلم قام على الباب فلم يدخل فعرفت في وجهه الكراهية قالت يا رسول الله أتوب إلى الله وإلى رسوله ماذا أذنبت قال ما بال هذه النمرقة فقالت اشتريتها لتقعد عليها وتوسدها  فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن أصحاب هذه الصور يعذبون يوم القيامة ويقال لهم أحيوا ما خلقتم وقال إن البيت الذي فيه الصور لا تدخله الملائكة (رواه البخارى)

Dari Aisyah radiallahu anha, istri Nabi shalallahu alaihi wasallam, dia telah membeli sebuah bantal yang dihiasi dengan gambar-gambar. Ketika Rasulullah melihatnya, beliau berdiri di pintu dan tidak mau masuk. Dia radiallahu anha melihat kemarahan di wajah beliau.

Dia radiallahu anha bertanya, “Wahai Rasulullah, aku bertaubat kepada Allah dan Rasul-Nya. Apa kesalahan yang aku lakukan?” Rasulullah bertanya, “Apa yang ada pada bantal ini?” Dia radiallahu anha menjawab, “Aku membelinya agar engkau bisa duduk dan bersandar di atasnya.” Rasulullah shalallahu alaihi wasallam kemudian menjelaskan, “Sesungguhnya orang-orang yang membuat gambar-gambar ini akan disiksa pada hari Kiamat dan akan dikatakan kepada mereka, ‘Hidupkanlah apa yang telah kalian ciptakan.’”

Beliau juga bersabda, “Rumah yang di dalamnya terdapat gambar-gambar tidak akan dimasuki oleh Malaikat.” (HR. Bukhari)

Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin rahimahullah berkata: Hadits ini mengandung beberapa faedah, di antaranya:

a. Kuatnya inabah ‘Aisyah radiallahu anha. Dia mengetahui bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tidaklah enggan masuk kecuali pasti ada suatu sebab. Dia pun segera berucap, “Saya bertaubat kepada Allah ta’ala atas dosa yang saya perbuat”

b. Segera bertaubat setelah mengetahui kesalahannya. Tidak menundanya, karena dia takut bahwa maksiat jika tidak segera ditaubati maka dosa akan bertambah dan juga bertambah jauh dari Allah ta’ala.

d. Albaro bin ‘Azib radiallahu anhu

Dia termasuk seorang yang berba’at di bawah “syajarotur ridhwan”. Keutamaan mereka itu setelah ahli Badar dan 10 Shahabat yang dijamin masuk Surga. Albaro bin ‘Azib salah satunya. Ia mengkhawatirkan akhir perjalanannya. Sungguh tawadhu’ yang sangat tinggi.

عن العلاء بن المُسيب عن أبيه، قال: لقيتُ البراء بن عازب رضي الله عنهما، فقلتُ: طُوبى لك! صحِبت النبي صلى الله عليه وسلم، وبايعته تحت الشجرة، فقال: يا بن أخي، إنك لا تدري ما أحدثنا بعده؛ (أخرجه البخاري)

“Dari Al-‘Ala bin al-Musib dari ayahnya, dia berkata: Saya bertemu Albaro bin ‘Azib radiallahu anhu. Aku katakan kepadanya, beruntunglah Anda. Anda telah menemani Nabi shalallahu alaihi wasallam dan membaiatnya di bawah pohon. Dia merespon: Wahai anak saudaraku! Kamu tidak tahu tahu apa yang kami lakukan sepeninggal beliau.” (HR. Bukhari)

Bisa jadi Albaro’ bin Azib merujuk pada berbagai peristiwa, seperti peperangan dan lain-lain, yang terjadi sepeninggal Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam. Beliau khawatir tentang dampak atau akibat dari peristiwa-peristiwa tersebut di mana keadaan kaum muslimin mengalami kemunduran tidak sebagaimana ketika Nabi shalallahu alaihi wasallam masih hidup. Betapa beliau mengkhawatirkan merosotnya keimanan. Sungguh beliau diliputi khouf yang sangat tinggi.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahima hullah mengatakan, ini khouf para Shahabat radiallahu anhu terhadap dosa dan fitnah yang akan terjadi di akhir zaman Shahabat.

e. Tsabit bin Qoys radiallahu anhu

Dia, seorang Shahabat yang mengkhawatirkan amalannya gugur sia-sia. Disebutkan di dalam sebuah riwayat,

عن أنس بن مالك رضي الله عنه، قال: لما نزلت هذه الآية: ﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ ﴾ [الحجرات: 2] إلى قوله: ﴿ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ ﴾ [الحجرات: 2]، وكان ثابت بن قيس بن الشماس رفيع الصوت، فقال: أنا الذي كنتُ أرفع صوتي على رسول الله صلى الله عليه وسلم حبط عملي، أنا من أهل النار، وجلس في بيته حزينًا، فتفقده رسول الله صلى الله عليه وسلم، فانطلق بعض القوم إليه، فقالوا له: تفقدك رسول الله صلى الله عليه وسلم ما لك؟ فقال: أنا الذي أرفع صوتي فوق صوت النبي، وأجهر بالقول حبط عملي، وأنا من أهل النار، فأتوا النبي صلى الله عليه وسلم فأخبروه بما قال، فقال: (لا، بل هو من أهل الجنة)؛ [متفق عليه].

“Dari Anas bin Malik radiallahu anhu, Ketika ayat ini turun: (Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengeraskan suaramu melebihi suara Nabi) [Al-Hujurat: 2] Hingga akhir ayat tersebut, Tsabit bin Qais bin Asy-Syimas adalah seseorang yang tinggi suaranya, dia berkata: Saya lah orang yang suaranya tinggi melebihi suara Nabi maka amalanku berguguran, saya termasuk penghuni neraka. Dia pun sangat  bersedih dan berdiam diri dalam rumahnya. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam kehilangan dirinya. Beberapa orang Shahabat berangkat untuk menemuinya. Mereka berkata: Rasulullah shalallahu alaihi wasallam kehilangan kamu, ada apa denganmu? Tsabit menjawab: Saya lah orang yang suaranya tinggi melebihi suara Nabi maka amalanku berguguran, saya termasuk penghuni Neraka. Mereka kembali kepada Nabi shalallahu alaihi wasallam dan memberitahukan apa yang dikatakannya. Beliau shalallahu alaihi wasallam bersabda:  Tidak, bahkan dia termasuk ahli Surga” (HR. Bukhari dan Muslim)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahima hullah menjelaskan bahwa Hadits ini menunjukkan bahwa rasa takut kepada Allah ta’ala memiliki kesudahan yang baik. Di sini disebutkan tentang seorang lelaki yang merupakan salah satu juru khutbah Nabi shalallahu alaihi wasallam pemilik suara keras serta kefasihan dalam berbicara merasa sangat takut ketika turun ayat yang mengisyaratkan kemungkinan dia termasuk penghuni Neraka karena kebiasaannya meninggikan suara di hadapan Nabi. Karena kuatnya rasa takut, laki-laki tersebut mengurung diri di rumahnya dan menangis, bahkan tidak menghadiri majelis Nabi shalallahu alaihi wasallam. Beliau shalallahu alaihi wasallam kemudian mencari tahu tentang keadaannya dan mendapati bahwa laki-laki tersebut merasa dirinya melakukan sesuatu yang buruk karena takut amalnya menjadi sia-sia. Namun, Nabi shalallahu alaihi wasallam memberikan kabar gembira kepadanya bahwa dia bukanlah termasuk penghuni neraka, melainkan penghuni Surga. Dalam riwayat lain, Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda,

أما ترضى أن تعيش حميدًا وتُقتل شهيدًا، وتدخل الجمة، وقُتل رضي الله عنه شهيدًا في غزوة اليمامة

“Tidakkah kamu ridho untuk hidup terpuji atau mati syahid lalu masuk Surga?”

Dan laki-laki tersebut akhirnya terbunuh sebagai syahid dalam Perang Yamamah [Selesai].

f. Ka’ab Bin Malik radialahu anhu

Kisah tentang tiga orang yang tertinggal dari perang Tabuk, salah satunya adalah Ka’ab bin Malik. Ketika Rasulullah shalallahu alaihi wasallam kembali dari perang, orang-orang munafik memberikan berbagai alasan dan meminta maaf, lalu Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menerima alasan mereka dan memohonkan ampun untuk mereka, karena beliau menghukumi berdasarkan zhahirnya. Adapun urusan batin beliau serahkan kepada Allah ta’ala, Namun tidak demikian dengan Ka’ab bin Malik radiallahu anhu. Ketika dia mendekat, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bertanya kepadanya,

فَقَالَ لِي: ما خَلَّفَكَ؟ ألَمْ تَكُنْ قَدِ ابْتَعْتَ ظَهْرَكَ؟ فَقُلتُ: بَلَى، إنِّي واللَّهِ لو جَلَسْتُ عِنْدَ غيرِكَ مِن أهْلِ الدُّنْيَا، لَرَأَيْتُ أنْ سَأَخْرُجُ مِن سَخَطِهِ بعُذْرٍ، ولقَدْ أُعْطِيتُ جَدَلًا، ولَكِنِّي واللَّهِ، لقَدْ عَلِمْتُ لَئِنْ حَدَّثْتُكَ اليومَ حَدِيثَ كَذِبٍ تَرْضَى به عَنِّي، لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أنْ يُسْخِطَكَ عَلَيَّ، ولَئِنْ حَدَّثْتُكَ حَدِيثَ صِدْقٍ تَجِدُ عَلَيَّ فِيهِ، إنِّي لَأَرْجُو فيه عَفْوَ اللَّهِ، لا واللَّهِ، ما كانَ لي مِن عُذْرٍ، واللَّهِ ما كُنْتُ قَطُّ أقْوَى، ولَا أيْسَرَ مِنِّي حِينَ تَخَلَّفْتُ عَنْكَ، فَقَالَ رَسولُ اللَّهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: أمَّا هذا فقَدْ صَدَقَ (رواه البخارى)

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bertanya kepadaku, “Apa yang membuatmu tidak ikut serta? Bukankah engkau telah membeli kendaraan untuk perjalanan itu?”

Aku menjawab,“Ya, demi Allah, jika aku berbicara dengan orang lain di dunia ini selain engkau, aku mungkin bisa keluar dari kemarahan mereka dengan memberikan alasan yang baik. Aku memang diberi kemampuan berbicara yang baik. Namun, demi Allah, aku tahu bahwa jika aku berbohong kepadamu hari ini yang dengannya engkau ridha kepadaku, niscaya Allah akan menjadikanmu murka terhadapku. Tetapi jika aku berkata jujur dan kamu tidak senang dengan itu, aku berharap Allah akan memaafkan aku.”

Aku kemudian menjelaskan, “Demi Allah, aku tidak memiliki alasan yang dibenarkan untuk tidak ikut serta. Demi Allah, aku tidak pernah sekuat dan semampu seperti saat itu ketika aku tidak ikut serta bersamamu.”

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam kemudian bersabda, “Orang ini telah berkata jujur.” (HR. Bukhari)

Syaikh Muhammad Bin Sholeh al-Utsaimin rahimahullah berkata: Hadits ini mengandung banyak faedah di antaranya tentang kuatnya khouf Ka’ab bin Malik g di mana dia mengatakan sekiranya berhadapan dengan raja dunia siapapun niscaya bisa terbebas dengan pemberian argumentasi yang bagus karena dirinya ahli debat. Tetapi tidak mungkin hal itu dilakukan di hadapan Nabi. Karena bisa saja dia terbebas dengan argumentasi yang bagus sehingga Nabi memaafkannya tetapi tidak lama kemudian akan turun wahyu kepadanya yang memberitahukan tentang keburukannya. Untuk itu dia memilih berbicara jujur apa adanya.

Judul Buku: Mahabbah, Khouf, dan Roja’

Penulis : Muhammad Nur Yasin Zain, Lc. Hafidzahullah
(Pengasuh Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)